
‘Tour Raja Ampat’
“Oke, Gengs. Karena tour kita hanya 3 hari, maka jadwal akan kita padatkan tapi tenang saja, tetap ada waktu bebas untuk kalian.” Ucap Bagas menggunakan pengeras suara.
“Yeaaaayyyy!!! Uhuuuuuuuu!!!” jawab serempak beberapa karyawan yang bisa mengikuti tour.
“Karena kita sampai disini sore, jadi setelah ini kita akan membagi kamar. Satu kamar bisa kalian tempati dengan dua orang. Dan ingat, ya. Tak bisa campur laki perempuan yang bukan pasangan suami istri. Setelah kalian mengambil kunci kamar di resepsionist, kalian bisa langsung beristirahat dan malam nanti kita bisa berkumpul untuk makan malam.”
“Siapppppp!!!” seru mereka. Dan setelah itu mereka membubarkan diri untuk mencari kamar dan teman kamar mereka.
Penginapan mereka berada dipinggir pantai dan terdiri dari pondok-pondok kecil yang bisa ditempati untuk dua orang. Pondok itu berjajar rapi membentang disepanjang pantai indah yang berada disalah satu pantai di Raja Ampat. Perusahaan mengeluarkan cukup banyak uang untuk semua akomodasi yang bisa semua karyawan nikmati. Itu sebagai apresiasi kepada karyawan karena banyaknya proyek yang lolos untuk beberapa tahun terakhir.
“Bu Tia sekamar dengan siapa?” tanya Devi.
“Entah. Saya belum tahu siapa yang akan sekamar dengan saya. Tadi di daftar, hanya ada nama saya sendiri. Kamu dengan Sinta, Dev?”
“Tidak, Bu. Saya tadi kena dengan divisi lain. Kami bertukar pasangan. Kamar Bu Tia sebelah mana?”
“Itu!” Tia menunjukkan pondok yang ukurannya sedikit lebih besar dan fasilitas lebih lengkap yang akan menjadi kamarnya.
__ADS_1
“Wahhh . . . kamar Bu Tia bagus sekali. Lebih besar dari pada yang lainnya.” Devi dan Sinta mengikuti Tia sampai kedepan kamar pondoknya. Mereka berdua mencoba mengintip dalam pondok melalui cendela luar yang cukup besar.
“Tia! Bisa kita bicara sebentar?” Gilang datang mengganggu Devi dan Sinta yang masih terkagum-kagum dengan kamar pondok Tia.
“Eh! Kamu ngapai masih berani menganggu Bu Tia!” sewot Devi pada Gilang.
“Ini urusan saya dengan Tia. Kalian berdua tidak perlu ikut campur.” Balas Gilang dengan sedikit keras. Beberapa karyawan yang masih berkumpul dipinggir pantai memperhatikan pondok Tia dan mulai berbisik-bisik.
“Ada apa lagi Gilang? Sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Apalagi kedatanganmu ini menarik perhatian. Aku terganggu, Lang.”
“Kumohon, Tia. Sebentar saja.” Gilang menggenggam tangan Tia dan berusaha membujuknya. Tia berusaha melepaskan genggaman Gilang, tapi usahanya tak membuahkan hasil.
“Lepaskan tanganku, Lang!” perintah Tia.
“Lepaskan tanganmu dari istriku!” bentak seseorang dari belakang sana. Seseorang itu sedang berjalan menuju tempat Tia.
“Pak Rio? Istri? Siapa istri Bapak?” Gilang mengeluarkan pertanyaan yang mewakili semua orang yang mendengar kalimat Rio.
“Siapa lagi kalau bukan, Tia! Dia istri saya, jadi cepat lepaskan tangamu itu.” Rio menarik tubuh Tia agar mendekat dengannya saat dia berhasil naik kepondok.
__ADS_1
“Istri? Mana mungkin, Pak. Kalian kan belum menikah?” Gilang terus mencoba menyanggah.
“Apa kamu masih tak percaya? Apa kamu tidak pernah memperhatikan cincin yang melingkar dijari Tia?” Rio menunjukkan tangannya dan tangan Tia yang menggunakan cincin yang sama.
Devi dan Sinta yang berada didekat mereka langsung menutup mulut mereka seakan tak paercaya. Sedangkan karyawan lainnya yang memperhatikan mereka dari kejauhan melakukan hal yang sama dengan Devi dan Sinta. Sedangkan Tia hanya memijit keningnya karena merasakan serangan nyeri yang tiba-tiba.
“Apa? Sejak kapan? Tia, apa betul yang dikatakan Pak Rio?” Gilang menuntut jawaban segera dari Tia.
“Seperti yang kamu lihat dan seperti yang kamu dengar. Kami memang sudah menikah.” Jawab Tia pada akhirnya.
“Kamu sudah dengar, Gilang! kalau sudah jelas, mulai hari ini kamu bisa menjauh dari istri saya. Saya tidak mau menggunakan jabatan saya untuk menjauhkanmu dari Tia. Jadi kamu harus tahu diri, Gilang.”
“Bu Tiaaaaaa!!!!! Ya ampun, Bu. Kenapa tidak cerita pada kami?” Sinta histeris. “Selamat Bu Tia, pak Rio!”
“Terimakasih, Sinta.” Rio mengeratkan rangkulannya dipinggang Tia, “Rencananya kami bulan depan baru mau memberikan undangan secara resmi untuk pestanya. Tapi karena kalian sudah tahu hari ini, jadi saya akan menambahkan liburan kalian satu hari lagi, anggap saja ini sebagai ganti pesta pernikahan kami. Kalian bisa bebas melakukan tour di Raja Ampat.” Teriak Rio pada karyawan lainnya dan membuat lainnya bersorak kegirangan.
“Kalau begitu, kalian istirahat dulu semua. Kalian masih ada waktu besok untuk menikmati keindahan Raja Ampat. Sekarang bubar dan silahkan masuk kepondok masing-masing.” Rio mengajak Tia untuk masuk kedalam pondok meninggalkan Devi, Sinta dan Gilang yang masih tertegun.
“Eh, lihat-lihat, Pak Rio menutup gordennya. Awwww . . . mereka mau apa sore-sore begini.” Sinta histeris dengan suara tertahan.
__ADS_1
“Ayo kita kembali saja kepondok. Jangan mengganggu mereka berdua. Aku seneng banget akhirnya Bu Tia dan Pak Rio sudah bersatu,”Devi menimpali setiap kalimat yang Sinta lontarkan.
Obrolan mereka masih terdengar sayup-sayup saat mereka berjalan meninggalkan pondok Tia dan Rio. Gilang juga masih mendengarnya secara jelas dan menahan kekecewaan yang dia rasakan. Selama ini masih tersisa harapan untuknya bisa kembali membawa Tia kepelukannya, tapi sekarang tidak ada harapan lagi terlebih saingannya adalah salah satu pimpinan perusahaan tempatnya bekerja. Gilang pergi dengan langkah gontai.