
“Mau kupijit?” Rio menawarkan jasanya kepada istrinya saat dia mengetahui Tia memukul-mukul ringan kakinya.
“Tidak perlu. Aku hanya sedikit kelelahan berjalan seharian ini dan snorkeling denganmu tadi.”
“Sini.” Rio mengangkat kedua kaki Tia untuk diletakkan dipangkuannya.
“Rio! kita ada diteras pondok sekarang. Apa kamu tidak malu jika bawahanmu membicarakanmu dibelakang?”
“Biarkan saja. Apa yang salah dengan yang kulakukan. Aku hanya sedang memijat kaki istriku.”
“Tapi kamu pimpinan diperusahaan besar, Tuan.”
“Betul sekali. Tapi jika aku bersamamu, kenyamanannmu yang utama bagiku. Jadi biarkan aku menjalankan tugasku sebagai suamimu.”
“Terimakasih banyak kalau begitu.”
“Sama-sama cantik.” Jawab Rio sambil tetap memijat lembut kaki Tia.
“Malam ini kamu begitu cantik. Floral mini jumpsuit itu sungguh cocok denganmu. Kenapa kamu tidak pernah mengenakannya dirumah? Wajar saja jika aku cemburu karena kamu saat berada dirumah denganku selalu mengenakan atasan oversize dengan celana kaos yang cukup besar untuk ukuranmu.”
“Kan ini memang baju yang cocok dipakai untuk dipantai Rio. Mana mungkin aku pakai kaos oversize seperti itu disini. Apalagi sekarang statusku adalah nyonya dari Rio Erens Dewanto, segala yang kulakukan dan yang kupakai pasti tidak akan luput dari pandangan mereka.”
“Kamu menjadi pusat perhatian bukan setelah mereka tahu jika kamu istriku. Apa kamu tidak menyadari jika kamu mempunyai wajah yang sangat cantik? Kamu sudah menjadi pusat perhatian sejak dulu kurasa. Aku harus menyingkirkan banyak pesaingku untuk mendapatkanmu.”
__ADS_1
“Mana ada yang berani bersaing denganmu dikantor? Setiap ada laki-laki yang berusaha mendekatiku, kamu selalu memberikan aura mengerikan disekitarku. Mereka mundur teratur. Wajahmu saja sedingin es setiap kali kamu bekerja dengan bawahanmu. Padahal Ayah dan Bunda tidak memiliki aura es itu diwajah mereka.”
“Jika kamu melihat wajah Ayah saat mudanya, kamu akan tahu darimana sifat dinginku ini berasal. Om Suryawan juga memiliki sifat yang sama dimasa muda mereka. Sekarang saat umur mereka sudah lebih tua, sifat dingin itu perlahan-lahan luntur.”
“Om Suryawan? Maksudmu Pak Suryawan Dewanto pemegang saham terbesar di S&D Group?”
“Betul. Papanya Raka.”
“Oooo . . . berarti mereka berdua bersaudara? Pantas saja kamu dan Pak Raka memiliki sifat dan tatapan mata yang hampir sama. Sama-sama sedingin es.”
“Hahahaha . . . betulkah? Tapi kami tidak sedingin itu kan jika bersama dengan orang yang dicintai. Nyatanya Raka bisa bertekuk lutut dihadapan Kak Ara. Dan aku juga ternyata bisa tunduk dihadapanmu. Aku sendiri terkejut karena memiliki keinginan untuk mendapatkan seseorang sebesar aku ingin mendapatkanmu, Tia.” Rio mengecup kening istrinya yang sudah duduk bersandar dipundaknya.
“Sekarang apa yang sedang dilakukan Ayah dan Bunda? Kita belum menemui mereka lagi semenjak di restaurant itu.”
“Kenapa cepat sekali. Bahkan mereka belum menginap dirumah kita.”
“Kalau kamu ingin menginap, kita akan menginap dirumah utama saja. Rumah kita hanya untuk kita berdua saja. Aku ingin mengisi kenangan dirumah itu hanya bersamamu.”
“Apa kamu tidak merindukan orang tuamu? Kenapa kesannya kamu selalu menempel padaku daripada kedua orang tua yang telah sekian lama tidak kamu temui.”
“Aku sudah sering berhubungan dengan mereka melalui video call, Tia. Pertengahan tahun kemarin juga aku pernah pulang ke Amerika sebentar untuk mengunjungi Ayah dan Bunda. Mereka tahu jika anak laki-lakinya sedang tidak bisa diganggu karena harus menjinakkan seorang wanita.” Ucap Rio dengan sedikit berbisik diakhir kalimatnya.
“Apa aku sesusah itu?”
__ADS_1
“Kamu tidak sadar jika sangat sulit untuk mendapatkan hatimu? Perlu berapa bulan saja aku agar bisa menjadikanmu milikku. Dulu aku sempat berfikir bahwa wajah tampanku sudah tidak bisa dijadikan senjata lagi untuk menggaet perempuan.”
“Apa kamu selalu menggunakan wajah ini untuk menarik perhatian perempuan?” tanya Tia yang mulai gemas dengan sikap narsis suaminya.
“Aku tidak perlu menarik perempuan untuk mendekat padaku. Mereka sendiri yang mendekatiku. Tapi entah kenapa saat aku tertarik pada satu perempuan itu, malah perempuan itu berusaha menjauh dariku.”
“Tapi perempuan itu sekarang sudah memilihmu dan selalu berada disisimu.”
“Aku sangat bersyukur untuk itu. Terimakasih, Sayang.” Sekali lagi Rio mengecup kening Tia.
“Sudah malam. Angin laut juga semakin kuat. Masuk yuk.” Ajak Tia.
“Duduk saja. Aku akan menggendongmu untuk masuk kedalam.”
“Awwhhhh . . . kenapa kamu menggendongku lagi? Aku bisa masuk kedalam dengan berjalan Rio. Kakiku baik-baik saja.”
“Aku ingin memanjakan ratuku. Apa yang ingin hamba lakukan untuk ratuku?”
“Emmmm . . . apa raja tidak tahu yang di inginkan ratu?” goda Tia pada suaminya. Tangannya mulai melepas satu kancing baju yang Rio kenakan.
“Tunggu sampai kita masuk kedalam ratu. Hamba akan memberikan semua yang diinginkan oleh ratuku.” Rio membawa Tia yang masih digendongannya untuk masuk kedalam kamar pondok. Sesekali dia mengecup bibir Tia saat berjalan memasuki kamarnya. Dan tak lupa Rio menutup pintu bawah kamarnya dengan kakinya.
Tanpa Tia dan Rio sadari jika dari kejauhan ada sepasang mata yang memancarkan aura kecemburuan dan kekecewaan yang kuat. Ada aura kemarahan terselip dipemilik mata itu.
__ADS_1