
“Akhirnya selesai juga pekerjaan kita.” Gilang menghembuskan nafas lega dan meluruskan semua anggota badannya yang kaku karena duduk terlalu lama.
“Akhirnya, Pak. Untung saja jam sembilan sudah selesai.” Tia melirik jam di ponselnya. “Dera pamit pulang duluan ya, Pak. Dera mau cari taksi dulu.”
“Terimakasih, Dera, atas bantuannya. Hati-hati saat melewati lorong ini, beberapa lampu sudah dimatikan. Perhatikan langkahmu. Banyak berkas yang masih berserakan.”
“Baik, Pak.” Dera meninggalkan Gilang dan melangkah dengan hak tingginya.
Baru beberapa langkah Dera berpamitan, sudah terdengar suara benturan seperti ada barang yang terjatuh. Ada suara perempuan yang melengkuh kesakitan.
Gilang terkejut dan menengok kearah lorong, “Dera! Kamu tidak apa-apa?” Gilang berlari mendekati Dera yang sudah terjatuh dilantai. “Bisa berdiri?” Gilang mencoba membantu Dera berdiri.
“Auhhh . . . kaki Dera sakit, Pak. Keliahatannya keseleo.”
“Apa sangat sakit?” tanya Gilang khawatir. Dera menganggukkan kepalanya dengan ekspresi meringis karena menahan kesakitan.
“Tunggu disini, aku panggilkan satpam dilantai bawah.” Baru saja Gilang mau beranjak tapi dicegah oleh Dera.
“Jangan, Pak. Jangan tinggalkan Dera sendirian disini. Dera takut, Pak.” Dera belum melepas genggaman tangannya yang memegang erat tangan Gilang.
“Emmm . . . kalau begitu, mau kubopong untuk turun kebawah?”
__ADS_1
“Jika Bapak tidak keberatan.”
“Tunggu sebentar, saya ambil barang-barang diruangan saya.” Gilang meninggalkan Dera sebentar dan kembali dengan semua barangnya. Gilang menyelempangkan tas kerjanya kebelakang karena akan membopong Dera didepan.
“Maaf, ya. Saya akan mengangkatmu.” Gilang mulai meletakkan tangannya dipunggung dan kaki Dera.
“Baik, Pak.” Dera hampir saja tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Baginya ini seperti mimpi indah karena bisa bersentuhan dengan Gilang. Dera merapatkan tangannya kebagian leher Gilang dan bersandar dipundak Gilang.
Sesampainya dibawah, mereka tidak bisa menemukan satpam. Mereka mengira-ngira jika pak satpam sedang naik keatas untuk memeriksa ruangan. Gilang tidak enak hati karena Dera sudah menemaninya saat lembur, akhirnya Gilang mengantarkan Dera pulang.
“Tundukkan kepalamu.” Perintah Gilang saat dia menurunkan Dera didalam kursi mobil.
“Pakai sabuk pengamanmu.” Perintah Gilang lagi disaat dia sudah masuk didepan kemudi.
Dengan cepat Dera berpura-pura tidak sengaja menyentuhkan bibirnya ke pipi Gilang.
“Maaf, Pak. Tidak sengaja.” Dera langsung menyentuh pipi Gilang dan mengusap bekas lipstik yang sedikit menempel disana.
“Sudah tidak apa-apa, biar saya sendiri yang menghapusnya.” Gilang memperhatikan kaca dan menghapus noda lipstik dipipinya.
“Dimana alamat rumahmu, Dera?”
__ADS_1
“Nanti saya akan tunjukkan jika kita akan sampai, Pak.”
Gilang mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Walaupun ini sudah malam, tapi kota Jakarta merupakan kota yang tidak pernah mati. Dijam berapapun selalu ada aktifitas dijalanan.
“Dirumah kamu tinggal dengan siapa? Ada yang bisa menggendongmu untuk masuk kedalam rumah?” tanya Gilang tanpa melepaskan pedal gasnya dan tetap terfokus dengan jalan yang masih ramai.
“Saya tinggal sendiri, Pak. Saya hidup terpisah dengan keluarga saya. Karena tempat tinggal saya yang sekarang lebih dekat dengan kantor.”
“Wah, bagaimana ini? Apa sudah baikan kakimu, karena kamu harus jalan untuk masuk kerumah.”
“Masih sakit, Pak.” Dera memegang kakinya yang sebenarnya tidak sakit sama sekali. “Bisakah Bapak mengantarkan saya masuk kedalam?”
“Ah . . . saya tidak mau tetangga mengira yang bukan-bukan. Apa pikiran mereka jika aku membopongmu dan masuk kedalam rumah gadis yang tinggal sendirian? Apalagi ini sudah larut malam.”
“Halaman rumah saya cukup luas, Pak. Dan tertutup pagar, Bapak bisa langsung masuk kedalam untuk bisa menurunkan saya.”
“Baiklah kalau begitu.” Gilang melanjutkan laju kendaraannya dan menuju rumah Dera.
Sesampainya didepan pagar rumah Dera, Gilang dengan cepat membuka dan memasukkan mobil kedalam. Dengan hati-hati Gilang mengangkat tubuh Dera dari dalam mobil dan membawanya menuju pintu utama rumah itu.
“Tunggu sebentar, Pak.” Dera berusaha membuka pintu saat masih diatas gendongan Gilang.
__ADS_1
Setelah pintu terbuka, Dera meminta Gilang untuk mengantarnya masuk kedalam kamar. Perlahan Gilang menurunkan Dera diatas tempat tidur, tapi saat Gilang akan beranjak pergi, Dera menarik tangan Gilang dan membuat laki-laki itu kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh menimpa Dera.
“Dera! Apa yang kamu lakukan?” seru Gilang.