Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
dibuang seperti sampah


__ADS_3

Perlahan Rayyan bangkit dari duduknya, dia terus menangis akan nasib yang dia alami..


Dia berfikir dengan menikah dengan Miran akan terlepas dari penderitaan dari keluarganya, justru malah dihina tanpa tau apa kesalahan dia..


Rayyan masuk kedalam pondok, di tatapnya gaun pengantin yang kemarin dia kenakan, perlahan dia ambil dari gantungan terus meremas seperti hatinya yang begitu sakit seperti direma remas..


Air matanya terus mengalir tanpa henti, kini pandangannya beralih ke cincin yang dia kenakan, melihat cincin tersebut bersekelebatan kenangan kenangan dia bersama Miran..


Flasback On..


Saat Miran dan Rayyan berjalan bersama di sebuah taman, mereka berjalan menyisiri taman tersebut hingga mereka menemukan sebuah bangku kosong di taman tersebut.


"Miran..." panggil Rayyan


"Ya..." Miran menoleh.


"Mengapa kamu memilihku?" tanya Rayyan yang masih ada setitik keraguan dihatinya.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku?" Miran berbalik bertanya dan menatap Rayyan dengan intens..


Sesaat pandangan mereka beradu, menilik ke bola mata mereka masing masing. Ada sebuah getaran di hati mereka berdua yang membuat jantung mereka semakin cepat berdetak..


"Aku ingin kau membuat kan ku ayunan di atas langit sana" Rayyan tersenyum iseng atas permintaannya.


"Baiklah, akan aku lakukan" jawab Miran tanpa ragu.


"Apa kau yakin bisa?" Rayyan ragu.


"Akan aku lakukan semua untukmu agar kamu mempercayaiku" jawab Miran tersenyum.


Beberapa hari kemudian, Miran mengajak Rayyan kesebuah bukit di mana Rayyan senang mengunjungi saat ingin sendiri..


Mata Rayyan ditutup dengan sebuah kain oleh Miran, dan perlahan membawa ketempat yang dia tuju.


"Miran, harus kamu menutup mata ku.. Kenapa aku menjadi takut" kata Rayyan..


"Hahahaah, apa kau takut aku mebunuhmu Rayyan?" Miran menggoda.


"Bu..bukannn, aku hanya merasa jantungku berdegup begitu kencang membuat aku gelisah" terang Rayyan.


"Tunggu lah sebentar lagi, kamu pasti akan suka" jawab Miran.


Setelah sampai ditujuan, Miran membuka penutup mata Rayyan..


Saat penutup mata dibuka, perlahan Rayyan menyesuaikan pandangannya..


Rayyan terkejut melihat apa yang ada di depannya...


Sebuah ayunan di pinggir bukit, tempat favoritnya...


Perlahan Rayyan mendekati ayunan tersebut dan menoleh ke Miran.


"Bagaimana kau tau aku suka sekali di tempat ini... Dann ini?" Rayyan merasa senang..


"Kamu ingat saat aku menabrak mu?, dari situ aku berfikir mungkin kamu suka akan tempat ini.. Ternyata benar.. Ayoo naik" Miran tersenyum.


Rayyan menaiki ayunan tersebut dan perlahan di ayunkan oleh Miran..


"Apa kah kamu takut?" tanya Miran.


"Tidak, ini sangat menyenangkan. Kamu mewujudkan keinginanku Miran.." Rayyan menengadahkan kepalanya menikmati hembusan angin yang menerpa dia.


Miran menghentikan ayunannya, dan memeluk Rayyan dari belakang..


"Apakah kamu sudah percaya dengan ku Rayyan.??." tanya Miran


Rayyan hanya menjawab dengan anggukan juga menahan degupan jantungnya yang begitu kuat jika tiap kali berdekatan dengan Miran..


"Aku akan melakukan apapun untuk mu Rayyan, ini janjiku dan peganglah janjiku" kata Miran...


"Miran..." panggil Rayyan pelan.


"Hmmmmm.." jawab Miran..


"Jika aku terjatuh kedasar jurang ini, apa yang akan kamu lakukan..???" tanya Rayyan.


"Jika kamu terjatuh kedalam jurang, maka aku akan menyusulmu kedasar jurang tersebut" jawab Miran Yakin..


"Kenapa?" tanya Rayyan.


"Karena, Rayyan tidak ada maka Miran pun tidak ada" jawab Miran..

__ADS_1


Flasback off


Mengingat itu semua, hati Rayyan begitu ngilu sangat sakit...


Rayyan mengenakan gaunnya kembali dengan asal...


Lalu mengambil minyak yang ada di lampu teplok dan menyiramnya ke karpet..


Lalu dia menyalakan api, dan melemparkannya ke karpet tersebut dan menyalalah kobaran api...


Rayyan duduk disebuah bangku, sambil terus menangis sedangkan api semakin lama semakin besar..


Kepulan asap ada dimana mana, membuat Rayyan merasa sesak nafas dan lama kelamaann penglihatannya buram, Rayyan jatuh pingsan..


Di lain tempat, di sebuah kantor perusahaan yang didirikan dengan kolaborasi keluarga Alan dengan Sadli...


Miran duduk dibalik meja kebesarannya yang tampak gelisah, hatinya merasa tidak tenang sedari dia meninggalkan Rayyan di pondok sendirian..


Melihat keadaan sahabat sekaligus rekan kerjanya terlihat kacau, Riyan merasa bingung.


"Kamu ada masalah Miran?" tanya Riyan..


"Aku hanya merasa gelisah," jawab Miran


"Kamu memikirkan gadis itu?" Riyan memicingkan matanya..


"Riyan antar aku kepondok itu, cepat hatiku merasa tidak karuan" Miran langsung berdiri dan berjalan cepat keluar kantor..


Riyan mengikuti Miran...


Mereka berdua pergi menuju ke pondok dimana Miran meninggalkan Rayyan..


Saat sudah sampai di sana, Miran terkejut dengan keadaan pondok yang sudah hangus terbakar...


Miran langsung berlari mendekati pondok tersebut..


"Ohh my God Mirannn, apa yang sudah kamu lakukan???" Riyan memegangi kepalanya terkejut..


"Tidak ada yang aku lakukan, saat aku meninggalakan dia di sini, keadaan baik baik saja.. Tidak seperti ini" Miran bingung dan mencoba masuk kedalam sisa sisa pondok..


Perlahan Miran mengamati sekitar puing puing pondok...


Dia melihat sebuah tasbih yang di berikan Rayyan untuknya dan sebuah cincin kawin yang dia berikan ke Rayyan..


"Riyan ayo cari Rayyan, aku yakin dia masih hidup." Miran bergegas keluar menuju ke mobil..


Mereka berdua pergi menyusuri jalan, terus mencari keberadaan Rayyan..


☘☘☘☘☘


Rayyan mulai tersadar dari pingsannya, dia mengedipkan mata melihat sekitar..


Dia mengingat ngingat apa yang terjadi, sei ingatnya, dia masih di dalam pondok yang terbakar namun sekarang dia berada di sebuah mobil..


Rayyan menoleh kesamping, ternyata ada nenek Aisah..


"Siapa anda?, saya berada di mana?" tanya Rayyan bingung.


Nenek Aisah hanya tersenyum, Rayyan menatap keluar mobil..


Dia menyadari bahwa arah tesebut menuju ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari rumahnya.


"Maaf nenek, nenek siapa dan saya akan di bawa kemana? Kenapa nenek menolongku?" tanya lagi Rayyan..


"Samsul, berhenti di depan" Kata nenek tanpa menjawab Rayyan..


Rayyan bingung kenapa berhenti tepat di tempat seramai ini, dia mengalihkan pandangannya ke nenek..


"Samsul..." panggil nenek..


Samsul sang pengawal kepercayaan nenek tahu apa maksud dari panggilan itu..


Dia turun dari mobil, dan membuka pintu di mana Rayyan duduk..


Rayyan dipaksa turun oleh Samsul...


"Nenek, kenapa saya diturunkan di sini nenek... Saya mohon jangan di sini... Banyak orang yang mengenali saya disini nek" Rayyan mencoba bertahan dan menangis memohon..


Nenek Aisah turun dari mobilnya, Rayyan di paksa lalu didorong hingga dia terjatuh..


"Kenapa anda melakukan ini kepada saya???.hiks hiksss.. Ke...kenapa anda malah repot repot menolong saya, seharusnya anda membiarkan saya mati di pondok tersebut" tangis Rayyan menahan malu sambil melihat sekekliling dan kembali menatap nenek Aisah yang hanya tersenyum..

__ADS_1


Orang orang yang menyaksikan di sana menoton kejadian tersebut. Dan banyak dari mereka yang berbisik bisik..


"Itukan nenek Aisah dari keluarga Alan, kini dia telah kembali setelah 24 tahun pergi meninggalkan kota ini" bisik salag satu pria..


"Bukan kah itu cucu dari tuan Sadli yang kemarin menikah?? Kenapa dia dibuang di sini yang masih mengenakan gaunnya dimana suaminya???" salah satu perempuan lain..


Semua itu masih terdengar oleh Rayyan dan nenek Aisah...


"Kamu memang pantas mendapatkan ini... Dan kematian adalah hal yang termudah bagimu dan saya tidak menginginkan kamu untuk cepat mati" bisik nenek ditelinga Rayyan dengan senyum sinisnya lalu pergi meninggalkan Rayyan


"Aku mohon, bawa saya dari sini... Anda boleh melakukan apapun kepada saya tapi bawa saya dari sini aku mohon" tangus Rayyan mengedor gedor pintu mobil dan terus mengikuti laju mobil yang perlahan mulai jalan..


Nenek tidak menghiraukan permohonan Rayyan, menoleh pun tidak...


Nenek merasa puas sudah membuat malu keluarga Sadli, kini mobilnya mengarah kesebuah perkebunan di mana ditengah tengah perkebunan tersebut ada sebuah rumah.


Nenek berhenti dan turun dari mobil sambil terus menatap ke arah rumah tersebut...


"*Disini lah awal mula terjadi, aku mati dan bangkit di sini" batin nenek lalu kembali pergi meninggalkan tempat itu..


☘☘☘☘☘*


Rayyan terjatuh saat dia tidak bisa mengimbangi kecepatan mobil, matanya mengitari sekelilingnya.. Banyak cemoohan yang dia dapat dari orang orang di sana..


Rayyan terus menangis, dan mencoba untuk bangkit ingin segera pergi dari tempat itu..


Rayyan terus berjalan menelusuri lorong lorong yang tidak asing bagi dia karena memang itu dekat dari tempat kediaman keluarga Sadli..


Rayyan terjatuh tersungkur karena lemas dari pagi hingga tengah hari dia belum makan bahkan minum, dia tak sanggup lagi berjalan kondisinya sangat lemas ditambah dengan penderitaan yang baru saja dia dapat.


"Mari nak, paman bantu" kata seseorang membantu Rayyan bangkit..


Rayyan hanya menoleh, dia pasrah entah mau di bawa kemana oleh pria paruh baya itu..


Sampainya di sebuah rumah kecil, Rayyan di dudukan disebuah bangku panjang yang tebuat dari bambu..


"Tunggu di sini sebentar, saya akan mengambilkan sesuatu untuk mu" kata pria tersebut.


Rayyan hanya mengangguk, Rayyan sudah tak sanggup dan memilih merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lemas tak bertenaga meski dia tidak dapat memejamkan matanya..


Otaknya masih terus memutarkan memori kejadian kejadian yang dia alami. Rayyan kembali menangis, hatinya begitu sakit karena kesalahan yang tanpa dia tahu apa.. Dosa apa yang dia tanggung pikirnya..


Tidak beberapa lama kemudian, pria itu kembali dengan semangkuk bubur dan teh hangat.


"Makan dan minumlah agar ke adaanmu sedikit membaik.. Maaf hanya ini yang bisa paman siapkan untukmu" kata pria tersebut menaruh mangkuk bubur dan teh hangatnya di meja.


"Terimakasih paman sudah membantuku" kata Rayyan bangkit dari tidurnya..


Rayyan telah selesai makan, dan duduk terdiam mengamati pria tersebut yang sedang sibut membuat ukiran disebuah kayu..


"Kembalilah segera kepada keluargamu, jelaskan semua yang telah terjadi yang kamu alami" pria itu tiba tiba berbicara..


"Saya takut" jawab Rayyan kembali terisak.


"Keluargamu pasti akan mengerti, terlebih melihat keadaanmu seperti ini..." pria itu berusaha meyakinkan Rayyan..


"Tapiii... Kakek pasti akan murka terhadapku" isak Rayyan.


"Hadapi segala masalah mu jika kamu berusaha untuk menghindarinya, akan semakin kami tersiksa dengan keadaan ini" pria itu menatap Rayyan..


Rayyan terdiam, berfikir dan mengumpulkan keberaniannya.


"Saya yakin, kamu gadis yang baik dan kuat.. Jangan takut karena kamu tidak bersalah... Temui lah keluargamu" pria itu terus meyakinkan Rayyan..


"Baiklah paman, terimakasih karena anda telah menolong saya.. Saua pamit paman, semoha saya masih hisa bertemu dengan anda kembali paman" Rayyan bangkit dari duduknya dan menyalami tangan pria itu..


"Berhati hatilah.." pria itu tersenyum dan mengangguk..


Rayyan meninggalkan rumah itu, dengan tertatih Rayyan terus berjalan menuju kediaman Sadli..


Dia tak peduli dengan pandangan orang orang yang dia lewati, yang dia ingin hanya segera pulang ke rumah..


semoga masih suka 😊😊😊


maaf jika masih jelek atau masih kurang greget atau banyak kesalahan kesalahan dalam penulisan..


author masih belajar..


dan sangat memohon kritik dan sarannya..


jangan lupa like ya..

__ADS_1


terima kasihhh🙏🙏🙏😊😊😊


__ADS_2