
Setelah dokter dan perawat pergi meninggalkan ICU tempat papa Hazar di rawat. Papa Hazar menanyakan sebuah surat yang akan dia berikan ke Rayyan. Namun mama Anna merasa bingung karena memang dia tidak mengetahui perihal surat tersebut.
Papa Hazar menjelaskan jika surat itu sangat penting dan mungkin surat itu dapat membuktikan jika dirinya tidak bersalah atas insiden meninggalnya orang tua Miran.
Tak berapa lama, beberapa perawat kembali datang dan mengatakan akan memindahkan papa Hazar ke ruang perawatan.
Setelah di pindahkan, papa Hazar meminta untuk bertemu dengan Miran dan Rayyan.
"Papa..." panggil Rayyan berjalan mendekati sang papa dan memeluknya.
Miran berjalan di belakang Rayyan. "Semoga lekas sembuh pak Hazar" kata Miran.
"Pa.. Apakah papa masih ingat tentang insiden itu? Apakah papa terjatuh atau ada seseorang yang mendorongmu pa?" tanya Rayyan yang merasa tidak sabar.
Papa Hazar menatap sang putri bergantian menatap Miran bergantian. Dia diam sesaat. Sedangkan Rayyan menanti jawaban papa hazar dengan harap harap cemas.
"Papa tidak terjatuh.." papa Hazar terdiam sesaat dan kembali menatap Miran.
Miran terus menatap papa Hazar, dengan mata memerah. Ada rasa emosi, kekhawatiran yang ia pendam.
"Tapi Miran yang mendorong papa" sambung papa Hazar.
Mendengar itu otomatis Rayyan dan Miran sama sama terkejut. Terlebih lagi Miran, dia merasa bukan pelakunya namun dituduh telah mendorong. Otomatis dia merasa tidak terima dengan tuduhan itu.
Rayyan menatap Miran, ada guratan kekecewaan jelas di matanya.
"Kenapa kamu berbohong?? Kamu mengatakan kepadaku jika bukan kamu yang mendorongnya.. Kenapa kamu tega Miran?? Kenapa??!!!" kata Rayyan menangis.
"Rayyan.. Rayyan.. Percayalah kepadaku Rayyan... Demi Allah, aku tidak mendorong papamu.." kata Miran mendekati Rayyan.
"Kenapa anda begitu kejamnya pak Hazar?? Kenapa anda memfitnah saya?? Saya tidak sedikitpun mendorong anda!!" sambung Miran marah.
"Cukup Miran Cukup!!" bentak Rayyan.
"Rayyan, bawa dia keluar!!" perintah mama Anna.
Lalu Rayyan menggiring Miran untuk keluar ruangan. Di depan kamar perawatan papa Hazar, mereka berduapun berdebat. Rayyan yang kecewa dengan Miran dan Miran kekeh bahwa dia tidak bersalah.
Hingga akhirnya, keluarga besar Sadli melihat keduanya berdebat di depan kamar dan mendekati mereka berdua.
Tanpa basa basi, Arga mencengkeram kerah baju Rayyan.
"Untuk apa kami datang kesini haahh!!!" benyak Arga.
Suasana semakin panas. Dan saat itu jiga di waktu yang bersamaan, Riyan datang dengan beberapa anak buahnya melihay Miran yang hampir di hajar oleh Arga.
Riyan langsung berlari dan menghampiri Miran di ikuti beberapa anak buahnya. Riyan berusaha menarik Miran. Melihat Riyan membawa anak buah, keluarga Sadli tidak terima dan akhirnya menjado semakin ricuh.
__ADS_1
Atas keributan itu, datang beberapa satpam rumah sakit untuk melerai kedua kubu.
Miran yang merasa di fitnah tidak terima begitu saja, dia berusaha melepaskan dirinya dari pegangan Riyan yang berusaha membawanya keluar dari rumah sakit. Mengingat situasi yang tidak memungkinkan untuk dirumah sakit. Rayyanpun mengejar Riyan yang membawa Miran.
#####
Di dalam kamar, papa Hazar melamun. Hatinya tidak tenang.
"Ya Allah, maafkan hambamu ini ya Allah.. Hamba telah berbohong. Aku telah memfitnah Miran." kata papa Hazar merasa bersalah.
Mama Anna yang berada di sanapun hanya terdiam ada rasa terkejut ternyata bukan Miran lah pelakunya.
#####
Di area parkir rumah sakit, Riyan melepas Miran. Miran terus meluapkan kekesalannya atas tuduhan yang ditujukan pada dirinya.
"Miran!!!" panggil Rayyan.
Riyan Miran dan yang lainnya menoleh.
"Aku tunggu di mobil" pamit Riyan dan berjalan meninggalkan Miran diikuti anak buahnya.
"Aku sudah banyak berkorban untuk menikah denganmu. Bahkan aku rela melawan keluarga ku sendiri. Hingga aku juga tidak peduli dengan sikap nenekmu kepadaku. Kemarin kita sepakat akan mencari kebenaran bersama sama. Tapi nyatanya kamu telah berbohong padaku. Aku sangat kecewa padamu. Sekarang pergilah dari hidupku, aku mohon lupakan aku.. Bebaskan aku" kata Rayyan.
Ada rasa sakit, kecewa, marah bercampur dihati Rayyan. Ingin mempercayai suaminya itu, namun papanya sudah mengatakan jika Miran lah yang mendorongnya. Posisinya sungguh sulit, karena Rayyan yakin papanya tidak mungkin berbohong.
"Bukti apa lagi?, papaku tidak mungkin berbohong!!" kata Rayyan marah.
Riyanpun kembali menghampiri Miran.
"Miran.. Ayo kembali. Bukan sekarang" kata Riyan mendorong Miran agar kembali ke mobil.
Sepeninggalan Miran dan Riyan, Rayyan seketika itu menangis. Hatinya begitu sakit, perih.. Entah keputusannya salah atau benar. Namun dia meyakini jika papanya berkata jujut. Meski berat, namun rasa kecewa sudah mendominasi.
#####
Kakek dan yang lainnya sudah di ijinkan untuk menjenguk papa Hazar. Semua merasa lega kondisi papa Hazar semakin membaik.
"Nak, untuk apa kamu malan malam datang kerumah itu?" tanya kakek penasaran.
"Aku berencana untuk memabwa Rayyan pergi dari sana" kata papa Hazar.
"Miran itu sungguh keterlaluan, ingin sekali aku mengambil nyawanya" kata kakek geram.
Tiba tiba Gendis berlari mendekati brankar papa Hazar.
"Hei gadis muda, berhati hatilah.." kata kakek terkejut.
__ADS_1
"Aki ingin bersama papa.. Bantu aku" jawab Gendis.
Papa Bram membantu Gendis untuk naik ke atas brankar. Gendispun langsung memeluk sang papa.
"Papa, aku sangat merindukanmu.. Aku kahwatir. Aku takut papa meninggalakanku pergi ke surga. Aku selalu berdoa agar papa cepat sembuh" kata Gendis dalam pelukannya.
Papa Hazar mencium kening putri kecilnya itu.
"Papa tidak akan kemana mana sayang. Papa akan selalu bersamamu" hibur papa Hazar.
"Sudah dong jangan menangis lagi ok" kata papa Hazar.
Lalu Gendis dengan polosnya menceritakan segala hal. Termasuk kejadian sang mama menampar sang kaka. Hal itu membuat papa Hazar terkejut dan menatap sang istri.. Mama Annapun hanya terdiam memdapatkan tatapan itu..
"Aahhj sayang, hari sudah siang. Kamu cari makan ya sama mbak Ike" bujuk mama Anna mengalihkan pembicaraan.
Gendispun menurut dan pergi meninggalkan kamar perawatan papa Hazar dengan Ike.
Selapas kepergian Gendis, kakekpun kembali angkat bicar.
"Kita harus segera membalas perbuatan Miran yang ingin membunuh Hazar" kata kakek.
"Pa.. Tidak perlu.. Aku mohon, aku tidak ingin masalah ini semakin panjang. Aku mohon, luapaknlah. Anggap saja semua ini sudah selesai.." kata papa Hazar.
Kakek menatap putranya dengan wajah yang heran, ingin sekali kakek menolaknya. Namun, saat itu salah satu perawat datang untuk mengingatkan bahwa papa Hazar harus segera beristirahat.
Merekapun berpamitan dan meninggalakan papa Hazar. Hanya mama Anna yang masih berada di sana untuk menemani papa Hazar.
Kakek dan yang lainnya berjalan menunu ke halaman rumah sakit untuk segera kembali kerumah.
"Kakek, lihat.. Rayyan masih berada di sini. Kakek harus melakukan sesuatu. Aku kemarin melihat dia pergi bersama Miran. Bahkan dia tidak memperdulikan papanya yang sedang sakit. Kakek haria memberinya pelajaran kek" provokasi Rosa.
Kakekpun terpancing dengan provokasi Rosa. Kakek langsung segera berjalan cepat mengahmpiri Rayyan.
Papa Baram berusaha mencegah kakek agar tidak memarahi Rayyan.
"Rayyan!!! Sungguh kamu adalah sumber bencana bagi kami.. Gara gara kamu, Hazar hampir tewas. Jangan pernah coba coba kamu kembali lagi ke rumah kami!!!" bentak kakek di hadapan Rayyan.
Rosa merasa puas melihat Rayyan di marahi kakek habis habisan.dari kejauhan, Arga melihat kejadian itu dan langsung menghampiri mereka dan membela Rayyan.
Akhirnya Arga dan kakek berdebat. Saat situasi semakin memanas, tiba tiba Gendis datang.
"Kakak!!" panggil Gendis.
Rayyan langsung berjongkok dan langsung menangkap tubuh Gendis yang berlalri ke arah dirinya.
Gendis sangat merindukan sang kakak, karena susah beberapa hari dia tidak bertemu dengan sang kakak.
__ADS_1