
Hari terus berlalu, hingga berganti minggu..
Ini hari pertama kalinya Miran kembali mengunjungi kediaman Sadli setelah acara lamaran itu.
Tok...tok...tok...
Pintu utama dketuk, Ike yang mendengar pintu diketuk pun langsung berlari untuk membukakan pintu..
"Rayyan ada?" tanya Miran setelah pintu terbuka....
"Mari silahkan masuk, akan saya panggilan" kata Ike mempersilahkan Miran..
Ike berjalan cepat menaiki tangga menuju ke kamar Rayyan.
Tok...tok...tok...
"Rayyan, ada Miran di bawah" kata Ike..
"Ya sebentar tunggu sebentar.."jawab Rayyan..
Rosa yang mendengar nama Miran disebutkan, langsung bergegas keluar kamar dan menengok apakah benar ada Miran.
Saat menengok dari lantai dua, Rosa terus memandangi Miran dengan tatapan sedih...
Miran merasa ada yang mengawasi, dia langsung menatap ke atas dan bertemu pandang dengan Rosa..
Rosa tersenyum saat Miran menatapnya, namun Miran hanya acuh terhadap dia..
Tak lama Rayyan keluar dari kamarnya.
"Rayyan, ingat akan ada waktunya kamu menderita melebihi aku saat ini. Dan jika waktu itu tiba aku akan sangat menikmatinya" senyum sinis Rosa menghalangi jalan Rayyan lalu kembali ke kamar dia.
Rayyan tidak memperdulikan kata kata Rosa, yang dia ingin hanya keluar dari rumah ini..
Rayyan terus berjalan menghampiri Rosa.
"Apakah kamu ada waktu hari ini?" tanya Miran setelah Rayyan bersiri di depanny.
"Ya ada... Kenapa?" jawab Rayyan.
"Ayok ikut aku, kita keluar sebentar" Miran menggandeng tangan Rayyan lalu berjalan keluar rumah.
Mereka berdua menuju sebuah tempat seperti taman yang berada di tepi sungai yang sangat sejuk udarany..
Mereka berjalan perlahan menyisiri tepi sungai sembari menikmati suasana di sana.
Tiba tiba Rayyan tersandung dan akan terjatuh, untung posisi Rayyan masih tetap seimbang dan tidak terjatuh. Saat melihat itu Miran mengambil batu itu dan akan melempar ke arah sungai...
"Apa yang kamu lakukan Miran?" Rayyan merasa aneh.
"Karena batu itu sudah menghalangi jalan mu" jawab Miran santai..
"Jadi kalau nanti disetiap jalan ku banyak batu yang menghalangi jalanku akan kamu buang juga?" tanya Rayyan.
"Jika perlu, akan aku lakukan" jawab Miran.
"Jangan, setiap langkah seseorang pasti akan ada yang menghalangi... Jika masih bisa untuk dilewati mengapa harus dibuang" kata Rayyan sambil mengambil batu ditangan Miran dan menjatuhkannya lalu dia kembali berjalan.
Diam diam Miran mengambil batu itu dan menyimpannya, lalu dia jalan mensejajari Rayyan.
Mereka terus berjalan hingga menjelang sore..
"Rayyan, lusa apakah kamu ada waktu?" tanya Rayyan setelah mobilnya berhenti di depan kediaman keluarga Sadli...
"Lusa hmmm, sepertinya tidak ada.. Kenapa?" tanya Rayyan.
"Ibu dan adikku akan mengantar kamu untuk mencari semua perlengkapan untuk acara kita minggu depan, tapi untuk baju pengantinnya aku sudah pesan mungkin dalam beberapa hari kan segera diantar kemari" kata Miran menjelaskan.
"Hmmm ok, aku akan mengajak ibu ku boleh?" tanya Rayya.
"Silahkan tidak masalah" jawab Miran.
__ADS_1
"Ohh ya Miran, tidak perlu mengantarku sampai ke dalam, sampai di sini saja" kata Rayyan sebelum membuka pintu mobil.
"Yakin?" Miran menatap Rayyan..
Rayyan hanya mengangguk dan tersenyum lalu membuka pintu mobil untuk keluar.
Setelah Rayyan menutup pintu utama, baru Miran pergi meninggalkan kediaman keluarga Sadli dengan perasaan senang..
☘☘☘☘☘
Rayyan berjalan di sebuah lorong yang sangat sepi, pada saat dia berjalan tepat dia berhenti di depan toko yang memajang sebuah gaun yang berwarna merah yang sangat Indah...
"Gaun ini sangat indah, aku ingin sekali memilikinya" batin Rayyan.
Saat Rayyan masih mengamati gaun tersebut dari balik kaca, tiba tiba ada seseorang yang menggunakan penutup kepala.
"Jangan memilih yang berwarna merah, atau kamu akan mengalami hal yang sangat buruk" bisik orang itu di telinga Rayyan langsung berjalan meninggalkan Rayyan..
Rayyan kaget, langsung berbalik badan namun orang itu sudah menghilang. Dan tiba tiba kaca di toko itu pecah berhamburan. Rayyan sangat terkejut dan tiba tiba hari menjadi gelap gulita, dia langsung berlari pergi meninggalkan tempat itu.
Rayyan terbangun dari tidurnya, dia tersengal sengal dengan mimpinya tadi.
"Hufhhhh hanya mimpi, hanya mimpi... Tapi mengapa begitu nyata?" kata Rayyan berbisik dan mimpi itu membuat Rayyan tidak tenang.
☘☘☘☘☘
Beberapa hari kemudian, di kediaman Sadli seperti hari hari biasa si pagi hari dalam keluarga itu para perempuan sibuk menyiapkan sarapan. Dan mereka akan berkumpul di ruang makan untuk makan bersama.
Tok..tok..tok..
Pintu utama diketuk, Ike yang mendengar itu langsung membuka pintu utama..
"Saya ingin bertemu dengan Rayyan" ucap mama Eni saat pintu sudah terbuka.
"Ahh baik, silahkan masuk dan tunggu sebentar" Ike lalu berjalan menuju ke ruang makan.
"Maaf, Rayyan ada yang mencari kamu di depan" bisik Ike di telinga Rayyan.
"Baik, saya akan keluar" jawab Rayyan
"Saya permisi dulu, selamat menikmati" Rayyan berdiri dan meninggalkan meja makan.
Dia berjalan menuju ruang depan, dia sudah tau siapa yang datang jadi tidak terlalu terkejut akan kedatangan mama Eni dan Mei.
"Mama, maaf menunggu lama" kata Rayyan sambil menjabat tangan mama Eni.
"Kami tidak ada waktu, cepat kita ketoko perhiasan dan butik" kata Mei sinis.
"Baiklah, sebentar aku akan memanggil mama ku dulu" jawab Rayyan dan pergi meninggalkan mereka berdua..
Rayyan mencari keberadaan mamanya yang ternyata sudah berada di kamar mamanya.
"Ahhh mama, aku cariin.." kata Rayyan langsung masuk kekamar mamanya..
"Ada apa Rayyan, siapa yang datang?" tanya mama Anna terkejut.
"Mamanya Miran, mereka mau mengajak Rayyan untuk persiapan minggu depan.. Mama ikut ya" kata Rayyan
"Ya udah mama siap siap dulu, juga Gendis tolong suruh ke sini" jawab mama Anna.
Rayyan hanya mengangguk lalu meninggalkan kamar mamanya.
Beberapa saat Rayyan dan sang mama sudah siap.
Mereka semua pergi menuju ke pusat perbelanjaan dan mencari sebuah gaun terlebih dahulu.
Di sebuah butik, Rayyan melihat gaun yang sama persisi didalam mimpinya..
Dia memegang gaun tersebut, dan terus mengamatinya.
"Mama ini sangat bagus, cocok jika di pakai malam pengantin besok" kata Rayyan sambil terus mengelus gaun tersebut..
__ADS_1
"Ambil jika kamu mau"kata mama Eni..
Mei terus menatap Rayyan dengan sinis, dia begitu tidak suka dengan adanya Rayyan...
Setelah mendapatkan gaunnya, mereka menuju ke sebuah toko perhiasan..
Rayyan melihat lihat semua paket perhiasan yang tepampang dan pandangan dia tertuju pada sebuah paket perhiasan dengan model yang sangat elegan menurut dia.
"Boleh saya lihat ini?" tanya Rayyan ke penjaga toko tersebut
"Ini silahkan" penjaga toko menyerahkan ke Rayyan.
Rayyan mengambil sebuah gelang kaki yang sangat indah..
"Jangan terlalu banyak berharap kamu akan pernikahan ini. Dan jangan bermimpi kamu menjadi pendampingnya Miran.. Bahkan Miran pun tak akan sudi memasangkan gelang ini di kakimu!!!" bisik Mei yang tiba tiba dan mengambil gelang itu dengan sangat sinisnya..
Mama Anna dan Rayyan terkejut dengan perkataan Mei tidak paham dengan semua yang di ucapkan Mei...
Mama Eni memegangi tangan Mei agar tidak lagi keceplosan.
"Maaf Rayyan dan bu Anna. Mei memang susah untuk cepat akrab dengan orang lain.
Tiba tiba Miran datang dan mengambil gelang di tangan Mei...
"Bungkus perhiasan ini!!!" kata Miran pada petugas toko.
Semua menatap ke arah Miran yang tiba tiba muncul entah dari mana asalnya.
Miran menggiring Rayyan kesebuah bangku yang berada di samping Rayyan lalu dia berlutut dan mengambil kaki Rayyan ditumpangkan untuk memasangkan gelang kaki tersebut.
Melihat itu mama Eni dan Mei terkejut, terlebih Mei.. Dia merasa selama ini Miran tidak pernah sedikitpun diperlakukan seperti itu..
Miran mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Rayyan..
"Ini sangat cocok untuk kakimu" kata Miran.
Rayyan tersipu malu...
"Tidak Miran, ini tidak pantas untuk aku" kata Rayyan pandangannya beralih ke Mei dan melepas gelang itu dan kembali memberikannya ke Miran..
Rayyan tau Mei tidak suka dengan kehadirannya..
Laku dia bangkit berdiri dan meninggalakan toko itu disusul dengan mama Anna dan Gendis..
Miran melirik ke Mei dengan tatapan dinginnya..
"Skali lagi kamu mau mengacaukannya awas!!! Lebih baik kamu tidak usah ikut diam di rumah!!!" kata Miran dengan dingin ke Mei.
"Miran, kamu...." kata Mei terpotong dan menahan emosinya.
Setelah Miran mendapatkan perhiasan itu, Miran meninggalkan mama Anna dan Mei begitu saja.
"Apa yang kamu lakukan Mei, jika nenek tau dia pasti akan sangat marah" kata mama Eni mencengkeram tangan Mei.
"Aku sakit ma, aku tersiksa.. Aku tidak suka dengan semua ini!!!" Mei berlari meninggalkan mama Anna dengan menangis.
Mama Anna mencoba mengejar Mei dan mencoba menenangkan Mei.
Mei pergi pulang, sesampainya dia kediaman keluarga Alan dia langsung menuju kekamarnya dan menangis.
Tidak lama mama Anna berjalan cepat menuju ke kamar anaknya
"Mei mama Mohon, jangan seperti ini.. Hanya beberapa hari lagi kamu akan melewati ini semua.. Jangan merusak rencana nenek dan Miran atau kamu akan mendapat masalah besar" bujuk mama Eni..
"Mei hanya tak sanggup merasakan ini ma" isak Mei.
"Sudah sudah, mama janji hanya dalam beberapa hari lagi.. Ok" mama Eni memeluk Mei..
Mei hanya mengangguk dalam pelukan mamanya..
maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisannya.
__ADS_1
dan semoga suka 🙏🙏😊😊
jangan lupa like dan koment,..