
Di dapur Ike berusaha menenangkan mama Anna.
"Bu.. Bagaimana jika aku menelfon Rayyan untuk anda" ide Ike.
"Apa bisa?? Coba coba Ike.. Aku ingin sekali mendengar suara Rayyan" kata mama Anna.
Ike pun mencoba menelfon Rayyan.
"Halloo.." suara Rayyan.
"Rayyan... Anak mama..." kata mama Anna menangis lega.
"Mama.. Mama jangan khawatir ya aku baik baik saja ma... Aku berjanji akan segera menemui mu.. Mama jangan menangis ya" kata Rayyan.
Mama Anna merasa lega mendengar Rayyan baik baik saja. Lalu mama Anna mengatakan kepada Ike bahwa Rayyan akan menemuinya dan meminta Ike untuk menemaninya.
☘☘☘☘☘
Miran yang mendengar percakapan Rayyan dengan sang mama hanya menganggukkan kepalanya setuju saat Rayyan ingin menemui mamanya.
Setelah sambungan telepon ditutup, Rayyan dan Miran segera menuju ke rumah pertenakan.
"Kalian akan kemana lagi?!" tanya nenek Aisah.
"Aku akan mengantar Rayyan menemui mamanya" jawab Miran.
"Tidak.. Kalian tidak boleh.. Bukankah kamu sudah berjanji saat menikah menyetujui untuk tidak bertemu lagi dengan keluargamu itu!" kata nenek Aisah melarang.
"Aku akan tetap mengantarnya.. Karena Rayyan berhak untuk menemui mamanya" kata Miran.
Mereka langsung meninggalkan rumah Miran tanpa persetujuan nenek.
Dalam perjalanan Rayyan terus memperhatikan Miran yang sedang fokus menyetir.
"Miran.. Terimakasih kamu sudah mau mengantarkanku.." kata Rayyan tersenyum.
Miran menoleh dan menatap Rayyan.
"Apa kamu masih percaya jika papaku yang membunuh kedua orang tuamu?" tanya Rayyan.
"Aku akan membuktikan kepadamu bahwa papa ku tidak bersalah" kata Rayyan lagi.
"Rayyan.. Jangan membahas ini dulu.. Aku saat ini hanya ingin membuatmu tersenyum" jawab Miran.
☘☘☘☘☘
Di rumah peternakan, papa Hazar dan kakek sedang duduk berdua di gazebo halaman depan rumah.
"Aku harus melakukan sesuatu untuk Rayyan dan Anna.. Aku akan menghentikan badai yang menerpa keluargaku" kata papa Hazar.
Drrrttt....ddrrrtttt..
Ponsel papa Hazar bergetar tanda panggilan masuk..
"Hallo.. Ada kabar apa Ali??" tanya papa Hazar.
"Pak.. Saya sudah menemukan mobil Miran yang di tembaki oleh orang bersenjata" kata Ali memberikan info.
"Baik.. Baik.. Aku akan segera kesana.. Kirim lokasinya" titah papa Hazar.
"Pa.. Aku pergi keluar dulu, Ali sudah menemukan mobil Miran." pamit papa Hazar.
"Hazar.. Jangan.. Papa takut kamu akan diserang di sana, mungkin itu sebuah pancingan agar kamu pergi ke sana.." kakek khawatir.
__ADS_1
"Tenang pa.. Aku tidak baik baik saja.. Di sana ada Ali.." jawab papa Hazar.
Lalu papa Hazar pun pergi ke lokasi di mana Ali kirim.
☘☘☘☘☘
Sementara di tempat lain, Rayyan menemui mamanya secara sembunyi sembunyi.
Saat mereka berdua saling bertemu, mama Anna dan Rayyan langsung saling berpelukan. Tangisan pun pecah, mama Anna sangat erat memeluk Rayyan.
"Rayyan anakku... Mama sangat bersyukur kamu selamat nak.. Ikutlah dengan ku nak... Pulang lah bersama mama" mama Anna menggandeng Rayyan.
Melihat itu, Miran langsung mendekat dan memegang lengan Rayyan.
"Rayyan akan tetap bersamaku.. Dia telah menikah dengan ku, jadi dia akan tinggal bersama ku. Lepaskan putrimu" kata Miran.
"Minggir kamu..!!" mama Anna mendorong Miran.
"Ijinkan aku untuk menjadi menantumu. Aku akan berjanji padamu untuk selalu melindungi Rayyan, dan tidak akan menghalangi mu untuk bertemu dengan Rayyan.
Mama Anna pun lukuh dengan kata kata Miran. Denga jati yang sedih dan berat untuk melepas Rayyan, mama Anna meninggalkan Rayyan bersama Miran. Mama Anna kembali sambil terus menangis.. Dadanya begitu sesak melihat putri kesayangannya kini tidak lagi bersamanya.
☘☘☘☘☘
Papa Hazar telah tiba di lokasi. Tampak di sana Ali tengah menunggunya. Ali mengantar papa Hazar ke tampat mobil Miran di simpan.
Melihat kondisi mobil, papa Hazar sempat heran.
"Bagaimana caranya Miran bisa selamat. Lihatlah bekas bekas peluru ini" kata papa Hazar sambil terus mengamati mobil tersebut.
"Lihatlah.. Mereka tidak mengarahkannya ke pada Miran.." kata Ali menunjukkan ke bangku sopir yang utuh tanpa tergores sedikitpun.
"Saya menduga ini hanya untuk menakut nakuti Miran" lanjut Ali.
"Baik pak.." jawab Ali.
☘☘☘☘☘
Rayyan dan Miran tiba di kediaman keluarga Aslan.
Saat Miran hendak memasuki rumahnya tiba tiba ponselnya berdering.
"Miran, aku ingin berbicara denganmu.. Temui aku di gudang" suara papa Hazar.
Miran mematikan sambungan teleponnya.
"Rayyan, aku ada kerjaan.. Kamu masuk saja dahulu.. Nanti aku akan menyusulmu" kata Miran menutupi.
Rayyan hanya mengangguk lalu masuk ke dalam rumah. Miran bergegas kembali masuk ke dalam mobil dan menemui papa Hazar.
Rayya masuk seorang diri, nenek melihat kedatangan Rayyan dengan tatapan penuh kebencian.
"Samsul!!" teriak nenek.
"Ya bu" jawab Samsul.
"Kumpulkan anak buah, dan ikut dengan ku" titah nenek lalu pergi keluar.
Rayyan hanya menatap nenek sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
☘☘☘☘☘
Miran tiba di gudang, di mana papa Hazar tengah menunggunya.
__ADS_1
Turun dari mobil, Miran langsung menodong papa Hazar.
"Kelarga Sadlu pasti dalang ini semua!!!" kata Miran marah.
"Kami bukan pelaku di balik penyerangan itu. Aku akan mencari pelaku sebenarnya. Aku akan mencari fakta cepat atau lambat aku akan menemukan dalang dari semua itu" kata papa Hazar.
☘☘☘☘☘
"Nek tunggu!!" teriak Riyan.
"Kenapa tidak menunggu Miran nek?" tamya Riyam yang sudah mengetahui maksud tujuan nenek.
"Ada atau tanpa Miran aku akan tetap ke rumah Sadli" kata nenek.
Miran yang mendengar perdebatan nenek dan Riyan lalu turun dan mencegah nenek.
"Nenek.. Aku mohon jangan... Ini bukan salah keluarga.. Aku sangat yakin mereka bukan pelakunya" cegah.
"Samsul" panggil nenek.
Samsul sigap, menyuruh dua anak buahnya untuk memegangi Rayyan dan nenek tidak memperdulikan Rayyan.
Rayyan di seret oleh dua orang penjaga untuk di bawa ke kamarnya. Mia mencoba mencegah, namun sia sia.. Tenaganya tidak sebanding dengan kedua penjaga itu.
Melihat sebuah pistol terselip dipinggang salah satu penjaga. Rayyan langsung menariknya.
"Minggir!!! Jangan mencoba mendekat atau kalian akan aku tembak!!" kata Rayyan menodongkan pistolnya dan menuju keluar.
Di depan pintu, Rayyan menodong salah satu penjaga untuk mau mengantarnya menuju ke rumah perkebunan.
☘☘☘☘☘
Miran dan papa Hazar tengah memperdebatkan persoalan penembakan itu.
Di tengah tengah perdebatan itu, ponsel mereka secara bersamaan berdering dan bersama sama menerima panggilan tersebut.
"Hallo" jawab mereka berdua.
"......"
"Apa!!!" jawab mereka lagi bersamaan.
"Papa akan pulang" jawab papa.
Miran mendapat telepon dari Mia, sedangkan papa Hazar mendapat telepon dari Rayyan.
Mereka berdua pun pergi secara bersamaan. Terlihat sangat jelas dari raut wajah mereka yang terlihat khawatir.
Di tengah perjalanan papa Hazar menghubungi kakek untuk mengabarkan bahwa nenek Aisah tengah menuju ke rumah mereka beserta anak buahnya untuk menyerang.
☘☘☘☘☘
Setelah mendapat telepon dari papa Hazar, kakek meminta untuk seluruh anggota keluarganya untuk bersembunyi di ruang bawah tanah.
Para lelaki semua bersiap siap untuk mengahadapi nenek Aisah. Dan tidak lama kemudian, terlihat dari kejauhan rombongan mobil nenek Aisah.
Kakek sudah bersiap bersama yang lainnya. Kedua pihak kini saling berhadapan dengan memegang senjata mereka masing masing untuk bersiaga.
"Sadli.. Dalang penembakan itu pasti ulahmu!!" tuduh nenek.
"Jangan memfitnahku Aisah.. Jangan semakin membuat situasi ini semakin keruh!!" bentak kakek.
Lalu semua langsung saling menodongkan pistol mereka. Bersiap di tempat mereka masing masing.
__ADS_1