
Miran membawa Rayyan menuju mobilnya yang sudah disiapkan oleh Riyan.
"Miran..." panggil Rayyan.
"Hmmm" jawab Miran singkat.
"Sebenarnya apa yang terjadi, suara pistol siapa itu?" Rayyan menatap Miran..
"Aku belum dapat info yang jelas, nanti Riyan akan memeberi kabar apa yang telah terjadi" jawab Miran tetap fokus menyetir..
☘☘☘☘☘
Di tempat yang berbeda, kini Gendis tengah dalam ruang operasi..
Semua tampak gusar, cemas terlebih mama Anna yang terus menangis dipelikan suaminya..
Sudah hampir 3 jam Gendis menjalani operasi, namun belum ada tanda tanda sang dokter keluar dari ruang operasi..
Malam semakin larut, namun operasi tidak kunjung selesai, ini membuat menambah kekhawatiran seluruh keluarga Sadli.
"Pa... Papa lebih baik pulang terlebih dahulu bersama Bram dan yang lainnya.. Bair saya dan Anna yang menunggu di sini.." kata papa Hazar.
"Tapi Hazar, papa ingin menunggu dam mendengar langsung keadaan cucu papa" kata kakek Sadli kawatir.
"Pa, benar kata kakak.. Lebih baik kita pulang terlebih dahulu.. Jangan sampai papa capek.. Kita masih bisa kesini lagi besok.. Kakak pasti akan memberi kabar keadaan Gendis nanti" rayu papa Bram.
Akhirnya kakek mengangguk, kakek menepuk pundak papa Hazar begitu juga papa Bram sebelum mereka meninggalkan rumah sakit. Mama Sinta dan Rosa mengikuti dari belakang.
Arga terus mengawasi keluarganya dari kejauhan, dia ragu ingin mendekat akan apa yang telah dia lakukan..
Penampilannya kini pun sangat kacau, dia benar benar frustasi. Perlahan dia berjalan mendekat hanya ingin sekedar tahu kondisi sang adik sepupunya itu.
Mama Anna yang menyadari kedatangan Arga langsung berjalan mendekat ke Arga dengan wajah penuh emosi..
"Apa yang kamu lakukan disini? Haahh!!! Tidak tau malu!!! Ini semua karena kamu!!! Lihat apa yang kamu lakukan!!! Masih berani beraninya kamu menunjukan wajahmu!!! PERGI DARI SINI!!!" emosi mama Anna sambil mendorong Arga dengan pukulan pukulan kecil di dada bidang Arga.
Arga hanya diam saja, dia merasa pantas diperlakukan seperti itu..
Diapun hanya menangis tanpa menepis tangan yang mendorong dan memukulinya..
"Maa sudah cukup, Gendis sedang berjuang didalam sana.. Mama harus kuat.. Ayooo jangan hiraukan dia.. Dan kamu Arga, urusan kita belun selesai" kata papa Hazar pelan namun tegas dengan tatapan tajam ke arah Arga, papa Hazar memeluk mama Anna dan membawanya duduk di bangku depan ruang operasi...
Hampir 5jam operasi jam dijalankan. Pintu ruang operasi tiba tiba terbuka dan sang dokter keluar.
Mama Anna langsung berlari menuju pintu menghampiri sang dokter..
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya dok" mama Anna sangat cemas.
"Operasi berjalan dengan baik, namun kami belum bisa mengambil sisa serpihan yang berada di kepalanya, karena terlalu dekat dengan otaknya.. Jika kami paksa resiko sangat tinggi mengingat kondisi Nona Gendis masih lemah" kata dokter menjelaskan.
"Apaa..., jadi anak saya harus hidup dengan peluru yang masih dalam kepalanya.?" mama Anna kembali menangis..
"Kita lihat nanti perkembangan dari nona Gendis sendiri, jika memang memungkinkan kita akan kembali menjalankan operasi untuk mengambil sisa peluru tersebut" kata dokter..
"Apa sekarang kami bisa menengok anak saya dok?" tanya papa Hazar.
"Sebentar lagi nona Gendis akan dipindahkan ke ruang perawatan anda boleh menengoknya di sana" jawab sang dokter..
"Baiklah dok, terimakasih" kata papa Hazar.
"Sama sama, semoga nona kecil lekas sembuh dan pulih.. Saya permisi dulu.." pamit sang dokter..
Papa Hazar hanya mengangguk dibalas anggukan juga oleh dokter itu..
__ADS_1
Setelah masuk ruang perawatan, mama Anna terus memegangi tangan Gendis dan terus menangis.. Dia tidak tega melihat kondisi anaknya tersebut.. Papa Hazar hanya menatap kedua wanitanya itu dengan sedih sambil terus mengelus pundak sang istri..
☘☘☘☘☘
Di lain tempat, malam yang semakin larut Miran entah akan membawa Rayyan kemana..
Dia terus melewati sebuah jalan yang sangat sepi dan gelap hampir tidak ada penduduk di sana..
Jangankan penduduk mobil lewat pun hanya satu dua saja.
Miran terus melajukan mobilnya, namun tiba tiba mobilnya mogok kehabisan bahan bakar.
"Mirann, apa yang terjadi?" Rayyan mulai panik..
"Kita kehabisan bahan bakar, kamu tunggu lah di sini aku akan cari bantuan sebentar" jawab Miran.
Rayyan melihat ke sekelilingnya, hanya kegelapan yang ada di sana.. Mana mungkin dia berani ditinggal sendirian disini...
"Miran.." Rayyan menoleh ternyata Miran sudah berada diluar mobil. Rayyan langsung ikut turun.
"Miran aku ikut" kata Rayyan
"Kamu yakin?.. Ini pasti akan sangat jauh dan dingin sedangkan kamu memakai gaun seperti ini" jawab Miran sambil mengamati Rayyan.
"Aku tidak berani ditinggal sendirian" Rayyan memelas.
"Hmmm baiklah" Miran mulai berjalan mendahului dan menyalakan lampu senter di handpone nya...
Mereka berjalan cukup jauh, namun tidak menemukan pom bensin bahkan pengendara lain yang lewat.. Padahal malam sudah semakin larut..
Rayyan sudah mulai kelelahan, ditambah hawa dingin yang menembus gaunnya.
Miran yang melihat itu langsung membuka jas nya dan memakainya ke Rayyan..
"Miran, lihat itu ada pondok.. Coba kita lihat apakah ada penghuninya" kata Rayyan antusias.
Miran hanya mengikuti Rayyan dari belakang. Mereka berdua perlahan mendekati pondok tersebut..
Namun sayang pondok tersebut ternyata kosong karena pintu tergembok dari luar..
"Kosong" kata Rayyan lemas.
"Kita masih bisa masuk dengan cara ini" kata Miran sambil memukul gembok dengan batu besar entah kapan dia mengambilnya.
"Miraann, ini milik orang.. Apa tidak apa apa?" Rayyan terkejut dengan perbuatan Miran..
"Apa kamu mau berada diluar terus dengan keadaan seperti ini" jawab Miran..
Akhirnya mereka berdua masuk, Miran mencoba mencari cari sesuatu untuk dijadikan penerangan..
Dan ternyata disana ada lampu teplok dan korek api...
Miran menyalakan lampu teplok tersebut..
Sedangkan Rayyan mencoba membersihkan tempat tidur yang berada di pondok tersebut..
☘☘☘☘☘
Nenek Aisah malam malam pergi ke sebuah pemakaman di mana putra nya Satria dimakamkan, dia masih sangat sakit hati akan kepergian sang putra...
Nenek terus menangis dan berada di makam itu hingga pagi hari..
"Satria, sebentar lagi kamu akan tenang disana nak. Mama sudah membalaskan dendam untukmu karena sebentar lagi Miran akan memberikan kabar itu untuk mu" kata nenek sambil memegangi batu nisan putranya itu..
__ADS_1
Di pondok, Rayyan terpaksa bangun karena terganggu oleh sinar matahari yang mulai menyusup masuk melalui jendela...
Rayyan mengerjapkan matanya, diliriknya samping dia, suaminya sudah tidak ada..
Dia teringat akan semalam, dimana dia dan sang suami melakukan aktifitas malamnya.
Flashback on
Miran mendekati Rayyan dengan tatapan dinginnya, perlahan dia mendekati Rayyan sedangkan Rayyan hanya terpaku diam menahan dekup jantungnya yang cepat..
Wajah Miran mulai mendekati Rayyan.
"Ini mungkin akhir atau awal dari sebuah cerita" bisik Miran..
Rayyan hanya terdiam, dia tidak fokus dengan ucapan Miran. Rayyan mencoba meredakan jantungnya yang begitu cepat berdetak...
Miran mulai mengecup b***ir manis Rayyan, mulai m*****tnya dan Rayyan belum membalas nya karena ini hal pertama kalinya..
Miran mengigit b***ir Rayyan sehingga dia terpaksa membuka b***irnya, ini kesempatan Miran memasukan lidahnya dan menjelajah..
Entah sejak kapan, gaun Rayyan sudah lepas merosot kini dia hanya menggunakan bagian dalamnya saja..
Perlahan Miran menggiring Rayyan ketempat tidur, dan akhirnya mereka melakukan ritual suami istri seharusnya...
Flasback off
Rayyan tersipu malu mengingat itu, lalu dia bangkit berdiri hendak mencari sang suami..
Miran masuk ke dalam pondok dan melihat Rayyan turun dari tempat tidur..
Rayyan tersenyum menatap Miran, namun berbeda dengan Miran menatap sinis Rayyan..
"Jangan berharap semua ini nyata Rayyan,.." perlahan Miran mendekati Rayyan dengan tatapan sinis.
"Maksud kamu apa Miran" tanya Rayyan bingung.
"Dan terimaksih atas semalam, kau begitu menggairahkan" senyum sinis Miran.
"Apa yang kamu ucapkan Miran??" Rayyan semakin bingung.
"Semua sudah berakhir, dan sudah selesai dan kita tidak ada hubungan apa apa lagi dan lupakan semua yang telah terjadi." Miran menatap Rayyan dengan tajam...
"Miran jelaskan kenapa?" Rayyan mulai terisak menangis.
"Kita sudah selesai Rayyan, SUDAH SELESAI!!!" Miran mendekatkan wajahnya dengan senyum sinisnya, dia berbalik badan dan meninggalkan Rayyan yang menangis...
Rayyan mengejar Miran hingga halaman pondok.
"Miran, kamu suamiku kenapa seprti ini?" Rayyan menangis dan memohon kepada Miran.
"Rayyan, lupakan dan aku bukan suami mu, BUKAN SUAMIMU LAGI!!! JANGAN MENGEJARKU LAGI!!!" Miran terus berjalan pergi meninggalkan Rayyan yang terduduk dalam tangisnya..
"Jangan lihat kebelakang, jangan lihat kebelakang" batin Miran terus berjalan dan masuk kedalam mobil tanpa peduli sedikitpun..
Sedangkan Rayyan terus menangis..
"Miraaannn!!!! Aku tidak akan pernah melukan apa yang kamu perbuat... Miraaannn!!!! Kau akan mendapatkan balasnnya!!!" teriak Rayyan begitu menyedihkannya.
Sebenarnya Miran tidak tega melakukan ini, dia mengingat semua kenangannya indahnya bersama Rayyan, dia sangat bimbang.. Namun ego mengalahkannya karena dendam yang sudah ditanam oleh nenek Aisah...
semoga suka yaa, mohon kritik dan sarannya karena author masih perlu banyak belajar 😊😊😊
jangan lupak like ya, terimakasih 🙏🙏😊😊
__ADS_1