Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
menyangkal mencintainya


__ADS_3

Ceklek...ceklekk


Pintu kamar terbuka.


"Sekarang, ceritakan kepada mama, dari mana kamu tau bahwa Miran sudah memiliki istri dan mereka sengaja melakukan itu" mama Sinta mulai mengintrogasi Rosa.


"waktu malam pernikahan ma, saat Mei marah marah dan mamanya tidak sengaja menyeretnya di dekat kamar Rosa" Rosa menjelaskan.


plakkk...


"kenapa kamu tidak bilang kepada kami Rosa!!! berarti kamu sudah tau dari awal dan kamu diam saja!!" mama Sinta emosi.


"hikssss Rosa sakit hati ma, Rosa ingin melihat Rayyan menderita. Rayyan sudah menghina Rosa dan berkata aku pantas mendapat penolakan dari Miran" Rosa mulai memfitnah.


Mama Sinta yang percaya begitu saja langsung memeluk putrinya itu..


"Tapi sekarang nama keluarga kita yang terjatuh Rosa, jika dulu kamu mengatakannya pasti tidak akan seperti ini, dan kamu jangan mengatakan bahwa kamu dengar sejak dari awal anggap saja kamu tau baru baru ini. Mama ga mau kamu dapat masalah dengan kakek" kata mama Sinta.


Rosa hanya mengangguk dan tersenyum sinis di dalam pelukan mamanya..


Riyan mengajak Rosa untuk bertemu di kafe yang sama seperti pada saat pertemuan yang pertama kali..


Mereka menyepakati untuk bertemu sebelum makan malam agar tidak menimbulkan kecurigaan..


"Haii Riyan, kamu sudah tiba terlebih dahulu?" sapa Rosa saat baru tiba di kafe..


"Baru juga duduk, mari silahkan" Riyan langsung berdiri melihat Rosa datang.


"Terimakasih" senyum Rosa semanis mungkin..


"Mau pesan apa?" tawar Riyan.


"Hmmm cappucino aja deh" jawab Rosa.


Riyan pun memesan minuman untuk dirinya dan Rosa..


"Ada yang perlu saya bantu lagi Rosa?" tanya Riyan.


" Riyan, bisakah saya bertemu dengan Miran.. Ini menyangkut Gendis.. Akhir akhir ini dia selalu menanyakan kakaknya sampai dia mogok makan" Rosa mulai memasang wajah sedihnya dan menggenggam tangan Riyan..


"Duhhh bagaimana ya Rosa, aku tidak yakin Miran mau di ajak bertemu" jawab Riyan ragu.


"Aku mohon Riyan, ini demi Gendis" Rayu Rosa mulai mengeluarkan jurus nangis nya..


"Hmmmm aku ga bisa janji, nanti kita lihat aja.. Nanti aku kabari" jawab Riyan.


Pesanan mereka pun tiba, mereka terlibat obrolan yang terkadang membuat mereka tertawa dan terkadang terlihat serius..


☘☘☘☘☘


"Putri cantik, ayoo makan nanti kamu tidak cantik lagi loh" Ike memamerkan sebuah cup cake yang tampak menggugah selera.


Gendis tampak tergoda, namun segera dia menggelengkan kepalanya..


"Haaaa, kakak punya pie aple.. Apakah kamu mau?" goda Ike lagi.


Lagi lagi Gendis menggelengkan kepalanya meski dia tampak menginginkannya.


"Aku ga mau makan kalau kakak belum datang kemari" ucap Gendis sambil melipat tangannya di depan dadanya..


"Sayang, saat ini kakakmu sedang tidak bisa di ganggu.. Kamu makanlah dulu, biar sehat biar bisa bermain sama kakak ketika nanti dia datang" rayu sang mama.


"Ga mau!" kekeh Gendis.


"Ahhhh iya, kakak lupa.. Kakak punya dot kesayanganmu sebentar ya" Ike melangkah ke lemari di mana dot itu tersimpan dan menuangkan susu.


"Naahhhh ini diaa, kamu hanya mogok makan kan? Tidak untuk minum susu ini" Ike mengerlingkan sebelah matanya.


Gendis menjadi berbinar matanya melihat dot kesayangannya, sebenarnya dia sangat lapar saat itu meski di depannya sudah banyak tertata berbagai macam makanan kesukaannya, namun demi untuk melancarkan rencananya untuk bertemu dan sang kakak jadilah aksi mogok makan..


☘☘☘☘☘


Setelah jam makan malam, Miran duduk di taman yang berada di rumahnya..


Riyan pun mendekati Miran.


"Miran.." panggil Riyan.

__ADS_1


"Hmmmm" jawab Miran.


"Aku rasa akhir akhir ini kamu berubah" katan Riyan duduk di samping Miran.


"Maksud kamu" Miran menatap Riyan.


"Seperti nya kamu jatuh cinta pada gadis itu Miran" kata Riyan jujur.


"Hahaaha, mana mungkinlah... Kamu tau sendiri apa tujuan awal kita" jawab Miran.


"Tapi tidak seperti itu yang aku lihat, sekarang kamu melakukan apa pun untuk dia bahkan sekarang kamu sudah bisa membantah kemauan nenek" Riyan mulai menjelaskan..


"Justru nenek akhir akhir ini yang menyimpang dari semua rencana kita Riyan. Coba kalau nenek tidak membuang Rayyan di sana, mana mungkin akan terjadi seperti ini" Miran terus berkilah.


"Ya sudah lah, terserah kamu Miran.. Ohh ya Miran.. Rosa sodara sepupu Rayyan ingin bertemu dengan mu?" akhirnya Riyan menyampaikan maksud dan tujuannya sebenarnya.


"Bertemu dengan ku?? ada apa?" tanya Miran.


"Dia ingin Rayyan pulang untuk menemui adiknya" jelas Riyan.


"Hmmmm ajaak dia ke kantor.." jawab Miran sambil bangkit berdiri kembali ke kamarnya..


Sesampainya di dalam kamar Miran melepas kaosnya, dan menyiapkan perlengkapan medisnya untuk membersihkan luka dan mengganti balutannya dengan yang baru..


Saat hendak membersihkannya, Mei masuk kedalam kamar dengan baju tidur yang lumayan seksi yang di miliki.


Baju tidur dengan belahan dada terbuka, dan panjangnya hanya sampai di atas lutut berwarna merah maroon dan potongan lengan pendek, seksi..


"Miran, mari saya bantu" kata Mei lembut menghampiri Miran.


"Tidak perlu, terimakasih" jawab acuh Miran.


"Miran aku mohon, biarkan aku melakukannya sebagai istrimu" Mei memasang wajah sendunya.


Miran merasa iba melihat Mei, namun dia memang benar benar tidak menaruh hati kepada Mei sedikit pun, dia hanya menganggap Mei sebagai saudaranya tidak lebih..


Mei mulai melakukannya melihat Miran hanya diam, Mei membuka kapas yang masih menempel lalu membersihkan luka itu dengan lembut dan tangan satunya di sengaja menempel di dada Miran dan mengelusnya untuk memancing Miran.


Namun Miran hanya diam tidak bergeming walaupun dia menatap Mei.


Mei terus saja memancing Miran, dia berharap Miran menginginkannya setelah dia melakukan itu..


Namun Miran tidak sedikit pun terpancing..


"Mei, aku mohon aku tidak ingin melukaimu.. Sekeras apapun usahamu tidak akan mengubah segalanya" ucap Miran lirih dia tahu maksud tujuan Mei tadi.


"Miran, sebegitu tidak menginginkannya kamu kepada ku.. Hiksss" Mei mulai menangis dia sedikit malu Miran mengetahui maksud dan tujuannya.


Setelah mengenakan kaosnya, Miran memeluk Mei..


"Mei, maaf.. Kamu wanita yang sangat baik, sangat beruntung pria yang akan mendapatkanmu. Tapi maaf Mei aku tidak bisa" kata Miran sambil melonggarkan pelukannya.


"Hikssss.. Baiklah Miran.. Selamat beristirahat" Mei pergi meninggalakan Miran dengan kekecewaan.


☘☘☘☘☘


"Pah, melalui pengacaranya besok Miran ingin bertemu kita" kata papa Hazar.


"Hemmm ada apa" sura dingin kakek.


"Mungkin ini menyangkut kerja sama kita" papa Hazar menjelaskan


Raut wajah kakek Sadli berubah menjadi pucat, dia takut Miran akan membatalkannya dan dia akan sangat merugi jika itu terjadi.


"Baiklah, kamu, Arga dan Bram dampingi papa" suara serak Kakek.


Papa Hazar mengangguk lalu pergi meninggalkan ruang keluarga.


Papa Hazar kembali ke kamarnya, dan dia mendapati istrinya berada di balkon kamar.


Di ambilnya selimut tebal, dan berjalan ke arah sang istri lalu menyelimuti sang istri dari belakang.


"Istirahatlah ma, di sini sangat dingin ayo masuk" papa Hazar menegur mama Anna.


"Lebih panas hati ku pa, hingga dinginnya malam ini tidak terasa bagiku" ucap lirih mama Anna.


Tampak pancaran kesedian diraut wajah mama Anna, dia selalu saja memikirkan nasib Rayyan di sana.

__ADS_1


"Pa.." panggil mama Amma.


"Hmmm" jawab papa Hazar.


"Kapan kita akan pindah dari sini pa" tanya mama Anna menoleh ke papa Hazar.


"Sabar ya ma, mama belum mendapatkan rumah.. Papa akan usahakan sesegera mungkin kita pindah" kata papa Hazar menenangkan..


"Ayo masuk ma,nanti kamu akan membutuhkan banyak tenaga untuk pergi dari rumah ini," senyum papa Hazar.


Mama hanya mengangguk tanda setuju.


☘☘☘☘☘


Malam hari, Miran pergi ke kamar Rayyan dan sebelumnya dia pergi ke dapur dahulu untuk mengambil beberapa makanan yang ada..


Ceklek...ceklek..


"Rayyan, kamu dah tidur???" tanya Miran sambil membuka pintu..


Rayyan hanya menoleh di tempat duduknya.


"Makanlah, kamu belum makan kan?" tanya Miran.


Rayyan hanya menggeleng, dan Miran mendekati Rayyan dengan membawa baki.


"Ini makanlah,.. Maaf hanya yang ada.." kata Miran.


Rayyan hanya diam dan memakannya.


"Miran..." panggil Rayyan.


"Iya.." jawab Miran.


"Aku merindukan adikku, aku ingin melihat kondisinya" Rayyan berhenti makan dan wajahnya kembali sedih.


"Akan aku usahakan Rayyan, tapi aku tidak janji" Miran berlutut di depan Rayyan.


Rayyan hanya menatap Miran, tatapan mereka beradu dan di saat itu juga mereka berdua sama sama merasakan sesuatu getaran di hatinya jantungnya berdetak kencang.


Rayyan langsung mengalihkan pandangannya saat mulai merasakan sesuatu yang aneh itu.


"Eghmmm apa ini sudah?" Miran mengusir kecanggungan.


Rayyan hanya menganggukan kepalanya..


"Rayyan, apakah kamu berani malam ini tidur sendiri?" tanya Miran.


"Hufhhh ntahlah tapi masih ada rasa khawatir." jawab Rayyan.


"Aku temani" Miran melangkah keluar.


"Jangan Miran, jangan lagi tidur di luar kembali ke kamarmu" jawab Rayyan.


"Baiklah, ini kuncinya kamu pegang kembali" Miran menyerahkan kunci kamar.


"Kenapa kamu kembalikan kuncinya, kamu yakin aku tidak akan kabur?" tanya Rayyan.


"Silahkan saja kabur jika kamu bisa" tantang Miran lalu pergi keluar kamar dengan membawa baki sisa makanan.


Rayyan langsung mengunci pintunya, sesungguhnya dia masih takut dengan kejadian waktu itu.


Rayyan memegang dadanya, detak jantungnya ridak beraturan jika berada di dekat Miran.


Rayyan hanya menarik nafasnya dalam dalam, lalu berjalan menuju ketempat tidur dan merebahkan dirinya.


Begitu juga Miran, merebahkan dirinya dengan tangan di atas kepalanya matanya menatap ke langit langit menerawang.


Benarkah yang di katakan Riyan bahwa dia memiliki hati untuk Rayyan..


Dan akhirnya setelah perdebatan antara hati dan pikiran mereka berdua, Rayyan dan Miran sama sama tertidur..


semoga masih suka ya...


jangan lupa like dan komentnya ya, biar autor tambah semangat..


terimaksihhh 😊😊🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2