
Miran pergi ke rumah pondok.. Sudah lama dia tidak mengunjungi rumah tersebut. Kali ini dia ingin menenangkan dirinya di sana, sendirian.
Miran masuk ke dalam rumah, masih terlihat bersih dan rapih meski jarang ada yang kesana.
Mitan merebahkan tubuhnya ketempat tidur yang ada di sana. Dia merasa begitu lelah dengan semua teka teki, semua permasalahan yang harus dia atasi. Terlebih tentang neneknya yang begitu berusaha memisahkannya dengan Rayyan, dia sangat merasakan kekecewaan yang begitu dalam..
Lambat laun mata Miran terasa berat. Miranpun terlelap dalam tidurnya dan bermimpi.
Miran melihat, nenek menyeret Rayyan pergi meninggalakan dirinya keluar dari rumah pondok itu.
"Miran... Miran...!!!" panggil Rayyan.
Hingga akhirnya Rayyan hilang dimakan kegelapan malam bersama nenek.
Miran juga melihat papa Hazar memaksa Rayyan untuk pergi dari rumah pondok itu meninggalkan dirinya.
"Miran... Miran!!!" teriak Rayyan yang terus menatap kearah dirinya.
"Hhhhaakkkk" Miran terbangun dari tidurnya.
Keringat bercucuran di keningnya Miran. Mitan langsung bangkit dari tidurnya dan keluar dari rumah pondok itu.
Saat Miran membuka pintunya, bertepatan dengan Rayyan baru saja tiba di depan pintu.
"Rayyan.." panggil lirih Miran.
Miran langsung memeluk Rayyan erat. Rayyan tau kemana Miran pergi untuk menenangkan dirinya. Maka dari itu Rayyan bisa sampai di sana..
Rayyan pun mengendurkan pelukannya lalu menatap lembut Miran. Perlahan tangannya mengusap keringat Miran.
Lalu Rayyan mengajak Miran untuk duduk bersama.
"Miran.. Tadi aku bertemu dengan papa.. Dia mengajakku untuk pulang dan memintaku untuk menceraikanmu.." kata Rayyan.
"Tapi aku menolaknya..." sambung Rayyan saat melihat Miran mulai emosi.
Miran bangun dari duduknya hendak meninggalkan Rayyan. Miran tampak terlihat emosi mendengar kata kata Rayyan.
"Miran.. Miran.. Aku mohon.. Kamu bersedia mendengarkan penjelasan papa persoalan 27 tahun yang lalu yang mengorbankan orang tuamu.. Aku yakin papaku tidak membunuh mereka, papaku bukan pelakunya. Aku yakin nenekmu membuat cerita bohong kepadamu." kata Rayyan.
Miran terlihat semakin emosi ketika Rayyan kembali membahas persoalan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah percaya dengan kesaksian papamu!!! Sampai kapanpun!!! Nenekku tidak akan berbohong dengan sesuatu yang menyangkut dengan putranya.. Papamulah pembunuhnya.. Aku yakin itu!!!" bentak Miran.
Rayyanpun terpancing emosinya dengan sikap Miran.
"Miran!!! Kamu bukannya tidak percaya dengan papaku.. Tapi kamu tidak siap dengan kebenarannya!!! Kamu tidak bisa menerima sebuah kenyataan!!!" jawab Rayyan.
Miran pun memilih pergi meninggalkan Rayyan di sana. Miran berjalan menuju ke mobilnya dengan wajah yang memerah karena menahan emosinya.
"Miraann!!!... Miraaannnn!!!" teriak Rayyan memanggil Miran.
☘☘☘☘☘
Di rumah peternakan, terlihat ada kesibukan di sana.. Keluarga Sadli tangah berkemas kemas untuk kembali ke rumah utama mereka yang sempat disita oleh nenek Aisah.
"Hazaarrr!!! Hazarrr!!" teriakan Miran.
Papa Hazar yang tengah berkumpul dengan yang lainnya spontan menoleh ke sumber suara. Terlihat Miran menerobos masuk sambil berteriak.
"Apa yang kamu inginkan?? Kenapa berteriak memanggilku???" tanya papa.
"Kamu berusaha meracuni Rayyan untuk memintaku mendengarkan kesaksianmu??!!! Sampai kapanpun aku tidak akan percaya!!! Kamulah yang membunuh kedua orang tuaku dan aku akan membalas dendamnya padamu!!!" teriak Miran penuh emosi.
Semua yang di sana pun terkejut dengan kata kata Miran.
"Miran!!! Jangan mengatakan sesuatu hal yang tidak ada buktinya!!! Apa buktinya jika suamiku membunuh orang tuamu haahh!!!" bentak mama Anna tidak terima.
"Miran!! Seharusnya kamu menyalahkan enenkmu!! Dia perempuan berhati iblis!!" teriak Arga tidak terima juga.
"Kiymta lihat saja nanti" kata Miran lalu pergi meninggalkan rumah peternakan.
"Aku kecewa kepadamu kak??? Kenapa kakaka merahasiakan permasalahan ini?? Jadi, apa yang kita alami selama ini untuk menebus dosamu?? Untuk membayar kesalahanmu?? Hingga kami semua tersiksa. Jadi kakak seorang pembunuh???" kata papa Bram.
"Pa... Ini semua tidak benar... Paman tidak akan melakukan itu, jangan langsung begitu saja mempercayai kata kata Miran" bela Arga untuk papa Hazar.
"Pa... Aku pikir permasalahan balas dendam ini karena persoalan tanah.. Tapi ini ternyata soal pembunuhan??? Kenapa papa merahasiakan juga permasalahan ini pa?? Kenapa??" kata papa Bram ke kakek.
Kakek hanya diam.. Begitu juga dengan papa Hazar, dia hanya diam yang terus dipojokan.. Padala dia sendiri juga lupa dengan kasus itu, tapi diapun merasa tidak membunuh orang tua Miran.
Papa Hazar berjalan gontai meninggalakan rumah peternakan.. Dia tidak tau bagaimana harus menjelaskannya.. Karena memang tidak ada bukti maupun saksi, bahkan dia lupa dengan kejadian yang sebenarnya.
Mama Anna terus menangis di dapur.. Hatinya begitu tidak tenang, dia takut apa yang dikatan Miran adalah sebuah kebenaran.
__ADS_1
"Bu.. Aku yakin, pak Hazar bukan orang yang seperti itu.. Beliau tidak pernah sekalipun menyakiti hati orang. Apalagi sampai membunuhnya.. Jangan percaya dengan kata kata Miran bu.." bujuk Ike yang berusaha menenangkan mama Anna.
☘☘☘☘☘
Papa Hazar pergi ke reruntuhan rumah di mana terkahir kali dia bertemu dengan Iran.. Di sana, papa Hazar menumpahkan segala kepedihan di hatinya.. Dia menangis untuk meluapkan semua sesak dihatinya
Papa Hazar kembali menghubungi Ira, dia meminta untuk bertemu dan Irapun menyanggupinya.
"Riyan, ibu mau keluar sebentar.. Ibu kuoa hari ini harus pergi ke tukang penjahit untuk mengambil baju milik nenek Aisah.." pamit Ira.
"Hati hati bu.." jawab Riyan.
Ira hanya tersenyum lalu bergegas pergi. Tidak berselang lama masuk Marni.
"Hmm mas, bu Ira kemana ya?? Ini baju milik nyinya Aisah yang tadi meminta saya untuk mengambilkannya.." kata Marni.
Riyanpun menjadi curiga, ibunya sudah menyuruh Marni. Riyan merasa pasti ada yang ibunya sembunyikan dari dirinya.
"Haahh, bawa langsung aja ke kamar nenek." jawab Riyan.
Lalu, Riyan oun berinisiatif untuk mengikuti ibunya secara diam diam.. Karena dia merasa curiga dengan sikap aneh ibunya.
☘☘☘☘☘
Papa Bram dan mama Sinta menbawa Arga kesuatu tempat untuk membicarakan sesuatu. Karena jika mereka membicarakan di rumah takut akan didengar dengan yang lain terutama Rosa yang selalu menggagalkan rencana mereka.
Sesampainya mereka di sebuah taman yang terlihat cukup sepi, mereka pun keluar dari mobil mereka.
"Ada apa ini??" tanya Arga.
"Arga, dengarkan papa.. Aku akan menikahkanmu dengan Mia.. Inindemi kebaikan kita semua Ar.. Papa berharap dengan pernikahan kalian ini dapat melindungi keluarga kita, dengan pernikahan ini dapat menghentikan permusuhan antar dua keluarga." kata papa Bram.
Arga hanya terdiam, wajahnya tampak kesal dengan idel g*la papanya. Dia merasa tidak mencintai Mia.. Tapi jika dia membantahpun akan terasa percuma karena berujung dengan paksaan.
💥💥💥 **happy new year semuanyaaa... selamat tahun baruuu...
semoga tahun baru ini menjadikan kita jadi pribadi lebih baik dari tahun lalu, lebih baik rejekinya, sehat selalu, semua rencana dapat terlaksana di tahun baru ini..
dan author banyak ucapkan terimakasih atas semuanya yang sudah mendukung CDDDB...
Jangan lupa like dan komentnya ya sobat ku..
__ADS_1
semoga masih suka dengan ceritanya.. 😘😘😘**