Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
Miran menginginkan Rayyan kembali


__ADS_3

Pengacara keluarga Sadli berkunjung ke kediaman keluarga Sadli. Sang pengacara membawakan kabar buruk kepada kakek.


"Tuan Sadli, maaf tuan... Saya mendapatkan kabar bahwa perusahaan Alan akan menyita rumah ini sebagai jaminan pembayaran hutang yang belum lunas." kata pengacara itu.


"Apa??" kakek terkejut dan merasa sesak di dadanya.


"Pa.. Papa baik baik saja?.. Baik terimakasih pak.. Anda boleh pergi.." kata papa Bram.


"Mama!!! Ambilkan obat papa!" teriak pala Bram dan menbantu kakek untuk duduk di bangku..


Tidak lama kemudian mama Sinta datang membawakan obat milik kakek.


"Ini pa obat, sebentar mama ambilkan minum" mama Sinta langsung mengambil air minum lalu memberikannya ke kakek.


Kakek meminum obat tersebut, dan tidak lama kemudian sesaknya hilang.


"Papa susah tidak apa apa?" papa Bram tampak khawatir.


"Tidak.. Susah baik baik saja. Tinggalkan lala sendirian" kata kakek yang masih terasa lemas.


Papa Bram dan mama Sinta pergi meninggalkan kakek yang sedang duduk lemas. Tampak di wajahnya ada raut kekecewaan karena rumah yang menjadi peninggalan leluhurnya ini akan di ambil alih oleh perusahaan Alan.


☘☘☘☘☘


Rosa mengajak Riyan bertemu lagi kesebuah tempat.


"Riyan, untuk terakhir kalinya aku ingin minta bantuanmu Riyan" Rosa mulai terisak menangis.


"Apa lagi yang kau mau hah!" kata Riyan dingin.


"Bawa aku pergi dari keluarga Riyan hikss.. Aku mohon.. Aku akan dinikahkan dengan orang yang tidak aku kenal.. Aku mohon, tolong aku.. Aku tidak mau menjalankan pernikahan ini, aku tidak menginginkan ini" Rosa terus menangis.


"Cukup Rosa, sudah berapa kali kamu membohongi ku!!! Aku sudah tidak percaya lagi sama kamu dan aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan mu lagi. Jangan lagi kamu menghubungi ku lagi." kata Riyan marah lalu meninggalkan Rosa begitu saja.


"Riyan..Riyann.. Aku mohon... Maaf akan aku.. Kali ini aku tidak bohong.. Bantu aku Riyan hiksss... Aku mohon" Rosa terus menahan Riyan dan memohon.


Riyan mengibaskan tangan Rosa lalu berjalan meninggalkan Rosa yang terus menangis.


☘☘☘☘☘


Rayyan tiba di rumah, dia memasuki rumah dan dia melihat kakek ada di sana dengan wajah memerah.


"Dasaarr kamu gadis pembawa sial!!" kata kakek mendekati Rayyan dengan penuh amarah.

__ADS_1


Plak.. Plakk...


Kakek berulang kali menampar Rayyan. Kakek melampiaskan segala amarahnya ke Rayyan. Kakek menganggap ini semua karena Rayyan.


"Apa salah Rayyan kek, ampunn kek" Rayyan mencoba menghindari.


"Ini semua gara gara kamu dasar sialan!!!" ucap kakek lagi.


Plakk..plakkk.


Kakek terus saja menghajar Rayyan hingga terjatuh, pala Bram yang mendengar keributan itu langsung berlari mencoba menahan kakek agar tidak menghajar Rayyan.


"Salah Rayyan apa kek" Rayyan tersungkur dengan terus menutupi wajahnya.


"Papa hentikan, jangan seperti ini kasihan Rayyan.. Ike telepon kak Hazar cepat!" kata papa Bram mulai panik..


"Tidak, gara gara dia rumah kita akan di sita oleh perusahaan Alan. Ini tidak sebanding dengan apa yang dia dapat" kata kakek penuh emosi.


Plak...plak..plak..


Kakek masih saja terus menampar Rayyan hingga sudut bibirnya membiru dan hidungnya mulai mengeluarkan darah.


Melihat kakek lengah dan dipinggangnya terselip pistol, Rayyan langsung mengambil pistol.


Kakek mencoba mendekat untuk merebut pistol itu dari Rayyan.


"Jangan coba coba maju selangkahpun.." kata Rayyan sambil mundur menuju ke pintu utama.


Rayyan terus berjalan menyisiri jalan, dia menghentikan sebuah taksi. Melihat penumpangnya penuh dengan luka lebam dan hidung mengeluarkan darahnya dengan memegang sebiah pistol, sang sopir merasa heran.


"Neng kita menuju ke mana?" tanya sang sopir.


Rayyan dengan wajah dinginnya menyebutkan sebuah alamat. Tidak membutuhkan waktu lama, taksi sudah sampai ke tempat tujuan.


"Kembalian buat bapak" kata Rayyan.


Belum sempat berterima kasih kepada Rayyan, tapi Rayyan sudah menutup pintu penumpangnya.


Rayyan memasuki sebuah kantor, dan berjalan menuju ke sebuah lift tanpa ada yang berani mendekat karena melihat Rayyan masih memegang pistolnya.


Brak....


Rayyan membuka pintu dengan kasar. Mendengar pintunya terbuka dengan kasar, Miran yang tengah melamun di meja kerjanya terkejut melihat kedatangan Rayyan dengan kondisi seperti itu.

__ADS_1


"Rayyan, siapa yang melakukan ini" Miran mendekati Rayyan dengan khawatir.


"Jangan mendekat!!" kata Rayyan dengan menodongkan pistol itu.


"Aku seperti ini karena keserakahanmu, jangan lagi mendekati keluarga ku lagi Miran. Dulu kamu mengahncurkan kehormatan keluarga ku dan sekarang perusahaanmu menyita aset keluarga ku. Kau tau? Kakek menyalahkan ku atas apa yang terjadi. Kamu berhasil membuatku sangat menderita Miran" teriak Rayyan mengeluarkan semua apa yang ada dipikirannya.


Miran terkejut mendengar perkataan Rayyan, dia tidak tau jika perusahaannya menyita aset milik keluarga Sadli. Nenek Aisah melakukan ini tanpa sepengetahuan Miran dan Riyan.


"Bunuh saja aku Miran, agar kamu puas tidak perlu lagi ada yang menyiksaku seperti ini" kata Rayyan menangis sambil memebrikan pistol itu ke Miran.


Miran menerima pistol itu, lalu meletakkannya di kursi. Lalu dia memeluk Rayyan sangat erat, dia tidak tega melihat kondisi Rayyan saat ini.


Papa Hazar tiba tiba memasuki ruangan Miran, dan melihat Miran sedang memeluk Rayyan.


Bugh...


Papa Hazar memukul Miran dan Miran tidak membalasnya. Lalu papa Hazar berbalik melihat kondisi Rayyan, papa Hazar langsung memeluk Rayyan sambil menangis. Papa Hazar sangat menyayangi Rayyan, hatinya bagai teriris belati melihat Rayyan penuh dengan luka lebam dan darah di hidungnya. Papa Hazar lalu mengambil pistol yang tadi Miran letakkan di kursi.


"Sudah aku bilang jangan lagi kamu mengganggu putriku.!!" papa Hazar langsung menodong Miran dengan pistol di tangannya dan Miran tidak bergerak sedikitpun.


Rayyan berjalan berdiri di depan Miran menghalangi papanya.


"Pa.. Percumah membunuh orang yang sudah aku anggap mati" kata Rayyan dengan tatapan kosong.


Papa Hazar langsung menarik Rayyan dan kembali memeluknya, lalu membawa Rayyan keluar dari ruangan itu. Miran hanya menatap kepergian bapak dan anak itu berjalan beriringan keluar dari ruang kerjanya.


Tak berapa lama Rayyan dan papa Hazar tiba di halaman rumah, mama Anna berlari melihat kondisi Rayyan. Papa Hazar emosi berjalan menuju hall rumah.


"Papa!!!" teriak Hazar..


Kakek yang mendengar teriakan Hazar langsung berlari keluar mendekati putranya begitu juga yang lainnya.


"Bunuh kamu semua pa!!! Ini sudah sangat keterlaluan!!" teriak papa Hazar di depan kakek.


Papa Hazar merasa kakek selalu melampiaskan semua kesalahan ke putrinya.


Tiba tiba Miran datang berjalan mendekati mereka. Melihat kedatangan Miran, Arga ingin mengusir Miran namun ditahan oleh mamanya.


"Tuan Sadli!! Aku akan menghapus semua hutang hutang kalian!! Akan menghentikan penyitaan dan akan mengakhiri permusuhan ini" kata Miran lantang.


"Apa yang kamu inginkan hah!" kata kakek seakan tau apa yang Miran inginkan.


"Aki menginginkan Rayyan" jawab Miran sambil terus menatap Rayyan.

__ADS_1


Semua yang ada di sana terkejut. Apa lagi Arga, dia khawatir kakeknya akan menyetujuinya.


__ADS_2