
Keluarga Sadli juga tengah makan malam bersama. Papa Hazar dan mama Anna berjalan menghampiri mereka yang sudah menunggu.
Kakek mengamati kedatangan mereka tanpa Gendis.
"Di mana Gendis?? Kenapa tidak ikut makan bersama??" tanya kakek.
Papa Hazar tampak bingung. Jika dia mengatakan yang sebenarnya pasti kakek akan marah, namun jika berbohong alasan apa yang masuk akal.
"Ada apa Hazar??" tanya kakek lagi.
"Emm Gendis ikut Miran dan menginap di rumah Miran." jawab papa Hazar.
"Apa?? Kenapa kamu mengijinkannya untuk menginap di sana??!!!" kata kakek murka..
"Biar kakek yang menjemputnya" sambung kakek beranjak pergi.
Papa Hazar mencegah kakek agar tidak pergi ke sana.
"Pa.. Aku mengijinkannya ikut Miran hanya untuk kebahagiaan Gendis.. Aku mengingat ucapan dokter agar tetap menjaga mood Gendis.. Ini salah satu caranya agar dia tetap bahagia, bersama kakaknya.. Aku tidak ingin Gendis kembali menangis" kata papa Hazar.
Kakek lalu terdiam, dia tampak menimbang nimbang setiap perkataan Hazar.
☘☘☘☘☘
Di rumah keluarga Aslan, makan malam bersama belum selesai. Gendis masih menikmati makan malamnya bersama Rayyan dan Miran.
Gendis dengan cepat melahap suapan terakhirnya dan memamerkannya ke Miran.
"Abiiss..." kata Gendis dengan senyum manis.
"Anak pintar.. Ok.. Sekarang kalian bersiap siaplah.. Kakak ingin mengajak kalian jalan jalan.." kata Miran dengan wajah tersenyum.
Entah mengapa, Miran tampak sangat menyayangi Gendis selayaknya adik kandungnya sendiri. Meski dia tau Gendis putri kandung Hazar orang yang paling dua benci. Tapi dia tidak dapat memungkiri, hatinya begitu menyayangi Gendis.
Gendis tampak bermain dengan Miran saat mereka tengah menunggu Rayyan yang sedang bersiap siap. Gendis menyembunyikan sebuah koin di salah satu tangannya dan meminta Miran untuk menebaknya berada di mana koin tersebut. Miran berjongkok di depan Gendis untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan Gendis.
Dengan wajah penuh dengan senyuman, Miran menuruti permintaan Gendis.
"Hmmmm yang mana yaaa..." kata Miran dengan wajah sedikit menggoda Gendis.
"Ayoolaahh kak.. Coba tebak berada di tangan mana.. Nanti jika kakak benar aku mencium kakak.. Tapi jika kakak yang kalah, kakaklah yang menciumku" kata Gendis tersenyum.
"Baiklahhh... Yang ini" Miran memilih tangan kanan Gendis..
"Yeeee kakak salah..." jawab Gendis membuka kedua telapak tangannya.
"Baiklah baiklah nona manis" jawab Miran tertawa merasa lucu dengan tingkah Gendis.
Miran pun mengangkat tubuh Gendis lalu mencium pipi Gendis. Gendis yang mendapatkan ciuman dari Miran hanya cekikikan merasa geli dengan kumis Miran.
Tidak lama kemudian, Rayyan turun mengenakan baju dress merah dan rambut panjang keritingnya digerai bebas.. Malam itu penampilan Rayyan sangat mempesona bagi Miran.
Miran menatap Rayyan tanpa berkedip sambil menurunkan Gendis perlahan. Begitu juga Gendis, melihat sang kakak dengan penampilan tersebut tersenyum, terlebih melihat Miran yang melongo menatap Rayyan.
"Sudah siap??" tanya Miran.
"Sudaahhh" jawab Gendis senang.
"Lets goo..." jawab Miran..
Rayyan tersenyum melihat interaksi antara Miran dan Gendis. Rayyan merasa bersyukur, meski Miran membenci papanya, tapi dia mau menerima Gendis seperti adiknya sendiri.
Gendis digandeng oleh Miran dan Rayyan di kanan dna kirinya. Mereja tampak seperti keluarga yang bahagia. Mereka pun pergi keluar rumah bersama.
☘☘☘☘☘
Di rumah peternakan, kakek tampak memikirkan sesuatu di halaman samping rumah. Papa Bram yang sedari tadi mencari cari kakekpun akhirnya melihat kakek tengah berdiri mematung.
"Pa..." panggil papa Bram.
__ADS_1
"Hmmm" jawab kakek menoleh ke arah papa Bram.
"Pa.. Restuilah rencanaku untuk segera menikahkan Arga dengan Mia pa.. Aku ingin segera mereka menikah untuk membalas perbuatan Aisah. Aku yakin, dengan cara ini bisa membuat Aisah sangat terpukul" kata papa Bram.
Kakek masih terdiam, masih menimbang ide papa Bram. Kakek lalu menatap papa Bram.
"Baiklah, segera siapkan acara lamaran.. Kita akan berkunjung kerumah keluarga Aslan. Bram, kamu harus tetap berhati hati dengan permenpuan itu. Jangan sampai dia mencurigai siasat kita." ucap kakek.
☘☘☘☘☘
Di kamarnya, nenek mengambil ponselnya. Nenek menghubungi salah satu pengacar yang bekerja di perusahaan Aslan.
"Hallo..." kata nenek.
"Hallo nyonya.." jawab Faisal.
"Kamu segeralah pergi dari sini, dan jangan sampai ada yang tau keberadaanmu" perintah nenek.
Nenek merencanakan sesuatu. Nenek akan memfitnah Sadli seolah olah Sadli yang membayar Faisal untuk menghiyanati Aslan.
Di lain tempat, Miran dan Rayyan tengah mengahadiri undangan salah satu rekan bisnis Miran yang sedang menyelenggarakan pesta pernikahannya.
Gendis sangat senang berada di sana, karena banyak anak anak yang seusianya. Meski dia belum mengenal, namun Gendis dapat cepat akrab dengan mereka.
"Hati hati dan jang terlalu jauh bermainnya" pesan Rayyan saat melihat Gendis berlari bersama anak anak tersebut.
Miran dan Rayyan hanya tersenyum melihat kegembiraan Gendis. Mereka berdua lalu berjalan menemui kedua mempelai untuk memberikan ucapan selamat..
"Miraaan... Apa kabar..." sapa mempelai laki laki..
"Haii bro.. Baik baik.. Selamat ya... Ohh ya kenalin ini istriku" kata Miran mempernalkan Rayyan.
"Haiii..." sapa Rayyan menyapa kedua mempelai..
"Miran.. Silahkan nikmati sajian yang kami siapkan.. Jangan malu malu.." kata mempelia pria.
"Baiklah.. Kami turun dulu.." jawab Miran.
Miran hanya mengangguk, dan menggandeng Rayyan. Mereka menuju kesebuah meja yang kosong. Sebelumnya mereka sudah mengambil beberapa hidangan.
Tidak lama kemudian, sang mempelai menghampiri mereka berdua.
"Maaf, lama ya menunggunya" kata pria itu.
"Aahh tidak.. Kami juga barua selesai makan.." jawab Miran.
"Kau tau Rayyan, suamimu ini memiliki suara yang cukup bagus.. Miran.. Naiklah kepanggung nyanyikan satu lagu untuk kami atau untuk istrimu ini" kata pria itu.
"Ahhh tidak tidak.. Aku tidak terbiasa menyanyi di depan banyak orang.." tolak Miran.
"Ayoolahh Miran... Satu lagu aja.." bujuk pria itu..
"Udahhh ayookkk" kata pria itu lagi saat melihan Miran hanya terdiam tampak berfikir.
"ok.. Ok.. Baik.. Ini demi kamu ya" kata Miran.
"Naahhh gituu dinkk.." jawab pria itu.
Miran pun berjalan menuju ke panggung kecil yang sudah disediakan di sana.
"Selamat malam para tamu undangan.. Ijinkan saya untuk menyumbangkan salah satu lagu khususnya untuk istriku tercinta.." kata Miran yang sudah memegang sebuah gitar listrik.
"Kaulah Hidup dan Matiku.. Naff" kata Miran lagi..
...Kaulah darahku...
...Juga nadiku...
...Kaulah nafasku...
__ADS_1
...Juga jantungku...
...Engkaulah hatiku...
...Dan juga jiwaku...
...Aku mau hidup denganmu...
...Aku mau matipun karenamu...
...Aku mau disisa waktuku bersamamu...
...Kaulah senyumku...
...Juga tawaku...
...Kaulah damaiku...
...Juga bahagiaku...
...Engkaulah teduhku...
...Tempatku bernaung...
...Aku mau hidup denganmu...
...Aku mau matipun karenamu...
...Aku mau disisa waktuku bersamamu...
...Kau yang s'lalu setia menemaniku...
...Meresapkan harumnya cinta di hatiku...
...Kau yang menyayangiku setulusnya...
...Aku mau hidup denganmu...
...Aku mau hidup denganmu...
...Aku mau matipun karenamu...
...Aku mau disisa waktuku bersamamu...
...Hanya bersamamu...
...Aku mau hidup denganmu...
...Aku mau matipun karenamu...
...Aku mau disisa waktuku bersamamu...
...Hanya bersamamu...
...Aku mau hidup denganmu...
...Aku mau...
...Aku mau matipun karenamu...
...Aku mau...
...Kaulah hidupku dan juga matiku....
Miran menyanyikan itu dengan tatapan yang terus menjurus ke arah Rayyan yang terlihat tersipu malu.
Plok...plok...plok...plok...
Tepuk tangan meriah terdengar menggema di acara tersebut. Miranpun beranjak meninggalakan panggung dan menuju ke arah sang istri dan kedua mempelai.
__ADS_1
"Waahhh waahhh, ternyata kamu bisa sebucin ini ya Miran.. Hahaha" kata pria itu.
Miran hanya meresponyya dengan sebuah senyumnya sambil memeluk pinggang Rayyan.