
Lalu mereka berdua memasuki ke dalam rumah.. Keadaan di dalam masih sangat berantakan karena memang belum sepenuhnya selesai.
"Aku akan meminta para pekerjanya untuk segera menyelesaikan rumah ini. Dan aku akan menyerahkan semuanya kepadamu.. Ini milikmu dan kamu bebas akan menata rumah ini seperti apa.." kata Miran.
Rayyan hanya menatap Miran. Lalu mereka mengelilingi rumah tersebut sambil mengobrol.. Ketika mereka sedang asik mengobrol, tiba tiba datang dua mobil berisikan orang bersenjata..
Door...dooor..doorr..dooorrr...doorrr
Suara tembakan melengking dan kaca kaca rumah pecah.
Melihat itu Miran dan Rayyan panik. Reflek Miran mendorong Rayyan dan mereka berdua terjatuh posisi Miran berada di atas Rayyan untuk melindungi Rayyan.
Suara tembakan semakin membabi buta, hampir semua kaca tidak ada yang tersisa pecah di mana mana... Tembok rusak oleh benturan peluru peluru.
Setelah puas, orang orang itu pun pergi meninggalkan rumah itu.
Rayyan menangis, dia merasa ketakukan.
"Rayyan.. Tenanglah.. Tidak aka terjadi apa apa.. Semua sudah aman. Kita akan keluar dari sini.." Miran mencoba menenangkan.
Miran bangkit berdiri, lalu dia mencoba melihat situasi di luar.
"Miran jangan... Hati hati" Rayyan khawatir Miran akan tertembak.
Miran mencoba mengintip melalui jendela yang sudah tidak ada lagi kacanya itu. Matanya menyisir setiap sudut yang masih bisa dia jangkau.
☘☘☘☘☘
Di kediaman keluarga Aslan, nenek tengah duduk menyendiri dengan memasang wajah dinginnya.
"Kamu telah melawan ku Miran.. Dan aku tidak akan tinggal diam. Aku selalu punya siasat untuk membuatmu selalu tunduk kepadaku. Kamu kini tengah terjebak dalam cintamu. Tapi aku tidak kehabisan akal untuk balas dendam." batin nenek.
Flashback on
Ketika Miran memaksa diri untuk meminta maaf kepada keluarga Rayyan, nenek tidak tinggal diam. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya.
Nenek menyuruh mereka untuk menimbaki mobil Miran dan berpesan agar Miran jangan sampai terluka.
Flashback off
Dalam kasus ini nenek dapat memutar balikkan fakta bahwa yang melakukan itu adalah keluarga Sadli.
Dan kejadian penembakan di rumah baru Miran juga dindalangi oleh sang nenek, karena nenek tidak setuju jika Miran keluar dari rumah itu.
Flashback on.
__ADS_1
"Tembaki rumah Miran, karena dia sudah berani melawan ku. Aku tidak akan pernah menyetujui jika dia keluar dari rumah ini" perintah nenek.
"Bagaimana jika mereka berdua tertembak nyonya.. Karena ada kemungkinan peluru dapat mengenai mereka." tanya sang anak buah.
"Aku tidak peduli jika mereka berdua kembali hanya tinggal nama" kata nenek.
Flashback off.
Di mata nenek Aisah, Miran bukan cucu kandungnya. Karena Miran adalah keturunan Sadli. Jika mereka masih hidup, maka nenek akan terus melanjutkan semua rencana rencananya.
☘☘☘☘☘
Miran dan Rayyan telah tiba di kediaman Aslan. Semua orang sangat mencemaskan mereka setelah Miran memberi kabar ke Riyan.
Mia langsung mendekati Miran dan memegang tangan Miran untuk memastikan.
"Apa kakak tidak apa apa?? Kak Rayyan apa kamu baik baik saja?" Mia sangat khawatir.
"Nak Rayyan, kamu baik baik saja nak?" kata bu Ira memegang kepala dan tangan Rayyan.
"Kami tidak apa apa Mia, bu.. Rayyan hanya syok di depan matanya banyak peluru yang berterbangan." jelas Miran.
"Nenek sudah bilang kepadamu Miran di luar sana sangat berbahaya bagimu.. Beginikan akibatnya kamu tidak mau mendengarkan kata kata nenek." kata nenek emosi.
Miran membawa Rayyan untuk duduk dan bu Ira telah mengambilkan air minum dan di berikan ke Rayyan.
Nenek terus mencoba memutar balikkan fakta bahwa keluarga Sadli lah pelakunya. Nenek masih berusaha untuk meracuni Miran agar tetap membenci keluarga Sadli.
Namun Miran tidak menanggapi kata kata nenek.
"Nenek tolong jangan membahas ini dulu" kaga Miran yang malas untuk membahasnya.
"Aku tidak percaya ini ulah keluarga Sadli. Tidak akan mungkin mereka tega melakukan itu sementara ada Rayyan. Aku yakin ini ulah orang lain bukan mereka" kata Mia yang tidak langsung percaya dengan kata kata nenek.
"Tidak... Tidak ada yang berani selain mereka.. Hanya mereka yang memiliki darah pembunuh. Hazar adalah pembunuh papa dan mama mu Miran." kata nenek yang terus memprovokasi.
"Cukup!!! Papa ku bukan seorang pembunuh. Dan papaku bukan orang yang melakukan penembakan ini!" kata Rayyan tidak terima lalu Miran pelan menyuruh Rayyan untuk duduk.
"Sudah berkali kali kakekmu akan membunuhmu. Jika Miran tidak menyelamatkan mu, maka kamu sudah lama meninggal" ucap nenek emosi.
"Cukup nenek!!! Cukup!!!" teriak Miran yang sudah tidak tahan dengan perdebatan itu.
"Riyan, siapkan anak buahmu.. Kita akan menyerang keluarga Sadli.!!" teriak nenek.
Riyan mengangguk dan segera mengumpulkan anak buahnya. Mendengar itu Rayyan terkejut.
__ADS_1
"Aku akan ikut" kata Miran.
"Miran..." lirih Rayyan.
"Aku tidak bisa hanya tinggal diam.. Teror ini harus segera di hentikan. Aku tidak mau keluarga Aslan ada yang menjadi korban" jawab Miran.
"Miran aku mohon... Jangan lakukan.. Aku berjanji akau akan membujuk keluargaku.. Aku tidak ingin ada korban, aku mohon.. Aku akan menyelesaikan maslaah ini" bujuk Rayyan sambil menangis.
"Aku akan tetap pergi" kata Miran tegas.
Miran pun meninggalkan Rayyan. Saat Miran akan melangkahkan kakinya keluar pintu, tubuh Rayyan limbuh. Rayyan jatuh pinsan.
Semua panik dan reflek Miran menoleh. Melihat Rayyan jatuh pinsan, Miran sangat terkejut. Miran mengangkat tubuh Rayyan lalu membawanya ke kamar di bantu oleh Mia untuk membukakan pintu dan Miran meletakkan tubuh Rayyan di tempat tidur..
Bu Ira sudah menyiapkan minyak angin untuk membantu Miran menyadarkan Rayyan.
Lalu Miran menunggui Rayyan, tanpa sedikitpun Miran berpaling, tatapan terua mengamati wajah pucat Rayyan. Tidak lama kemudian Rayyan mulai sadar.
"Rayyan..." panggil Miran.
"Aku berjanji tidak akan datang kerumah keluargamu.. Aku akan mengerti perasaanmu" kata Miran lagi.
Bu Ira dan Mia yang sedari tadi berada di sana pun merasa lega melihat Rayyan yang sudah sadar.
"Miraann!!" panggil nenek.
"Bu Ira, Mia tolong temani Rayyan sebentar" kata Miran dan pergi keluar.
"Kapan kita akan menuju ke rumah Sadli untuk menyerang mereka??" tanya nenek.
"Aku sudah berjanji kepada Rayyan untuk tidak menyerang keluarga Sadli. Tapi kita akan memperketat penjagaan di rumah untuk keamanan di rumah" jawab Miran.
"Tanpamu pun nenek akan tetap melakukannya" jawab nenek.
Nenek pergi meninggalakan Miran dan yang lainnya. Lalu Miran kembali ke kamarnya untuk melihat kondisi Rayyan.
Saat membuka pintu Rayyan yang dibantu oleh bu Ira ingin pergi keluar kamar.
"Rayyan.. Mau kemana?" tanya Miran.
"Miran.. Aku mohon antar aku menemui mamaku.. Aku yakin mamaku pasti sudah mendengar berita tentang penembakan itu. Aku tidak mau membuatnya khawatir." kata Rayyan memohon.
Miran memberi kode kepada bu Ira untuk keluar dari kamarnya dan bu Ira mengerti dan meninggalkan Miran dan Rayyan.
"Rayyan.. Ini sudah sangat larut dan akan sangat berbahaya jika kita keluar sekarang. Aku berjanji besok kamu akan aku antar. Sekarang kamu beristirahatlah" kata Miran.
__ADS_1
Rayyan menolak tidur di tempat tidur, dia memilih tidur di sofa. Rayyan masih merasa enggan tidur astu tempat bersama Miran.
Miran pun memahaminya, dia mengambilkan sebuah selimut untuk Rayyan dan Miran tidur dengan posisi duduk dilantai bersandar pada tepian tempat tidur dekat kepala Rayyan yang berada di ujung sofa..