
Miran melangkah menuju di mana neneknya berada..
Miran membuka pintunya, dan melihat sang nenek sedang duduk menghadap ke jendela kamarnya.
Nenek hanya melirik ke arah sang cucu..
"Nek.. Apa ada sesuatu yang benar benar aku lewatkan?" tanya Miran.
"Ya sesuai apa yang dikatakan oleh gadis itu Miran" jawab nenek tanpa menoleh.
"Kenapa nek?" tanya Miran lagi berjalan mendekati nenek dan menutup pintunya..
"Kau sudah tau jawabannya" kata nenek lirih.
"Tapi semua sudah sesuai yang kita rencana kan nek.. Kenapa nenek malah melakukan di luar rencana?" Miran mulai emosi.
"Rencana??? Yang berujung dengan hati Miran?" nenek menimpali dengan santai.
"Maksud nenek?" tanya Miran.
"Miran,... kamu tak akan pernah bisa merasakan apa yang sudah nenek rasakan selama bertahun tahun.. Nenek kehilangan 3 putra sekaligus menantu kesayangan nenek, itu semua ulah keluarga Sadli!! Ne..nenek menyaksikan sendiri ba...bagaimana kejamnya mereka menyiksa ibumu...., membunuh ayah mu di didepan mata nenek Miran!!!hikss.. Kamu tidak akan pernah merasakan itu..tidak akan pernah.. Semua yang sudah nenek lakukan pada gadis itu belum ada apa apanya dibanding dengan apa yang nenek rasakan" nenek mulai menangis...
Miran bungkam, Miran terbawa suasana yang nenek ciptakan..
Miran terduduk di depan neneknya yang sedang duduk.
Miran adalah sosok yang sangat menyayangi neneknya, apa pun yang neneknya katakan pasti akan dia lakukan..
Namun setelah bertemu dengan Rayyan, entah mengapa hatinya seperti terombang ambing meski dirinya masih dalam pengaruh sang nenek.
Sang nenek pun sudah paham betul bagaimana sosok Miran ini, jadi hal ini lah yang memudahkan dirinya untuk terus mengontrol emosi Miran..
"Maaf nenek.. Beristirahatlah" kata Miran lalu bangkit berdiri dan meninggalkan kamar sang nenek.
☘☘☘☘☘
Ceklek..ceklek...
Suara kunci pintu dibuka..
Rayyan yang sedang duduk di sebuah kursi menoleh dan menunggu siapa yang akan masuk..
Ira masuk ke dalam kamar dan tersenyum..
"Haloo nona... Ini saya bawakan sup" senyum Ira.
Rayyan hanya mengamati sosok Ira dengan tatapan curiga
"Saya di suruh nak Miran untuk mengantar makanan ini.. Segeralah di makan keburu dingin ya.." kata Ira lagi lembut.
"Tidak perlu" ketus Rayyan..
"Nona... Saya tau anda pasti tidak nyaman dengan saya.. Saya hanya pelayan disini.. Ohh ya perkenalkan saya Ira" senyum Ira lagi mencoba membuat Rayyan merasa nyaman terhadapnya..
"Eghmm maaf bu Ira, saya hanya tidak nyaman berada di sini" ucap Rayyan pelan..
"Tidak apa apa nak, andai aku memiliki anak perempuan, aku berharap dia sepertimu, cantik" Ira memegang pipi Rayyan..
"Terimaksih bu" Rayyan tersipu malu.
"Jika butuh bantuan panggilah ibu jangan sungkan" ucap Ira.
"Apa ini sungguhan?" tanya Rayyan sembari memegang tangan Ira
__ADS_1
Ira hanya mengangguk kan kepalanya..
Saat Rayyan akan mengatakan sesuatu, tiba tiba Miran datang dengan tatapan dinginnya..
"Bu Ira" suara dingin Miran.
"Ahhh i..iya nak" Ira kaget.
"Mana kuncinya" menengadahkan tangannya sambil menatap Ira tajam.
Ira pun memberikan kunci itu sedikit ragu dan merasa was was terhadap Rayyan takut terjadi apa apa..
Setelah memberikan kunci itu, Ira meninggalkan kamar Miran.
"Tidak bisakah kamu bersikap lembut terhadap orang tua Miran?? beliau hanya mengantarkan ku ini.. Kenapa kamu bersikap seperti itu!!! Sangat arogan dan tidak punya perasaan!!" Rayyan kembali emosi melihat sikap Miran tadi..
"Cepat habiskan makananmu" kata Miran dingin dan keluar mengunci pintu dari luar..
Rayyan kembali menangis dan sedikit menyendok sup itu..
Miran hanya menatap Rayyan di balik jendela kamarnya lalu pergi meninggalkan tempat itu..
☘☘☘☘☘
Hari ini Gendis di bawa pulang karena kondisinya yang sudah membaik..
Saat tiba di rumah dia disambut dengan suka cita oleh anggota keluarga yang lain..
Haru pilu yang di rasakan saat melihat anak sekecil itu harus menahan sakit dan hidup dengan masih ada sebagian peluru di kepalanya..
Setelah cukup penyambutan Gendis, mama Anna mengajak Gendis untuk beristirahat.
"Mama..." panggil Gendis.
"Kenapa kakak tidak pernah menjenguk ku ma, aku sangat merindukan kakak" tanya Gendis...
Mama Anna terdiam sesaat dia bingung harus mengatakan apa..
"Sayang, kamu pasti tau kakakmu baru saja menikah mungkin dia sedang sibuk bersama Miran" mama Anna berusaha tersenyum..
"Sama Miran ganteng ku?? Aku juga sangat merindukan dia" senyum Gendis.
"Baiklah, kini kamu istirahatlah mama akan keluar sebentar" kata mama Anna lembut.
Gendis hanya mengangguk dan mama Anna mencium kening Gendis lalu meninggalkan kamar Gendis..
Saat keluar dari kamar, papa Hazar duduk di kursi depan kamar dengan wajah yang sangat murung.
"Pa... Ada apa" tanya mama Anna..
"Duduklah ma" kata papa Hazar lirih
"Ada apa pah, kenapa kamu terlihat murung???" tanya mama Anna tidak sabar..
"Aku akan menceritakan sesuatu, tapi aku berharap mama jangan marah.. Sebenarnya papa akhir akhir ini menyelidiki sesuatu yang terus terjadi" kata papa Hazar.
"Maksud papa?" mama Anna semakin bingung.
"Per..per..nikahan Rayyan dan Miran palsu ma.., daaannn Miran sudah memiliki seorang istri" ucap papa Hazar ragu..
"Apa!!!" mama Anna terkejut dan langsung berdiri dari duduknya.
"Tapi kenapa pa???" tanya mama Anna.
__ADS_1
"Setelah papa menyelidiki apa penyebabnya kemungkinan besar ini karena masa lalu papa mah" papa Hazar masih ragu untuk menceritakannya tapi jika tidak memberitahukannya takut akan menimbulkan masalah lain..
"Masa lalu??? Masa lalu apa?" Mama Anna mengerutkan dahinya.
"Maaf sebelumnya ma, papa tidak pernah menceritakan semua ini.. Dahulu jauh sebelum papa bertemu dengan mama, papa memiliki kekasih yang sangat papa cintai, Darnia namanya, papa ingin segera melamar dia.. Namun waktu itu papa harus pergi pendidikan militer terlebih dahulu, namun waktu itu papa mendapatkan kabar kalau putra dari keluarga Alan yang bernama Aslan memaksa Darnia untuk menikahinya,.." kata Papa Hazar terpotong sambil menilik wajah sang istri yang sudah memasang wajah masannya..
"Lalu" kata mama Anna dingin..
"Papa kembali dan membantu Darnia kabur dari Aslan" kata papa Hazar.
"Jadi... Papa mebawa kabur seorang perempuan yang sudah bersuami??" mama Anna memicingkan wajah..
"Bu..bukan ma.. Sebenarnya lebih tepatnya papa bertemu dengannya untuk meminta bantuan ku dan ternyata Aslan mengetahui itu dan mengejar kami tapi setelah itu entah apa yang terjadi papa tidak tahu, papa lupa yang papa ingat hanya itu" kata papa Hazar bangkit berdiri dan memegang pundak mama Anna.
"Ma... Ini hanya masa lalu papa, papa bercerita ini semua hanya ingin menjelaskan kemungkinan ini ada sangkut pautnya dengan masa lalu papa.. Papa sudah memiliki kalian bertiga, bidadari bidadari papa.. Percayalah ma" papa Hazar meyakinkan mama Anna lalu memeluknya..
"Tapi kini Rayyan yang harus menanggungnya pa hiksss hiksss, kita harus menjemput Rayyan pa...hiks" mama Anna menangis..
"Papa sedang mencari keberadaan Rayyan ma, waktu itu papa memang sudah berjumpa dengan Rayyan namun papa tidak bisa membawanya karena ada papa Sadli menyusul. Jadi mau tidak mau papa membiarkan Rayyan di bawa oleh Miran" jelas papa Hazar.
"Papa!!!! Kenapa malah papa biarkan dia bersama laki laki itu!! Bagaimana nasibnya sekarang pa hiksss hiksss" mama Anna semakin menangis..
"Papa terpaksa ma, papa ingin Rayyan tetap selamat meski dalam dekapan musuh" ucap papa Hazar..
"Papa janji akan mencari Rayyan segera" imbuhnya..
"Pa... Mama ingin keluar dari rumah ini, membawa serta putri putri kita pa, mama susah tidak sanggup berada di sini hiksss" isak mama Anna.
"Baiklah ma.. Akan papa siapkan terlebih dahulu.. Mama sabar ya" kata papa Hazar..
Mama Anna hanya mengangguk dan memeluk sang suami...
☘☘☘☘☘
"Bram bagaimana ini" kata kakek saat duduk di kursi depan dapur..
"Biar nanti Bram cari tau pa, di mana mereka sekarang, ini semua juga gara gara Rudi yang meloloskan Rayyan dengan Miran." jawab papa Bram.
"Rudi!!!!" panggil kakek..
Rudi yang namanya dipanggilpun segera berlari mendekat..
"Kenapa kamu meloloskan Rayyan hahh!!! Semua ini gara gara kamu tidak mau menahannya!" kata kakek marah..
"Maa..maaf tuan, waktu itu saya tidak bisa mencegah mereka karena mereka bertiga sedangkan saya seorang diri" Rudi beralasan..
Arga saat itu baru keluar dari kamarnya pun mendengar semua pembicaraan itu, dan dia sebenarnya tau alasan Rudi meloloskan Rayyan karena alasannya sama seperti doa meloloskan Rayyan bersama Miran. Namun tidak ada yang tahu jika waktu itu dia juga ikut mengejar..
Rosa pun tidak sengaja mendengar percakapan itu lalu menghentakkan kakinya karena emosi...
"Kenapa kamu selalu beruntung Rayyan arghhhh" batin Rosa.
Rosa berjalan kembali kekamarnya yang tadi ingin kedapur di urungkannya karena mendengar percakapan itu..
Saat sedang asik duduk melamun memikirkan sesuatu, tiba tiba Rosa menjetikan tangannya pertanda dia susah menemukan ide untuk mencari tau di mana keberadaan Rayyan saat ini..
semoga suka ☺☺
dan terimakasih ya buat yang sudah meninggalkan jejaknya..
benar benar bikin mood author naik drastis nih... 😊😊😊
terimakasih sekali lagi teman teman 🙏🙏🙏
__ADS_1
jangan lupa kasih krisan nya ya, agar lebih baik lagi kedepannya 😊😊😘😘😘