Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
kabar berita


__ADS_3

Di rumah peternakan, mama Anna tengah duduk berdua dengan papa Hazar di gazebo.


"Ma... Kenapa wajahmu terlihat murung??" tanya oaoa Hazar.


"Pa..mmm.." kata mama Anna ragu.


"Ada apa ma?? Apa ada masalah??" tanya papa Hazar khawatir.


"Ma..ma..mama hamil pa.." kata mama Anna.


"Apa ma?? Hamil?? Mama ga becanda kan??" tanya papa Hazar yang terlihat sumringah.


Mama Anna hanya mengangguk, namun wajahnya tidak nampak sedang berbahagia.


"Ma... Ini kabar gembira untuk papa. Terimakasih ma.. Terimakasih ya Allah" kata papa Hazar mengucap syukur lalu mengecup kening mama Anna.


"Papa janji, kita akan merawatnya selayaknya seperti kakak kakaknya.. Keluarga kita akan semakin ramai dengan kehadirannya.. Gendis dan Rayyan pasti akan senang mendengar berita ini" kata papa Hazar yang terlihat sangat bahagia.


☘☘☘☘☘


Di pesta pernikahan, Miran berpamitan.


"Gendis ayo pulang" panggil Rayyan.


"Bro, sekali lagi selamat ya.. Aku pamit dulu, kasihan adiknya Rayyan" pamit Miran.


"Terimakasih ya bro dah nyempetin waktumu untuk datang" kata pengantin pria.


"Sama sama, kami permisi" kata Miran.


Mereka bertiga pun kembali menuju ke mobil. Gendis tampak senang bermain dengan teman teman seumurannya, dia bahkan menceritakan semua apa yang dia lakukan bersama teman temannya.


Gendis terus berceloteh, namun lama kelamaan suaranyapun menghilang. Saat Rayyan menoleh kebelakang ternyata sang adik sudah tertidur.


Miranpun ikut melihat dari kaca sepion tengahnya, sesaat mereka bertemu pandang lalu tersenyum mengingat kegirangan nya Gendis.


Sesampainya di rumah, Miran menggendong tubuh Gendis dan membawanya ke kamarnya.


Pelan pelan Miran membaringkan Gendis di atas kasurnya, Miran takut Gendis akan terbangun. Rayyanpun membuka sepatu yang di kenakan Gendis.


Setelah semua selesai, Rayyan duduk di sofa panjang. Sedangkan Miran duduk di sofa tunggal.


Drrrttt...ddrrrttttt

__ADS_1


Ponsel Miran bergetar, ada panggilan masuk dari salah satu anak buahnya.


Miran bangun dari duduknya dan berjalan keluar.


"Hallo.." bisik Miran.


"Tuan, nyonya Aisah memiliki sebuah rencana.. Beliau meminta pengacara perusahaan untuk kabur dari sini" kata salah satu anak buah Miran.


"Awasi terus gerak gerik nenek. Jangan sampai ada satupun yang terlewatkan." perintah Miran.


"Baik tuan" jawab anak buah Miran.


Miranpun kembali ke dalam kamarnya, saat Miran masuk. Terlihat Gendis membuka matanya.


Melihat sang adik membuka matanya, Rayyan menghampiri Gendis.


"Keapa bangun hmm??" tanya Rayyan.


"Aku ingin tidur bersama kalian.." jawab Gendis.


"Baiklah.." jawab Miran dengan tersenyum.


"Kak Miran, bisakah kamu bercerita untukku?? Agar aku bisa kembali tidur" pinta Gendis.


"Siaap.." angguk Gendis..


Miran pun memulai ceritanya.. Dia menceritakan masa kecilnya hingga dia dewasa. Bahkan Miran menceritakan bagaimana dia bertemu dengan seorang gadis yang mampu merubah hidupnya..


Selama Miran bercerita, Miran terus berbaring mengahadap ke Gendis dengan tangan kanannya menahan kepalanya dan yang kiri mengelus kepala Gendis, namun pandangan matanya terus menatap Rayyan.


Begitu pula dengan Rayyan, dia berbaring menghadap ke Gendis, dengan tangan kiri menahan kepalanya dan tangan kanannya memeluk tubuh Gendis. Rayyan mendengarkan cerita Miran dengan seksama hingga tanpa mereka sadari Gendis telah tertidur.


Diam diam, nenek Aisah mendengarkan cerita Miran. Nenekpun menjadi tau betapa besar cinta Miran terhadap Rayyan. Kini nenek terlihat khawatir, takut Miran akan berhenti untuk balas dendam.


Nenekpun menyusun sebuah rencana, dia akan memanfaatkan Arga untuk memisahkan Rayyan dengan Miran. Nenek akan memfitnah Arga melalui pistol Arga yang ditinggalkannya waktu itu. Nenek memyimpan pistol tersebut dan di sana ada sidik jari Arga.


☘☘☘☘☘


Malampun berganti pagi, Gendis terbangun lebih awal..


Cuupp.


"Selamat pagi.." Gendis mencium pipi Miran..

__ADS_1


Cuupp..


"Selamat pagi.." Gendia mencium pipi Rayyan.


"Hoaammm anak manis kamu membangunkanku.." Miran duduk lalu mengelitik Gendis.


"Ampunn kakak hahaha ampunnn" Gendis kegelian.


Sedangkan Rayyan hanya tersenyum melihat tingkah mereka.


"Baik baik.. Ayoo cepat turun dari tempat tidur dan ikut aku ke dapur.." ajak Miran mengulurkan tangannya.


Sebelumnya Miran mengambil celana dan hemnya untuk dia gunakan nanti.


"Baik... Ayookkk.." jawab Gendis menggandeng tangan Miran.


Miran dan Gendis berjalan menuju ke dapur.


"Bu Ira, saya minta tolong buatkan Gendis sarapan.. Ajak dia ke dapur" kata Miran saat bertemu bu Ira.


"Sana, kamu sama bu Ira dulu ya. Ingat ga boleh nakal.." pesan Miran.


"Ok" jawab Gendis..


"Ayo ikut ibu" ajak bu Ira..


Gendispun mengikuti bu Ira menuju ke dapur. Sedangkan Miran menuju ke kamar lain hanya untuk mandi. Ya.. Selama pernikahannya dengan Rayyan, mereka berdua belum pernah tidur dalam satu ranjang. Hanya bersama Gendis pertama kalinya mereka tidur dalam satu ranjang. Bahkan Miran rela pergi keluar ke kamar lain hanya untuk mandi dan berganti pakaian mereka.


Miran menyadari, kesalahannya dulu masih membekas di benak Rayyan. Jadi untuk saat ini dia tidak mau memaksakan kehendaknya terhadap Rayyan.


☘☘☘☘☘


Di rumah peternakan, keluarga Sadli tengah berkumpul menunggu sarapan mereka. Saat mereka sedang asik berbincang, terlihat mobil pengacara datang.


Pengacara itu membawakan surat surat kepemilikan keluarga Sadli yang di sita oleh nenek. Pengacara itu seolah olah membantu kakek untuk mendapatkan kembali surat surat tersebut. Padahal, neneklah yang menyuruh sang pengacara itu untuk mengembalikan surat surat tersebut. Karena nenek akan memfitnah Kakek telah mencuri surat surat tersebut dengan diam diam menyuruh sang pengacara lalu menyuruhnya pergi setelah mendapatkan surat tersebut.


Kakek tidka menyadari hal tersebut, dia begitu senang mendapatkan kembali semua aset miliknya. Begitupun dengan yang lain yang tampak bahagia karena sebentar lagi mereka akan kembali ke rumah besar mereka.


Kakek lalu menelfon nenek dan mengajaknya untuk bertemu di rumah keluarga besar Sadli.


Tidak beberapa lama kemudian, kakek telah tiba di rumah keluarga Sadli. Kakek tampak terharu, kini dia bisa kembali menempati rumah peninggalan sang papa. Kakek berjalan perlahan, kakek melihat di sana masih ada dot Gendis yang tidka bergeser sedikitpun. Kakek memgambilnya dan menggenggamnya dengan erat. Air matanyapun lolos berjatuhan keluar.


Kakek berjalan menaiki anak tangga. Di lantai dua, kakek berkeliling mengamati rumah kesayangannya itu. Terlihat jelas dari wajahnya ada kelegaan dalam diri kakek.

__ADS_1


__ADS_2