
Akhirnya Miran pun memilih pergi keluar dari kamarnya. Melihat Miran pergi keluar Mia mencoba mengejar Miran.
Mia menyusul Miran hingga memasuki mobil Miran yang akan pergi.
"Mia.. Pergilah.. Ini bukan urusanmu" kata Miran dingin.
"Tidak.." jawab Mia.
"Mia!!" bentak Miran.
"Tidak!!! Sampai kakak mau mendengarkan aku beebicara.." bentak Mia.
Miran pun hanya terdiam dengan wajah dinginnya.
"Katakan.." kata Miran dingin.
"Kak.. Ijinkanlah Rayyan bertemu dengan Arga.." kata Mia.
"Tidak.. Aku tidak akan pernah mengijinkannya.." bentak Miran kekeh menolak.
"Ayolahh kak.. Ini untuk kebaikan semuanya.. Biar Arga tau bagaiman perasaan Rayyan.. Biar Arga berhenti mengganggu kalian.. Jika tidak.. Dia akan selalu membuat masalah.." kata Mia..
"Kak... Sampai saat ini saja kamu masih sangat dekat dengan Mei.. Bahkan selalu melindunginya.. Tapi Rayyan tidak oernah merasa cemburu.. Mengapa kamu tidak mengijunkannyaa untuk bertemu dengan Arga.. Kamu tidak adil terhadap Rayyan kak.." kata Mia lagi..
"Cukup Mia.. Cukup!!! Biar aku saja yang mengurus urusanku.. Kamu tidak tau apa apa.." kata Miran dingin..
Tiba tiba Rayyan sudah berada di luar mobil.
Tok tok tok..
Rayyan mengetuk kaca mobil di mana Mia duduk. Mia pun keluar dari mobil fan bergantian dengan Rayyan yang masuk ke dalam mobil. Miran pun membawa Rayyan pergi.
Selama perjalanan mereka masih bersitegang mempermasalahkan tentang Arga. Miran terus meluapkan emosinya..
"Hentikan mobilnya di sini.." kata Rayyan.
Miran tidak menggubris kata kata Rayyan, dia masih mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Miran!!! Hentikan mobilnya atau akau melompat!!!" bentak Rayyan.
Akhirnya Mirna pun menepikan mobilnya dan berhenti. Setelah mobil berhenti, Rayyan keluar dari mobil tanpa sepatah katapun..
Melihat Rayyan berjalan keluar, Miran menyusulnya meski masih ada rasa kesal.
"Rayyan tunggu" panggil Miran.
"Rayyan!!!" panggilnya lagi karena Rayyan masih terus berjalan.
__ADS_1
"Rayyan... Rayyan.. Berhentilah" kata Miran menarik tangan Rayyan.
Rayyan akhirnya berhenti. Karena hatinya masih kesal dengan sikap keras kepalanya Miran, dia hanya diam membisu.. Lalu Rayyan milih duduk di pinggiran jalan.
Miran pun mengikuti Rayyan yang duduk di tepian jalan.
"Ayo kembali ke dalam mobil.. Di sini panas.." bujuk Miran dan Rayyan diam.
"Rayyan.. Ayo masuk.. Kamu kepanasan.. Maafkan aku sudah kasar sama kamu.." kata Miran lembut tapi Rayyan hanya diam.
"Ok ok.. Apa mau mu sekarang??" tanya Miran pasrah..
"Aku mohon ijinmu untuk menemui Arga.. Jika aku tidak menemuinya, dia akan kembali datang ke rumahmu dan akan membuat keributan" kata Rayyan.
Miran terdiam.. Dia tidak tau lagi harus menjawab apa.. Dia masih merasa berat membiarkan Rayyan menemui Arga yang jelas jelas menyukai istrinya itu. Arga akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Rayyan lagi.
"Baiklah.. Aku mengeijinkamu.." akhirnya Miran mengalah. Dan akhirnya mereka pun kembali ke rumah.
Rayyan lega, dia kembali tersenyum dan memeluk suaminya.
☘☘☘☘☘
Arga tengah mengendarai mobilnya. Tiba tiba ponselnya berdering. Melihat nnama Rayyan di ponselnya, ada sebuah senyuman tercetak di bibirnya.
"Hallo Rayyan" Arga menerima panggilan tersebut.
"Hallo kak.. Bisakah kita bertemu di kafe??" kata Rayyan.
Diam diam nenek Aisah mendengarkan percakapan Rayyan. Nenekpun tersenyum, dia menemukan sebuah rencana yang akan memanfaatkan situasi itu.
☘☘☘☘☘
Di kediaman keluarha Sadli, mama Sinta dan Rosa tengah bersantai di gazebo..
"Rosa.. Tolong pijat kaki mama.. Kaki mama akhir akhir ini pegal" kata mama Sinta.
"Cckkk mama nihh ganggu aja" jawab Rosa dengan memangku kaki sang mama dan memijitnya.
Tidak lama kudian datang Tutik dengan membawa baki berisi minumaaan yang di pesan mama Sinta.
Tutik datang dengan sebuah senyuman yang penuh arti. Itu membuat Rosa menjadi sebal lalu memilih pergi meninggalkan mamanya.
"Aku mengetahui sebuah rahasia apa yang telah kamu sembunyikan Sinta" kata Tutik.
"Rahasia apa maksud kamu!!" kata mama Sinta sebal.
"Tentang pernikahan Rayyan dan Miran. Sebenarnya kamu yang membujuk Rayyan agar mau menikah dengan Miran untuk menyelamatkan putramu kan?? Kamu pasti bisa bayangkan jika putramu itue mengetahui hal ini, apa yang akan terjadi?? Dia pasti akan sangat kesal" kata Tutik mulai mengancam.
__ADS_1
"Hentikan omkng kosongmu ini Tutik!!! Jangan katakan itu ke pada siapapun!!m sekarang apa maumu??" kata mama Sinta kesal.
"Aku ingin menjadi bagian dari keluarga ini.. Nikahkan aku dengan Sadli" kata Tutik lalu berjalan pergi meninggalkan mama Sinta yang hanya terdiam.
☘☘☘☘☘
Mei dan sang mama tengah berbelanja di pusat perbelanjaan. Karena merasa lelah, Mei mengajak sang mama untuk pergi ke kafe terdekat.
Arga tengah menunggu kedatangan Rayyan, di sana Arga terus mondar mandir dan selalu menatap arloji di tangannya.
Tidak lama kemudian, Rayyan pun datang.
"Rayyan.. Mari duduk" kata Arga senang.
Rayyan hanya membalasnya dengan sebuah senyuman..
"Mau pesan sesuatu??" tanya Arga.
"Tidak kak, terimakasih.." jawab Rayyan.
"Rayyan... Apa kah kamu terpaksa menikahi Miran??" tanya Arga to the point.
"Kak, tidak ada yang memaksaku. Aku datang sendiri kepada Miran karena aku sangat mencintainya. Kami saling mencintai kak.. Aku harap kamu bisa mengerti keputusanku.." jawab Rayyan.
"Tidak!! Kamu bohong.. Kamu bohong kepadaku!!" teriak Arga.
Semua orang pun memandang ke arah mereka.. Tidak sedikit dari mereka mengenali Rayyan dan Arga karena status mereka dari keluarga yang terpandang.
Tanpa sengaja mama Eni dan Mei melihat pertemuan Rayyan dan Arga.
"Lihat.. Seorang perempuan yang berstatus istri orang berani beraniny bertemu dengan laki laki lain di tempat umum. Mama akan menegor mereka.." kata mama Eni yang merasa sebal.
"Ma.. Mama jangan.. Biarkan saja.." cegah Mei.
"Tidak, mama akan menegor mereka" mama Eni memaksa..
"Ma... Ayoo jangan ikut campur urusan mereka.. Ayoo.." Mei menarik mamanya.
Mei malas jika akhirnya ada keributan lagi.. Mei memaksa mamanya untuk meninggalkan kafe tersebut sebelum Arga dan Rayyan menyadari kedatangan mereka.
Obrolan Arga dengann Rayyan masih berlanjut.
"Kak.. Terimalah keputusanku ini.. Aku yakin suatu saat nanti kaka akan menemuka perempuan yang bisa menerima kaka apa adanya.. Maafkan aku kak" kata Rayyan.
"Baiklah Rayyan.. Semoga kamu bahagia hidup bersama Miran" kata Arga akhirnya.
Arga terpaksa menerima keputusan Rayyan. Meski hatinya sakit, hancur. Namun dia tidak dapat memaksakan kehendaknya lagi.
__ADS_1
Arga menunggalkan Rayyan di kafe itu.. Hatinnnya benar benar hancur, bahkan air matanya tak mampu lagi dia tahan. Cinta yang selama ini di dendam harus pupus begitu saja.. Tidak ada harapan lagi, Rayyan susah memilih keputusannya.
Rayyan pun meninggalkan kafe tersebut dan kembali kerumah sebelum Miran kembali dari kantornya. Rayyan merasa lega telah berbicara dengan Arga, dan meminta pengertian Arga akan keputusannya agar tidak ada lagi keributan soal pernikahan dirinya dengan Miran.