
Mama Anna dan yang lain sudah berada di ruang dokter.
"Dokter, mengapa suami saya mengalami kejang? Apa yang terjadi?" tanya mama Anna.
"Ini berkaitan dengan transfusi darah yang lakukan pasien. Kemungkinan pendonor ada hubungan darah erat dengan pasien" jawab sang doker.
"Tapi kami tidak mengetahui siapa yang menjadi pendonor itu dokter. Bahkan golongan darah kami tidak ada yang sama dengan suami saya" jawab mama Anna bingung.
Sang dokterpun membuka data pendonor tersebut.
"Nama pendonor adalah Marko Kuner" jawab dokter.
Kakek tampak bingung mendengar nama tersebut. Begitu juga mama Anna dan Arga juga bingung karena mereka tidak memiliki kerabat dengan nama itu.
Mereka tidak tau jika nama tersebut adalah nama Miran. Tanpa mereka ketahui, Miran adalah putra papa Hazat dengan mama Darnia.
Mereka bertiga pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Di waktu yang bersamaan, papa Hazar telah membuka matanya. Banyak selang selang yang masih menempel di tubuh papa Hazar. Di sana ada nenek yanh berhasil masuk ke ruang ICU di mana papa Hazar mendapatkan perawatan.
Tidak ada yang mengawasi disana, karena mama Anna dan yang lain saat itu masih berkonsultasi dengan sang dokter.
Setelah mengatakan beberapa pesan unti papa Hazar. Nenek segera keluar dari ruangan perawatan papa Hazar. Meski belum dapat berkomunikasi, tapi papa Hazar sudah dapat memahami.
#####
Rayyan dan Miran sedang dalam perjalanan setelah menemui tuan Ali. Mereka berniat untuk kembali kerumah.
"Miran. Apakah mungkin jika surat yang papaku bawa terjatuh di rumah mu?" kata Rayyan.
"Yaahh, kemungkinan besar. Kita coba cari dirumah" jawab Miran.
Miranpun tancap gas menuju ke rumah utama. Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka telah tiba di rumah. Mereka di sambut oleh beberapa penjaga pintu.
"Tolong parkirkan" perintah Miran setelah keluar dari mobil.
"Baik tuan" jawab salah satu pengawal.
Miran bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung mencari di sekitaran tempat papa Hazar terjatu. Miranpun bergegas mencari bu Ira ke dapur.
"Bu.. Apakah anda menemukan surat yang pak Hazar bawa? Mungkin anda menemukannya? Kemungkinan surat itu terjatuh saat pak Hazar terjatuh." tanya Miran.
Bu Ira tampak berfikir dengan pertanyaan Miran. Bu Ira bingung harus menjawab apa.
"Memang saya yang membersihkan tempat itu. Tapi saya tidak menemukan apapun di sana." jawab bu Ira.
Miran hanya mengangguk, dia tampak berfikir kemana lagi harus dia cari. Dia harus segera menemukan surat tersebut untuk mengetahui apa tujuan pak Hazar malam malam datang ke rumahnya.
__ADS_1
Sedangkan Rayyan sedari tadi tidak masuk. Dia masih merasa takut. Rayyan memaksakan dirinya untuk masuk, meski masih sangat jelas bayang bayang sang papa tergeletak bersimba darah dia bawah tangga, tepat di anak tangga paling bawah.
Rayyan terduduk tersungkur di tempat tepat sang papa tergeletak. Dia menangis sesegukan. Mia yang melihat Rayyan menangis segera menghampiri Rayyan di sana.
Mia berusaha menenangkan Rayyan. Mencoba menguatkan Rayyan. Rayyan terlihat sangat terpukul, beberapa kali dia memukuli lantai itu.
"Papamu pantas mendapatkan siksaan itu, karena Hazar telah membunh putraku" kata nenek yang tiba tiba berdiri di sana.
Rayyan tidak terima sang papa dituduh sebagai pembunuh. Dia bangun dari duduknya dan menatap nenek dengan tatapan sengit.
Reflek Rayyan berjalan mendekati nenek dan spontan mencengkek nenek.
"Papaku bukan pembunuh. Kau jangan terus memfitnah papaku" kata Rayyan sambil terus mencengkek nenek.
Melihat itu, Mia berteriak.
"Rayyan..!! Jangan Rayyan!!!" teriak Mia.
"Eghhj...eghh..." nenek mulai merasa sesak nafas karena cekekan Rayyan.
Mendengar ada keributan, orang orang segera keluar dari kamar mereka masing masing. Miran yang melihat itu langsung memisahkan Rayyan dibantu Riyan.
"Papa ku bukan seorang pembunuh!!! Anda jangan terus memfitnah papaku!!" teriak Rayyan dalam dekapan Miran.
"Uhuk... Uhuk... Uhuk... Tapi memang benar papamu pembunuh orang tua Miran. Papamu pantas mendapatkannya" nenek terus memprofokasi meski merasa sakit dibagian lehernya.
"Anda jangan memfitnah papaku.. Anda jahat.. Anda pembohong!!!" Rayyan terus memcoba melawan dalam dekapan Miran.
"Stop!!! Cukup!! Nenek diamlah!" bentak Miran.
Miran membawa Rayyan keluar dari rumah keluarga Aslan. Dia tidak ingin ada lagi keributan.
"Miran!!" panggil nenek namun tak dihiraukan oleh Miran.
Drtttt drrttt ddrrttt
Ponsel Rayyan tiba tiba berdering saat mereka di depan rumah. Tertera nama Arga yang menghubunginya.
Rayyanpun menerima panggilan tersebut. Dan seketika dia kembali menangis. Rayyan langsung memeluk Miran.
"Papaku sudah siuman Miran. Dia sudah membuka matanya." tangis Rayyan dalam pelukan Miran.
"Ini kabar bagus" ucap Miran sambil memeluk Rayyan.
"Antarkan aku ke rumah sakit" pinta Rayyan.
"Baiklah.. Mari" jawab Miran.
__ADS_1
#####
Arga juga memberikan kabar ke papa Bram. Papa Brampun merasa senang mendapatkan kabar itu. Papa Bram langsung memberikan kabar gembira itu ke seisi rumah. Semua orang di sana tampak lega mendengar kabar tersebut.
Mareka saling berpelukan satu sama lain dan mengucapkan syukur atas siumannya papa Hazar.
#####
Dirumah sakit, dokter kembali mengecek ke adaan papa Hazar yang telah siuman. Setelah mengecek, dokter mencoba berkomunikasi dengan papa Hazar.
"Hallo papa Hazar, bagaimana keadaan anda?? Apakah ada yang anda rasakan?? Jika sudah lebih baik, kami akan memindahkan anda ke ruang perawatan" tanya sang dokter.
"Tidak dok. Dokter, bisakah anda memanggilkan istri saya Anna" pinta papa Hazar
"Baik, akan saya panggilkan.. Tunggu sebentar" jawab sang dokter.
Dokterpun meminta tolong ke perawat yang mendampinginya untuk segera memanggil mama Anna.
Sang susterpun segera keluar dari ruang ICU. Tidak lama kemudian, perawat kembali masuk bersama mama Anna.
Mama Anna yang melihat papa Hazar telah sadar langsung menangis senang dan spontan memeluk aang suami.
#####
Di kediaman Alan, Riyan memberikan Informasi kepada nenek jika papa Hazar sudah kembali sadar.
"Riyan, segera kamu ke rumah sakit dan bawa beberapa anak buahmu ke sana. Aku yakin, sadarnya Hazar akan membuat Miran terancam" perintah nenek.
"Baik nek" jawab Riyan.
Miranpun bergegas meninggalkan nenek. Tanpa mereka sadari jika Mia mendengar kabar itu.
Mia seketika ketakutan mendengar kabar jika papa Hazarr telah sadar. Mia langsung masuk kedalam kamarnya. Dia ketakutan di sana.
Mia terus mondar mandir, dia tidak tau harus bagimana. Dengan tangan gemetar, Mia mengambil ponselnya dan memcoba menghubungi Arga.
"Hallo Arga" sapa Mia setelah panggilannya di terima oleh Arga.
"Bagiaman keadaan pamanmu?" tanya Mia mencoba setenang mungkin.
"Iya Mia, pamanku sudah kembali sadar Mia" jawab Arga senang.
"Apakah pamanmu mengatakan sesuatu?" tanya Mia hati hati.
"Kami belum bertemu dengan paman, dokter tengah memeriksa keadaan pamanku saat ini. Mudah mudahan ingatan paman ku tidak hilang" jawab Arga.
Ada kelegaan sekaligus ketakutan dalam diri Mia. Lega karena papa Hazar belum mengatakan apapun, dan takut jika papa Hazar mengatakan jika dirinya lah yang mendorong papa Hazar.
__ADS_1
"Kita akan segera tau siapa yang telah mendorong pamanku" sambung Arga.
Mia langsung panik mendengar kata kata Arga. Dia terdiam membayangkan apa yang terjadi jika keluarga Sadli mengetahui jika dirinya lah yang mendorong papa Hazar.