Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
kekecewaan Gendis


__ADS_3

Rayyan benar benar terkejut dengan kekutan Miran. Rumah pondok yang dulu terbakar kini sudah di perbaiki oleh Miran.


"Miran??" Rayyan tidak berkedip mwlohat rumah pondok itu.


"Aku sengaja memperbaikinya. Aku akan membangun kembali apa yang terbakar. Aku memperbaiki semuanya" kata Miran.


Mendengar kata kata Miran, Rayyan terharu. Kini rumah pondok itu tampak lebih indah. Ada beberapa tanaman hias di bagian depanny. Meski kecil, namun terasa sangat nyaman.


Saat hendak memasuki rumah tersebut, tiba tiba Miran berlutut di depan Rayyan.


"Tunggu sebentar Rayyan" kata Miran mengeluarkan sebuah gelang kaki dari saku jasnya.


Miran pun memasangkannya, Rayyan hanya terdiam saat Miran memasangkan gelang tersebut.


"Ayo masuk.. " ajak Miran.


Miran membukakan pintu untuk Rayyan. Rayyan mengamati isi rumah pondok tersebut. Meski dibangun ulang oleh Mirab, namun posisi setiap prabotan sama persis dengan yang dahulu.


Rayyan mendekati gaun pengantin yang Miran gantung dekat tempat tidur.


"ini??" Rayyan terkejut.


"ya ini gaun yang dulu aku belikan kepadamu, dan aku tau gaun tersebut rusak. Maka aku memesannya kembali" Kata Miran dengan senyum manisnya.


Lalu Miran mengeluarkan sebuah kotak cincin berwarna merah. Perlahan Miran membuka kotak itu. Di dalamnya sebuah cincin yang Rayyan buang dahulu.


"Rayyan, dulu kita mengawali kisah kita di sini. Dan sekarang aku ingin menulis ulang kembali kisah kita yang baru di sini dari awal lagi. Rayyan maukah kamu menjadi belahan jiwaku, maukah kamu menikah dengan ku??" kata Miran dengan air mata berlinang.


Rayyan terdiam, dia belum mampu menjawab apa apa. Dia benar benar teekwjut dengan semua kejutan dari Miran.


"Maaf Miran.. Aku belum bisa" kata Rayyan.


Miran terkejut, Miran merasakan kekecewaan. Miran keluar rumah untuk sekedar menghirup udara segar karena di dalam tiba tiba begiti sesak.


"Rayyan!! Kenapa kamu mulitmu memberi jawaban yang berbeda. Dimatamu sangat jelas menerimanya." kata Miran merasa tidak terima.


Rayyan menyusul Miran, lalu menyeretnya kembali masuk.

__ADS_1


"Di tempat ini aku hampir mati karena bunuh diri setelah kamu begiti saja mencampakkan aku. Rasa sakit itu sampai sekarang masih sangat terasa" kata Rayyan sambil terisak menangis dengan tangan kanannya mengangi dadanya yang terasa nyeri.


"Rayyan, maafkan aku.. Beri aku kesempatan lagi. Aku akan memperbaiki semua kesalahanku padamu.." kata Miran mencoba mengerti perasaan Rayyan.


"Aku tidak bisa Miran.. Aku belum bisa mempercayaimu. Apalagi selama balas dendam itu masih ada dalam dirimu dan selama itu pula kita tidak akan bisa menyatu. Nenekmu akan terus memintamu untuk balas dendam dan kamu tidak akan bisa menolaknya" kata Rayyan tetap menolak Miran.


Rayyan pergi meninggalkan Miran berada di rumah pondok sendirian. Selama perjalanan, Rayyan terus teringat dengan semua kenangan bersama Miran.


Setelah kepergian Rayyan, Miran pun akhirnya ikut pergi. Miran terus teringat saat kejadian dia pergi meninggalkan Rayyan di rumah itu begitu saja. Bahkan semua ucapannya masih sangat ia ingat. Miran sangat menyesali dengan perbiatannya waktu itu.


"Aaarrrggggg harusanya aku tidak melakukan itu.. Bodoh... Bodoh... Bodoh.." kata Miran marah dengan dirinya sendiri dengam terus memukuli setir mobilnya.


☘☘☘☘☘


Situasi di rumah keluarga Sadli sedang sibuk. Mereka sedang berkemas untuk membereskan semua barang barang mereka. Kakek Sadli akan membawa seluruh anggota keluarganya menuju ke rumah peternakan mereka.


"Ini rumah kita!!! Kenapa kita harus pergi meninggalkan rumah ini kakek!! Aku tidak mau meninggalkan rumah ini" kata Arga sambil marah marah, dia merasa tidak terima dengan penyitaan itu.


Gendis ketakutan melihat Arga yang terus marah marah. Akhirnya dia memilih pergi dari sana tanpa ada yang menyadarinya


☘☘☘☘☘


"Ini semua gara gara kamu Rayyan. Kamu lah segala penyebab kehancuran keluarga ini" kata mama Sinta yang tiba tiba menyalahkan dan mendorong Rayyan.


"Gara gara kamu juga, keluarag Aslan menyita rumah ini. Dan kita harus segera keluar dari rumah ini!!" kata papa Bram yang ikut memojokkan Rayyan.


Mendengar itu, Rayyan berlari mencari papanya.


"Papa.. Sampai kapan keluarag Aslan akan membuat keluarga kita hancur pa?? Maafkan aku pah ini semua gara gara aku.. Akulah penyebab semua ini" kata Rayyan yang tiba tiba memeluk papanya dengan menangis.


"Sayang.... Dengarkan papa nak.. Ini bukan salahmu.. Kejahatan keluarga Aslan ini karena masalah dendam di masa lalu tidak ada hubungannya denganmu nak.. Papa berjanji akan segera menyelesaikan semua masalah ini" kata papa Hazar sambil memeluk Rayyan dan juga istrinya yang sedari tadi mendengarkan si belakang Rayyan.


☘☘☘☘☘


Gendis kembali berjalan seorang diri dengan wajah yang sedih. Dia sangat sedih melihat rumahnya akan di ambil oleh nenek Aisah.


Merasa sedikit lelah, Gendis duduk lalu membuat lukisan di tanah. Tidak lama kemudian Miran melewati jalan tersebut, dan melihat Gendis duduk sendirian.

__ADS_1


"Gendis?? Kamu dengan siapa di sini? Sedang apa kamu?" sapa Miran yang memilih menghampiri Gendis.


"Aku marah kepadamu.. Kakak tidak mencintai kami. Kakak mengambil rumah kami.. Aku tidak tau harus tinggal di mana" Gendis menceritakan apa yang terjadi.


Miran terkejut mendengar penuturan polos Gendis, dia tau siapa yang melakukan itu.


"Tapi aku tidak mengambil rumah kalian??" kata Miran.


"Jangan berbohong kak!!! Wanita bermata hitam yang menyeramkan itu datang kerumah kami dan menyuruh kami untuk pergi. Dan kak Arga juga mengatakan kalau kakak yang melakukan ini.. Kamu jahat kak, aku sangat kecewa kepadamu" kata Gendis lagi dengan wajah imutnya meski dengan ekspresi marahnya.


"Aku berjanji akan mengembalikan rumah kalian, dan aku akan berjanji membahagiakan kamu dan kakakmu" kata Miran setelah mendengar semua kata kata Gendis.


Gendispun merasa senang lalu memeluk Miran.


"Sekarang kamu kembalilah.. Nanti mama papamu bingung mencarimu. Maru aku antar" kata Miran.


Miran pun mengantar Gendia hingga pertigaan kediaman keluarha Sadli. Dan benar tampak dari luar sebuah truk sudah mengangkut barang barang milik keluarga itu.


Setelah mengantar Gendis, Miran kembali pulang kerumahnya. Setibanya di rumah, Miran marah besar.


"Riyaannn!!! Riyaaannn!!" panggil Miran.


Riyanpun langsung berlari menuju sumber suara.


"Kenapa kamu tidak membatalkan penyitaan itu haaahhh!!! Kenapa!!!" teriaka Miran di depan muka Riyan sambil mencekik Riyan.


Ria mencoba melepaskan cekikan Miran dari leher Riyan. Riyan tidak bisa berbuat apa apa karena dia memang tidak berani mencoba mencegah itu.


"Cukup Miran!!!" teriak nenek.


Miran melepas Riyan, lalu berjalan menghampiri neneknya.


"Kamu terlalu membela keluarga itu, kamu lupa dengan balas dendam mu!!" terika nenek di depan wajah Miran.


"Mulai saat ini jalan kita berbeda.. Aku tidak akan mengikuti semua perintah nenek lagi. Nenek terlalu membabi buta dalam balas dendam. Bahkan orang tidka bersalah pun kamu sakiti!!! Aku membenci Hazar, tapi aku tidak akan menyakiti Rayyan, bu Anna dan Gendis.!! Dan hari ini aku telah mengajak Rayyan menikah!!" teriak Miran meluapkan semua emosinya.


"Nenek kecewa denganmu Miran.. Kamu benar benar tersesat. Kamu sudah mupakan dengan balas dendammu, bahkan kamu akan menikahi putri mereka" kata nenek lalu pergi meninggalakan Miran.

__ADS_1


Mama Eni dan Mei mendengarkan smeua ucapan Miran, Mei terus berusaha tegar di hadapan semua orang. Dia todak ingin terlihat lemah.


"Aku sudah tidak peduli lagi!!m aku akan tetap menikahi Rayyan. Jika nenek menolaknya aku akan pergi dari sini" kata Miran mengancam lalu meninggalkan neneknya.


__ADS_2