
Miran merogoh kantong bagian belakang sebelah kanan, dan Miran mengeluarkan tangannya yang memegang kunci kamar.
Nenek melihat itu seketika melirik ke arah sang menantu, dan hanya diam..
"Aku yakin ini ulah keluarganya.. Dia kan tidak di inginkan oleh keluarganya.. Mengetahui dia berada di sini maka menjadi kesempatan untuk memfitnah kita" ucap mama Eni memprovokasi..
"Cukupp!!!! apa Anda tidak mendengarkan penjelasan dari penjaga, jika mereka memang masuk kedalam rumah ini tidak akan mudah bagi dia untuk keluar dari sini... Mulai detik ini tidak ada yang boleh mendekati kamar Rayyan apa lagi menyentuh Rayyan!!! dan sekarang kembali ke kamar masing masing" perintah Miran tegas..
Rayyan hanya diam karena masih syok atas kejadian yang baru saja dia alami.
Semua membubarkan diri, mama Eni terus merangkul Mei dan menuju ke kamar mereka..
"Apa yang kamu lakukan Mei!!! Kamu benar benar cari masalah hah!!!" mama Eni marah setibanya di kamar..
"Aku sudah tidak tahan ma hiksss...aku sudah muak!!" tangis Mei putus asa..
Ceklek...
Suara pintu terbuka..
"Apa yang sedang kalian pikirkan" kata nenek dingin.
"Ma..maksud mama apa?" jawab mama Eni tidak berani menatap nenek.
"Ga usah menutupi, saya sudah mengetahui perbuatan kalian atas kejadian tadi" nenek berjalan mengitari kedua perempuan itu.
Flascback on
"Apa yang kamu lakukan Mei" bisik mama Eni mendekatkan tubuhnya ke Mei saat semua orang sedang fokus pada Rayyan di dalam kamar.
Mei hanya membisu sambil terisak..
"Mana kuncinya bawa sini" bisik mama Eni sambil merogoh kantong baju tidur Mei..
"Di mana kamu mengambil kunci ini!!!" bisik mama Eni lagi sambil memegang kunci itu..
"Saku belakang sebelah kanan celana Miran" jawab Mei terisak..
Lalu mama Eni berjalan menuju ke kamar Miran dan segera mengembalikan kunci tersebut.
Setelah meletakkan kunci itu ketempat semula mama Eni segera kembali sebelum ada yang menyadari..
Namun sayang tanpa mereka sadari nenek susah mengetahui gerak gerik mereka..
Flashback off
"Jangan kalian pikir saya tidak mengamati gerak gerik kalian.. Kali ini kalian selamat.. Tapi jangan berharap di kemudian hari" nenek lalu melangkah keluar dari kamar itu dan kembali ke kamarnya..
Saat melewati kamar Rayyan, sejenak nenek berhenti dan memperhatikan sesaat lalu kembali berjalan masuk kedalam kamarnya..
Sedangkan Miran masih berada di dalam kamar itu bersama Rayyan untuk memastikan semua aman.
"Kembalilah tidur, aku akan menjagamu di luar" kata Miran lembut.
"Tapi Miran.." ada rasa takut, cemas dan khawatir di wajah Rayyan.
"Tidurlah, malam sudah larut" Miran pergi keluar kamar dan menutup pintunya.
Rayyan mengikuti langkah Miran, Miran terdiam di balik pintu setelah menutup pintunya begitu juga Rayyan..
Mereka berdua sama sama menyender di balik Pintu dan terduduk di balik pintu..
__ADS_1
"Miran..." panggil Rayyan.
"Ya..." jawab Miran..
"Apa kamu yakin akan terus berada di situ?" tanya Rayyan.
"Aku akan di sini hingga esok pagi" jawanb Miran...
"Di luar sangat dingin Miran, kembalilah ke kamarmu" ucap Rayyan lirih
"Aku hanya ingin memastikan kamu aman" jawab Miran.
Lama mereka terdiam, Rayyan bangkit dari duduknya dan mengambil sebuah selimut..
Dia memegang gagang pintu hendak membukanya namun dia ragu dan mengurungkan niatnya dia kembali duduk di depan pintu dan menyelimuti dirinya sendiri dan tidak lama kemudian dia tertidur begitu pula dengan Miran hawa dingin mulai merasuk ke tubuhnya namun dia tidak mau beranjak dari sana hingga tertidur lelap..
Malam semakin larut akan berganti fajar..
Mei tidak bisa juga memejamkan kepalanya..
Dia keluar dari kamarnya dan mengecek ke kamar sebelah ternyata kosong..
Lalu dia menuju ke arah tangga dan menaikinya..
Saat melewati kamar Rayyan, dia menatap dengan kesedihan yang mendalam, hatinya hancur sehancur hancurnya melihat Miran begitu rela berkorban untuk gadis lain..
"sampai segitunya kamu Miran terhadap dia, aku yang istrimu tidak pernah sama sekali kamu perlakukan seperti ini" batin Mei..
Mei menangis dalam diamnya, pundaknya kembali bergetar menyaksikan itu semua..
Dia kembali menuju ke kamarnya berharap ini semua hanya mimpi..
☘☘☘☘☘
Saat dia membuka pintu yang dia saksikan adalah Miran yang tengah tertidur di depan pintu..
Di amatinya Miran yang tengah terlelap..
Entah apa yang dipikirkan oleh sang nenek, pikirannya terus bekerja memikirkan sesuatu..
Lalu dia kembali memasuki ke kamarnya..
"Miran, kau benar benar sudah menggunakan hatimu...jika memang begitu maka hatimu yang akan aku gunakan sebagai alat untuk kehancuran mereka" batin nenek dengan senyum sinisnya..
☘☘☘☘☘
Rayyan mengerjapkan matanya, dia mulai terbangun dari tidurnya..
Perlahan dia bangkit berdiri dan membuka pintunya...
Merasa sandarannya bergerak, Miran terbangun dari tidurnya dan mendongak melihat Rayyan yang membukakan pintu itu dan dia bangkit berdiri..
"Miran..." panggil Rayyan.
Miran merogoh kantongnya dan memberikan kunci pintu kamarnya kepada Rayyan.
Rayyan menatap kunci yang di tangan Miran dengan bingung..
"Ambilah, dan kunci pintunya dari dalam.. Jika kamu menginginkan sesuatu pergilah menemui bu Ira.. Anggap saja ini rumah mu" kata Miran lembut.
"Tapi Miran, biasanya kamu yang mengunci ku" kata Rayyan bingung.
"Ambilah" Miran menggelengkan kepalanya dan meletakkan kunci itu di tangan Rayyan..
__ADS_1
Rayyan hanya menatap kunci di tangannya itu..
"Aku pergi dulu, ada urusan kantor." pamit Miran.
Rayyan hanya mengangguk, mereka sama sama meninggalkan tempat itu..
Rayyan masuk ke kamar dan menguncinya, lalu menuju ke tempat tidur membuka paper bag yang kemarin Miran berikan kepadanya..
Di ambilnya sebuah baju dan beberapa perlengkapan lainnya, dia tersenyum lalu menuju ke kamar mandi..
Dia pun mengisi bathtub dengan air hangat, setelah di rasa cukup dia memasukan sabun dengan aromateraphi kemudian dia membuka bajunya dan menanggalkan begitu saja lalu masuk kedalam bathtub tersebut..
Sedangkan Miranpun kembali ke kamarnya..
Saat melewati ruang makan, dia berpapasan dengan Mei.
"Miran.." lirih Mei memanggil Miran dengan tatapan sendinya.
"Hmmm" jawab Miran.
"Miran, masih belum bisakah kamu menerima aku sebagai istrimu Miran" kata Mei lirih menahan tangisnya.
"Mei... Kita sudah membicarakan ini sebelumnya" kata Miran.
"Tapi Miran, aku istrimu... Aku yang lebih berhak mendapatkan perhatianmu Miran" Mei mulai terisak.
"Beri aku waktu Mei" kata Miran lagi.
"Miran, tidak bisakah kamu lihat pengorbananku Miran?? Aku tersiksa Miran... Aku menderita hiksss" kata Mei mulai menangis dan berjalan bergeser mendekati sebuah pisau buah..
"Aku belum bisa Mei, aku menyayangimu selayak seorang kakak dengan adik" kata Miran menatap Mei.
"Kalau begitu biarkan aku mati Miran!!!" tanga Mei sudah memegang pisau dan mengarahkannya ke pergelangan tangan satunya..
Riyan menatap kedua orang itu dan mama Eni dan yang lainnya mendengar keributan itu pun langsung berdatangan melihat apa yang Mei lakukan pun terkejut panik..
"Mei... Mama mohon jangan Mei hiks... Mei... Buang pisau itu Mei" mama Eni menangis.
"Mei!!! Jagan nekat Mei!!" kata Miran sambil mencoba mendekati Miran.
"Jangan mendekat Miran, kau tidak bisa menerimaku maka lebih baik aku akan mati saja Miran hiksss, jangan mendekat Miran.. Minggir!!! jangan ada yang mendekat!!!hiksss...." Mei terus menangis putus asa dengan tangan yang memegang pisau akan menggores pergelangan tangannya..
Miran terus berusaha mencoba mendekati Mei..
Dan tanpa sepengetahuan Mei, Riyan dari belakangnya dengan secepat kilat merebut pisau tersebut..
Dan saat itu juga Miran langsung memeluk mei..
"Maaf kan aku Mei, aku hanya tidak ingin kamu terluka tidak ingin menyakitimu Mei" kata Miran terus memeluk Mei..
"Kamu susah menyakitiku Miran... Hatiku tidak bisa berbohong hiksss hiksss" Mei terus menangis dalam pelukan Miran.
"Mei, aku mohon jangan menyiksa dirimu.. Aku sayang pada mu sebagai seorang kakak sayang terhadap adiknya, aku mohon Mei jangan buat aku menyakitimu" Miran tetap terus memeluk Mei dan menjelaskan semuanya
Perlahan Mei merenggangkan pelukannya berganti mama Eni memeluk Mei dan membawanya ke kamar.
Dan semua yang berada di sana membubarkan diri untuk melanjutkan aktivitas mereka masing masing.
**sampai sini dulu ya temen temen..
jangan lupa like dan komentnya ya..
biar autor tambah semangat nulisnya. 😊😊😊
__ADS_1
trimakasihh 😊😊😊**