Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
surat perceraian


__ADS_3

"Miran tunggu" panggil Riyan mengejar Miran.


"Apa yang kamu lakukan Riyan?? Mengapa kamu mengatakannya.. Aku tidak ingin mereka mengetahuinya" kata Miran marah.


"Miran, aku terpaksa. Aku harus mengatakannya agar kakek Sadli tidak menembakmu dan keluarganya tidak lagi menuduhmu" Riyan menjelaskan.


Sesaat mereka terdiam sambil berjalan menjauh dari kediaman keluarga Sadli.


"Saat pak Hazar datang malam malam. Waktu itu, ternyata doa membawa sebuah surat. Surat itu berisi tulisan tangan dari ibuku. Surat itu bukti jika pak Hasar tidak bersalah. Tapi surat itu hilang, aku harus segera menemukan surat itu agar aku bisa membuktikan kata kata pak Hazar" kata Miran.


Riyan hanya mendengarkan sembari berfikir apa yang bisa dia bantu untuk masalah ini. Dan akhirnya mereka berdua pun bergegas kembali pulang.


#####


Dikediaman keluarga Sadli suasana masih terlihat tegang. Kakek terus marah marah ketika mengetahui Miranlah pendonor itu.


"Mengapa harus darah Miran yang mengalir dalam darah Hazar!!! Dia musuh kita. Kenapa kalian tidak bisa menemukan pendonor lainnya.. Kenapa mesti Miran!!!" teriak kakek emosi.


"Pa!!! Seharusnya papa bersyukur kakak masih bisa selamat hingga saat ini. Tidak peduli siapa yang menjadi pendonor itu!" kesal papa Bram.


"Miran menggunakan nama lain saat melakukan pendonoran. Jadi kita tidak tau asal usul pendonornya waktu itu" sambung Arga.


"Kamu pasti sudah mengetahuinya kan???" tanya kakek dengan nada marahnya ke Rayyan.


"Aku baru tahu ketika papa sudah mendapatkan donor darah dari Miran. Waktu itu petugas rumah sakitlah yang mengatakannya. Aku tidak peduli dari siapa darah itu. Yang penting papaku selamat" jawab Rayyan.


Kakek hanya terdiam mendengarkan kata kata Rayyan. Dan kakek memilih kembali kekamarnya, sudah cukup lelah untuk dirinya yang sudah tua renta. Ditambah dengan segala masalah yang ada.


#####


Riyan masuk kedalam dapur, di sana sudah ada bu Ira yang tengah menunggu kedatangannya.


"Nak.. Kamu tidak apa apa?" tanya bu Ira khawatir.


"Kami semua baik baik saja bu" jawab Riyan.


"Bu.. Apakah bu Darnia dan pak Satria harmonis atau mereka sering bertengkat??" tanya Riyan.


Bu Ira terkejut dengan pertanyaan Riyan. Bu Irapun menjadi teringat masa lalu.


Flashback On


Saat itu, pada malam hari. Tanpa sengaja bu Ira mendengar Darnia menangis. Satria adalah suami yang kasar dan sering marah marah. Bahkan tidak segan segan memukul Darnia. Karena merasa tidak tega, bu Ira memilih menjauh dari sana, karena menolongnyapun tidak mungkin lebih tepatnya tidak berani.


Flashback off.


"Pak Satria adalah seorang yang pemarah dan sering menyiksa bu Darnia. Kenapa kamu menanyakan hal ini?" tanya bu Ira.


"Miran memberitahukanku tentang sebuah surat. Saat pak Hazar datang kesini, ternyata dia membawa sebuah surat yang ditulis oleh bu Darnia. Bu.. Ibu mengenal baik dengan bu Darnia, dan ubu sudah sejak lama menjadi teman pak Hazar. Apa ibu tau tentang surat itu?" tanya Riyan.


Bu Ira tampak bingung. Ingin sekali dia mengatakan yang sesungguhnya. Namu dia takut dengan nenek Aisah.


"Aku tidak mengetahui perihal surat itu Riyan." bohong bu Ira padahal surat itu dari dirinya.


#####


Saat Rayyan menemani sang adik untuk kembali tidur. Tiba tiba terdengar suara keributan kembali di luar.


"Ike, tolong temani Gendis sebentar. Aku akan mengecek apa yang terjadi.." pinta Rayyan.

__ADS_1


Rayyanpun keluar kamar dan melihat apa yang terjadi. Terdengar suara sirine ambulance di luar sana. Semua orang tergesa gesa menuju ruang utama.


"Hazar.. Mengapa kamu pulang?? Kondisimu belum membaik. Kamu masih butuh perawatan di rumah sakit" tanya kakek khawatir.


"Gendis menelpon, katanya Miran datang. Aku harus pulang untuk melindungi Rayyan" jawab papa Hazar menatap Rayyan.


Setelah itu, papa Hazar segera di bawa ke dalam kamarnya menggunakan brankar. Setelah di pindahkan di tempat tidurnya, paramedispun segera meninggalkan rumah keluarga Sadli.


"Untuk apa Miran datang kesini pa?" tanya papa Hazar ke kakek.


"Dia ingin membawa kembali Rayyan. Dia sungguh tak tau malu" jawab kakek.


Akhirnya, Rayyan dan kakek pergi meninggalkan kamar papa Hazar karena hari semakin larut dan papa Hazar harus banyak beristirahat.


#####


Dilain tempat, Miran merenungkan dirinya di dalam kamarnya. Bayang bayang Rayyan terus menari nari disetiap sudit kamarnya.


Hatinya terasa kosong dan dingin sama seperti kamarnya saat ini. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Miran masih ada sedikit harpan untuk membawa kembali Rayyan bersamanya. Dia akan terus berusaha untuk meyakinkan Rayyan.


Di kamar yang berbeda, Rayyan tengah menangis. Hati sedih harus meninggalkan Miran. Namun dirinya yakin Miran telah mendorong papanya.


#####


Haripun berganti, pagipun menyambut setiap insan di muka bumi. Papa Hazar dan mama Anna tengah berbincang serius di dalam kamar mereka.


"Pa.. Rayyan harus segera berpisah dengan Miran. Mereka harus segera bercerai. Jika tidak, Miran akan terus mengejar Rayyan" kata mama Anna duduk di samping papa Hazar.


"Aku sudah mengurus surat perceraian itu" lanjut mama Anna mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat.


"Ma.. Kita tidak bisa memaksakan Rayyan untuk bercerai." kata papa Hazar tidak setuju.


"Pa..." kata kata mama Anna terpotong dan segera memasukkan surat itu kembali ke dalam saku bajunya.


Rayyan masuk dengan membawa nampan berisi bubur untuk sarpan sang papa.


"Pa.. Apa semua baik baik saja.. Bagaimana keadaan papa?" tanya Rayyan duduk di samping sang papa.


"Papa sudah sedikit membaik nak" jawab papa Hazar.


"Rayyan, kamu harus segera menceraikan Miran. Jika tidak, Miran akan terus mengejarmu" kata mama Anna tiba tiba.


Rayyan terdiam, tiba tiba hatinya seperti tertimpa batu besar menghimpit. Sesak dan sakit mendengar permintaan sang mama tidak adakah jalan lain selain perceraian. Meski dia kecewa, namun Rayyan tidak ingin berpisah dengan Miran.


Mama Anna mengeluarkan surat tersebut dan memberikannya ke Rayyan.


"Segera tanda tangani" kata mama Anna.


Rayyan menerima surat tersebut tanpa berkata apapun. Dia menatap sang papa dengan tatapan sedihnya. Papa Hazar tidak tega melihat Rayyan dengan wajah seperti itu. Hatinya juga begitu sakit melihat nasib putri angkatnya itu.


Karena merasa begitu sesak, Rayyan memilih berjalan jalan keluar rumah untuk mencari ketenangan. Salah satunya adalah berkuda. Rayyan pergi ke kandang dan mengambil kuda kesayangannya.


Rayyan menuntun kudanya terlebih dahulu. Diam diam, Miran sudah menunggunya di balik tembok. Miranpun mengikuti kemana perginya Rayyan.


Rayyan memilih berkuda di tempat favoritnya, dia sebuah lembah yang terdapat padang rumputnya yang begitu luas.


Dia memacu kudanya cukup kencang untuk melepas segala risau, kesedihan yang mendera hatinya.


Miran terus mengikuti Rayyan, entah sejak kapan namun Miran terus membuntuti Rayyan dengan kudanya.

__ADS_1


"Rayyan!!!" panggil Miran.


Rayyanpun menoleh dan berhenti. Rayyan turun dari kudanya.


"Untuk apa kamu mengikuti ku Miran??" tanya Rayyan marah.


Rayyan ingin meninggalkan Miran, namun Miran mencegahnya.


"Rayyan, jangan pergi.. Aku ingin berbicara dengan mu" cegah Miran.


"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan lagi" tolak Rayyan hendak pergi.


"Rayyan aku mohon, aku janji hanya sebentar" Miran memohon.


Tiba tiba..


"Hushh... Hushhhh" Miran mengusir kedua kuda itu dengan memukul mukul ranting kering di tanah.


Kedua kuda itupun berlari.


"Apa yang kamu lakukan Miran.. Kenapa kamu membuat kuda kuda ketakutan??" Rayyan semakin emosi.


"Biarkan saja, aku sengaja melakukan itu agar kamu tidak dapat kembali pulang. Aku hanya ingin berdua denganmu." kata Miran menatap lekat Rayyan.


"Jauh jauhlah dariku.. Aku masih bisa pulang dengan berjalan kaki" kata Rayyan pergi meninggalkan Miran.


"Awwww agghhhhh" teriak Miran berpura pura.


Mendengar itu, Rayyan berubah khawatir. Dia takut terjadi sesuatu dengan Miran. Akhirnya Rayyan berbalik datang dan menghampiri Miran dengan wajah penuh ke khawatiran.


"Apa kamu baik baik saja?" tanya Rayyan.


Lalu Miran bangun dari duduknya sambil tersenyum.


"Lihatlah, kamu saja masih sangat menghawatirkanku. Aku sangat senang Rayyan" kata Miran yang senang melihat Rayyan khawatir.


Hal itu membuat Rayyan semakin sebal dengan tingkah Miran. Berani beraninya dengan situasi seperti ini Miran masih bosa bercanda dengan membohonginya.


"Ohhh jadi kamu hanya mencari perhatianku sjaa. Tidak lucu" kata Rayyan sebal.


Akhirnya merekapun berjalan beriringan sambil berbincang hingga hari semakin sore.


Mereka duduk di sebuah batu yang cukup besar untuk beristirahat sejenak meski langit mulai menggelap.


"Rayyan, aku berani bersumpah tidak mendorong papamu. Waktu kejadian, posiailu berada di dapur untuk mengambil air minum. Aku berharap kamu percaya kepadaku. Jangan tinggalkan aku Rayyan, aku tidak bisa hidup tanpamu" kata Miran berusaha meyakinkan Rayyan.


"Papaku tidak mungkin berbohong Miran, dia pria yang jujur. Aku lebih percaya dengan papaku karena aku tahu betul siapa papaku" jawab Rayyan.


Tanpa terasa, mereka berdua bersama hingga larut malam. Waktu benar benar berjalan sangat cepat.


"Aku antar kamu pulang" tawar Miran.


Rayyan hanya diam, dia malah mengambil ponselnya dari dalam skau lalu memanggil seseorang.


"Kak, bisakah kamu menjemputku??" kata Rayyan.


".................."


"Ya, nanti aku share lock" jawab Rayyan.

__ADS_1


Rayyan langsung mematikan panggilannya dan kembali berjalan meninggalkan Miran.


Miran tau siapa yang telah Rayyan hubungi. Ya Rayyan minta tolong Arga untuk menjemputnya. Ada rasa panas dalam hati Miran, karena Miran tahu Arga menyukai Rayyan.


__ADS_2