Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
Rayyan mengetahuinya


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar Mia, nenek segera memanggil Ira dan menunggunya di dalam kamar dan Ira pun langsung bergegas menyusul nenek.


Tok...tok...tok


"Masuk!" jawab nenek yang sudah menunggu Ira.


"Ira, kau tau tadi Mia pulang dengan siapa?" tanya nenek.


"Tidak bu, saya tidak tau Mia diantar seseorang" jawab Ira jujur.


"Tadi Mia mengatakan pada ku bahwa dia pulang di antar oleh seseorang. Dan kau tau siapa dia??" kata nenek menatap Ira.


Ira hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap ke nenek, tampak terlihat jelas di matanya tersirat ke khawatiran.


"Bram... Putra Sadli" jawab nenek.


Ira terkejut dan tangannya reflek menutup mulut nya..


"Aku khawatir, dia tau bahwa Mia adalah cucu ku dan ini akan membahayakan untuk Mia" kata nenek mengalihkan pandangannya ke jendela.


Tanpa disadari nenek, dibalik pintu kamarnya ada seseorang yang menguping pembicaraannya dengan Ira..


Mendengar Ira akan keluar dari kamar nenek orang itu langsung bersembunyi di bawah meja dekat pintu masuk nenek dam untungnya Ira tidak memerhatikan itu karena lampu yang remang..


☘☘☘☘☘


Pagi harinya, Marni tampak diam diam keluar dari rumah keluarga Alan. Dia terus berjalan menuju ke suatu tempat untuk bertemu seseorang.


"Aku dapat informasi yang sangat penting. Kau berikan dulu saya uang" kata Marni kepada orang itu.


"Cepat katakan info apa yang akan kau berikan kepada ku" ternyata orang itu mama Sinta..


"Mia... Dia cucu nyonya Aisah" kata Marni dengan memasang wajah serius seolah olah informasi yang dia berikan sangat penting.


"Bukannya cucunya hanya Miran dan Mei?" tanya mama Sinta tidak begitu percaya.


"Aku rasa nyonya Aisah sengaja menyembunyikan identitas Mia. Karena pada waktu awal saya masuk dia di kenalkan sebagai putri Ira asisten kepercayaan nyonya Aisah" jelas Marni.


"Baiklah.. Nihh.. Trimakasih info yang kau berikan.. Jangan lupa terus berikan saya informasi yang penting dalam keluarga itu" kata mama Sinta memberikan amplop ke Marni.


"Baik lah, asal aku mendapatkan uang tambahan hehehe muachhh" kata Marni sambil mencium amplop itu.


"Dasar mata duitan" cibir mama Sinta lalu pergi dari tempat itu.


☘☘☘☘☘


Papa Bram meminta salah satu orang kepercayaannya untuk menemuinya di kantor.


"Ar, aku butuh bantuanmu.." kata papa Bram.


"Apa yang bisa ku bantu Bram" kata tuan Ardi.


"Tolong, selidiki yang bernama Mia.. Siapa dia bagi keluarga Alan" kata papa Bram lagi.


"Baiklah, aku akan cari tahu siapa dia.. Nanti akan aku beri kabar" jawab tuan Ardi setelah mendengar perintah dari papa Bram.


Setelah tuan Ardi keluar dari kantor papa Bram, tidak lama kemudian mama Sinta datang.


"Haii papa sayang..." senyum sumringah mama Sinta


"Tumben mama datang ke kantor??" tanya papa Bram heran.


"Aku dapat informasi tentang Mia" bisik mama Eni.


"Mia?? Apa?" papa Bram terkejut istrinya bisa bergerak cepat.


"Ternyata, keluarga Alan menyembunyikan salah satu cucunya ke publik. Dan memalsukannya ke dalam nama keluarga lain" kata mama Sinta.


"Maksud mama?" papa Bram belum mengerti maksud dari mama Sinta


"Mia ada alah cucu keluarga Alan yang di sembunyikan" jawab mama Sinta akhirnya.


"Jadi bener kecurigaan saya?? Hmmmm pantas saja saya merasa asing terhadap Mia karena ternyata dia di sembunyikan" papa Bram tersenyum.


"Ehhhh tunggu, mama dapat info ini dari mana???" papa Bram memicingkan matanya.


"Sudah lah pa, percaya aja sama mama.. Ini info sangat akurat" jawab mama Sinta santai.


☘☘☘☘☘


Di rumah sakit, mama Eni langsung pergi menuju rumah sakit setelah mendapat kabar tentang ke adaan Mei.


"Miran!! Bagaimana keadaannya? Di mana Mei?" tanya mama Eni khawatir.


"Ada di dalam sedang istirahat" jawab Miran singkat.


Mama eni masuk keadalam kamar rawat Mei. Mendengar pintu kamarnya terbuka Mei terbangun berharap Miran yang datang.

__ADS_1


"Mei... Kamu tidak apa apa nak? Kenapa ini bisa terjadi sayang?" mama Eni khawatir melihat kondisi putrinya yang pucat.


"Eghmmm, Mei ga apa apa ma... Hanya masih terasa nyeri aja.." jawab Mei meringis menahan sakit di perutnya.


"Siapa yang melakukan ini Mei?" tanya mama Eni.


Mei terdiam sesaat mengingat kejadian waktu itu.


*Fl*ashback on


Saat pintu terbuka, Rayyan terkejut karena Mei yang ada di balik pintu.


"Mei?, kenapa kamu kesini?" tanya Rayyan.


"Untuk membantumu pergi dari Miran." kata Mei.


"Tidak.. Saya tidak mau.. Jika saya harus pergi saya harus ijin dulu ke Miran"


jawab Rayyan.


"Kamu tidak perlu ijin kepada Miran, Miran bukan siapa siapa kamu dan Miran adalah suamiku" jawab Mei menatap tajam Rayyan.


"Tidak..tidak..tidak mungkin... Aku harus menanyakan ini kepada Miran langsung" wajah Rayyan memucat mendengar kenyataan baru lagi.


"Pergilah Rayyan, dia suamiku.. Aku ingin dia kembali kepadaku, aku ingin bersamanya bukan bersamamu.. Jadi cepatlah pergi sebelum dia datang" Mei mendorong diring Rayyan agar segera pergi.


"Kakak" panggil Rayyan melihat Arga memasuki rumah.


"Ayoo Rayyan ikut dengan ku" Arga menggandeng tangan Rayyan.


Arga dan Rayyan pergi meninggalakan rumah itu.


Setelah memastikan Rayyan dan Arga sudah keluar dari rumah, Mei mengambil sesuatu di salam tasnya.


Jleeppppp..


"Aghhhhh" Mei menusukkan dirinya dengan pisau yang sengaja dia bawa di dalam tasnya.


Perlahan Mei terjatuh dan tergeletak dekat sofa.


Flashback off


"Rayyan... Rayyan yang melakukan ini. Dan dia kabur bersama kakaknya" kata Mei.


"Apa!! Gadis itu memang tidak bisa dibiarkan.. Dia harus membayar apa yang sudah dia lakukan kepadamu" mama Eni geram mempercayai fitnah yang di buat Mei.


"A..aku juga tidak tau Miran.. Tiba tiba dia datang, dan saat aku akan mencegahnya untuk pergi Rayyan menusuku" jawab Mei lemah


"Lalu bagaimana bisa kamu tau aku dan Rayyan berada di sana?" Miran curiga.


"Aku mendapatkan pesan kaleng Miran, yang isinya bahwa kamu berada di rumah itu.. Sebagai seorang istri, aku khawatir terhadap suaminya dan mencoba memastikan apakah benar kamu berada di sana" jelas Mei sesekali meringis menahan sakitnya.


"Kamu sedang tidak berbohongkan Mei?" Miran tetap masih curiga.


"Miran, tidak bisakah kamu sedikit saja melihat ku? Tidak adakah sedikit saja perasaanmu terhadap ku, Miran?? hiksss.. Aku sangat menyayangi mu Miran begitu sangat mencintaimu. Aku sakit saat kamu tinggalkan begitu saja bersama perempuan lain, sakit saat kamu acuhkan perasaanku.. Hari hari ku kosong Miran, aku selalu bermimpi bahagia bersamamu. Memiliki keluarga kecil bersamamu.. Hiksss" Mei mencoba mencurahkan isi hatinya.


"Mei, sejak awal aku selalu bilang kepada mu. Aku tidak bisa Mei" kata Miran geram.


"Cukup Miran!!! Lebih baik kamu keluar!! Lihat kondisi Mei masih lemah. Dan kamu tidak memikirkan dia" mama Eni akhirnya membuka suara saat melihat Mei semakin kesaktan dan akhiran Miran pergi meninggalakan kamar tersebut.


☘☘☘☘☘


Di kamar lain, Rayyan sudah terbangun dari tidurnya. Dilihatnya Arga tertidur di sofa tunggu.


Perlahan Rayyan turun dari tempat tidurnya.


"Rayyan, kamu sudah bangun" suara serak Arga khas bangun tidur..


"Kak, aku ingin menemui Miran kak.. Tidak bisa dengan cara seperti ini" kata Rayyan yang sedari malam terus memikirkan kata kata Mei.


"Untuk apa lagi Rayyan kamu mencari dia?" Arg mencoba tidak terpancing emosi.


"Aku ingin memastikan perkataan Mei kemarin kak, aku yakin Mei bohong terhadap ku kak" kata Rayyan lagi.


"Ray... Sudah cukup kamu bersama dia.. Ikutlah dengan ku, aku akan melindungi mu" Arga mencoba membujuk Rayyan.


"Tidak kak! Jika kakak tidak mau mengantarku.. Biarkan saja aku sendiri yang kesana" Rayyan mulai tidak sabar dan mencoba keluar kamar


Arga yang tidak tahan lagi dia mencoba mencegah Rayyan pergi menghadang Rayyan keluar dari kamar, dia langsung merogoh saku jaketnya dan memberikan sebuah kertas foto yang di lipat.


Rayyan menatap tangan Arga sesaat dan menatap Arga. Arga menganggukan kepalanya, Rayyan menerima foto itu dan perlahan membuka nya.


Setelah melihat isi foto itu, Rayyan lemas terduduk dengan air mata mulai berjatuhan ke pipinya.


"Ter..ternyata yang dikatakan Mei benar hiksss" Rayyan menangis mengetahui kenyataan bahwa Miran suami Mei dari foto pernikahan itu.


Arga berjongkok di depan Rayyan, dia memegang pundak Rayyan.

__ADS_1


"Kakak, kenapa dia membohongiku hiksss.. Kenapa kak?hiksss" Rayyan terus menangis.


Arga menarik Rayyan kedalam pelukannya, lama Rayyan menangis dalam pelukannya.


Setelah cukup tenang, Arga melonggarkan pelukannya.


"Rayyan, percayalah padaku. Sudah tidak ada yang bisa kamu harapkan lagi dari laki laki itu. Ikutlah dengan ki Rayyan.. Menikahlah dengan ku, aku berjanji akan melindungimu. Jika perlu kita pergi keluar negeri agar tidak ada yamg menemukan kita" kata Arga selembut mungkin.


Rayyan terdiam dan mencerna semua kata kaya Arga.


Siang itu, Rayyan sudah di perbolehkan untuk pulang. Rayyan dan Arga keluar rumah sakit dan menuju ke taksi yang sudah di pesan Arga.


Sesaat setelah Arga dan Rayyan masuk kedalam taksi, saat itu juga Miran keluar dari lobi rumah sakit berjalan menuju ke mobilnya terlihat jelas di wajahnya menahan emosi.


Rayyan meminta Arga menuju ke sebuah tempat mungkin untuk terakhir kalinya dia kesana..


Kurang lebih membutuhkan waktu 30 menit untuk menuju ke sana.


Arga hanya mengamati Rayyan mengikuti Rayyan berjalan menuju ke ayunan langit sebutan khusus Rayyan untuk tempat itu.


Sesampainya di ayunan, Rayyan menaikinya.


"Kak, tolong dorong" perintah Rayyan..


"Tapi Rayyan" Arga ragu.


"Dorong!" teriak Rayyan.


Arga memulai mendorong Rayyan perlahan, Rayyan yang terduduk di atas ayunan itu terus menatap kedepan dengan tatapan kosong, air matanya terus mengalir.



"Lebih kencang kak!" teriak Rayyan.


Rayyan merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya, hatinya kacau..


Setiap kejadian terus berputar di kepalanya seperti sebuah film. Terlebih semua kejadian saat dia bersama Miran, di sinilah tempat yang bersejarah bagi dia bersama Miran tempat yang sangat spesial bagi dia.


Entah mengapa hatinya begitu ngilu menerima kenyataan itu.


Arga terus mendorong dengan cepat, sebenarnya dia khawatir Rayyan terjatuh kedalam jurang di depannya.


"Lebih kencang lagi kak" teriak Rayyan sambil terisak.


Mungkin dengan semakin kencangnya ayunan, hatinya akan sedikit tenang.


Rayyan terus menikmati ayunan yang semakin tinggi mengayunnya menambah adrenalinnya yang berharap membuat hatinya semakin tenang.


"Cukup kak" kata Rayyan setelah di rasa hatinya susah tenang.


Arga menahan ayunan itu agar perlahan berhenti, dan memeluk Rayyan dari belakang.


Posisinya persis ketika Miran memeluknya dulu dan akhirnya Rayyan turun dari ayunan itu.


"Kak, aku menerima tawaranmu. Tapi aku meminta satu syarat" kata Rayyan lirih.


"Katakanlah Rayyan" kata Arga.


"Aku ingin tetap berada di rumah, aku tidak mau jauh dari papa, mama dan Gendis. Aku sangat menyayangi mereka" kata Rayyan.


"Baiklah Rayyan, aku akan melakukan apa yang kamu mau" Arga menyetujui bahkan setiap permintaan Rayyan akan dia turuti asal dia tetap bersamanya.


Arga berjalan menuju ke taksinya yang sedari tadi menunggu, Rayyan berhenti sesaat memperhatikan ayunan tersebut lagi dan tangannya melepaskan kain hitam yang mengikat rambutnya dan mengikat kain itu di tali ayunan.


Rayyan kembali berjalan menuju ke taksi.


Taksi pergi meninggalkan tempat itu, berpapasan dengan Miran yang datang..


Miran berharap Rayyan berada di sana, namun sayang Miran terlambat mungkin jika dia datang 1menit yang lalu mungkin dia masih bisa bertemu dengan Rayyan.


Tangan Miran memegang papan sebagai dudukan ayunan tersebut dan saat dia memegang tali ayunan, dia melihat kain warna hitam. Miran tersadar Rayyan baru saja dari sini.



Miran mencoba mencari cari, namun tidak ada dia terlambat..


"Argghhhhh" Miran mengambil batu dan melemparnya dengan sepenuh tenaganya.


Lalu Miran pergi meninggalakan tempat itu.


**semoga masih suka ya ☺☺☺


dan terimaksih yang sudah memberikan suport melalui koment2an kalian..


ini sangat membantu author untuk semangat menulis.


terus like dan komentnya ya 😊😊😊

__ADS_1


terimakasih 🙏🙏🙏🙏😉😉**


__ADS_2