Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
Rayyan menembak Miran


__ADS_3

Sementara itu, di mana Rayyan sedang tertidur merasa terganggu dengan sinar matahari yang mulai mengganggu..


Rayyan mengerjapkan matanya perlahan karena silau..


Rayyan bangun dan duduk, dia baru sadar dia tengah menggunakan selimut, dia langsung berfikir mungkin Miran yang memberikannya karena seingat dia semalam tidak ada selimut disekitar dia..


Miran keluar dari kamarnya, dia melihat Rayyan tengah duduk di sofa..


"Aku mau keluar sebentar" pamit Miran langsung keluar tanpa menunggu jawaban dari Rayyan dan mengunci pintu dari luar..


Rayyan hanya melirik ke Miran, hatinya masih sakit setiap melihat sosok Miran.


Semua yang dilakukan Miran terhadap dia masih terus berputar di otak Rayyan..


Rayyan berdiri, dan berfikir bagaimana caranya dia bisa keluar dari ini...


Saat Rayyan masih mondar mandir, tanpa sengaja Rayyan melihat handphone di meja ujung ruangan tersebut..


Rayyan mengambil handphone itu dan mencoba membukanya ternyata tidak terkunci...


Rayyan menuliskan sebuah nomor..


☘☘☘☘☘


Drtt..drrrtttt...drrrtttt


Handphone mama Anna bergetar...


Mama Anna segera mengecek siapa yang menelfon, ternyata nomor tidak dikenal..


Mama Anna ragu menerima panggilan itu, sebentar mama Anna melihat Gendis yang tengah tertidur lalu keluar kekamar..


"Halloo.."mama Anna menerima panggilan itu..


"Mama...hiks hiksss" Rayyan langsung menangis..


"Rayyan...ini kamu nak...hiksss kamu di mana nak?...bagaimana ke adaanmu nak???" mama Anna terkejut..


"Rayyan tidak apa apa ma, Rayyan baik baik saja ma.. Rayyan tidak tau ini di mana ma.." jawab Rayyan


"Ma..." panggil Rayyan kembali..


"Iya sayang, pulang lah nak, mama akan bilang ke papa untuk menjemput kamu" jawab mama Anna khawatir.


"Rayyan tidak apa apa ma, bagaimana dengan Gendis ma.. Aku merindukannya juga merindukan mama" isak Rayyan


"Gendis sudah membaik sayang, mungkin lusa sudah pulang.. Mama juga sangat merindukan kamu sayang.. Cepatlah pulang nak.." kata mama Anna..


Saat Rayyan akan menjawab, tiba tiba handpone yang sedang dia gunakan direbut oleh Miran dan dibanting hingga mati..


"Apa yang sedang kamu lakukan hahh, siapa yang kamu telefon???" kata Miran dengan nada tinggi..


Rayyan terkejut dengan kedatangan Miran yang tiba tiba...


"Saya sedang menelfon mama saya, saya sedang menanyakan kabar adik saya yang tergeletak di rumah sakit karena anda!!!!" jawab Rayyan tak kalah emosi..


"Dengan cara mu seperti ini sama saja kamu memberitahukan dimana keberadaan kita, paham!!!!" emosi Miran.


"Memangnya kenapa jika mereka tau keberadaan kita, toh juga bukan ke inginanku anda menyelamatkan saya.. Dan satu hal lagi, saya juga menginginkan anda mati, seperti saya yang sudah mati di pondok itu" kata Rayyan sambil mendekatkan wajahnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.


Tiba tiba Miran mengeluarkan sebuah pistol dari balik bajunya..


"Tembak saja saya jika kamu memenag menginginkan nyawa saya" Miran memberikan pistol itu ke tangan Rayyan.


Rayyan terdiam dan mengamati pistol yang berda di tangan dia...


Dan tiba tiba...


Doorrrr....


Rayyan mengarahkan pistol itu tepat di dada sebelah kiri Miran..


Miran terdiam dengan tangannya yang memegangi dada kirinya dan melihat tangannya yang bersimba darah...


Perlahan Miran terduduk dan terus memegangi dadanya..


Rayyan yang melihat itu terdiam dan mulai menangis. Dia melihat tanggannya yang masih memegang pistol itu dan menjatuhkannya...


Rayyan menatap Miran yang kesakitan memegangi dada kirinya..


"Ini kesempatan ku untuk kabur, aku akan meninggalkanmu seperti kamu meninggalkan ku" batin Rayyan..


Rayyan terus memperhatikan Miran, dan dia langsung berlari keluar...


"Jangan melihat kebelakang Rayyan, jangan lihat kebelakang... terus saja jalan ini kesempatan kamu pergi" batin Rayyan menguatkan hatinya..


Rayyan masih menangis, hatinya ragu...


Namun niatnya itu dia urungkan, dia berbalik dan kembali memasuki rumah itu..


Saat sudah berada di ruang tamu, Rayyan melihat kondisi Miran yang susah sangay lemah..


"Bahkan saat seperti ini ilusimu begitu nyata Rayyan" gumam Miran tersenyum saat melihat Rayyan kembali dengan pandangannya yang buram..


Rayyan mengambil handphone yang tergeletak ternyata mati total Rayyan menjadi bingung harus bagaimana. saat ini pun dia tidak tau di mana dia berada dan harus minta pertolongan siapa..


Sekarang dia benar benar tidak tau harus berbuat apa, terlebih melihat keadaan Miran yang sudah lemah...

__ADS_1


"Saya kembali bukan karena kasihan dengan mu, dan hanphone satu satunya sudah kamu banting hingga mati lebih baik saya antar kamu ke dokter," Rayyan mendekati Miran..


"Jangann...jangannn eghnnnn jangan bawa saya kerumah sakit" jawab Miran pelan menahan sakit..


"Lalu apa yang harus saya lakukan, darah kamu terus keluar..." Rayyan semakin panik.


"Tolong..kamu ambilkan beberapa barang...." Miran terbata bata menyebutkan beberapa barang itu..


Beberapa menit kemudian Rayyan sudah mengumpulkan semua yang disebutkan Miran..


"Saya sudah mendapatkan yang kamu sebutkan.." kata Rayyan.


"Kaa.kamuu yang akan mengambil peluru ini" kata Miran..


"Aa...apa...aku.. Aku tidak bisa" jawab Rayyan kaget..


"Eghmmm cepatlahh, aku sudah tidak sanggup lagi... Nanti aku yang akan mengarahkan kamu" kata Miran..


Mau tidak mau Rayyan melakukan semua yang Miran arahkan, meski takut dam ragu namun Rayyan melakukannya dengan baik...


Setelah selesai memasang perbannya, Rayyan membetulkan posisi Miran agar tetap tiduran dan dia langsung membereskan semuanya..


Malam harinya, Miran terus mengigau tak karuan...


Rayyan yang melihat itu langsung memegang kening Miran ternyata demamnya tinggi..


Rayyan langsung pergi ke dapur dan mengambil air hangat dan kain untuk mengompres...


Semalaman Rayyan merawat Miran, mengompres Miran hingga dia kelelahan dan tertidur dengan posisi terduduk kepalanya disamping kepala Miran..


Pagi harinya, Miran bangun terlebih dahulu, Miran memegang keningnya masih ada kain yang menempel lalu menoleh ke kiri ada Rayyan yang masih terlelap tidur..


Miran menatap Rayyan dengan lekat, diamatinya Rayyan setiap inci wajahnya.. Ada getaran halus yang timbul di hatinya dan dia memegang dadanya lalu tersenyum..


Tidak lama, Rayyan terbangun dari tidurnya..


"Mirann..." khas suara serak bangun tidur, Rayyan terkejut melihat Miran memandanginya..


"Kamu sudah baikan?" Rayyan megang kening Miran dan ternyata demamnya sudah turun.


"Eghmmm tunggulah sebentar aku buatkan sarapan" Rayyan memasang mode ketusnya.


Miran hanya menatap tingkah laku Rayyan dan sedikit tersenyum..


Sejam kemudian, Rayyan memberikan bubur untuk Miran dan menaruhnya di atas meja..


"Ini makanlah, aku rasa kamu sudah baikan" ketus Rayyan..


Miran hanya meliriknya, dan berusaha memakan buburnya sendiri..


Miran terus mencoba namun tangannya masih merasa kaku karena dia masih merasa sakit bila menundukan kepalanya..


"Ishhhh, sini biar saya bantu" Rayyan merebut sendok dan mangkok yang didepan Miran..


Rayyan menyuapi Miran perlahan.


"Perlu kamu ingat, saya melakukan ini bukan karena apa apa... Melihat mu mati begitu saja bagi ku itu sangat mudah... Saya ingin melihat kamu tersiksa dengan rasa bersalah mu karena telah memperlakukan saya seperti itu di pondok" Rayyan memepringatkan Miran.


Miran hanya diam dan terus menikmati sarapannya...


☘☘☘☘☘


Di kediaman keluarga Alan, Ira ke kamar mama Eni..


Tok tok tok..


"Nyonya" panggil Ira..


"Ada apa Ira masuklah" jawab mama Eni yang sedang berdandan..


"Nyonya, ini alamat di mana Miran berada..." Ira memberikan secarik kertas kepada mama Eni..


"Bagus Ira, saya suka kerja kamu" mama Eni menerima kerta itu dengan senyum sinis..


Setelah Ira pergi meninggalkan kamar mama Eni, mama Eni langsung bersiap siap untuk keluar dari rumah...


Nenek terus mengamati gerak gerik mama Eni..


"Ohhh ini kerjaanmu Eni, lihat saja kamu" batin nenek lalu pergi menuju ke kamarnya..


☘☘☘☘☘


Dirumah sakit saat Gendis terbangun dari tidurnya Gendis di kejutnya dengan begitu banyaknya balon di kamarnya..


"Sayang kamubsudah bangun nak" sapa mama Anna..


"Mama... Kenapa balonnya begitu banyak" tanya Gendis..


"Kamu suka?" tanya mama Anna..


"Suka ma" senyum Gendis...


"Halooo gadis cantik... Kamu sudah bangun... Bagaimana suka ga?" tanya Arga tiba tiba..


"Kakak...." Gendis tersenyum senang..


"Kamu suka kan, paman sudah menepatinya ya" kata papa Bram..

__ADS_1


"Tapi ga ada yang berwarna merah balonnya" kata Gendis lesu..


"Nanti akan kakek belikan lebih banyak dari ini setelah kamu pulang" kata kakek..


"Beneran kek?" Gendis antusias..


Kakek menganggukan kepala...


Mama Anna hanya tersenyum...


Saat melihat suaminya baru masuk kekamar setelah mengurus administrasi rumah sakit, mama Anna mengajak papa Hazar untuk keluar..


"Ada apa ma" tanya papa Hazar.


"Pa... Kemarin Rayyan menelfon mama" bisik mama Anna


"Apa??? Bagaimana keadaannya ma? Dan dimana dia?" papa Hazar kaget.


"Rayyan baik baik saja namun dia belum sempat mengatakan di mana dia berada" jawab mama Anna sedih..


"Tenang ma, nanti akan papa cari tau, lebih baik akan masuk nanti Gendis mencari cari mama" papa Hazae menenangkan..


Mereka berdua kembali masuk, namun saat papa Hazar akan masuk tiba tiba ada pesan masuk...


"Temui saya segera, saya tau di mana keberadaan putri anda" isi pesan itu..


Papa Hazar langsung berbalik badan dan mencari cari orang tersebut..


Papa Bram pun mengetahui itu lalu mengikuti papa Hazar.


Papa Hazar melihat seorang perempuan menggunakan cadar memberi kode kepada dia, lalu mengikuti perempuan itu.


Setelah berada di tempat yang cukup aman, wanita itu berhenti dan menunggu papa Hazar mendekat.


Papa Bram trus mengikuti papa Hazar yang ternyata bertemu dengan seorang perempuan, papa Bram terus mengamati dari jarak yang cukup jauh..


Saat papa Hazar sudah berada di dekat perempuan itu, dia membuka cadarnya dan papa Hazar terkejut..


"Anda..." papa Hazar menatap mama Eni..


"Ya ini saya, saya mengetahui keberadaan Rayyan dia sedang bersama Miran.." jelas mama Eni..


"Dari mana anda tau" tanya pala Hazar..


"Tidak perlu saya tau dari mana saya mengetahuinya, saya melakukan ini bukan untuk menolong anda.. Tapi untuk menolong anak saya istri Miran" jelas mama Eni.


Bagai di sambar petir papa Hazar mendengar penjelasan mama Eni, papa Hazar bingung, kenapa mereka melakukan itu..


"Anda sebagai perempuan, sekaligus seorang ibu tega melakukan kebohongan ini!!!" kata papa Hazar menahan emosinya..


"Jangan menilai saya tuan Hazar, anak saya juga jadi korban dan saya ingin membebaskan dia dengan membawa kembali suaminya... Dan ini alamatnya, anda hanya harus membawa pergi putri anda setelah itu biarkan saya yang urus" mama Eni memberikan secarik kertas dan langsung meninggalkan papa Hazar...


Papa Hazar mematung bingung dengan kata kata mama Eni..


Tiba tiba papa Bram menghampiri papa Hazar.


"Kakak, sedang apa di sini" papa Bram pura pura..


"Bram, bagaimana bisa kamu kesini" tanya papa Hazar terkejut dengan kedatangan papa Bram..


"Eemmm aku habis dari toilet dan melihat kakak terdiam di sini.. Ada apa kak" papa Bram berbohong..


"Nyonya Eni habis memberikan ini, dia mengatakan bahwa Rayyan berada di alamt itu" papa Hazar memberikan kertas itu..


"Apa... Nyonya Eni? Kenapa bisa" papa Bram terkejut tidak menyangka bahwa perempuan itu adalah mama Eni..


"Entahlah" jawab papa Hazar.


"Apa kakak tau alamat ini" tanya papa Bram..


Papa Hazar hanya menggelengkan kepalanya, kemudian papa Bram memberikan informasi di mana alamat itu dan akhirnya papa Hazar paham..


"Kakak, cepatlah kesana dan jemput Rayyan aku akan mengurus Gendis dan mengalihkan perhatian papa" kata papa Bram..


"Trimakasih Bram atas bantuan mu" jawab papa Hazar lalu pergi meninggalkan papa Bram dan menuju alamat yang dimaksud..


Papa Bram mengangguk dan tersenyum sinis...


Papa Bram kembali ke kamar rawat Gendis, saat hampir sampai ke kamar kakek keluar dari kamar...


"Pa..." papa Bram memanggil kakek..


"Ada Bram" jawab kakek..


"Kak Hazar akan menjemput Rayyan" papa Bram membocorkan tujuan papa Hazar..


"Apaa!!! Kemana dia pergi!!!" seketika kakek emosi.


"Ke alamat ini pa" bisik papa Bram.


"Baiklah, kamu tetap di sini aku akan menyusulnya" jawab kakek..


Papa Bram mengangguk dan tersenyum dengan rencananya untuk melenyapkan Rayyan..


Karena sesungguhnya papa Bram sangat iri dengan papa Hazar yang selalu di percaya oleh kakek untuk menangani perusahaannya, dia merasa di anak tirikan oleh kakek..


Maka dari itu papa Bram selalu mencari kesempatan untuk mengadu domba kakek dengan papa Hazar di belakangnya dan bermuka manis di depan mereka.

__ADS_1


Jangan lupa like dan kritik sarannya ya kawan ☺☺🙏🙏🙏


__ADS_2