
Hari telah berganti. Keluarga Aslan tengah menikmati pagi dengan bersarapan bersama.
Miran dan Rayyan hendak makan bersama. Mereka bergabung duduk di meja makan.
"Nek, aku sudah kenyang.. Mei ingin ke kamar dulu" kata Mei pergi meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makanannya.
Mama Eni menyusul Mei tanpa berpamitan. Begitu juga dengan nenek pergi meninggalkan meja makanan. Sangat tampak jelas mereja tidak menyukai Rayyan bersama dengan mereka.
"Selamat pagi kak??" sapa Mia ramah.
"Ayo sarapan bersama dengan ku. Tidak usah pedulikan mereka." kata Mia mencoba menghibur.
Akhirnya mereka bertiga pun sarapan bersama. Miran merasa tidak enak dengan Rayyan atas sikap keluarganya itu.
Setelah sarapan mereka kembali dengan aktivitas mereka masing masing. Rayyan mengantar Miran yang akan berangkat kerja. Sedangkan Mia kembali ke kamarnya.
Mia mengambil ponselnya di nakas. Lalu dia mencoba menghubungi Arga.
"Hallo Arga.. Rayyan sudah kembali dan keadaannya baik baik saja." kata Mia memberikan kabar.
"Sukurlah jika Rayyan sudah kembali. Terimakasih atas informasinya" jawab Arga.
☘☘☘☘☘
Di rumah peternakan mereka tengah berkumpul di gazebo depan rumah.
"Rayyan sudah ditemukan semalam dan keadaannya baik baik saja" kata papa Hazar.
Tidak lama kemudian, Arga tiba di rumah dengan wajah bahagianya.
"Rayyan telah di temukan, dan katanya dia baik baik saja" kata Arga kepada semua yang berada di sana.
"kami sudah mendengarnya Ga" jawab kakek.
"Aku merasa kalian selalu menyembunyikan hal penting tentang Rayyan kepadaku." Arga kembali marah.
"Arga.. Kami mengetahui ini dari pamanmu yang semalam bertemu dengan Rayyan. Dan baru tadi kami mengetahuinya sebelum kamu datang" kata papa Bram berusaha memberi pengertian.
"Tidak!! Kalian selalu akan menjauhkan ku denga Rayyan. Bahkan pernikahannya pun kalian sembunyikan dari ku!!!" Arga semakin emosi.
"Arga!!! Dia sendiri yang mencintai Miran!! berhentilah mengejarnya!!" teriak papa Bram terpancing emosi.
__ADS_1
"Nak.. Paman mohon.. Lupakan Rayyan.. Benar kata papa mu.. Rayyan mencintai Miran.." kata papa Hazar mencoba memberi pengertian juga.
Arga emosi dan dia memilih kembali pergi.
☘☘☘☘☘
Miran masih merasa penasaran hingga di mencari tau lagi siapa yang telah menculik Rayyan. Miran mencoba kembali ke desa yang diduga tempat untuk menyekap Rayyan. Namun di sana nihil, tidak ada satu informasi pun yang dia dapat di sana.
Miran pun kembali, dan datang ke gudang tempat mobilnya yang tertembak di simpan.
"Kemana mobil yang disimpan di sini??" tanya Miran kepada salah satu orang yang tengah menyapu di sana.
"Maaf tuan, belum lama tadi sudah di ambil oleh beberapa orang suruhan keluarga Aslan." kata orang tersebut.
Laku Miran langsung kembali pergi dan menuju kerumahnya.
"Nenek..." panggil Miran setibanya di rumah.
"Apa kita memiliki musuh lain nek?? Mobil yang ada di gudang telah hilang" tanya Miran.
"Kita tidak memiliki musuh lain selain Sadli. Kamu berhati hatilah dengan mereka.. Dengan tipu daya mereka.. Mereka sangat licik" jawab nenek.
Nenek terus berusaha mengkambing hitamkan keluarga Sadli agar Miran semakin membenci mereka. Padahal mobil itu dia sembunyikan karena takut Miran akan mengetahui jika dirinya lah dalang penembakan tersebut.
Tidak lama dari kepergian Miran, Rayyan masuk ke dalam kamar nenek. Rayyan lalu memberikan secarik kertas untuk nenek Aisah.
***** menerima kertas itu, dan membacanya. Setelah membacanya wajah nenek tampak terkejut. Wajahnya tampak ketakutan.
"Anda akan merasakan ketakutan nyonya Aisah. Orang orang yang menculikku memberikan surat ancaman untukmu" kata Rayyan lalu pergi meninggalkan nenek.
"Siapa mereka.. Siapa yang berani mengancamku??" nenek Aisah bertanya tanta setelah menutup pintunya.
Di luar, Miran mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi papa Hazar.
"Hallo.. Anda benar pak Hazar.. Aslan memiliki musuh lain. Mobil di gudang telah menghilang" kata Miran.
"Akhirnya kamu mempercayaiku Miran jika Aslan memiliki musuh yang tersembunyi. Kita akan bekerjasana untuk mencari tau siapa dia." kata papa Hazar.
Miran mematikan sambungan teleponnya sepihak. Dia merasa marah di ajak kerja sama dengan papa Hazar. Karena Miran masih merasa Papa Hazar musuhnya.
Miran menelpn Ike. Ike yang tengah berada di dapur melihat ponselnya dan tertera nama Miran di sana.
__ADS_1
"Hallo.." Ike menerima panggilan itu.
"Ike, datanglah kerumahku.. Dan temani Rayyan di sini agar dia tidak merasa sendirian." kata Miran.
Ike ragu dan merasa takut jika harus ke sana.
"Tapi Miran.." tanya Ike.
"Aku yang memberimu ijin, maka tidak ada satu orang pun yang akan berani membantahnya" kata Miran.
"Mmm baiklah.. Aku akan segera ke sana" jawab Ike.
"Riyan ayooo" panggil Miran setelah mematikan teleponnya.
Miran dan Riyan pun pergi dari rumah. Saat tengah dalan perjalanan, tiba tiba mobil Miran di hadang oleh papa Hazar.
"Apa apaan kamu Miran.. Tidak kah kamu memiliki sopan santun?? Aku tengah berbicara denganmu tapi kamu mematikannya begitu saja" papa Hazar marah.
"Saya tidak akan pernah sudi untuk bekerja sama dengan musuh" kata Miran tidak kalah emosi.
"Miran!" papa Hazar mencoba memegang tangan Miran untuk menahannya pergi.
Miran menepis tangan papa Hazar, dan Riyan mencoba menahan papa Hazar.
Miran dan Riyan pergi meninggalkan papa Hazar yang masih berdiri di sana.
☘☘☘☘☘
Arga tengah duduk bersama Ihsan. Dia menceritakan keluh kesahnya.. Suasana hati yang tengah dia rasakan.
"Kenapa... Kenapa keadaan tidak pernah bisa mendukungku untuk bersama Rayyan. Ini sangat tidak adil buatku Ihsan.. Aku sudah lebih sulu mencintainya.." kata Arga.
Ihsan hanya diam, dia tidka bisa mengatakan apapun. Karena akan percumah dia mengatakan sesuatu disaat emosi Arga masih meluap.
Arga mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Mia.
"Hallo Mia.. Apa kamu bisa menolongku untuk bertemu Rayyan.??" kata Arga.
"Tapi Arga.." jawab Mua.
"Jika kamu tidak bisa menemukan aku akan datang kesana sendiri" kata Arga mulai emosi.
__ADS_1
"Arga.. Maaf kali ini aku tidak bisa membantumu. Aku tidak mau suasana semakin kacau. Lebih baik kita bertemu.. Aku tidka leluasa berbicara di sini" ajak Mia.