Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
jadi pendonor


__ADS_3

"Pasien membutuhkan donor darah golongan B.. Saat ini di bank darah rumah sakit kami tengah kosong untuk golongan tersebut. Kami meminta bantuan ke pihak keluarga untuk segera mendapatkan golongan darah tersebut. Jika tidak segera mendapatkan kemungkinan pasien tidak akan selamat. Pasien terlalu banyak kehilangan darahnya." kata sang dokter.


Mama Anna sekita itu histeris mendengar penjelasan sang dokter. Rosa mencoba menenangkan mama Anna agar tidak terlalu tertekan.


Miran masih berada di sana dan mendengar semua apa yang di katakan sang dokter.


"Apakah di antara kalian ada yang bergolongan darah B?? Aku mohon bantu suamiku" pinta mama Anna.


Semua bingung, diantara mereka di sana tidak ada golongan darah yang sama dengan papa Hazar.


"Bibi, tenang lah dulu.. Aku akan coba mencari bantuan.


Arga, Papa Bram dan kakek berusaha mencari ke beberapa kerabat bahkan teman mereka.


Miran merasa memiliki golongan darah yang sama dengan papa Hazar melihat itupun dia beranjak pergi dari sana.


"Mau kemana kamu Miran?" tanya Riyan namun Miran hanya diam.


Riyan pun bingung mau kemana Miran bahkan dia tidak menjawab pertanyaan dari Riyan.


☘☘☘☘☘


Di ruang ICU kondisi papa Hazar semakin menurun, dokter masih terus berjuang agar papa Hazar tetap bisa bertahan.


Dokter memilih untuk segera membawa papa Hazar ke ruang operasi untuk mencoba menghentikan pendarahan pada papa Hazar. Mereka terus berupaya meski dokter pesimis pasien bisa selamat.


Sedangkan di ruang pendonor darah, Miran tengah duduk di sebuah bangku dengan selang yang menempel di tangannya. Dia tengah mengambil darahnya untuk ia donorkan setelah beberapa saat dia mengecek kelayakan darahnya untuk di donorkan.


Sesungguhnya hati kecilnya dia sangat membenci papa Hazar. Tapi ini ia lakukan hanya demi Rayyan.


"Tuan, saya membutuhkan identitas anda" tanya seorang suster.


"Aprilio Kusnandar" jawab Miran.


Miran terpaksa memalsukan namanya karena ia tidak mau mereka tau jika dirinya lah yang menjadi pendonor.


☘☘☘☘☘


Di kediaman keluarga Aslan, hingga tengah malam mereka tidak kunjung beristirahat. Suasana di sana masih terlihat tegang.


Ira menyadari ada sesuatu yang salah dengan Mia. Dia terus duduk memojok dan terlihat sangat ke takutan.


Melihat Ira berdiri, mama Eni mengamati arah ke mana Ira berjalan. Dan mama Eni pun tersadar dengan kondisi Mia begitu pula Mei.


"Mia, apa kamu baik baik saja??" kata Mei mencoba untuk berbicara.


Mama Eni yang melihat itupun berpikir jika Mia keakutan melihat kondisi papa Hazar. Mia memiliki trauma tentang kedua orang tuanya..


Flashback on.

__ADS_1


Mia dan kedua orang tuanya juga mama Eni dan sang suami Danu terlibat kecelakaan. Waktu itu Mia berumur 8 tahun.. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat kedua orang tuanya meregang nyawa.


Waktu itu mama Eni tidak mengalami luka yang cukup serius hingga dia dapat membawa Mia pergi dari sana.


Namun, Danu sang suami mama Eni kondisinya terjepit antara kemudi dengan bangkunya.


"Eni... Eni... Tolong aku!!" teriak Danu.


Namun mama Eni tidak menggubrisnya. Dia terus melangkah menjauh. Hatinya begitu sakit karena selalu di siksa oleh Danu suaminya, bahkan sang suami suka bermabuk mabukan juga bermain perempuan di depan matanya.


Tidak segan segan Danu bermain tangan jika dia tengah emosi dengan apapun dan mama Enilah pelampiasannya. Dan kali ini dia enggan untuk menolong pria tersebut, hatinya sudah cukup sakit.


Mobilpun muncul bara api pada bagian belakang, Danu pun semakin histeris, dia terus memanggil mama Eni.


"Eni aku mohon, tolong aku.. Aku minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi semuanya.. Eniiiii, tolonngg aku!!! Maafkan aku.." teriakan Danu mengiba.


Dduuaaarrrr


Mobil meledak seketika. Mama Eni berjalan meninggalkan tempat itu tanpa ada rasa sesal sedikit pun bahkan menoleh pun tidak.


Namun kejadian tersebut menambah trauma spikis Mia yang masih kecil. Bahkan bertahun tahun Mia tidak mau berbicara setelah kejadian tersebut.


Flashback off


Miapun di bawa kembali ke kamarnya agar dapat kembali beristirahat. Terlihat jelas tatapan mata Mia yang tersirat ketakutan, bahkan badannya menggigil.


Mama Eni dan Mei memapah Mia untuk membawanya ke dalam kamar. Dan mereka menidurkan Mia.


☘☘☘☘☘


Miran baru saja keluar dari ruang pendonor darah dan sia berjalan keluar di mana Riyan tengah menunggunya di dekat pintu masuk.


"Aku baru saja mendonorkan darah ku untuk pak Hazar, aku tidak mau dia meninggal sekarang" kata Miran ke Riyan.


Saat tengah berbincang dengan Riyan, Miran melihat Arga berbicara berdua dengan Rayyan yang masih terus menangis.


Miran emosi, dan bergegas dia mendekati Arga. Melihat kedatangan Miran, Rayyan menatap sinis.


"Bangun.." kata Miran menarik kerah baju Arga.


"Bisakah kamu berbuat sopan kepadaku??" kata Arga tidak terima diperlakukan seperti itu.


"Jangan dekati istriku" kata Miran.


"Istri?? Bahkan kamu tega membuatnya menangis bahkan hampir kehilangan papanya" kata Arga emosi.


Merek berduapun cecok dan hampir berkelahi dengan Rayyan dan Riyan yang berusaha menahan keduanya.


"Cukup!! Cukup!!" teriak Rayyan.

__ADS_1


"Miran, pergilah dari sini.. Ini semua karena kamu.. Kamu membuat papaku sekarat.. Tinggalkan aku, pergi dari sini" kata Rayyan dengan wajah yang sembab..


Miran tak banyak berbicara. Dia hanya menatap langit langit, ada rasa kekecewaan dalam dirinya. Miran menatap Rayyan dengan tatapan yang memohon agar Rayyan percaya kepadanya. Namun sayang Rayyan masih sulit mempercayainya.


Miranpun memilih pergi dari tempat tersebut. Namun dia benar benar tidak pergi meninggalakan Rayyan seorang diri di sana.


Di dalam ruang operasi, dokter cukup lama berusaha menolong papa Hazar. Bahkan dokter sempat menggunakan alat pacu untuk jantung papa Hazar yang sempat berhenti.


Di luar ruang operasi pun terlihat, beberapa suster berlarian memasuki ruang operasi.


"Ada apa ini??" tanya mama Anna kepada salah satu suster tersebut.


"Maaf nyonya, saya harus segera masuk untuk menolong pasien" jawab suster tergesa gesa.


Mama Anna seketika lemas, badannya seperti tidak bertulang. Wajahnya begitu pucat.


Dengan lemas, mama Anna berjalan ke luat rumah sakit. Wajahnya sangat pucat, bahkan para pengunjung merasa iba melihat kondisi mama Anna.


Rayyan yang melihat sang mama berjalan keluar rumah sakit dengan gontai langsung berlari mendekati mamanya.


"Mama..." panggil Rayyan berlari mendekati mama Anna.


"Ma ada apa ma??" tanya Rayyan panik.


Miran yang berdiri tidak jauh dari sanapun mendekati mama Anna.


"Bu.. Apa yang terjadi??" tanya Miran.


Plaakkkk...


Mama Anna menampar Miran sangat kuat.


"Pria macam apa kamu!!! Kamu ingin membuat anak anakku menjadi yatim!!! Aku akan membalas kejahantmu!!" kata mama Anna penuh emosi dengan mencengkeram kerah baju Miran kuat kuat.


"Saya bukan pelakunya. Saya tidak menolong pak Hazar" kata Miran dengan jawaban yang sama.


"Kamu bohong!!!" kata mama Anna.


Mama Anna lalu berjalan ke arah Rayyan dan mengambil tangan kiri Rayyan. Dengan kasar, mama Anna mencopot cincin yang Miran berikan untuk Rayyan ketika menikah lalu melemparnya. Miran hanya diam, dia tidak tau lagi harus bagaimana agar orang orang percaya bukan dirinya lah pelakunya.


"Jauhi putriku dna ceraikan dia!!" kata mama Anna.


Mama Anna pun mengajak Rayyan untuk kembali masuk. Seelah kepergian mama Anna dan Rayyan. Miran memungut kembali cincin itu dan menatapnya lalu dia memilih pergi.


"Miran tunggu!! Mau kemana kamu?" tanya Riyan namun tidak ditanggapi oleh Miran.


Di sana ada Rosa, dia akan mengambil kesempatan ini untuk mencari muka kepada Riyan.


"Aku percaya, Miran bukanlah pelakunya.. Aku heran, kenapa Rayyan menuduh Miran. Mengapa Rayyan tidak percaya dengan kata kata Miran. Padahal mereka saling mencintai. Jika pamanku sudah sadar, maka paman akan mengatakan yang sebenarnya jika Miran tidak bersalah." kata Rosa berdiri di depan Riyan.

__ADS_1


Riyan hanya menatap lekat Rosa.. Riyan hanya perlu waspada dengan gadis di depannyabyang satu ini. Karena Riyan sudah sedikit tau bagaimana Rosa.


__ADS_2