Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
kabar bahagia


__ADS_3

Pagi hari, mama Anna dan papa Hazar sedang berbincang di dalam kamarnya.


"Pa.. Bagaimana dengan Rayyan pa.. Mama Khawatir.. Mama takut Rayyan tidak bahagia di sana.." kata mama Anna berdiri di depan jendela sambil memegang sebuah selimut.


"Ma... Tenang ya.. Rayyan anak yang kuat.. Mudah mudahan Rayyan bisa melewati ini semua" jawab papa Hazar mencoba menenangkan.


"Papa.. Mama.." suara Gendis yang baru terbangun dari tidurnya.


"Putri papa sudah bangun??" papa Hazar mendekati Gendis.


"Papa kemarin kakak mengajakku bermain gambar sepeda.. Ayo pa kita bermain di sana" ajak Gendis.


Gendis mengajak kedua orang tuanya ke tempat kemarin dia bermain bersama Rayyan.


Papa Hazar tersadar, kemaren Rayyan secara tidak langsung telah berpamitan kepada adiknya sebelum mereka berpisah.


"Pa... Berarti kemarin waktu Rayyan menyusul mama di dapur dan memeluk mama mengucapkan terimakasih itu dia berpamitan kepada mama" kata mama Anna sambil menerawang dimana Rayyan memeluknya.


☘☘☘☘☘


Di pasar, saat Ike dan Rudi sedang berbelanja mereka melewati sebuah toko roti.


"Rud, tunggu di sini dulu ya.. Aku mau beli roti dulu" kata Ike menyerahkan beberapa belanjaan ke Rudi.


Ike pun masuk ke dalam toko tersebut.


"Kalian tau tidak, semalam rumah baru pak Miran bersama istri barunya mengalami penyerangan. Mereka di tembako secara bertubi tubi.. Tapi tidak ada yang tau bagaimana nasibnya" kata salah satu pengunjung.


Ike diam mematung menjatuhkan beberapa belanjaan yang masih dia pegang pegang.


Rudi terkejut melihat Ike lemas hampir terjatuh.


"Ada apa Ke??" tanya Rudi melihat wajah Ike yang tampak panik.


"Ee..eeee.. Rayyan.. Rayyan" kata Ike bergetar sambil berusaha menelpon Rayyan..


☘☘☘☘☘


Drrrtttt...drrrtttt....


Ponsel Rayyan bergetar, dia langsung menerima panggilan tersebut. Dan saat itu bersamaan dengan Miran yang masuk ke dalam kamarnya.


"Hallo Ike.." jawab Rayyan.


"Hahhh ya ampunnn Rayyan.. Aku fikir kamu telah terjadi sesuatu.. Aku bersukur kamu selamat Rayyan" ucap Ike masih menangis.


Tidak lama mereka mengobrol. Setelah merasa cukup Rayyan mematikan panggilannya.


"Miran.. Aku mohon antarbaku bertemu dengan ibuku.. Aku tidak mau dia khawatir.. Aku ingin dia melihatku baik baik saja." pinta Rayyan.


Tiba tiba terdengar keributan di luar. Miran langsung pergi keluar sebelum menjawab permintaan Rayyan.


"Ada apa ini??" teriak Miran.


"Nei dan Eni tanpa pengawasan...!!! Nenek khawatir mereka terjadi sesuatu" teriak nenek..


Salah satu anak buah nenek melaporkan bahwa Mei dan sang mama kini berada di pemakaman..


Miran tanpa di perintah langsung pergi.


"Miraaannnn" panggil Rayyan.


Miran hanya melambaikan tangannya tanpa memperdulikan Rayyan. Miran tetap pergi menuju kepemakaman menyusul Mei dan mamanya.


☘☘☘☘☘


Keluarga Sadli tengah menikmati sarapan pagi mereka. Gendis tengah bermain rumah rumahan.

__ADS_1


"Kakek... Aku sedang membuat rumahm karena wanita bermata hitam itu telah menyita rumah kita. Kak Miran pun pernah berjanji akan mengembalikan rumah kita, tapi sampai sekarang dia belum menepati janjinya. Aku kangen dengan kak Miran dan kak Rayyan. Kakek maukah kakek mengundang mereka untuk datang kemari??" pinta polos Gendis


Mama Anna paham jika kakek Sadli tidak menyukai perkataan Gendis.


"Gendis.. Ayo nak kita sarapan dulu. Bermainnya nanti lanjutkan nanti saja." kata mama Anna mengalihkan pembicaraan Gendis.


Di kamar Rosa.. Mama Sinta dan Rosa tengah berdebat.


"Apa yang kamu lakukan Rosa??" teriak mama Sinta.


"Kembalikan ponsel ku ma.. Aku akan menelpon kakak.." kata Rosa.


"Tidak.. Kamu pasti akan mengatakan bahwa Rayyan telah menikah dengan Rayyan kan?? Kamu jangan menambah masalah Rosa" kata mama Sinta geram.


"Ma... Kaka sangat mencintai Rayyan.. Dia harus tau" kata Rosa lagi.


"Mama bilang tidak ya tidak.. Mama tidak mau kakamu dalam masalah lagi.. Biarkan dia tenang di kakekmu sana." jawab mama Sinta.


Mama Sinta pun memilih keluar dari kamar Rosa..


Bruuukkkk.


"Mama... Ma.. Mama jangan becanda ma.. Maaaa" Rosa panik.


"Tolooonngg!!! Ma.. Bangun ma.. Tolonnggg.. Papa!!! Pa!!" teriak Rosa memanggil papanya.


Papa Bram dan yang lain yang sedang menikmati sarapannya pun terkejut mendengar teriakan Rosa.


Papa Bram reflek langsung menghampiri Rosa. Dan terkejut melihat sang istri tergeletak.


"Rosa!! Apa yang kamu lakukan!!" teriak papa Bram.


"Bukan Rosa pa.. Mama tiba tiba jatuh pinsan.." jelas Rosa.


"Pa... Pusing..." mama Sinta tiba tiba sadar.


Semua orang tampak khawatir melihat papa Bram menggendong mama Sinta dan diikuti Rosa di belakangnya.


"Aku antar, kamu jagain istrimu" kata papa Hazar.


"Tidak perlu kak.. Aku bisa sendiri" jawab papa Bram.


Papa Bram pun menuju ke rumah sakit bersama Rosa.


☘☘☘☘☘


Rayyan menunggu Miran di kamarnya.


Tok...tok...tokk


"Kak... Ini aku Mia.. Boleh kah aku masuk" kata Mia.


"Masuk Mia, tidak di kunci." jawab Rayyan.


"Kak.. Aku bawakan baju untukmu.. Pakailah.. Kak Miran pasti belum sempat membelikan kaka baju ganti kan.. Pakai ini aja dulu, aku rasa ukurannya pas buat kakak" kata Mia.


"Terimakasih ya Mia.. Kamu satu satu yang baik dengan ku selain bu Ira" kata Rayyan.


"Karena aku tau kaka orang baik.. Jika perlu apa apa jangan sungkan panggil aku ya" jawab Mia menggenggam tangan Rayyan.


"Sekali lagi terimakasih" kata Rayyan memeluk Mia.


☘☘☘☘☘


Di pemakaman, Mei tengah berjongkok di depan sebuah makam kecil yang dia ketauhi adalah saudara kandungnya.


"Semua orang menganggapmu sudah meninggal, tapi nenek bilang kamu masih hidup. Jika memang kamu masih hidup, pasti sekarang kamu sudah dewasa. Aku berjanji akan berjuang untuk mencarimu." kata Mei.

__ADS_1


Lalu Mei berdiri dan meninggalkan makam tersebut. Lalu Mei melewati makam ayahnya.


"Kamu bukanlah papa yang baik bagi kami. Aku sangat kecewa kepadamu" lalu Mei pergi meninggalkan pemakaman tersebut.


Saat berada di pintu gerbang pemakaman Miran mendekati mama Eni bersamaan dengan datangnya Mei.


"Kenpa kalian pergi tanpa pengawasan!!! Situasi saat ini masih sangat berbahaya bagi kita. Ayo aku antar kembali pulang." protes Miran.


Mama Eni dan Mei menuruti kata kata Miran dalam diam.


☘☘☘☘☘


Papa Bram, mama Sinta dan Rosa telah sampai di rumah sakit. Tidak beberapa lama perawat memanggil mama Sinta.


"Rosa kamu tunggu di sini dulu" kata papa Bram.


Lalu papa Bram memapah mama Sinta menuju ke ruang dokter untuk menjalani pemeriksaan.


Melihat kedua orang tuanya memasuki ruang pemeriksaan. Rosa berjalan keluar rumah sakit dan merogoh tas sang mama untuk mengambil ponselnya.


"Hallo kakak.. Rayyan kak.. Dia telah menikah dengan Miran kak" kata Rosa.


Mendengar itu Arga emosi lalu menumpahkan segala makanan yang berada di meja makan. Ihsan yang menemaninya terkejut.


"Ada apa Ga??" tanya Ihsan.


"Rayyan telah menikah dengan Miran. Aku harus pergi sekarang" kata Arga.


"Jangan Arga.. Tunggu" Ihsan mencoba mencegah.


Arga tidak bisa di cegah. Arga mendorong Ihsan, namun Ihsan masih berusaha untuk mencegahnya meskipun pada akhirnya Ihsan membantu Arga untuk pergi dengan menyusun sebuah rencana agar Arga dapat keluar dari rumah tersebut.


Ihsan pergi keluar melewati para penjaga.


"Saya ingin mencari beberapa keperluan sebentar" pamit Ihsan.


Dan para penjagapun melepaskannya. Sedangkan Arga memanjat tembok untuk keluar.


Di belakang rumah mereka bertemu, dengan cepat Arga memasuki mobil yang di tumpangi Ihsan. Lalu mereka menuju ke rumah Miran.


☘☘☘☘☘


Di rumah sakit, hasil pemeriksaan sudah keluar. Dokter mengatakan bahwa mama Sinta tengah hamil. Berita itu membuat papa Bram tersenyum bahagia. Begitupun mama Sinta yang terkejut.


Saat keluar dari rumah sakit mama Sinta sedikit tidak menerima kehamilannya itu.


"Pa.. Aku malu dengan usia sekarang ini mama hamil.." kata mama Sinta.


"Ma.. Kehamilan itu anugerah.. Kita harus menerimanya. Tidak usah malu ma" kata papa Bram.


☘☘☘☘☘


Di rumah keluarga Sadli, papa Hazar tengah berbicara dengan kakek.


"Pa... Kita tidak bisa diam dengan tuduhan telah menyerang Miran.. Kita harus menyelidiki siapa dalangnya, agar wanita itu tidak sembarangan menuduh kita." kata papa Hazar.


Tidak lama kemudian papa Bram tiba. Papa Bram membantu mama Sinta keluar dari mobilnya.


"Pa.. Aku punya kabar baik.. sinta tengah hamil" kata papa Bram bangga.


Semua orang yang mendengar itupun terkejut. Tidak dengan Rosa.


"Memalukan tidak lihat umur. Bahkan usiaku sudah dewasa dan harus memiliki seorang adik yang bahkan lebih pantas menjadi anakku" kata Rosa yang merasa malu.


Papa Bram hanya melirik Rosa.


"Hahahaha.. Ini kabar baik bagi kita.. Di saat Aisah ingin mengahabisi keturunanku ternyata Tuhan lebih baik menambahkan keturunan untuk kita hahaha" kakek sangat bahaya mendengar kabar tersebut.

__ADS_1


Setelah memberikan kabar tersebut, papa Bram membawa mama Sinta masuk ke dalam kamarnya dan Rosa kembali ke kamar dia.


__ADS_2