
Miran mengajak Rayyan untuk duduk di bangku taman rumah sakit. Namun, saat mereka hendak melangkahkan kaki. Tiba tiba ada seseorang yang memanggil mereka.
"Tuan, Nyonya tunggu.." panggil seorang perempuan.
Miran dan Rayyan menoleh ke arah perempuan tersebut.
"Maaf tuan nyonya, saya petugas yang berada di ambulance waktu menjemput pak Hazar" kata perempuan itu saat melihat tatapan heran dari kedua orang di depannya itu.
"Iya saya ingat, ada apa ya" jawab Rayyan.
"Waktu saya sedang memberikan pertolongan pertama pada pak Hazar, sebenarnya beliau sempat sadar. Dan beliau selalu menanyakan perihal surat beberapa kali. Kemungkinan surat tersebut sangat penting." kata perempuan itu.
"Terimakasih informasinya mbak" jawab Rayyan.
"Saya permisi tuan nyonya" kata perempuan itu pamit.
Miran dan Rayyan mengangguk
"Tapi di mana baju papa?" tanya Rayyan.
"Kita tanya pada bagian resepsionis." uaul Miran.
Merekapun berjalan menuju ke bagian resepsionis untuk menanyakan perihal baju milik papa Hazar.
"Permisi kak, maaf mengganggu. Semalam saya kehilangan baju milik papa saya atas nama Hazar." tanya Rayyan.
"Semalam ada yang menemukan bingkisan baju tersebut tergeletak di bangku taman. Dan sekarang bingkisan tersebut sudah kami berikan ke nyonya Anna." jawab petugas tersebut.
"Baiklah, terimakasih kak" jawab Rayyan.
"Sama sama" jawab petugas dengan tersenyum.
Rayyan lalu mengambil ponselnya dan menulis sesuatu. Miran menatap heran apa yang akan Rayyan lakukan.
Rayyan dan Miran kembali ke bangku taman mereka duduk di sana menunggu seseorang.
Tidak lama kemudian, muncul Arga dan menemui Miran dan Rayyan. Rayyan berniat meminta bantuan Arga.
"Miran, ijinkan aku menemui kak Arga sebentar.. Nanti akan aku ceritakan" ijin Rayyan.
"Baiklah.. Jangan jauh jauh.." jawab Miran.
__ADS_1
Rayyan berdiri, dan mendekati Arga.. Mereka berbicara tidak jauh dari jangkauan pandangan Miran.
"Ada apa Rayyan.." tanya Arga.
"Kak.. Sewaktu di ambulance, papaku menyebutkan sebuah surat.. Sepertinya papaku ingin memberikan surat tersebut.. Itu sebabnya papaku datang ke rumah Miran tengah malam. Kak, bisakah kamu menolongku untuk mencari surat tersebut?? Surat tersebut berada di saku baju papaku, tapi aku tidak bisa mengambilnya. Baju itu sudah berada di mama, aku belum berani menemuinya lagi. Bantu aku kak" kata Rayyan.
"Aku akan coba mencarikannya untukmu" jawab Arga.
"Terimakasih kak.." jawab Rayyan lega
"Tunggu sebentar ya, aku akan coba mencarinya" kata Arga.
"Baiklah kak" jawab Rayyan.
Arga meninggalkan Rayyan di saja. Arga segera masuk ke rumah sakit di mana pamannya tengah di rawat.
Sesampainya di sana, Arga tidak menemukan siapapun, kecuali barang barang milik mama Anna, salah satunya sebuah bingkisan baju milik papa Hazar.
Arga lalu mencoba mencari surat tersebut. Namun ternyata nihil. Arga tidak menemukan apapun di sana.
Arga segera meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Rayyan. Setelah panggilannya diterima, Arga segera memberitahukan jika dirinya tidak menemukan apapun.
"Baiklah kak, terimakasih" jawab Rayyan.
Rayyan hanya menggelengkan kepalanya. Rayyan sudah menceritakan kepada Miran, jika dirinya meminta bantuan Arga untuk mencarikan surat tersebut.
Miran dan Rayyan terus berfikir apa yang harus mereka lakukan sekarang. Rayyan sangat yakin, papanya memiliki surat yang sangat penting yang harus dia ketahui. Surat itu pasti salah satu bukti yang papanya miliki.
Tiba tiba Rayyan teringat dengan orang kepercayaan papanya Ali.
"Miran. Mungkin pak Ali mengetahui tentang surat tersebut" kata Rayyan tiba tiba..
"Siapa Ali??" tanya Miran.
"Orang kepercayaan papaku" jawab Rayyan.
"Ayo, kita tanyakan kepadanya.." jawab Miran.
Merekapun pergi untuk menemui pak Ali untuk menanyakan perihal surat tersebut.
Dari kejauhan, Samsul ditugaskan oleh nenek untuk mengawasi situasi di rumah sakit. Saat melihat Miran dan Rayyan hendak pergi meninggalkan rumah sakit, Samsul segera menghubungi nenek dan melaporkannya. Nenekpun meminta Samsul untuk tetap mengikuti kemana mereka berdua akan pergi.
__ADS_1
Tidak beberapa kemudian, mereka tiba di sebuah perkantoran. Saat Rayyan dan Miran hendak memasuki perkantoran tersebit, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Ali.
"Pak Ali.." panggil Rayyan.
"Nona Rayyan.." Ali menoleh ke arah Rayyan.
"Bisakah kita berbicara sebentar..??? Saya ingin menanyakan sesuatu kepada anda" tanya Rayyan.
Ali hanya diam dan dia menatap Miran. Rayyan tahu arti dari tatapan Ali tersebut.
"Miran, bisakah kamu tinggalkan aku sebentar. Aku ingin ngobrol dengan pak Ali berdua saja. Sebentar ya.." kata Rayyan.
"Baiklah.." jawab Miran lalu pergi meninggalkan Rayyan dan menunggunya di dalam mobil.
"Pak Ali.. Apakah anda tau persoalan tujuan papaku mendatangi rumah Miran tengah malam?? Salah satu petugas ambulance yanh menolong papa mengatakan kepadaku jika papaku sempat menanyakan perihal surat.. Apa anda tau surat apa itu??" tanya Rayyan.
"Maaf nona, saya benar benar tidak tau perihal surat tersebut. Pak Hazar tidak pernah menceritakan kepada ku perihal surat yang nona maksud. Yang saya tahu, pak Hazar sangat menghawatirkan keselamatan anda. Beliau ingin membawa anda kembali bersama beliau" kata Ali.
Rayyan hanya terdiam, dia memang tahu jika papanya sangat menginginkan dirinya untuk kembali pulang. Namun tekatnya kuat untuk membantu Miran mencari bukti bahwa papanya tidak bersalah.
"Baiklah pak.. Saya paham. Terimakasih atas informasinya.. Maaf saya menganggu waktu anda" jawab Rayyan lemas.
"Maaf Rayyan, saya tidak bisa membantumu banyak.. Saya permisi" pamit Ali.
Rayyan hanya mengangguk dengan senyum yang dia paksakan.. Dia sungguh penasaran surat apa yang papanya bawa. Dia sangat yakin, papanya ingin menemuinya dan memeberikan surat itu untuk dirinya atau Miran sebagai bukti.
Rayyanpun kembali menuju ka raha Miran yang masih menunggunya di dalam mobil.
#####
Di rumah sakit, tepatnya di ruang ICU. Perawat tengah mengecek kondisi terbaru papa Hasar.
Tba tiba, tubuh papa Hazar mengalami kejang kejang hebat. Suster segera menekan tombol darurat yang berada di atas brangkar papa Hazar.
Di luar, dokter berlarian memasuki ruang ICU. Hal itu membuat panik mama Anna, kakek dan Arga yang tengah menunggu di depan ruang ICU.
Melihat dokter berlari tergesa gesa masuk ke dalam ruang ICU, mama Anna seketika histeris, begitu juga kakek yang langsung lemas. Mereka berfikiran jika papa Hazar tidak tertolong.. Arga mencoba menenangkan mereka berdua.
Di dalam, dokter berusaha menolong papa Hazar yang mengalami kejang kejang setelah menjalani transfusi darah. Jatung papa Hazar sesaat sempat berhenti. Dokter berusaha melakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation) kepada papa Hazar. Dan hal itu membuahkan hasil.. Denyut nadi papa jazár kembali bergerak terlihat pada layar monitor EKG.
Setelah semua kembali normal, dokterpun keluar daru ruang ICU dan meminta pihak keluarga untuk segera menemuinya di ruang kerja sang dokter..
__ADS_1
Mama Anna, kakek dan juga Arga segera mengikuti sang dokter. Merekapun dipersilahkan untuk duduk dan mereka bersiap siap mendengarkan penjelasan dari sang dokter apa yang telah terjadi kepada papa Hazar.