Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
Gendis membantu Miran


__ADS_3

"Miran, kamu mau kemana?" tanya Riyan yang terus mengikuti Miran.


"Aku ingin menemui Rayyan di rumahnya" jawab Miran yang terus berjalan tanpa memperdulikan Riyan.


"Miran, untuk apa kamu menjemput Rayyan setelah apa yang dia lakukan?" tanya Rayyan lagi.


"Aku percaya Rayyan tidak melakukan itu. Mei berbohongz dia sendiri yang menyelakai dirinya sendiri. Aku yakin Rayyan tidak berbohong. Aku bisa membaca itu" jawab Miran.


"Tapi dengan kamu ke sana, kamu akan membuat keributan di sana" kata Riyan.


"Aku hanya ingin menemui Rayyan, ingin mengatakan bahwa aku percaya kepada dia." jawab Miran lagi.


☘☘☘☘☘


Rayyan telah berhasil melepas cincin itu, dia segera pergi keluar rumah ingin membuang cincin itu.


"Kamu sangat menyiksa ku. Setiap melihatmu, aku akan selalu ingat dengan Miran dan itu membuat hatiku semakin tidak tenang. Lebih baik kamu pergi jauh jauh dari ku dari hidupku" gerutu Rayyan sambil melempar cincin itu di depan rumah.


Saat itu juga, saat Miran sampai di ujung jalan dekat rumah Rayyan, dia melihat Rayyan melempar sesuatu di sana. Setelah Rayyan kembali masuk ke dalam rumah, Miran mencari apa yang di lempar Rayyan.


Miran menemukan cincin yang dia berikan ke Rayyan. Di ambilnya kembali.


"Sebegitu tak menginginkannya dia, hingga dia membuang kembali cincin ini" ucap Miran lirih.


Lalu Miran kembali ke ujung jalan dan di ikuti oleh Riyan yang sangat setia terhadap Miran.


☘☘☘☘☘


Rayyan sedang merenung duduk di bangku depan kamarnya. Melihat sang putri terus murung. Mama Anna mencoba menghibur Rayyan.


"Sayang, mau temenin mama pergi belanja ga? Ajak sekalian adikmu.." kata mama Anna sambil tersenyum.


"Boleh mah bentar ya, Rayyan sip siap dulu" jawab Rayyan.


Beberapa menit kemudian Rayyan sudah siap, mama Anna dan Gendis sudah menunggu.


"Ayo mah" ajak Rayyan.


"Tante mau kemana?" tanya Arga tiba tiba.


"Ehh mau jalan jalan sebentar" jawab mama Anna.


"Aku antar yuk tan" tawar Arga, yang sebenarnya dia takut Rayyan bertemu dengan Miran.

__ADS_1


"Tidak, aku ingin pergi bersama mama dan adik ku. Aku ingin menikmati ini bertiga" kata Rayyan ketus.


Akhirnya Rayyan berjalan meninggalkan Arga yang terdiam. Di teras mereka bertemu dengan mama Sinta.


"Mau kemana kalian? Rapih sekali.." tanya mama Sinta.


"Kita mau jalan jalan tante" jawab Gendis.


"Tante boleh ikut ga?" tanya mama Sinta lagi.


"Boleh tante ayok" jawab Gendis lagi riang.


"Ma.. Jangan pergi.. Sebentar lagi akan ada sebuah keluarga yang akan melamar Rosa. Kita harus bersiap siap" kata papa Bram.


"Ohh ya.. Baiklah" jawab mama Sinta senang.


"Tante kami pergi dulu yaa" pamit Gendis.


Lalu Gendis berlari keluar sendirian. Melihat Gendis muncul Miran langsung bersembunyi meski masih terlihat oleh Gendis.


Gendis yang menyadari ada Miran di sana ingin memanggilnya, namun Miran memberi kode untuk tetap diam dn Gendis menurutinya.


Dengan ceria Gendis menggandeng tanga kakak dan mamanya berjalan beeiringan, sesekali dia menoleh ke belakang melihat Miran mengikutinya.


"Memangnya kenapa ma?" Rayyan berbalik bertanya.


"Hanya ingin tau aj, mudah mudahan pria ini tepat untuk Rosa" kata mama Anna yang tau bagaimana kelakuan Rosa.


"Mudah mudahan aja ma, Rosa mendapatkan seseorang yang baik" jawab Rayyan.


"Yang pastinya pria itu tidak setampan kak Miran" kata Gendis polos.


Rayyan dan mama Anna hanya menatap Gendis.


☘☘☘☘☘


Di kediaman keluarga Sadli, mama Sinta menghampiri Rosa yang sedang memainkan ponselnya di kamar Rosa.


"Rosa, kami akan menikahkanmu dengan seorang pria. Maka kamu bersiap siaplah" kata mama Sinta.


"Apa? Menikah? Ma.. Rosa ga mau menikah dengan orang yang Rosa ga kenal.. Apa lagi ga aku sukai.. Ga aku ga mau" Rosa menolaknya.


"Kami sudah mendiskusikannya Rosa, dan kakek pun setuju. Kami sudah mendapatkan laki laki itu. Maka mau tidak mau kamu harus bersiap siap" ucap mama Sinta.

__ADS_1


Rosa langsung saja meninggalkan mamanya di dalam kamarnya. Dia mencari kakeknya.


"Kakek.. Hiksss Rosa ga mau menikah dengan orang asing kek.. Rosa janji tidak akan mengulanginya lagi. Rosa mengaku salah.. Maafkan Rosa kek.. Tapi Rosa mohon batalkan pernikahan itu kek" kata Rosa bersimpuh di depan kaki kakeknya dengan menangis.


"Tidak!! Keputusanku sudah bulat. Kamu akan segera menikah!" ucap kakek tegas.


"Kakek hiksss aku mohon kek hiks" Rosa terus menangis.


Kakek hanya diam tanpa memperdulikan tangisan Rosa. Merasa tidak di hiraukan Rosa memilih meninggalakan ruang keluarga sambil masih berpura pura menangis.


☘☘☘☘☘


Setelah puas berbelanja, mama Anna, Gendis dan Rayyan memilih untuk pulang.


"Mama, aku ingin balon" rengek Gendis.


"Sayang, kita pulang dulu aja ya.. Kakak sudah sangat lelah" kata Rayyan memasang wajah lelahnya.


"Ga mau, aku mau balon" ucap Gendis merengek sambil berjalan ke arah bangku taman yang tak jauh dari sana.


"Sayang, lihat kakakmu dusah kelelahan. Kita beli balonnya kalo ada yang lewat di depan rumah aja ya" rayu mamanya.


"Kakak pulang aja dulu, biar mama yang menemani aku beli balon" ide Gendis yang sebenarnya ini hanya akal akalan dia.


"Hmmm baiklah, kakak pulang dulu. Biar mama yang menemani" ucap mama Anna akhirnya.


Merasa rencana berhasil, Gendis memberi kode ke Miran yang sedari tadi membuntuti nya. Melihat kode itu Riyan dan Miran tersenyum tak habis pikir apa rencana anak itu hingga bisa membuat Rayyan pulang sendirian. Miran langsung mengejar Rayyan.


Melihat Miran mengejarnya, Rayyan mencoba kabur dari Miran. Tapi sayang, karena sudah merasa lelah dan sakit di kakinya Rayyan tidak bisa berlari. Miran lalu menarik lengan Rayyan dan menyudutkannya di sebuah tembok.


"Sampai kapan kamu akan terus mengejarku Miran?" tanya Rayyan ketus.


"Sampai kapanpun, hingga kamu mau menerimaku kembali" jawab Miran yakin.


Lalu Miran berusaha memasangkan lagi cincin itu namun ditepis oleh Rayyan.


"Aku tidak mau lagi memakai cincin itu Miran.. Pakaikan saja cincin itu ke jari Me aku bukan milikmu lagi" kata Rayyan.


"Kau akan tetap menjadi milikku Rayyan. Maafkan aku soal kemarin, maafkan aku dengan semua kesalahanku. Aku percaya kamu tidak menusuk Mei. Dia membohongiku kamu yang menusuknya" kata Miran.


"Aku tidak peduli lagi dengan semua yang kamu katakan Miran. Jangan menggangguku lagi" kata Rayyan lalu pergi meninggalkan Miran.


Miran lega meski Rayyan masih marah kepadanya, setidaknya Miran sudah meminta maaf meski dia tidak bermaksud untuk menuduh Rayyan.

__ADS_1


__ADS_2