
Papa Hazar akan di bawa ke laboratorium radiologi untuk memastikan tidak ada cidera pada bagian dalam. Mengingat papa Hazar terjatuh dari tangga dan mengalami benturan yang cukup keras.
Setelah menjalani pemeriksaan, papa Hazar sementara di tinggal dalam ruangan tersebut hanya seorang diri.
Tak berselang lama, Miran tiba tiba masuk ke ruangan tersebut. Dan papa Hazar terkejut melihat kedatangan Miran.
"Pak Hazar, kenapa anda menuduhku, kenapa anda berbohong tentang insiden itu. Anda pasti tau, bukan aku pelakunya. Rayyan pasti akan sangat kecewa jika tau jika papanya telah berbohong" kata Miran dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Aku terpaksa melakukan itu, untuk menyelamatkan Rayyan. Aku tidak ingin dia menjadi korban dalam balas dendam Aisah nenekmu" jawab papa Hazar jujur.
"Ohhh jadi memang benar, anda sengaja memfitnah saya agar Rayyan pergi meninggalkan aku" kata Mira marah.
"Sekarang kamu merasakan apa yang aku rasakan. Selama ini kamu menuduhku sebagai pembunuh orang tuamu. Padahal aku tidak melakukannya.. Ya memang benar aku tau jika kamu tidak mendorongku.. Bagaimana rasanya?? Tersiksakan dengan tuduhan itu. Padahal kamu tidak melakukannya. Begitulah rasanya difitnah. Aku hanya ingin Rayyan selamat, dia tidak aman tinggal bersama mu. Nenekmu pasti akan membunuhmu." jawab papa Hazar.
"Hahaha, anda pikir Rayyan bersama anda dia akan aman?? Dengar pak Hazar, ingat malam dimana Rayyan akan dilamar oleh Arga. Jika Rayyan tidak aku culik, aku sudah pastikan malam itu juga kakek Sadli sudah membunuh Rayyan setelah acara lamaran itu. Kakek Sadli juga sempat akan membunuh Rayyan di rumah perkebunan Anggur. Dia juga tidak aman jika berada di kediaman keluarga anda pak Hazar. Jika Rayyan sampai meninggal, itu bukan ulah nenekku, tapi ulah kakek Sadli" kata Miran membuka sebuah rahasia yang selama ini dia tutupi.
Rayyan tengah berjalan menuju ke ruang radiologi. Sayup sayup, Rayyan mendengar suara Miran tengah berdebat dengan sang papa. Rayyanpun langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Pergi Miran.. Untuk apa lagi kau menemui papa ku!!! Keluar dari sini!!" bentak Rayyan mengusir Miran.
Miran tetap berusaha menjelaskan ke pada Rayyan namun sayangnya Rayyan tidak mau mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Miran.
Rayyan langsung memanggil perawat untuk meminta membawa sang papa kembali ke kamar perawatannya.
Sesampainya di kamar perwatan, papa Hazar meminta mama Anna untuk memanggil kakek.
"Ma.. Bisakah kamu panggilkan papa?? Ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan" kata papa Hazar.
"Baiklah, sebentar aku hubungi papa dahulu" jawab mama Anna.
1jam kemudian, kakek tiba di kamar perawatan papa Hazar dengan raut wajah yang serius.
"Ada apa Hazar?? Apa yang ingin kamu katakan??" tanya kakek berdiri di samping brankar papa Hazar.
"Ma, Rayyan.. Bisakah kalian beri kami waktu 5 menit saja, tinggalkan kami berdua terlebih dahulu. Aku ingin berbicara empat mata dengan kakek" pinta papa Hazar.
Mama Anna dan Rayyanpun pergi keluar meninggalkan mereka berdua.
Setelah pintu tertutup, papa Hazar beralih menatap kakek dengan tatapan marah.
"Pa.. Pada malam pertunangan Rayyan dan Arga, apa benar papa berencana akan membunuh Rayyan? Miran telah mengatakannya kepadaku." tanya papa Hazar dengan penuh penekanan.
Kakek terlihat sangat bingung dengan pertanyaan papa Hazar. Dia terkejut karena Miran telah membongkar rahasia itu.
"Ma..maafkan papa nak" ucap kakek.
Mendengar kata kata itu, papa Hazar sangat kecewa. Bahkan didalam keluarganya sendiri Rayyan tidak aman pikirnya.
"Pa.. Jika hal itu terulang lagi, aku tidak akan pernah menganggap papa lagi. Sekarang ajak Rayyan pulang kerumah kita, lindungi dia selama aku di rumah sakit" kata papa Hazar.
"Ba.. Baik nak.. Papa akan turuti kemauanmu.. Kakek akan mengajak Rayyan kembali pulang dan Rayyan akan berada dalam pengawasanku.." ucap kakek patuh karena tidak ingin kehilangan papa Hazar.
Tak lama kemudian, Rayyan dan mama Anna kembali masuk ke dalam kamar perawatan papa Hazar. Dan saat kedatangan mereka berdua wajah papa Hazar berubah biasa saja.
"Rayyan, ayo ikut kakek pulang. Kamu istirahat dulu dirumah" ajak kakek.
__ADS_1
Mama Anna dan Rayyan merasa bingung dengan sikap kakek yang berubah baik dengan Rayyan.
"Pulanglah nak.. Kamu istirahat dirumah, temani Gendis" sambung papa Hazar.
Rayyan pun mengangguk tanda setuju setelah sang papa mengatakan hal itu meski ada keraguan.
Di halaman rumah sakit, Miran melihat Rayyan dengan kakeknya. Miran terus mengamati mereka berdua. Saat melihat mereka berdua masuk dalam satu mobil, Miran tampak khawatir. Tanpa menunggu lama, Miran langsung mengikuti mobil yang Rayyan tumpangi. Miran takut akan terjadi sesuatu dengan Rayyan.
Tak lama kemudian, kakek dan Rayyan tiba di kediaman keluarga Sadli. Di sana papa Bram dan yang lain tampak sedang berkumpul di ruang tamu.
"Dengarkan aku.. Mulai malam ini, Rayyan akan tinggal bersama kita. Aku harap kita dapat hidup bersama dengan rukun" kata kakek.
"Ini kabar gembira kakek. Selamat datang kembali Rayyan" kata Arga senang.
"Kakek!!! Kenapa kakek membawa pulang dia, bahkan kakek mengijinkannya untuk tinggal bersama kita lagi. Apa kakek lupa, dia pembawa masalah dalam keluarga ini" protes Rosa.
"Diam kamu!!! Ini sudah keputusanku!! Dan tidak ada yang boleh menyakitinya, atau akan berurusan denganku!!!" tegas kakek.
Kakekpun pergi meninggalkan tempat itu diikuti dengan yang lainnya. Rosa tampak marah dengan keputusan kakeknya.
Rayyanpun kembali ke dalam kamarnya, kamar yang susah sangat lama dia tinggalkan.
Saat menutup pintu kamar, tiba tiba seseorang membekap mulut Rayyan.
"Ssttt jangan teriak" bisik Miran.
"Kenapa kau bisa berada disini?" sinis Rayyan.
"Rayyan, kau tidak aman tinggal di sini.. Ayo ikut aku, kita tinggalkan tempat ini" ajak Miran menarik lengan Rayyan.
"Lepas!!! Aku tidak akan kemana mana. Di sini rumahku sekarang. Aku tidak sudi ikut dengan orang pembohong sepertimu" tolak Rayyan dengan mada penuh penekanan namun dengan suata yang lirih.
"Tinggal bersamamu pun aku tidak aman, bahkan nenekmu selalu memiliki rencana untuk mencelakai aku. Sekarang kamu pergi. Atau aku akan berteriak dan memanggil keluargaku" ancam Rayyan.
Saat Miran dan Rayyan tengah berdebat, tiba tiba masuk Arga dna melihat ada Miran.
Seketika mereka bertiga terdiam sesaat dan selanjutnya mereka pun berdebat hebat hingga membangunkan seisi rumah.
Keributan itu terdengar hingga membangunkan Gendis yang tengah tertidur pulas. Gendia merasa ketakutan dengan suara ribut ribut tersebut hingga membuat dia menangis.
Gendis melihat ponsel Ike yang tergeletak di nakas. Gendis berusaha menekan tombol angak 1 sebagai panggilan cepat nomor milik sang mama.
"Mama.. Aku takut" tangis Gendis saat teleponnya di terima.
"Ada apa nak??" jawab mama Anna khawatir.
"Mereka semua memarahi kak Miran ma.. Gendis takut" jawab Gendis.
"Memarahi kak Miran??" kata mama Anna mengikuti kata kata Gendis.
Mendengar itu, papa Hazar langsung melepas selang infusnya. Melihat itu mama Anna panik.
"Sayang.. Nak.. Tunggu mama sebentar ya.. Kamu jangan keluar dari kamat tetap diam di sana" pesan mama Anna.
"Dokter!!!" teriak mama Anna panik.
__ADS_1
"Pa..pa.. Jangan.. Apa yang kamu lakukan??" cegah mama Anna.
"Aku mau pulang sekarang" kata papa Hazar.
"Pa.. Tapi kondisimu belum stabil pa" kata mama Anna.
Tak lama kemudian, dokter dan beberapa perawat pun datang.
#####
Dikediaman keluarga Alan, Riyan tengah menikmati secangkir kopi di dapur. Tiba tiba ponselnya berdering dan tertera nama Rosa di sana.
"Hallo Riyan.. Miran berada di sini.. Cepatlah kemari. Kak Arga dan Miran akan saling bunuh. Kumohon cepatlah datang sebelum hal buruk terjadi" kata Rosa.
Mendengar hal itu Riyan langusng bergegas menuju ke kediaman keluarga Sadli. Dan Riyan tidak lupa mengumpulkan beberapa anak buahnya.
Nenek yang berada di dalam kamarnya mendengar Riyan tengah mengumpulkan anak buahnya pun bergegas keluar dari kamarnya.
"Apa yang terjadi Riyan??" tanya nenek.
Riyanpun menjelaskan situasi sekarang mengenai keberadaa Miran yang terancam di kediaman keluarga Sadli. Mendengar itupun semua yang berada di sanapun langsung panik khawatir dengan keselamatan Miran.
#####
Dikediaman keluarga Sadli, Arga terus menyerang Miran. Papa Bram berusaha memisahkan Arga dan Miran.
"Untuk apa kamu datang kemari hah!!" teriak Arga.
"Aku menjemput istriku apa itu salah??" jawab Miran.
Mereka terus berusaha saling tukar pukulan.
Ceklek... Kek...
"Hentikan semuanya!!!" teriak kakek sambil menodong sebuah pistol ke arah Miran.
Seketika semua menjauh, suasana semakin mencekam.
"Pa.. Jangan lakukan itu pa.. Turunkan senjata itu" cegah papa Bram.
Rayyan langsung berdiri di hadapan Miran, seketika iti semua semakin panik.
"Kakek, Rayyan mohon jangan kek.." cegah Rayyan menangis.
"Rayyan" panggil Miran di belakang Rayyan.
"Biarkan kakek membunuh nya.. Karena doa telah menyelakai putraku!!!" kata kakek marah semakin mendekatkan arah pistolnya ke arah Miran.
"Kakek.. Kakek Rayyan mohon jangan" kata Rayyan memegang pistol itu.
Tiba tiba, Riyan datang dan diikuti beberapa anak buahnya.
"Tuan Sadli, anda tidak pantas membunuh Miran. Penolong putra anda. Bahkan, seharusnya anda berterimakasih kepadanya karena sekarang darah Miran telah mengalir dalam tubuh pak Hazar." kata Riyan lantang.
Seketika semua terdiam mendengar kata kata Royan. Mereka sungguh tidak tau jika Miranlah pendonor itu. Terbalik dengan Miran yang terlihat kecewa dengan Riyan. Miran tidak ingin keluarga besar Sadli tau jika dia pendonor itu. Miranpun memilih pergi dari snaa dan Riyan langusng mengikuti dibelakangnya.
__ADS_1