
Nenek pun kembali menuju ke mobilnya. Di dalam mobil, nenek menghapus air matanya dengan kasar. Nenek semakin dendam dengan Rayyan yang perlahan dapat menguasai Miran.
Melihat kepergian nenek, Miran pun menggandeng Rayyan dan mengajaknya pulang.
"Miran..." panggil Arga.
Miran dan Rayyan berhenti. Tanpa menoleh Miran menunggu kata kata selanjutnya dari Arga.
"Terimakasih.." kata Arga.
Miran hanya mengangguk tanpa menoleh. Miran melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam mobil yang di bawa anak buahnya tadi.
Miran membawa Rayyan kembali ke rumahnya. Namun, ketika dirinya sudah tiba di depan rumah. Tiba tiba ada rasa enggan untuk melangkahkan kakinya untuk kembali masuk ke dalam rumah tersebut.
Miran masih merasa sangat kecewa dengan perlakuan neneknya. Dengan gontai Miran mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam rumahnya.. Hatinya sakit, itu yang dia rasakan.
Melihat itu, Rayyan membuntuti Miran.. Rayyan takut akan terjadi sesuatu kepada Miran jika dibiarkan sendiri. Dia tau, saat ini Miran pasti syok mengetahui kebohongan neneknya.
"Miran..." panggil Rayyan sambil memeluk pinggang Miran.
Miran hanya menoleh ke arah Rayyan.
"Menangislah jika memang ingin menangis... Lepaskan segala sesak di dadamu Miran.." kata Rayyan.
Miran memilih duduk di emperan sebuah rumah. Perlahan matanya mulai mengeluarkan air mata..
Rayyan berusaha menemani Miran. Dia tau Miran pasti sangat kecewa terhadap neneknya. Rayyan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Miran mengetahui kebohongan neneknya yang lain. Terlebih ini menyangkut kedua orang tuanya.
Miran menjadi teringat dengan masa lalunya. Dimana dia masih kecil waktu itu.
Flasback on.
Miran tengah menikmati suasana sore dengan neneknya. Mereka berdua berjalan mengitari komplek rumah mereka.
Miran berjalan sambil melonjak lonjak, hatinya senang ketika di ajak neneknya untuk pergi jalan jalan.
Tiba tiba, kaki Miran tersandung dan terjatuh.. Telapak tangannya menjadi lecet.
"Nenek..." isak tangis Miran.
"Bangunlah nak... Aku ada di sini" kata nenek membantunya bangun dan membersihkan lukanya lalu memeluk Miran.
"Kau harus kuat, terlebih nanti saat kau mengahadapi dunia luar yang kejam.. Begitu banyak musuh di luar sana.. kau harus bisa menahan rasa sakit itu.. Nenek akan selalu bersamamu untuk menghapus setiap lukamu" lanjut nenek.
Nenek begitu baik terhadapnya, nenek begitu perhatian...
__ADS_1
Flashback off.
"Dulu nenek begitu baik.. Tapi kenapa sekarang dia melakukan semua ini??" kata Miran dengan mata yang sudah memerah karena menangis.
"Aku sangat kecewa.. Kenapa nenek begitu bersikeras untuk memisahkanku dengan mu" kata Miran menatap lekat Rayyan.
"Miran.... Yang penting sekarang kamu sudah tau dan tidak lagi terpancing dengan nenek.. Sekarang pulang yukk... Jangan bersedih lagi, aku akan selalu bersamamu" kata Rayyan.
Mereka pun kembali ke rumah Miran... Rayyan kembali masuk ke kamarnya, tapi tidak dengan Miran yang memilih menuju ke balkon atas.
"Miran..." panggil Rayyan dan Miran hanya menoleh.
Rayyan mendekati Miran, dan mengajaknya duduk di kursi yang ada di sana. Pelan namun pasti, Rayyan berusaha membuat Miran agar tidak mudah begitu saja percaya dengan semua yang nenek katakan.. Rayyan berharap, Miran dapat menyelidikanya tentang kematian kedua orang tuanya.. Karena Rayyan yakin, bukan papanya yang melakukan itu.
"Kali ini kamu menggagalakan rencana nenek, Miran. Tapi aku tidak yakin nenekmu akan berhenti begitu saja.. Miran, kali ini saja dengarkan kata kata ku.. Jangan mudah percaya dengan semua kata kata nenek lagi.. Kamu harus berhati hati Miran.. Aku berjanji akan selalu bersamamu dalam kondisi apapun.." kata Rayyan.
"Rayyan, hatiku masih sangat kecewa dengan nenek.. Aku ingin sendiri dahulu ya..." kata Miran yang langsung pergi meninggalkan Rayyan yang sebelumnya dia sempat mencium kening Rayyan.
Miran pun pergi meninggalkan Rayyan di Balkon atas. Rayyan tak mencoba mengejarnya, karena Rayyan ingin memberinya waktu untuk menenangkan hatinya.
☘☘☘☘☘
"Paman... Nyonya Aisah akan menembak Rayyan dengan pistolku..Rayyan di rumah Miran tidak aman paman..." kata Arga.
Papa Hazar langsung merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya. Paoa Hazar mencoba menghubungi Rayyan.
"Hallo.. Rayyan.." kata papa Hazar.
"Hallo pa.." jawab Rayyan.
"Nak, pergilah dari sana.. Kamu tidak aman berada di sana nak.. Papa akan menjemputmu.." kata papa Hazar.
"Pa.. Aku tidak apa apa berada di sini.. Miran sangat melindungiku.. Papa, mari kita bertemu di tempat biasa ya..." ajak Rayyan.
"Baiklah.." jawab papa Hazar.
☘☘☘☘☘
"Rayyan..." panggil Mia.
"Mia..." Rayyan menoleh..
"Apa yang sebenarnya terjadi.. Kalian bertengkar lagi??" tanya Mia yang curiga dengan bahasa tubuh Rayyan dan Miran.
Rayyan pun menceritakan semuanya. Mendengar cerita Rayyan, Miapun menangis.
__ADS_1
"Nenek... Kenapa kamu begitu teganya... Aku malu kepadamu Rayyan... Maafkanlah nenekku" isak tangis Mia.
"Mia.. Mia.. Sudah. Aku dan Miran sudah tidak apa apa.. Mungkin Miran masih kecewa terhadap nenek, jadi dia ingin sendiri dulu.. Jangan kamu pikirkan lagi ya.." kata nenek.
"Aku tidak menyangka nenek bisa sejahat ini" kata Mia.
"Sudah Mia.. Sudah tidak apa apa.." kata Rayyan memeluk Mia.
Setelah itu Rayyan berpamitan ke Mia untuk menemui papanya.. Dan Rayyan segera pergi untuk menemui papanya. Mia mengantar Rayyan hingga ke halaman rumah. Setelah kepergian Rayyan, Mia mengambil ponselnya dan menelpon Arga.
"Arga, aku minta maaf atas apa yang dilakukan oleh nenekku" kata nenek setelah sambungan teleponnya di terima Arga.
"Mia.. Jangan merasa bersalah.. Kamu tidak ada hubungannya dengan kejadian itu.. Kamu tidak melakukan apapun. Ini kesalahan nenekmu. Hanya kamu satu satunya dalam keluarga Aslan yang berhati baik.." jawab Arga.
"Karena aku tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh nenekku" kata Mia tersipu malu..
"Terima kasih.." sambungnya.
"Terimakasih juga" jawab Arga.
Mia pun mengakhiri sambungan teleponnya dan segera masuk kedalam rumah.
☘☘☘☘☘
Nenek Aisah pergi menyendiri di sebuah bukit yang sepi... Ia berdiri di tepi jurang. Tatapannya lurus kedepan. Angin yang berhembus kencang terus menerpa tubuhnya..
Dia merenungi kegagalannya hari ini... Baru kali ini permainannya bisa di ketahui oleh Miran.. Dia terus memikirkan bagaimana ia bisa gagal.. Bagaimana Miran bisa mengetahui semuanya..
☘☘☘☘☘
Di taman, Rayyan menemui papanya. Melihat kedatangan putrinya, papa Hazar merentangkan tangannya dan memeluk erat Rayyan.. Dia sangat menghawatirkan putrinya itu.. Begitu juga Rayyan, memeluk erat sang papa untuk meringankan sedikit rasa kekhawatiran sang papa.
"Rayyan, pergilah dari sana nak... Aku yakin nyonya Aisah tidak akan berhenti begitu saja membiarkanmu selamat." kata papa Hazar.
"Pa... Aku tidak akan pergi dari sana... Aku akan menghentikan balas dendam itu.. Aku akan membuktikan jika papa bukanlah pembunuh kedua ornang tuanya. Pa, saat ini kepercayaan Miran sedang goyah terhadap neneknya.. Aku yakin, pelan pelan dia akan dapat melihat kebenarannya." kata Rayyan bertekad.
"Rayyan... Ini tidak akan mudah.. Kebencian itu sudah tertanam sejak dia kecil.. Itu akan sangat sulit untuk menggoyahkan keyakinan itu nak... Ayo Rayyan ikut papa pulang.. Dan segera urus surat perceraian kalian.." papa Hazar menggandeng tangan Rayyan.
"Tidak pa.. Aku tidak akan pergi meninggalkan Miran.." tolak Rayyan.
"Baiklah jika memang itu keputusanmu.." kata papa Hazar lemas.
Papa Hazar terdiam, dia menandangi Rayyan lekat.. Dia tahu bagaimana putrinya ini jika sudah memiliki sebuah tekad. Akan sangat sulit untuk meruntuhkannya.
Papa Hazar mencoba menghormati keputusan Rayyan. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya. Sebelum berpisah, Rayyan memeluk sang papa untuk meyakinkan jika semua akan baik baik saja.
__ADS_1