Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
Jebakan Rosa


__ADS_3

Lalu Miran kembali menuju ke kamar Rayyan..


Tok..tok..tok..


"Rayyan,.." panggil Miran membuka pintu dan melihat Rayyan sedang duduk di kursi..


"Miran..." Rayyan bangkit berdiri..


"Rayyan, aku berencana untuk membawa mu bertemu dengan Gendis. Apa kamu siap??" Kata Miran..


"Kamu serius Miran??" Rayyan kegirangan hingga tidak sadar dia memeluk Miran.


Miran yang mendapati pelukan dadakan itu terkejut dan sedetik kemudian tersadar lalu membalas pelukan Rayyan..


"Bersiap siap lah nanti malam saat semua sudah tertidur.." kata Miran.


"Kenapa harus nanti malam?" tanya Rayyan binggung dan melepaskan pelukannya.


"Agar kau aman karena keluarga mu saat ini sedang mengincarmu.. Gendis tidur di kamarmu" kata Miran.


"Baiklah, terimakasih Miran" Rayyan tersenyum..


"Beristirahatlah dulu" Miran kembali ke kamarnya..


☘☘☘☘☘


Di dapur ternyata ada seorang ART baru Marni, dia baru mulai bekerja hari ini..


Saat Marni sedang membantu Nanik menyiapkan makan malam.


Mia datang dan duduk.


"Bu, bikinin aku teh hangat ya, aku makan di sini aja" kata Mia.


"Nik, siapa dia?" bisik Marni, namun suaranya masih terdengar oleh Mia..


"Ahhh dia putri Ira" jawab Nuni juga berbisik.


Mendengar jawaban dari Nunik, Mia marah dan keluar..


"Hei.. Apa Ira tidak mengajarinya sopan santun?? Anak pembantu lagaknya kaya anak majikan dasar" sungut Marni.


"Ehhh jaga mulutmu, kamu baru bekerja belum sehari sudah banyak mulut!" Nunik tidak senang dengan ucapan Marni.


Marni hanya mendengus kesal.


Sedangkan Mia berjalan mencari neneknya di ruang makan.


"Nenek, apa maksud dari aku anak dari bu Ira.. Nenek sudah membuangku!!" Mia tampak penuh emosi.


Ira yang mendengar itu hanya diam, karena itu juga bukan ke inginannya.


"Mia, nenek terpaksa melakukan ini untuk melindungi mu" kata nenek.


"Melindungi dari apa? Dari siapa? Dari musuh nenek?!!! Musuh yang nenek ciptakan sendiri iya?!!" Mia benar benar emosi, dia tidak mau masuk kedalam permasalahan keluarganya itu.


"Mia.. Nenek tidak mau kamu jadi sasaran mereka jika mereka tahu kalau nenek masih punya cucu lain.. Nenek ingin kamu selamat nak" nenek memberi alasan.


"Ini semua karena nenek, rumah ini tidak ada lagi kebahagiaan, yang ada hanya tekanan yang nenek buat sendiri.. Mia sudah muak dengan nenek!!!" akhirnya Mia memilih kembali ke kamarnya.


"Mia...Mia.." nenek memanggil Mia namun tidak di gubris..


Nenek dan Ira saling bertukar pandangan.


"Maafkan aku Ira, aku kembali melibatkan mu" kata nenek lirih.


Ira hanya tersenyum dia pun mau protes tidak bisa.

__ADS_1


"Ira, nanti tolong antar makanan ke Mia." ucap nenek lemas dan berjalan ke luar ruang makan..


☘☘☘☘☘


Tengah malam, sesuai janji Miran..


Miran membawa Rayyan ke rumah tuan Sadli secara diam diam..


Mereka memanjat dinding pembatas, dan berjalan perlahan menuju ke kamar Rayyan.


"Rayyan, aku beri waktu kamu 20 menit untuk menemui adik mu.. Aku takut jika kamu terlalu lama akan membangunkan mereka" bisik Miran.


"Baiklah.." jawab Rayyan.


"Aku tunggu di sana" kata Miran menunjukan ke pojokan karena di sana sangat trategis bisa melihat ke segala arah.


Namun tanpa mereka sadari, di dalam kamar Rosa sudah menunggu kedatangan Rayyan.


Dia sengaja melakukan itu untuk menjebak Rayyan agar ketahuan oleh kakeknya..


Rayyan berjalan mengendap ngendap, dan membuka pintu kamarnya sangat pelan..


Dia mendekati tempat tidur, di mana sang adik tertidur.


Rayyan mengusap lembut pipi sang adik yang masih berbalut perban..


Gendis menggeliat dan perlahan membuka matanya.


"Kakak..." Gendis bangun dan langsung memeluk Rayyan begitu pun Rayyan.


"Kakak, aku menunggumu hingga aku mogok makan" Gendis memasang ajah cemberut.


"Ohh ya, kenapa tidak mau makan? Apa perutmu ini tidak lapar?" kata Rayyan dengan posisi memangku sang adik dan mengusap usap perut..


"Laper kakak" Gendis memeluk Rayyan..


"Aaaaaa... Maafin kakak ya sayang muach.." Rayyan mencium pipinya, air matanya mulai menggenang.


Rayyan hanya terisak menangis, dia tidak sanggup mendengar cerita sang adik, hatinya seperti tersayat mendengar ceritanya dia kembali mencium kening adiknya.


Miran menghampiri kamar Rayyan dan mengintip melalui jendela, dia melihat interaksi kakak adik di dalam sana.


"Kakak, apa kau bersama kakak tampan... Aku sangat merindukannya, aku ingin sekali memeluknya.. Aku sangat sayang ke padanya.. Kak apa kau bahagia? Kenapa kau menangis?" kata Gendis sambil mengusap air mata Rayyan yang terus saja mengalir tanpa bisa dibendung.


Miran yang mendengar kata kata Gendis sangat sedih, hatinya tersentuh dan kemudian dia kembali ketempat semula.


"Kakak Miran juga sangat merindukanmu, dia juga sangat sayang kepadamu.. Nanti dia akan menemuimu.. dan kakak sangat bahagia, kakak Miran menyayangiku dan memperlakukanku sangat baik. Aku menangis karena bahagia bisa bertemu dengan adik kesayangan kakak ini" kata Rayyan sedikit berbohong lalu memeluk erat sang adik dan mencium keningnya lagi..


"Kakak, nyanyikan aku nina bobok ya agar aku mengantuk" kata Gendis.


"Baiklahh, sini berbaring.. Tapi nanti setelah ini kakak pulang ya.." kata Rayyan.


"Ok.. Nanti datang kemari lagi bawa kakak ganteng juga ya" jawab Gendis..


"Baik..baik.. Ayoo kakak mulai bernyanyi ya" kata Rayyan sambil memeluk Gendis dari belakang.


Rayyan menyanyikan lagu nina bobo yang di minta Gendis..


Sedangkan Miran mulai gelisah karena Rayyan tak kunjung keluar karena waktu sudah melebihi dari yang di janjikan..


Setelah disa Gendis sudah tertidur, Rayyan menyelimuti sang adik dan perlahan turun dari tempat tidur dan keluar kamar..


Saat akan menutup pintu, tiba tiba ada yang menjambak Rayyan dari belakang dan menyeretnya.


Miran melihat itu, saat akan mengejar kepala Miran di todong pistol oleh sesorang dari belakang.


"Nenek, apa yang nenek lakukan di sini?" Miran kaget melihat neneknya berada di sana.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan Miran, cepat kembali atau mereka akan membunuhmu!!" nenek menyeret Miran.


"Tidak nenek, aku tidak akan pulang jika tidak bersama Rayyan" Miran menahan suaranya dan dia melihat kebawah sudah banyak pengawal sang nenek.


"Baiklah" nenek menyerah dan pergi keluar.


Rosa yang melihat Rayyan di seret oleh sang kakek, dia keluar kamar dan tersenyum sangat senang karena ini lah akhir kehidupan Rayyan menurut dia..


Dia mendengar ada langkah kaki dan langsung kembali masuk ke kamarnya.


Miran berjalan ke arah kakek Sadli membawa Rayyan ke ruang keluarga.


"Mirann.." Rosa gelisah melihat Miran mengejar kakek.


Di dalam rumah keluarga, kakek langsung menodong Rayyan dengan pistol.


"Tembak kakek, tembaklah..." kata Rayyan tegas tanpa takut sedikitpun meski sambil menangis.


"Aku sudah lelah hidup, aku selalu menjadi sasaran kakek.. Kakek tidak pernah pas menyiksa ku dari kecil.. Cepat tembak aku" Rayyan terus menangis dan berlutut.


Kakek mulai ragu dia mulai goyah dengan ambisinya yang ingin menghabisi Rayyan.


"Kenapa kakek?? Kenapa!! Cepat lakukan agar kakek puas agar kakek hidup bahagia tanpa perlu memikirkan aku cepat lakukan jika ini yang memang kakek mau" Rayyan memgang tangan kakek yang masih memegang pistol ke kepalanya.


"Hentikan!!!" seru Miran menodong kakek..


Kakek dan Rayyan terkejut dan kakek langsung menodong Miran...


"Jangan pernah menyakitinya, atau aku akan menembakmu!!!" kata Miran emosi.


"Silahkan tembak, aku yang akan menembaknya... Jatuhkan pistolmu! Atau peluru akan bersarang di kepalanya!" ancam kakek menodong Rayyan.


"Kakak Miraaannnn" tiba tiba Gendis datang.


Miran terkejut dan lansung menyembunyikan pistolnya lalu berjongkok menyeimbangkan Gendis.


Kakek langsung menyembunyikan pistolnya seolah olah tidak terjadi apa apa..


Begitu pula Rayyan menghapus air matanya.


"Kakek terimakasih telah membawa kakak ganteng kesini" senyum Gendis.


Kakek hanya menganggukkan kepalanya canggung.


"Kakak, malam ini menginap ya aku ingin tidur bersama kakak Rayyan dan kakak ganteng" kata Gendis.


"Sayang maaf kan kakak, kakak tidak bisa untuk malam ini.. Tapi kakak janji nanti kita akan bermain bersama ok cantik" kata Miran sambil melirik ke kakek dan kembali tersenyum mengusap pipi Gendis.


Rayyan dan kakek hanya diam membisu.


"Baiklaahhh, kakak pamit pulang ya bersama kakakmu" pamit Miran lembut.


"Ijinkan aku mengantar kalian ya" ucap Gendis.


Rayyan dan Miran berjalan dengan menggandeng Gendis di tengah tengah mereka.


Rosa mengintip dan dia merasa bingung kenapa tidak terjadi sesuatu di antara mereka, dia melihat kakek hanya diam mengikuti Rayyan dan Miran sampai pintu utama.


"Kakak pulang ya, dan kamu cepatlah tidur muachhh" kata Rayyan mencium pipi Gendis.


"Haapp... Cantik.. Jangan lupa banyak makan ya, setelah ini kembali tidur muachh" Miran menggendong Gendis dan mencumnya juga.


Miran dan Rayyan keluar dari rumah keluarga Sadli.


Di luar nenek sudah menunggu memastikan ke adaan cucunya.


Melihat Miran dan Rayyan keluar, dia langsung pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


semoga masih suka ya...


jangan lupa like dan komentnya ya temen temen 😊😊😊🙏🙏🙏🙏


__ADS_2