
Keluarga Sadli kini sudah berkumpul di halaman rumah. Wajah mereka tampak sedih harus meninggalkan rumah yang banyak sekali kenangan kenangan manis di sana.
"Kakek mohon, kalian jangan bersedih. Aku berjanji akan segera membawa kalian kembali ke rumah ini" kata kakek mencoba memberi ketegaran ke seluruh anggota keluarganya.
Gendis yang sedang memegang dot di tangannya kembali ke dalam rumah, dan dia menaruh dot tersebut di atas lantai ruang utama.
"Biarlah wanita bermata hitam itu melihat botol iti, agar dia tau bahwa aku akan kembali lagi ke rumah ini" kata Gendis dengan wajah polosnya.
"Kakek tenang saja, kita pasti akan segera kembali lagi ke rumah ini" imbuh Gendis menghibur sang kakek.
"Terimakasih cucuku" kata kakek dengan senyuman yang di paksakan.
Kakek pun pergi mendahului yang lain, sedangkan yang lain masih terdiam di sana mengamati setiap sudut rumah tersebut untuk terakhir kalinya.
Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan rumah itu, meninggalkan semua kenangan yang berada di sana.
☘☘☘☘☘
"Miran!! Tunggu!" teriak mama Eni saat melihat Miran akan pergi lagi.
"Aku tidak rela kamu menceraikan Mei hanya untuk menikahi gadis itu. Ingat Miran, Arga hampir saja merenggut kehormatan Mei, dan menjaga kehormatan itu hingga dia menembak Arga. Kenapa kamu tidak sedikitpun menghargai dia yang sudah menjaga nama baikmu" kata mama Eni yang merasa ini tidak adil untuk Mei.
Saat itu Miran langsung teringat dengan kata kata Mia.
Flashback off.
Mia diam diam menemui Miran yang sedang berada di kamarnya.
"Kak.." panggil Mia.
"Masuk Mia" jawab Miran yang tengah memakai kaosnya sehabis mandi.
"Kak.. Aku ingin berbicara padamu" kata Mia.
__ADS_1
"Katakanlah." jawab Miran dengan wajah seriusnya.
"Mmm kak.. Waktu itu aku bertemu Mei berbicara dengan Arga dan Rosa di sebuah tempat makan. Dan tak lama, Mei di temukan dalam ke adaan tertusuk. Aku senpat mendengar saat Mei sedang berbicara dengan tante Eni bahwa Mei sendiri yang menusuk dirinya dan sengaja menuduh Rayyan pelakunya" jelas Mia.
"Apa kamu yakin Mia.." tanya Miran dengan wajah yang menahan amarahnya.
Mia hanya mengangguk, dia khawatir akan terjadi sesuatu setelah dia membicarakan ini.
"Kak.. Aku curiga Mei berbohong lagi soal Arga akan menodai dia" kata Mia lirih takut Miran tidak mempercayainya.
Miran tampak diam dan memikirkan semua kata katanya.
Flashback off.
"Mei sudah terlalu sering berbohong!!! Dulu dia hampir membunuh Rayyan. Dan waktu itu dia menusuk dirinya sendiri dan menuduh Rayyan sebagai pelakunya. Keputusanku sudah bulat untuk menceraikannya dan Mei harus menanda tanganinya." Miran langsung pergi meninggalkan mama Eni yang hanya terdiam.
Mei yang mendengar kata kata Miran terdiam sedih. Dan dia juga tidak menyangka jika Miran mengetahui semuanya.
Nenek sedang menunggu Mei di dalam kamarnya, dia ingin mengatakan sesuatu kepada Mei.
"Segeralah kamu tanda tangani aurat cerai itu Mei" kata nenek Aisah.
"Apa?? Tidak.. Aku tidak mau.. Nenek sudah tau selama ini aku mencintainya nek.. Aku tidak mau berpisah dengan Miran" Mei menolak permintaan neneknya.
"Mei.. Kali ini nenek mohon padamu, ikuti keinginan nenekmu ini." kata nenek yang terus membujuk Mei.
Diam diam nenek Aisah merubah semua rencananya, dan dia akan menikahkan Miran dengan Rayyan.
"Baik nek, aku percaya kepada nenek. Dan aku harap nenek tidak kembali membohongiku" jawab Mei yang lngsung meninggalkan kamar neneknya.
Mei lalu bersiap siap untuk pergi ke pengacara keluarganya yang mengurusi surat perceraiannya tersebut.
"Mau kemana kamu Mei?" tanya mama Eni.
__ADS_1
"Aku akan menemui pengacar untuk menandatangani surat itu." kata Mei.
"Apa?!! Apa kamu sadar Mei apa yang kamu lakukan hah!!! Bukankah sangat mencintai Miran??" mama Eni tidak setuju dengan keputusan Mei.
"Ayoo Mei, segeralah kamu ke pengacara. Dia sudah menunggumu." kata nenek tiba tiba.
"Aaarrgghhh tidaakkk... Tidaakkk" mama Eni tiba tiba berteriak histeris seperti orang g*la..
Mama Eni mengangkat pot bunga yang tidak jauh dari sana dan langsung membantingnya dan terduduk sambil menangis.
"Jika kamu tidak mau menerima keputusan ku, siap siap kamu akan kembali aku kirim ke rumah sakit jiwa" ancam nenek dengan berbisik.
Mama Eni pun takut, dia tidak mau kembali ke tempat yang pernah membuatnya menjadi benar benar gila. Nenek Aisah dulu pernah memasukkannya ke sana padahal dia tidak gila. Nenek Aisah akan menghukum semua orang yang berusaha melawannya.
Melihat mamanya terdiam, Mei membantu mamanya untuk bangun dan menuntunnya ke tempat duduk. Mei menatap neneknya curiga. Dia penasaran apa yang nenek bisikan ke mamanya hingga mampu membuat sang mama terdiam.
☘☘☘☘☘
Kakek terlebih dahulu tiba di sebuah rumah pertenakan peninggalan para keluhur keluarga Sadli. Saat berdiri di depan pintu gerbang, kakek kembali teringat dengan masa lalunya bersama kekasihnya dahulu yang bernama Asih.
Dulu mereka saling mencintai dan telah menikah secara agama. Namun karena sebuah insiden kebakaran. Asih di kabarkan telah meninggal dalam peristiwa tersebut.
Kakek berjalan masuk, halaman rumah tersebut sangat luas, di salah satu sudut terdapat sebuah gazebo yang di rambati oleh pohon buah anggur. Suasana rumah tersebut sangat sejuk. Namun meninggalkan kenangan yang sangat pedih untuk kakek.
Hingga saat ini, kakek masih sangat mencintai kekasihnya itu. Namun kakek tidak tau bahwa Asih selamat dari peristiwa tersebut dan kini telah berganti nama Aisah. Nenek Aisah telah melalui 3kali operasi wajah pasca kebakaran tersebut. Dan karena operasi tersebut membuat kakek tidak dapat mengenali wajah nenek.
"Sadli.." sapa Yusuf salah satu orang kepercayaan kakek sekaligus sahabatnya sejak kecil yang mengurus rumah peternakan itu.
☘☘☘☘☘
Di kediaman Aslan, nenek sedang menikmati sinar matahari di rooftop. Dan dia sudah mendapatkan laporan dari salah satu anak buahnya bahwa keluarga Sadli kini akan tinggal di rumah peternakan.
"Sadli, kamu tidak akan meras tenang tinggal di sana. Dulu kamu meninggalkan rumah itu penuh dengan kepedihan. Ini baru mulai Sadli. Tunggu dengan segala kejutan yang sudah aku persiapkan untukmu.
__ADS_1
Nenek merasa dulu kakek telah meninggalkannya, padahal sesungguhnya tidak seperti yang dia pikirkan. Kenyataannya kakek mengira dia meniggal karena musibah tersebut. Kesalahpahaman inilah yang membuat nenek menaruh dendam kepada kakek.