
Di dalam mobil, nenek mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Hallo.." kata nenek setelah panggilan teleponnya di terima.
"Rosa...." kata nenek lagi.
"Ada apa anda menghubungi saya?" tanya Rosa.
"Apa kamu masih teropsesi untuk membuat Rayyan menderita??" tanya nenek.
"Apa maksud anda??" tanya Rosa berhati hati..
"Jika kamu masih menginginkan Rayyan menderita bahkan di ceraikan oleh Miran, bujuk dia untuk menemui kakakmu yang berada di bandara sekarang" kata nenek.
"Baiklah aku akan coba" kata Rosa.
Setelah panggilan telepon berakhir, nenek segera melanjutkan rencana selanjutnya.
☘☘☘☘☘
Rosa yang sekarang posisinya sedang berada di halaman depan, memilih masuk ke dalam kamarnya agar leluasa untuk menelpon Rayyan.
Rosa merasa senang jika melihat Rayyan menderita. Di dalam kamarnya, sebelum dia menelpon Rayyan. Rosa berlatih akting untuk menangis, agar dapat meyakinkan Rayyan. Setelah di rasa cukup, Rosa segera meraih ponselnya dan mencari nomor Rayyan.
"Rayyan... Hiksss... Hiksss.. Kak Arga Rayyan... Dia pergi Rayyan... Dia meninggalkan rumah... Sekarang dia berada di bandara. Hanya kamu Rayyan yang dapat membujuk kakakku untuk tidak pergi.. Ku mohon Rayyan kejar dia, bujum dia" kata Rosa dengan aktingnya yang sempurna..
☘☘☘☘☘
Mendengar kabar dari Rosa, Rayyan langsung bergegas untuk mengejar Arga. Rayyan pergi keluar rumah dengan tergesa tegas..
Di depan pintu, Rayyan berpapasan dengan nenek.
"Mau kemana kamu??" tanya nenek.
"Saya mau menyusul Arga" jawab Rayyan langsung pergi meninggalkan nenek.
"Rayyan!! Rayyan!!!" nenek berpura pura.
Kini saatnya nenek mengadu domba Rayyan dengan Miran. Nenek begitu bersemangat saat melihat Rayyan terpancing.
"Hmmm ternyata anak itu berguna juga" kata nenek memuji Rosa.
Nenek segera masuk ke dalam mobilnya dan meminta Samsul untuk ke kantor Miran.
"Hallo Miran.. Nenek akan menjemputmu.." nenek menelpon Miran.
"Ada apa nek??" tanya Miran.
"Nenek akan mengajakmu ke suatu tempat. Segeralah keluar, sebentar lagi nenek akan tiba.." kata nenek.
Nenekpun mematikan sambungan teleponnya. Tidak butuh waktu lama nenek tiba di kantor Miran, dan Miran sudah menunggunya di lobi.
Melihat kedatangan nenek, Miran segera masuk kedalam mobil nenek.
"Ada apa nek??" tanya Miran.
"Miran, nenek akan menunjukkan sesuatu kepadamu. Nenek akan membuktikan, jika Rayyan menikahimu hanya demi menyelamatkan Arga." kata nenek.
__ADS_1
Miran hanya terdiam, dia tidak langsung begitu saja mempercayai setiap ucapan yang keluar dari mulut nenek.
Selama perjalanan mereka hanya diam, Miran tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
"Miran, bersiap siaplah dengan hatimu" kata nenek dengan penuh percaya diri.
☘☘☘☘☘
Setibanya di bandara, Rayyan langsung turun dari taxi onlinenya. Rayyan hanya bisa berharap dia tidak terlambat.
Dari kejauhan, Rayyan melihat Arga akan masuk ke dalam Bandara dengan menenteng kopernya..
"Kak Arga!!!" panggil Rayyan.
Merasa namanya dipanggil, Arga menoleh. Dia melihat Rayyan berlari ke arahnya.
"Rayyan??" panggil Arga sambil bertanya tanya.
"Kakak, aku mohon jangan pergi kak.." kata Rayyan.
"Kamu tau dari mana aku berada di sini??" tanya Arga.
"Tidak perlu memikirka dari mana aku bisa tau kakak berada di sini.. Aku kesini hanya untuk memohon kakak jangan pergi" kata Rayyan.
"Rayyan, kamu tidak tau apa apa.. Lebih baik kamu pergilah dari sini.." kata Arga.
"Tidak kak, aku tidak akan kemana mana jika kakak tidak mau kembali pulang." bujuk Rayyan.
"Rayyan aku mohon... Kamu tidak tau sebenarnya apa yang terjadi.. Jika aku masih berada di sini, kamu akan dalam bahaya.." kata Arga.
"Kak... Aku bisa melindungi diriku sendiri.. Bahkan disisiku ada Miran.. Dia selalu menjaga ku kak. Aku mohon jangan pergi kak. Jangan mengkhawatirkan aku.." kata Rayyan memegang tangan Arga.
"Lihatlah Miran.. Apa yang dilakukan istrimu.. Dia tidak benar benar mencintaimu Miran.. Sekarang datangilah mereka." kata nenek berusaha memprovokasi Miran.
Miran turun dari mobil nenek, dalam diam dia berjalan menghampiri Rayyan dan Arga.
Melihat kedatangan Miran, Rayyan terkejut.
"Miran... Aku bisa menjelaskan ini semua.. Aku mohon jangan marah" kata Rayyan yang takut Miran akan salah paham.
"Mereka berdua akan pergi bersama.. Kamu harus bertindak sesuatu Miran.." kata nenek kembali memprovokasi.
Rayyan terkejut dengan kata kata nenek, begitu juga dengan Arga.. Karena nenek hanya menyuruhnya pergi sendiri tidak bersama Rayyan.
Miran hanya diam, dia sudah mengetahui rencana jahat nenek yang ingin memprovokasi kan nya.
Miran tampak memberi kode ke seseorang di salah satu mobil yang terparkir di sana. Salah satu anak buah Miran keluar dari dalam mobil dan membawa pistol yang di simpan nenek lalu menyerahkannya ke Arga.
"Jika kamu tidak pergi dari sini, maka Rayyan akan ditembak dengan pistol ini. Maka ambillah pistolmu, agar tidak di manfaatkan oleh nenekku." kata Miran.
Arga menerima pistolnya dalam diam. Tentu saja hal itu membuat Rayyan terkejut, begitu juga sang nenek yang tidak mempercayainya jika Miran tau rencananya itu.
Setelah itu, Miran menunjuk ke salah satu orang yang berdiri tidak jauh dari sana. Nenekpun mengikuti arahan Miran. Dan orang itu pun mengangguk.
"Dialah pengacara yang nenek tuduh menjadi mata mata. Padahal nenek sendiri yang menyuruhnya untuk menyerahkan berkas itu ke pada Sadli. Nek, kenapa nenek melakukan banyak kebohongan???" kata Miran yang sudah tau semua rencana neneknya.
Lalu Miran merogoh tas yang dibawa Rayyan. Miran mengambil sebuah tiket di dalam tas Rayyan. Rayyan bingung mengapa ada tiket di dalam tasnya, padahal dia tidak merasa membelinya.
__ADS_1
"Kali ini rencanamu gagal nek... Aku sudah mengetahui semua rencanamu.. Kenapa nenek ingin memisahkan ku dengan Rayyan nek?? Kenapa??" tanya Miran kecewa.
Nenek hanya terdiam, dia tidak menyangka jika Miran mengetahui rencananya itu. Nenek merasa bingung, mengapa Miran dapat mengetahui semuanya..
Lalu Miran pun menceritakan mengapa dia bisa mengetahui rencananya.
Flasback on.
Miran dan Arga tanpa sengaja berpapasan di jalan. Miran tampak heran dengan Arga yang mengendarai mobilnya dengan terburu buru, lalu Miran turun dari mobilnya begitu juga Arga.
"Hehh mengapa kamu terlihat sangat terburu buru??" tanya Miran.
"Aku akan pergi dari sini atas permintaan nenekmu, jika aku tidak menuruti keinginannya maka Rayyan akan di tembak dengan pistolku yang disimpan nenekmu karena ada sidik jariku di sana. Nenekmu jahat Miran.. Sangat jahat!! Tapi, demi keselamatan Rayyan aku akan pergi meninggalkan kota ini.." kata Arga kesal.
Miran hanya terdiam, dia tidak langsung percaya dengan kata kata Arga..
☘☘☘☘☘
Saat berada di rumahnya, Miran akan kembali keluar rumah,..
"Miran..." panggil Ira..
"Ada apa bu" jawab Miran menghampiri Ira.
"Aku ingin mengatakan sesuatu tentang rencana nenekmu Miran.." kata Ira berbisik.
"Apa??" tana Miran penasaran..
Ira pun mengeluarkan sebuah tiket yang ia pegang.
"Aku disuruh nenekmu untuk meletakkan tiket ini ke dalam tas Rayyan. Tiket itu atas nama Rayyan." kata Iran..
Miran menerima tiket itu dan membukanya.
"Bu, ikuti apa yang nenek perintahkan.. Tapi jangan mengatakan apapun jika aku sudah mengetahuinya" kata Miran.
Bu Ira hanya mengangguk.
☘☘☘☘☘
Di lain waktu, Miran mendatangi salah satu pengacara yang diminta nenek untuk segera pergi dari kota ini.
"Kenapa anda membantu Sadli untuk mendapatkan surat surat Aset kepimilikannya" tanya Miran tiba tiba saat sang pengacara itu sedang memasukkan beberapa barang di bagasi mobil.
"Pak Miran..." kata pengacara itu terkejut.
"Katakan... Atau aku akan melaporkanmu ke polisi" ancam Miran.
Akhirnya sang pengacara itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi..
Flashback off.
Nenekpun menangis mendengar cerita Miran yang ternyata secara diam diam menyelidiki semuanya. Nenek hnya tertunduk malu, dia tidak dapat berkata apa apa lagi.. Hanya tetesan air matanya saja yang terus keluar mengalir dari matanya.
"Mengapa nenek memfitnah Rayyan akan pergi bersama Arga??" tanya Miran.
"Rayyan maafkan nenek yang telah memfitnahmu nek.. Aku hanya cemburu padamu. Aku takut Miran meninggalkanku.. Sekarang dia lebih percaya dan perhatian kepadamu. Itulah sebabnya aku melakukan ini semua" kata nenek terpojok.
__ADS_1
Mendengar kata kata nenek Miran meneteskan air matanya, dia kecewa juga tidak tau harus bagaimana. Nenekpun pergi meninggalkan mereka bertiga dari sana.