
Papa Hazar masih berada di sana, dan dia terus membaca surat itu secara berulang ulang.. Air matanya terus mengalir tanpa bisa di bendung lagi.
☘☘☘☘☘
Miran sudah kembali ke kamarnya.. Dia masih teringat dengan jelas kata kata neneknya ketika di makam tadi.
"Miran... Ada apa??" tanya Rayyan.
Miran hanya terdiam, dia hanya menatapi dirinya dari pantulan cermin di depannya.
"Miran?? Kenapa hanya diam?? Apa yang sedang kamu pikirkan??" tanya Rayyan mendekati Miran.
"Aku tidak akan berhenti untuk balas dendam" jawab Miran menoleh ke Rayyan.
"Kamu... Kenapa kamu tidak bisa menghargai perasaanku sedikitpun Miran" kata Rayyan kecewa.
Melihat Rayyan yang mulai menangis, Miran memilih pergi. Karena dia tidak akan sanggup jika terus melihat Rayyan menangis.
Miran keluar rumah setelah ia mengganti pakaiannya yang berada di kamar lain.
"Jika ada yang mencari aku. Katakan aku sedang berkuda" pamit Miran ke salah satu penjaga pintu.
Miran berjalan menuju ke kandang kuda kesayangannya dan pergi meninggalkan rumah.
Sedangkan Rayyan, dia mencari cari Miran. Dia ingin berbicara dengan Miran secara baik baik. Dia ingin ini semua segera berakhir, dan tidak ada lagi perselisihan antara dirinya dengan Miran.
Lalu Rayyan bertanya kepada salah satu penjaga pintu.
"Apa kalian melihat pak Miran??" tanya Rayyan.
"Tadi beliau mengatakan jika sedang ingin berkuda nona" jawab sang penjaga sopan.
"Baiklah terimakasih" jawab Rayyan.
Rayyan menuju ke dalam kandang, ia juga ingin berkuda menyusul Miran. Setelah mendapatkan kuda, Rayyan bergegas mencari Miran.
☘☘☘☘☘
Nenek kini kembali ke rumahnya yang berada di luar kota. Rumah di mana selama hampir 30 tahun menyusun rencana balas dendamnya..
Saat memasuki rumah tersebut, kembali nenek mencari sebuah rencana yang baru. Rencana untuk balas dendamnya.
Sedangkan di kediaman keluarga Aslan, Mia dan yang lainnya sudah berada di meja makan. Mereka sedang menunggu nenek untuk makan bersama.
"Ira.. Dimana ibu??" tanya mama Eni yang sudah tidak sabaran.
"Emmm nyonya kembali pulang" jawab Ria.
"Apa??? Kenapa kami tidak di kabari??" tanya Mia.
__ADS_1
Mendengar itu, Mia dan Mei panik.. Mereka berfikir jika nenek dalam masalah. Mia berusaha menghubungi orang rumah di sana, sedangkan Mei berusaha menghubungi nenek.
☘☘☘☘☘
Rayyan masih berusaha mencari cari keberadaan Miran. Dia terus menyisiri lembah, tempat biasa dimana dia pernah bertemu dengan Miran saat berkuda.
Saat Rayyan tiba di sebuah jembatan, dia melihat Miran berada di sana yang masih menunggangi kudanya.
"Miran!!!" panggil Rayyan.
Miran menoleh dan berhenti. Rayyan bergegas menghampiri Miran. Mereka lalu beriringan menunggangi kuda bersama.
Tidak lama mereka berjalan, Rayyan berhenti dan menuntun kudanya. Miran pun mengikuti hal yang sama seperti Rayyan.
"Miran.. Kita tidak bisa seperti ini.. Aku ingin semua masalah ini selesai.. Aku tidak mau terus menerus bertengkar denganmu Miran." kata Rayyan saat Miran sudah berjalan di sampingnya.
"Aku hanya ingi hidup damai bersamamu.. Tidak ada lagi perselisihan." lanjut Rayyan.
Miran tidak menjawab, dia masih terus memikirkan apa yang harus dia lakukan. Satu sisi Rayyan, disisi lain persoalan kedua orang tuanya
☘☘☘☘☘
Di rumah peternakan, papa Hazar berusaha menghubungi Miran untuk mengajaknya bertemu. Beberapa kali panggilan tidak juga kunjung bisa. Lalu papa Hazar pun mencoba menghubungi Rayyan. Panggilanpun tersambung, tapi tidak juga kunjung diterima oleh Rayyan.
"Hallo Ira.. Dimanakah Miran dan Rayyan?? Mereka sulit sekali aku hubungi" tanya papa Hazar.
"Mereka tengah berkuda.. Nanti jika mereka sudah kembali, aku akan menghubungimu" jawab Ira.
"Emmm baiklah kalau begitu.. Terimakasih" jawab papa Hazar lalu menyudahi panggilan itu.
☘☘☘☘☘
Hingga larut malam, Miran dan Rayyan belum juga kembali ke rumah mereka. Kini mereka tengah duduk berdua di bawah pohon yang sangat rindang.
Mereka berdua tampak berbincang saling menceritakan masa masa kecil mereka.
"Sejak dari kecil aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang ayah. Papaku selalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan di waktu hari libur pun dia masih sibuk dengan pekerjaanya. Aku selalu menunggunya hingga larut malam di depan pintu, agar aku dapat merasakan pelukannya saat dia menggendongku karena aku ketiduran di depan pintu. Heeehh, hanya itu satu satunya yang aku rasakan." cerita Miran.
"Jika aku, ketika aku masih kecil.. Papa paling suka membujukku untuk menyisir rambutku. Dulu aku paling malas untuk menyisir rambutku. Banyak kenangan indah ku bersamanya, dia sangat menyayangi semua anak anaknya. Aku selalu dibedakan oleh kakek sejak dulu, tapi tidak dengan papaku. Papa selalu menghiburku, mengajakku bermain bersama bahkan tidak jarang dia selalu mengajakku pergi ke pasar malam" cerita Rayyan.
Mereka terus menceritakan kisah kisah mereka. Hingga mulai menyadari jika hari sudah semakin larut. Mereka pun memilih kembali pulang.
Sesampainya di rumah, Mei menunggu kedatangan Miran di ruang tamu.
"Miran, dari mana saja kamu??? Apa kamu tidak tau jika nenek kembali kerumah lama??, barang barangnya pun sudah tidak ada.." kata Mei.
"Apa??" Miran terkejut.
__ADS_1
Miran segera berlari menuju ke kamar neneknya disusul oleh Rayyan. Sesampainya di kamar neneknya, Miran langsung membuka pintu dan benar saja semua barang barangnya telah kosong. Semua lemari bajunya ikut kosong.
Miran khawatir dengan keadaan neneknya. Dia ingin menyusul kesana.
"Miran.. Tunggu mau kemana??" tanya Rayyan.
"Aku harus menyusul nenek" jawab Miran.
"Jangan!!! Ini pasti salah satu permainan barunya agar kamu mencarinya ke sana dan membujukmu untuk segera balas dendam. Karena dia tau, kamu pasti akan menyusul ke sana.. Aku mohon Miran jangan.." kata Rayyan mencegah.
"Rayyan, kemarin malam aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Bagaimana nenek sudah menyesali semuanya di atas makam orang tuaku. Aku tidak peduli dengan apa kesalahannya. Dia yang sudah membesarkanku, aku harus berterimakasih kepadanya" jawab Miran.
"Susul saja nenekmu, dan ikuti semua apa yang dia mau jika itu salah satu caramu berterimakasih tanpa bisa membedakan mana halnyang salah dan yang benar" kata Rayyan kecewa.
Rayyan langsung pergi meninggalkan Miran yang berdiri mematung di ujung anak tangga.
Ira yang sedari tadi di dapur langsung mengambil ponselnya dan menghubungi papa Hazar.
☘☘☘☘☘
Papa Hazar terus mondar mandir menunggu kabar dari Ira. Kini dia sudah berpindah di halaman rumah, agar posisinya tidak terdengar oleh yang lain.
Drrttt... Drrttttt..
Ponsel papa Hazar bergetar, dilihatnya ponsel miliknya, ternyata Ira menghubunginya.
"Hazar, Miran dan Rayyan baru kembali. Datanglah besok. Malam sudah larut" bisik Ira.
"Tidak, aku harus datang sekarang.. Aku tidak ingin berlarut larut terjebak dalam sebuah fitnah. Aku ingin kebenaran ini segera terungkap" jawab papa Hazar memutuskan panggilan teleponnya.
☘☘☘☘☘
Miran kini tengah merenung, ia duduk melamun di anak tangga. Semua kata kata Rayyan dan neneknya. Tidak tau, mana yang harus dia ikuti. Rayyankah atau neneknya.
Sedangkan papa Hazar, kini suda tiba di samping rumah Miran. Papa Hasar memilih memanjat tembok kabar samping rumah, karena tidak mungkin melewati dua penjaga pintu.
Rayyan yang berada di dalam kamarnya terus memikirkan bagaimana caranya agar bisa segera keluar dari semua masalah ini. Terutama menyakinkan Miran.
Tiba tiba terdengar suara seperti benda terjatuh, Rayyan terkejut dan dia segera berlari keluar melihat suara apa itu.
Rayyan berjalan menuju ke arah tangga. Tiba tiba, tubuhnya menegang dengan tangan menutup mulutnya.
"Papaaa!!" teriak Rayyan menangis.
Rayyan syok melihat papanya sudah tergeletak bersimba darah di bawah kaki Miran.
"Miran... Apa yang kamu lakukan???" tanya Rayyan berlutut di samping tubuh papanya yang tidak sadarkan diri.
Miran hanya terdiam, dia mengambil ponselnya dan segera menghubungi ambulance.
__ADS_1