
Pagi harinya, Arga mengajak Rayyan untuk berbelanja. Mereka mencari gaun dan beberapa barang yang dibutuhkan untuk acara pernikahan mereka.
"Rayyan, hari ini aku sangat senang.. Karena besok adalah hari dimana kamu akan menjadi istriku.. Ini adalah hal yang sangat aku nantikan" kata Arga sangat bersemangat.
Rayyan tidak menjawab perkataan Arga, dia hanya tersenyum yang dipaksakan. Selama mereka berbelanja tidak ada binar kebahagiaan sedikitpun diwajah Rayyan berbanding terbalik dengan Arga yang begitu bersemangat.
"Kak, kita pulang ya.. Aku lelah" kata Rayyan.
"Tapi.. Mmmm ya udah ayok.. Yang lain nanti bisa nyuruh Ike dan Rudi untuk membelikannya.. Sini aku bawain barangnya" kata Arga sambil meraih barang belanjaan yang di bawa Rayyan.
"Biar ini aku yang bawa" jawab Rayyan dingin.
Selama perjalanan pulang, Rayyan hanya terdiam. Tidak ada obrolan yang terjadi. Sepi seperti hati Rayyan yang terasa hampa..
Melihat Arga dan Rayyan pulang, mama Sinta tampak tidak senang. Dia merasa bergemuruh di dadanya karena menahan amarahnya. Begitupun mama Anna dan papa Hazar sangat sedih nelihat sosok Rayyan yang terlihat selalu murung hanya demi untuk tetap bersama mereka. Bahkan Rayyan rela menyiksa dirinya sendiri.
☘☘☘☘☘
Miran terus berada di kamarnya, bahkan dia melewatkan waktu sarapannya.
Tok..tok..tok..
"Nak Miran.. Bolehkah saya masuk?" suara Ira.
"Masuk bu, pintu tidak saya kunci" kata Miran yang tengah terduduk di pinggir tempat tidurnya.
Ira pun perlahan membuka pintu kamar Miran. Dia membawakan sebuah nampan yang berisikan beberapa makanan untuk sarapan Miran. Ira merasa sedih melihat Miran kini terus murung. Miran yang berkarisma, kaku, dingin kini berubah menjadi Miran yang pendiam larut dalam kesedihan hatinya. Ingin rasanya Ira membongkar semuanya, namun dia takut dengan nenek Aisah yang juga menyimpan rahasianya.
"Nak.. Sarapanlah.. Nanti kamu sakit" kata Ira lembut.
"Aku tidak berselera bu.. Letakkan saja di meja.." kata Miran dengan tatapan kosongnya.
"Baik, saya letakkan di sini.. Jangan lupa di makan ya nak.. Jangan sampai sakit" kata Ira lembut.
"Terimakasih bu" jawab Miran berusaha tersenyum.
Sepeninggalnya Ira dari kamar Miran. Miran bangkit dari duduknya, mencoba mengisi perutnya. Namun saat melihat makanan Miran merasa tidak berselera. Akhirnya dia memakai jasnya dan pergi keluar.
☘☘☘☘☘
Sore harinya, saat kakek sedang berada di balkon kamarnya dia mendapat kabar dari orang suruhannya.
"Haloo tuan, anak buah saya kemaren melihat nona Rayyan pergi berdua bersama Miran tuan.." kata orang itu dari balik teleponnya.
"Apa??? Kenapa kalian tidak langsung saja mengeksekusinya!!" kata kakek dingin..
__ADS_1
"Maaf tuan, kami belum ada kesempatan tuan" jawab orang itu..
"Baiklah, besok malam adalah acara lamaran cucu saya.. Setelah acara itu selesai, saya mau kalian segera menculiknya.. Paham!!!" perintah kakek.
"Baik tuan" jawab orang itu lagi.
Kakek langsung saja mematikan teleponnya tanpa mendengarkan kata kata dari orang itu.
"Tunggu saja Rayyan, aku akan menyingkirkan mu.. Kamu adalah sumber kesialan bagi keluarga ini!!" gerutu kakek.
Menjelang malam, mama Anna dan papa Hazar berada di dalam kamarnya.
"Ma.. Besok malam adalah acara lamaran Rayyan. Papa sudah tidak tau harus melakukan apa lagi.. Papa tidak tega melihat Rayyan masuk dalam penderitaanya sendirian." kata papa Hazar dengan wajah murung nya.
"Mama juga bingung pa, demi kita Rayyan rela menjual kebahagiaannya" kata mama Anna yang mulai menangis.
Papa Hazar lalu memeluk mama Anna. Namun tiba tiba listrik padam dan membuat bingung seisi rumah. Termasuk Rayyan. Rayyan memilih keluar kamar untul mengecek kenapa mati listrik. Saat Rayyan akan berjalan menuju ke tangga, tiba tiba Rayyan dibekap dari arah belakang dan ternyata itu Miran.
Miran sengaja mematikan listrik di rumah itu agar kedatangannya tidak di ketahui oleh orang orang. Rayyan terkejut melihat Miran bisa berada di sana.
"Miran! Untuk apa kamu datang kesini hah" tanya Rayyan berbisik.
"Rayyan, kamu tetap milikku samapai kapan pun kamu milikku" kata Miran dengan wajah sedihnya.
"Aku memang dulu pernah jadi milikmu Miran, tapi tidak sekarang. Sekarang sudah berbeda.. Kini aku tidak lagi percaya kepadamu.. Kamu terlalu banyak berbohong." kata Rayyan.
"Aku tidak bisa ikut dengan mu Miran.. Aku tidak mau lagi ikut dengan mu." kata Rayyan sambil memberikan sebuah foto.
Miran menerimanya, saat melihat isi foto itu tangan Miran bergetar menahan emosi bercampur sedih.. Dia tidak menyangka Rayyan sudah mengetahuinya, air mata Miran tanpa disadari menetes ke pipinya.
"Kembalilah ke istrimu Miran, pergilah dari sini" kata Rayyan menahan air matanya agar tidak menetes.
Miran akhirnya pergi meninggalkan Rayyan untuk kembali ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Miran berteriak memanggil Mei.
"Mei!!!... Mei!!!" panggil Miran.
Mendengar namanya di panggil, Mei menghentikan aktifitasnya dan pergi menuju sumber suara untuk menemui Miran.
Semua orang di rumah itu pun ikut keluar mendengar suara Miran berteriak..
"Mei... Dulu aku sudah pernah mengatakannya kepadamu, jika kamu mengatakan pernikahan kita ke orang lain bahkan ke Rayyan. Maka aku akan menceraikanmu.. Ternyata kamu melakukan itu.. Maka malam ini juga aku menceraikanmu!!!" kata Miran lantang di depan semua orang orang di sana.
Mendengar itu, Mei langsung histeris menangis dan berlutut di kaki Miran.
__ADS_1
"Miran hiksss.. Aku mohon jangan ceraikan aku.. Aku tidak mau Miran... Aku sangat mencintaimu Miran.. Aku mohon jangan" kata Mei.
Mama Eni berusaha menarik Mei agar berdiri tidak merendahkan dirinya seperti itu.
"Tidak, aku akan menceraikanmu.. Aku pernah mengatakan itu dan kamu justru melakukannya.. Inu pilihanmu sendiri Mei" kata Miran mengingatkan lagi.
"Miran, kamu melakukan ini hanya untuk Rayyan yang bahkan besok malam mereka akan menggelar acara lamarannya??" teriak Mei keceplosan.
Mendengar itu Miran terkejut, dia tidak menyangka Rayyan akan melangsungkan pernikahannya dalam waktu dekat. Dengan kondisi yang masih sangat emosi Miran pergi meninggalkan rumah. Tanpa ada satu orang pun yang bisa mencegahnya.
Mei terus menangis dalam pelukan mamanya.
"Ini semua gara gara nenek!!! Dengan semua rencana balas dendam nenek Miran menjadi seperti ini!! Mana janji nenek yang akan membantuku! Mana!!" teriak Mei.
"Mei... Mei.. Tenang lah dulu" jawab nenek yang ikut bingung.
Karena terus menangis dan syok Mei mulai kehilangan kesadarannya. Mei jatuh pinsan. Semua orang terkejut melihat Mei roboh. Lalu dengan sigap Riyan membopong tubuh Mei ke dalam kamarnya lalu pergi keluar kamar.
Tak beberapa lama kemudian, Mei mulai siuman karena mencium bau minyak angin yang di oleskan mamanya.
"Kamu sudah sadar nak? Minumlah inix kata mama Eni memberikan teh manis.
"Hiksss mama... Miran menceraikan aku" Mei kembali menangis.
"Tenang dulu Mei..." mama Eni mengelus elus punggung Mei.
Miran mengirim pesan kepada Riyan untuk pergi ke kamarnya dan mengambilkan beberapa baju untuknya. Malam ini dia tidak akan pulang ke rumah.
Saat Riyan sudah mendapatkan beberapa baju Miran, dia kembali keluar kamar kamar Miran dan akan mengantarnya ke Miran.
"Riyan..." panggil Mei lirih dengan wajah sembab.
Riyan berhenti, dan melihat wajah Mei yang sembab.
"Katanya kau saudaraku.. Tapi kenapa kamu tida membantuku Riyan untuk mendapatkan Miran. Padahal kamu susah tau, sejak kecil aku mencintai Miran. Riyan... Kamu orang terdekat Miran, ku mohon hentikan Miran untuk terus mengejar Rayyan" kata Mei masih berusaha untuk mendapatkan Miran
"Maaf Mei, ini bukan masalah saudara atau bahkan orang terdekat sekalipun.. Aku tidak bisa mencegah Miran, ini masalah hati tidak bisa di paksakan" jawab Riyan lembut lalu pergi meninggalkan Mei sendirian dengan wajah terkejut mendengar jawaban dari Riyan.
**terimakasih ya yang udah komen..
maaf sekali, jadi tidak on time up datenya...
tapi autor akan terus berusaha buat cepet cepet up nya..
jangan lupa tinggalkan jejak ya..
__ADS_1
boleh juga mampir di novel PHP (pacarku Harimau Putih)..
terimakasih semuanya..😘😘**