Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
Arga ditembak


__ADS_3

Arga melamun, dia memikirkan ucapan sang mama. Dan dia semakin merasa sia sia menahan Mei berada bersamanya. Akhirnya, Arga bangun dan menaruh pistolnya di sebuah bangku, dia memutuskan untuk memilih melepaskan ikatan Mei.


Mei bingung tiba tiba Arga melepaskan ikatannya. Dan saat Arga sedang sibuk dengan aktifitasnya, Mei melihat pistol Arga yang tergeletak.


Dorrr...


Saat Arga hendak pergi keluar, tiba tiba dia rubuh bersimba darah pada bagian pundaknya sebelah kiri. Mei menembak Arga.


Melihat Arga pinsan, Mei menjadi bingung lalu mencoba menelpon Riyan menggunakan ponsel Arga.


☘☘☘☘☘


Ponsel Riyan bergetar tanpa nama.


"Hallo" Riyan menerima panggilan tersebut.


"Hallo Riyan.. Tolong aku... Cepat jemput aku Riyan.. Tolong.." kata Mei.


"Baik baiklah Mei.. Segera kirim lokasi mu.. Aku segera kesana" jawab Riyan panik mendengar suara Mei.


"Riyan.. Ada apa?? Mei tidak apa apa?" tanya mama Eni panik mendengar nama Mei.


"Tidak apa apa bu.. Aku akan menjemputnya, anda tunggulah di rumah menunggu kabar dari nenek Aisah" kata Riyan bergegas menjemput Mei.


Riyan langsung pergi menuju di mana Mei disekap oleh Arga. Setengah jam kemudian Riyan tiba di lokasi yang diberikan oleh Mei.


Riyan menyiapkan pistolnya, dan perlahan masuk ke dalam gudang. Saat pintu gudang terbuka, Riyan sigap memasang kuda kuda dengan pistol ke arah kedepan. Namun pandangan di depannya membuatnya terkejut, melihat Arga tergeletak.


"Mei, kamu tidak apa apa? Apa yang terjadi.. Ada apa dengannya??" tanya Arga.


"Ayo Arga, kita pergi dari sini...cepat." kata Mei takut Arga terbangun.


"Tidak.. Aku tidak akan kemana mana sebelum menolongnya." jawab Riyan.


Riyan pun menelpon anak buahnya, dia menyuruh anak buahnya untuk mengantar Arga kembali ke rumahnya. Setelah melihat Arga aman, Riyan dan Mei pun kembali pulang ke kediaman Aslan.


☘☘☘☘☘


Setibanya di rumah, mama Eni begitu bahagia melihat putrinya kembali pulang. Dia berlari lalu memeluk putrinya.


Di hadapan keluarganya, Riyan menanyakan apa yang terjadi dengan Arga.


"Mei, sebenarnya apa yang terjadi.. Apa kamu yang menembak Arga??" tanya Riyan dan semua orang memandang lekat Mei.


"A... Aku terpaksa menembaknya. Se..sebab.... Mmm Arga ingin melecehkan ku.. Hiksss... Aku terpaksa.. Hiks" Mei kembali menangis untuk meyakinkan kebohongannya.


Semua orang di sana terkejut dengan pengakuan Mei. Terutama Mia yang tidak begitu saja mempercayai ucapan Mei.

__ADS_1


"Tidak... Kamu jangan berbohong Mei.. Arga bukan pria seperti itu.. Dia pria yang memiliki rasa hormat terhadap wanita" kata Mia.


Plak...


"kamu pikir Mei berbohong setelah apa yang terjadi hahh??? Jika dia memiliki rasa hormat dengan wanita, dia tidak akan menyekap Mei!!" mama Eni menampar Mia dan lebih percaya dengan kebohongan putrinya.


☘☘☘☘☘


Di kediaman keluarga Sadli, mama Sinta terus mondar mandir.. Perasaanya tidak karuan, dia merasa gelisah.


Lalu dia teringan dengan seseorang yang dia jadikan mata mata..


"Hallo ada kabar apa di sana?" kata mama Sinya berbisik.


"Nona Mei sudah kembali, dan nona Mei mengaku dia akan dilecehkan oleh mas Arga lalu dia menembak mas Arga" jawab orang tersebut.


Praaakkkk


Ponsel mama Sinta seketika itu juga terjatuh...


"Argaaaaa...!!!" mama Sinta berteriak menangis sambil berlutut.


Teriakan mama Sinta membuat seisi rumah langsung panik.


"Arga... Arga meninggal... Dia tertembak" kata mama Sinta yang seketika membuat semuanya menjadi semakin panik.


Klekkk


Papa Bran yang melihat itu langsung mendekati Arga, dan terkejut melihat Arga berlumuran darah.


"Mama.. Segera telepon dokter keluarga.. Cepaatt!!" teriak papa Bram sambil membawa Arga menuju ke kamarnya.


Setelah mendapatkan penanganan, ternyata luka Arga tidak terlalu parah karena peluru hanya menyerempet di bagian pundaknya. Setelah mendapatkan penangan, ke adaan Arga semakin membaik dari sebelumnya.


"Kamu tidak apa apa nak??" tanya papa Bram.


"Sudah lebih baik pa.. Aku ingin istirahat" kata Arga yang ingin beristirahat.


Mereka pun memilih pergi meninggalkan Arga. Dan mama Sinta menceritakan semua informasi yang dia dapatkan dari mata matanya itu.


"Ini semua ulah Mei... Mei mengaku dia akan di lecehkan oleh Arga lalu dia menembak Arga" kata Mama Sinta.


"Dari mana kamu mendapatkan info ini Sinta" tanya kakek penasaran.


"Mmmm sa..saya mmm..." mama Sinta bingung harus menjawab apa.


"Mamam memilki mata mata di keluarga Aslan" kata Rosa membocorkan rahasia mamanya.

__ADS_1


Salah satu ART Sadli yang bernama Tutik pun terkejut mendengar itu, sebab dia sendiri pun menjadi mata mata yang dikirim nenek Aisah.


Tak lama kemudian, pintu utama kembali terbuka dan munculah papa Hazar bersama Rayyan. Mama Anna yang melihat putrinya kembali langsung menangis dan berlari memeluk Rayyan.


"Putri mama.. Kamu tidak apa apa nak?? Kamu kembali sayang.." kata mama Anna sambil memegang kedua pipi putrinya.


"Rayyan baik baik saja ma... Ini ada apa ma??" tanya Rayyan yang menatap mama Sinta dengan wajah yang sembab.


"Arga tertembak nak.." jawab mama Anna.


"Apa??" Rayyan terkejut dan langsung menuju ke kamar Arga untuk melihat kondisinya.


Perlahan Rayyan membuka pintu kamar Rayyan, awalnya Arga cuek.


"Aku sedang tidak ingin di ganggu" jawab Arga tanpa menoleh ke arah pintu.


"Kak.. Apa kamu baik baik saja?" tanya Rayyan lirih.


"Rayyan..." panggil Arga yang terkejut melihat kedatangan Rayyan.


Arga merasa lega melihat kondisi Rayyan yang baik baik saja dan telah kembali ke rumah.


"Kak.. Maafkan aku.. Bukan mauku untuk lari dari rumah, aku di paksa oleh Miran" kata Rayyan berkata jujur.


"Aku paham Rayyan, aku melihat mu baim baik saja sudah cukup" kata Arga dengan tersenyum.


☘☘☘☘☘


Nenek dan Miran telah tiba di rumah. Melihat kedatangan mereka berdua mama Eni menghampirinya.


"Gara gara perbuatanmu, Mei hampir saja kehilangan kehormatan!!" kata mama Eni menyalahkan Miran.


Miran marah, dia semakin membenci Arga. Miran menghampiri Mei yang tengah beristirahat di kamarnya. Melihat kedatangan Miran, Mei merasa senang.


"Apa yang terjadi Mei.." tanya Miran.


"Arag ingi memperkosaku tapi aku berhasil menembaknya" kata Mei dengan santainya mengucapkan kebohongannya.


"Dia memang pantas menereminya" kata Miran percaya begitu saja.


"Miran.. Aku mohon lupakanlah Rayyan" kata Mei berdiri di depan Miran dengan wajah memohon.


"Maaf Mei, aku tidak bisa.. Aku akan tetap mengejarnya.. Sekarang kamu beristirahatlah" kata Miran.


**trimakasih ya yang udah support author...


jangan lupa like dan komentnya buat penyemangat author melanjutkan cerita ini.

__ADS_1


semoga tidka bosan membaca karya author yang satu ini..


terimakasihhh 😊😊😊🙏🙏🙏**


__ADS_2