
Situasi semakin memburuk. Kedua pihak sama sama terbawa emosi. Namun dari mereka belum ada yang melepas tembakan ke arah lawan. Hanya saling tatap bak elang sedang mengincar mangsanya.
Miran pun tiba di sana bersama papa Hazar. Miran tanpa sedikitpun merasa takut menerobos masuk barisan yang masih bersitegang
"Rayyan!!! Rayyan!!!" teriak Miran.
Mama Anna yang mendengar nama Rayya. Di panggil pun keluar dari persembunyian.
"Bu Anna, jangan.." cegah Ike.
"Aku harus menemui Miran" jawab mama Anna.
"Rayyan!!" panggil Miran lagi..
Papa Hazar hanya mengikuti Miran dari belakang.
"Di mana Rayyan??" tanya Miran melihat mama Anna keluar.
"Rayyan tidak berada di sini.. Kami tidak melihatnya." jawab mama Anna yang terlihat semakin panik.
"Mana mungkin dia belum tiba, dia lebih dulu menujy ke sini" kata papa Hazar.
"Ini pasti ulah kalian menculik Rayyan!!!" tuduh nenek.
"Jaga mulutmu Aisah.. Untuk apa kami menculik Rayyan!!!" bentak kakek.
Tidak lama kemudian Arga datang dan turun dari mobilnya sambil menodong pistol.
"Ini pasti ulahmu kan!!! Katakan di mana Rayyan!!!" Miran menuduh Arga.
"Apa yang kamu bicara kan hahh!!! Jangan sembarangan menuduh ku!!" bantah Arga.
Dalam waktu bersamaan, Riyan mendapat telefon dari Kadir penjaga yang mengantar Rayyan.
Kadir mengabarkan, Rayyan diculik oleh beberapa pria saat menuju ke rumah perkebunan..
Mendengar itu Riyan terkejut dan melaporkannya ke Miran.
"Miran, Rayyandi culik dalam perjalanan kemari. Kadir masih berada di lokasi.. Kita ke sana sekarang" kata Riyan.
Mendengar itu, Miran bergegas pergi menuju lokasi. Sedangkan papa Hazar dan Arga menyusul di belakangnya. Nenek Aisah beserta anak buahnya memilih kembali pulang.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di lokasi Kadir. Sesampainya di sana, kondisi Kadir tidak sadarkan diri, terduduk di luar mobil dengan wajah yang penuh luka lebam.
"Kadir... Kadir..." panggil Miran berusaha membangunkan anak buahnya itu.
"Tu..tuan Miran.." jawab lemah Kadir.
"Apa yang sebenarnya terjadi" tanya Miran.
"Ka..kami tiba tiba di cegat oleh beberapa orang bersenjata, mereka membawa paksa nona.. Sa..saya berusaha mencegahnya, namun saya kalah tenaga dan ti..tidak bisa menjaga nona tuan.. Sa..saya sempat mendengar mereka akan berhenti di pom bensin terdekat tuan.." jawab Kadir yang masih lemah.
☘☘☘☘☘
Di dalam mobil, nenek Aisah merasa sesak nafasnya..
"Samsuk, menepilah dahulu" kata nenek.
Samsulpun menepikan mobilnya. Lalu nenek keluar dari mobilnya dan segera menghirup udara banyak banyak.
__ADS_1
"Siapa yang berani menculik Rayyan.. Apa ada orang lain yang sedang ingin mengusikku???" kata nenek bingung.
"Samsul, suruh anak buahmu untuk mencari tau siapa yang berani menculik Rayyan!!" perintah nenek.
☘☘☘☘☘
Papa Hazar, Arga dan Miran kini berada di sebuah pon bensin terdekat dan mencoba mengecek. Sedangkan Riyan membawa Kadir ke rumah sakit. Mereka bertiga mencoba menanyakan ke para pegawai di sana. Bahkan papa Hazar sempat menanyakan cctv, namun tidak mendapatkan hasil.
Karena sama sama panik dan emosi, Miran dan Arga kembali bertengkar.
"Kamu tidak pantas menjadi suami Rayyan. Untuk melindungi Rayyan saja kamu tidak mampu!!" kata Arga.
"Dan penculikan ini pasti ulahmu kan!!! Bahkan kamu saat di rumah mengatakan tidak akan tinggal diam.. Jika bukan kamu, lalu siapa lagi hahhh!!" Miran tak kalah emosi.
Papa Hazar mencoba melerai mereka berdua.
"Cukup!!! Cukup!!!" teriak papa Hazar.
Arga memilih pergi dari sana. Kini tinggallah papa Hazar dan Miran.
"Permisi maaf tuan... Tadi saya melihat ada seorang gadis yang berambut keriting yang dibawa paksa tiga orang menuju ke sebuah desa" kata salah satu pemuda di sana.
"Apa??? Kamu yakin??" tanya Miran memastikan.
"Ya tuan saya yakin.. Mungkin gadis itu yang tuan maksud" jawab puda itu lagi.
Spontan Miran dan papa Hazar segera mengejar penculik tersebut. Saat dalam perjalanan Miran mendapat telepon dari Riyan.
"Hallo Riyan." jawab Miran.
"Kamu di mana??? Aku sedang mencoba mencegat mereka di perbatasan.. Tapi belum ada hasil" jawab Riyan.
Riyan terkejut mendengar Miran bisa satu mobil dengan pak Hazar. Padahal dia tau bahwa Miran sangat membenci pak Hazar bahkan ingin membalaskan dendamnya.
Tidak lama ponsel Riyan kembali berdering.
"Ya hallo nek" jawab Riyan.
"Dimana Miran sekarang Riyan??" tanya nenek
"Miran sedang bersama pak Hazar mencari Rayyan nek" jawab Riyan.
"Baik terimakasih, kasih kabar jika ada perkembangan." jawab nenek lalu mematikan ponselnya.
"Jadi Miran bersatu dengan musuh untuk mencari Rayyan??" kata nenek geram.
Lalu nenek masuk ke dalam rumah, di snaa terlihat mama Eni tengah duduk bersantai lalu nenek menghampirinya.
"Eni, Rayyan di culik oleh orang, apa kamu pelakunya??" tuduh nenek.
"Untuk apa aku menculik Rayyan. Terpikirkan saja tidak." jawab mama Eni.
☘☘☘☘☘
Miran dan papa Hazar sedang dalam perjalanan menuju ke desa. Bahkan selama perjalanan mereka berdua saling bertengkar dan saling menyalahkan akan penculikan Rayyan ini.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah desa. Miran langsung turun dan menanyakan ke penduduk di sana.
"Maaf permisi, apa anda melihat ada seorang gadis berambut keriting di bawa oleh 3 orang pria??" tanya Miran.
__ADS_1
"Maaf tuan, kami tidak melihat" jawab salah satu laki laki di sana.
"Aku melihat ada seorang perempuan dibawa paksa oleh 3 orang laki laki meminta tolong. Tapi aku tidak tau kemana mereka pergi" kata salah satu anak kecil.
Miran dan papa Hazar melanjutkan pencarian mereka hingga larut malam. Mereka masih terus berusaha menanyakannya ke pada penduduk yang mereka jumpai di sana.
☘☘☘☘☘
Di rumah pertenakan, semua orang masih menunggu kabar dan tampak khawatir dengan keadaan Rayyan. Bahkan hingga subuh mereka masih menunggu kabar. Mama Anna tidak sedikitpun beranjak dari pintu gerbang. Dia terus berdiri di sana, bahkan di ajak masuk atau hanya sekedar minum pun dia tidak mau.
Ponsel Rosa tiba tiba berdering. Melihat Riyan memanggilnya, Rosa menyingkir dari sana dan pergi ke halaman samping.
"Hallo." jawab Rosa.
"Rosa.. Apa penculikan ini kamu yang merencakan??" tudih Riyan..
"Riyan.. Aku tidak akan mungkin senekat itu.. Bahkan keluargapun tidak ada yang tau siapa yang menculik Rayyan. Hingga detuk ini mereka masih menunggu kabar tentang Rayyan" jawab Rosa.
☘☘☘☘☘
Di kantor kepolisian, Arga dan papa Bram mencoba meminta bantuan ke pihak polisi untuk mengusut penculikan ini.
Sedangkan papa Hazar dan Miran akhirnya memilih kembali karena tidak ada hasil yang mereka peroleh. Papa Hazar mengantar Miran hingga di depan rumah.
"Miran tunggu.." panggil papa Hazar.
"Sebagai ayah, aku tidak akan berhenti mencari Rayyan hingga mendapatkannya" kata papa Hazar dingin.
"Aku tidak mengenal kata kata ayah, karena semenjak kecil ayahku mati ditanganmu.. Meskipun kamu ayah Rayyan, kamu tetaplah musuhku.." kata Miran tak kalah pedas.
"Suatu saat nanti kamu akan tau fakta yang sebenarnya, bahwa aku bukan pembunuh kedua orang tuamu. Akan aku buktikan bahwa aku tidak bersalah." kata papa Hazar.
Setelah itu Miran masuk meninggalkan papa Hazar. Di dalam nenek melihat Miran pulang di antar oleh papa Hazar.
"Ternyata kamu di antar pulang pulang oleh musuh hingga di depan pintu. Kamu sungguh memalukan bekerjasama dengan musuh." kata nenek.
"Aku mencari istriku, dia mencari putrinya. Aku tidak memaafkan Hazar, dia tetap musuhku" jawab Miran.
Miran memilih keluar rumah. Saat berduri di depan pintu gerbang, dia melihat seorang anak yang tengah bermain sepeda. Dan saat itu pula dia teringat di mana moment dia mengajari Rayyan menaiki sepeda.
☘☘☘☘☘
Papa Hazar tiba di rumah, di sana mama Anna masih setia menunggu di dekat pintu gerbang.
Melihat mobil sang suami mama Anna langsung berdiri, berharap apap Hazar sudah menemukan sang putri.
Namun harapan tinggalah harapan, terlebih melihat wajah papa Hazar yang terlihat sedih.
"Aku belum bisa menemukannya" kata papa Jazár lirih.
"Ini salah paman. Dulu paman mencegah ku untuk merebut Rayyan. Dan paman lebih memilih untuk percaya kepada musuh kita Miran. Bahkan untuk mencari Rayyan pun paman pergi bersama Miran." kata Arga emosi.
"Apa benar Hazar!!! Kamu sungguh memalukan. Meski tujuan kalian sama, aku tidak suka kamu bersatu untuk mencari Rayyan. Bahkan di rumah ini begitu banyak orang kenapa harus bersama Miran." kata kakek tidak kalah emosi.
"Aku tidal peduli dengan apapun asal aku bisa menemukan Rayyan. Meski Miran adalah musuhku sekalipun!!" papa Hazar semakin emosi.
"Aku sangat kecewa dengan kalian.. Ini semua gara gara kalian hingga menbuat Rayyan hilang" kata Arga.
Arga pun kembali memilih pergi dari rumahnya.
__ADS_1