Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
kehilangan Rayyan dan Miran


__ADS_3

Mama Sinta mengambil handphonenya, dia mencoba menelfon putranya itu..


Beberapa kali panggilan tidak dijawab oleh Arga, hingga panggilan yang ke 5 Arga mau menjawabnya..


"Hallo Arga, nak kamu di mana nak?" kata mama Sinta khawatir...


Mendengar nama Arga di sebutkan mama Anna berhenti dan berputar arah lalu merebutnya..


"Ma... Rayyan sudah pergi ma hiksss... Dia pergi" ucap Arga terisak penuh penyesalan.


Sekita handphone yang berada di tangan mama Anna terlepas begitu saja hingga jatuh dan pecah..


Mama Sinta yang melihat itu terkejut dia berfikir putranya sudah membunuh Rayyan.


Mama Anna kembali mencari sang suami, saat sudah berada di ujung tangga paling atas dia melihat sang suami sedang bersama sang mertua..


"Apa yang sudah Arga lakukan???" mama Anna bertanya dengan penuh emosi...


"A P A Y A N G S U D A H Arga lakukan!!!!" tanya mama Anna dengan emosi yang sudah meluap dan mencengkeram kerah baju suaminya..


"Kenapa dia bilang Rayyan sudah pergi!!memangnya apa yang sudah dia lakukan haaahhh!!!" emosi mama Anna dan mulai menangis...


"Apa yang kamu maksud pergi mah?" tanya papa Hazar terkejut dan langsung mengambil handphone untuk menelfon Arga..


"Paman...hikss..., Rayyan paman" tangis Arga setelah melihat siapa yang menelfonnya..


"Maksud kamu apa Arga, paman memberikan Rayyan ke kamu karena paman percaya dengan kamu tidak akan bisa membunuhnya" emosi papa Hazar..


Kakek yang mendengar ucapan papa Hazar baru menyadari apa alasan papa Hazar memberikan Rayyan ke Arga agar Arga bisa membawa pergi Rayyan dan itu membuat dia merasa dipermainkan oleh papa Hazar dan cucunya..


"Rayyan melompat dari jembatan paman, dia langsung saja terjun ke sungai dan tidak muncul kembali" isak Arga.


Papa Hazar terkejut setengah mati, kakinya terasa lemas badannya bergetar dan setitik air mata mulai keluar dari matanya...


Mama Anna yang melihat itu pun mulai frustasi dan minta penjelasan akhirnya papa Hazar pun menjelaskan apa yang terjadi seketika itu mama Anna menangis se jadi jadinya dan jatuh pingsan..


Papa Hazar reflek memeluk tubuh mama Anna yang terjatuh lemas lalu mengangkatnya dan membawanya ke kamar...


Setelah menidurkan mama Anna di tempat tidur, papa Hazar menyelimutinya dan mencari Ike..


"Ike, saya titip istri saya... Saya mau menyusul Arga" kata papa Hazar dan langsung meninggalkan Ike..


Papa Hazar segera menuju ke jembatan, di sana dia melihat ada Riyan yang sedang menelfon dan Arga yang sedang menangis terduduk di pinggiran jembatan..


"Arga!!!" panggil papa Hazar..


"Paman.." Arga menoleh..


"Di mana Rayyan" tanya papa Hazar sambil menengok ke sungai..


Arga hanya menggelengkan kepala, melihat itu papa Hazar langsung memegangi kepalanya dan terduduk menangis...


"Apa yang kamu lakukan Arga, aku sudah mempercayakannya kepada mu" isak papa Hazar..


"Maafkan aku paman, ini di luar dugaanku paman maafkan aku, aku tidak bisa mengejarnya" Arga terus menangis dan menyalahkan dirinya sendiri...


"Hallo.. Kerahkan beberapa orang untuk mencari Miran di tepi sungai segera akan saya share lokasinya" kata Riyan yang ikut panik..


Papa Hazar yang mendengar itu pun bingung dan berdiri mendekati Riyan.


"Apa yang kamu maksud mencari Miran?" tanya papa Hazar.


"Miran menyusul Rayyan terjun setelah Rayyan melompat dari jembatan ini" jelas Riyan ekspresi dan bahasa tubuh yang kebingungan.


Papa Hazar langsung menoleh menatap Arga dengan ekspresi yang sulit diartikan.


Papa Hazar pun mengambil handphonenya dan memanggil anak buahnya untuk ikut membantu pencarian...

__ADS_1


Tidak lama berselang papa Bram datang dan menanyakan keadaan. Setelah mendapat penjelasan dari papa Hazar, papa Bram akan membantunya untuk mencari Rayyan dan mereka berdua berpelukan..


"Trimakasih Bram" papa Hazar memeluk papa Bram.


"Jangan begitu kak, kita saudara dan Rayyan berarti anakku juga" kata papa Bram..


Saat mendengar bahwa Miran ikut terjun ke dalam sungai, Rosa langsung mematung dan detik berikutnya histeris di dalam kamarnya. Dia berfikir bahwa Miran tidak akan selamat...


"tidak tidak, kenapa sampai sebegitunya Miran terhadap Rayyan hingga rela bertaruh nyawa untuk menyusul Rayyan" batin Rosa sambil menjambak rambutnya dan terus menggelengkan kepalanya..


Sedangkan kakek, mendengar kabar Miran ikut terjun ke dalam sungai langsung berjalan menuju ke kediaman keluarga Alan


Flashback on.


Setelah pernikahan Miran dan Rayyan, di pagi harinya saat nenek masih berada di makam putranya, nenek mengirim pesan ke kakek Sadli melalui orang suruhannya bahwa dia sudah kembali dan ingin bertemu di suatu tempat..


Dan akhirnya mereka pun berjumpa, kakek Sadli dengan anak buahnya sedangkan nenek Aisah hanya dengan orang kepercayaannya..


"Apa kabar Sadli" senyum sinis nenek Aisah.


"Kau sudah kembali ternyata Aisah.. Apa tujuanmu ingin bertemu dengan ku" kata kakek dengan nada dingin..


"Kamu kenal dengan Miran???" tanya nenek.


"Ada apa dengan dia?" kakek Sadli curiga..


"Dia adalah cucuku yang aku kirim untuk balas dendamku ahaahahah" nenek merasa senang.


"Dan sebentar lagi kamu akan mendapatkan kejutannya Sadli atas penderitaan yang kamu berikan padaku hahahah" nenek tertawa..


Seketika kakek mengingat semua rencana kerja samanya dengan Miran, dan surat perjanjian yang dengan cerobohnya dia tanda tangani. Padahal waktu itu papa Hazar sudah memperingatkan..


"Apa maksud kamu Aisah," kakek mulai meras sesak nafas mendengar ucapan nenek Aisah..


"Kini balas dendamku sudah selesai Sadli melalui Miran, dan nikmati saja apa yang akan terjadi" bisik nenek dengan nada penuh ejekan...


Kakek hanya terdiam, memikirkan apa yang akan terjadi dan terus menatap kepergian nene Aisah.


Sesampainya kakek di pintu utama kediaman keluarga Alan langsung saja mendobrak pintu yang akibatnya membuat keributan..


Nenek yang sedang berada di lantai dua pun langsung melihat apa yang terjadi dan terkejut dengan kedatangan kakek Sadli..


"Aisahhh... Tidak butuh lama bagiku untuk balas dendam, tidak sepertimu" teriak kakek..


Teriakan kakek pun memancing rasa penasaran seluruh anggota keluarga Alan..


Semua langsung berkumpul di sana.


"Aku tidak seperti mu yang bersembunyi begitu lama dan menyusun balas dendamu" teriak kakek lagi sambil terus bertahan karena penjaga di sana terus mencoba mendorong kakek..


"Cucu yang kau kirim untuk balas dendammu sudah mati terjun kedalam sungai hanya untuk mengejar seorang gadis... Sungguh tragis" senyum kakek lalu pergi meninggalkan kediaman Alan.


Nenek yang mendengar itu mencoba tidak percaya..


Berbeda dengan Mei yang langsung histeris mendengar berita itu,..


"Tidak...tidak...Miraaannnn!!! Ini tidak benar kan ma... Nenek itu bohongkan nek hiksss" tangis Mei..


"Miran tidak akan melakukan itu" jawab nenek meski hatinya sebenarnya gusar..


Nenek pun berjalan masuk kedalam kamar..


Berbeda dengan Mei, dia terus histeris dan langsung mengejar kakek Sadli..


"Tunggu" teriak mei..


Kakek berhenti dari langkahnya dan menoleh..

__ADS_1


"Anda pasti berbohongkan?? Anda hanya akan mengecoh kami kan??" isak Mei.


"Apa untungnya bagi saya untuk berbohong, jika tidak percaya tanyakan saja kepada asistennya itu" jawab kakek dingin..


Tubuh Mei pun merosot tak berdaya, dia terus mangis...


Lama dia terduduk di sana, hingga mama Eni datang menghampiri Mei..


"Mei, apa yang kamu lakukan?? bangunlah" tanya mama eni..


"Mirann ma...hiksss Miran" Mei terus menangis..


"Ayo kita ke kamar dulu, akan mama pastikan dulu kabar itu" mama Eni mencoba menenangkan Mei..


Nenek yang sedang di kamarnya pun memanggil asisten kepercayaannya untuk mencari tau kabar tersebut..


Tidak bisa di bohongi, hatinya pun sebenarnya gelisah..


☘☘☘☘☘


Miran ikut terjun ke dalam sungai, sungai yang sangat dalam dan arus yang begitu deras. Miran mencoba menggapai tangan Rayyan..


Rayyan yang saat itu masih sadar menolaknya mencoba terus menghindar melihat Miran ikut terjun menyusulnya, namun dia semakin lemas kehabisan oksigen dan mulai kehilangan keasadarnnya.


Miran menggapai tubuh lemas Rayyan, dan mencoba menepi..


Rayyan sudah tidak bernafas lagi, namun Miran terus mencoba menolong Rayyan dengan pertolongan pertamanya dengan memompa dada Rayyan dan memberikan nafas buatan..


Setelah beberapa saat kemudian, Rayyan mulai terbatuk batuk dan dari mulutnya mengeluarkan begitu banyak air..


Rintik hujan mulai turun, setelah kesadarannya mulai pulih Rayyan bingung karena dia masih bisa selamat dan sangat terkejut melihat Miran di atas tubuhnya.


"Kenapa kamu menolongku setelah kamu mencampakkan aku!!!" seru Rayyan emosi melihat Miran yang menolongnya..


Rayyan mendorong Miran hingga Miran terjerembab kebelakang..


Lalu Rayyan berlari sekuat tenaganya untuk pergi meninggalkan Miran.


"Rayyan tunggu, ikutlah dengan ku" Miran terus mengejar Rayyan.


"Rayyan!!! kamu mau kemana!!! kamu sudah tidak ada tujuan lagi... ikutlah dengan ku" teriak Miran..


Rayyan hanya menoleh tanpa menjawab Miran, dia terus berlari menghindari Miran.


"Awww, ishhhh duuh" Rayyan berhwnti sesaat kesakitan karena kakinya lecet oleh sepatu lalu dia melepaska sepatunya dan membuangnya sembarangan..


"Rayyan tunggu dulu, aku bisa menggendongmu" Miran mencoba meraih Rayyan..


Namun lagi lagi Rayyan mendorong Miran...


"Minggir!!! Tinggalkan aku!!!" Rayyan kembali berlari dengan tertatih...


Hingga tidak jauh lagi, Rayyan melihat ada jalan raya didepannya..


Rayyan mempercepat larinya meski kakinya kesakitan..


"Stop stop, tolong saya" Rayyan mencegah mobil yang melintas dan langsung masuk begitu saja..


Melihat Miran menyusul, Rayyan memaksa sang sopir untuk langsung menjalankan mobilnya.


Miran hanya tersenyum, karena dia sadar mobil siapa itu..


Lalu Miran berjalan dengan santainya karena dia sudah kehabisan tenaganya..


**maaf jika masih kurang greget..


semoga masih suka ya...

__ADS_1


dan mohon like dan krisannya untuk membantu perbaikan author dalam mendalami ceritanya..


terima kasihhh ☺☺☺🙏🙏🙏**


__ADS_2