
Di rumah sakit, mama Anna sedang menunggu Gendis hingga ia tertidur dalam duduknya sambil memegangi tangan kecil Gendis...
Gendis mulai siuman, perlahan Gendis membuka matanya melihat keselilingnya...
"Mama..."suara pelan Gendis memanggil mamanya yang tengah tertidur memegang tangannya...
Sayup sayup mama Anna mendengar suara Gendis, ia berfikir sedang bermimpi namun merasa ada pergerakan ditangan kecil putrinya, mama Anna mengangkat kepala dan memastikan bahwa memang itu suara dari Gendis...
"Sayangg... Kamu sudah siuman nak..," kata mama Anna tersenyum dan tangannya memencet tombol merah yang berada di atas tempat tidur..
Tidak lama kemudian dokter dan perawat datang setelah menerima panggilan dari mama Anna tadi..
"Bagaimana dok?" tanya mama Anna..
"Semua baik baik saja, nona Gendis sudah melewati masa kritisnya semua sangat baik" senyum dokter..
"Sukurlah dok" mama Anna merasa lega.
"Hanya satu pesan saya nyonya, karena sebagian peluru masih berada di kepala nona, tolong jangan membuat nona terlalu banyak tekanan yang membuat dia berfikir dengan kata lain setres" dokter mengingatkan..
"Baik dok akan kami jaga" mama Anna mengangguk mengerti.
"Nanti jika keadaan sudah memungkinkan dari spikologis dan perkembangan kesehatan nona kita bisa menjalani operasi. Tapi tidak dalam waktu dekat.. Kita lihat perkembangannya terlebih dahulu" jelas dokter kembali..
Mama Anna hanya mengangguk..
"Kalau begitu saya permisi dulu nyonya" pamit sang dokter.
"Trimakasih dokter" jawab mama Anna sambil membungkukan badan.
Mama Anna mendekati Gendis sambil tersenyum..
"Anak mama, bagaimana keadaanmu sayang... Apa yang di rasakan" tanya mama Anna.
"Gendis masih pusing mama, tapi gapapa" jawab Gendis..
"Mama kabari papa dulu ya, pasti papa senang" mama Anna mengambil handphonenya..
"Mama, gaun pengantin Gendis mana ma? Sama balon merah Gendis" Gendis menanyakan gaun dan balon pada waktu acara pernikahan.
"Maaf sayang baju itu sangat kotor, jadi mama membuangnya. Mama janji nanti mama ganti yang baru ya sayang" jawab mama Anna mengelus pipi Gendis setelah mengirim pesan ke papa Hazar..
"Baiklah" Gendis cemberut...
Tiba tiba pintu kamar terbuka, ternyata suster mengantarkan makanan dan beberapa obat untuk Gendis...
"Nona cantik, dimakan ya buburnya lalu minum obat agar cepet sembuh" kata suster itu ramah..
"Baik suster" jawab Gendis dengan mimik yang menggemaskan..
Mama Anna hanya tersenyum..
Setelah suster meninggalkan kamar, mama Anna mulai menyuapi Gendis..
☘☘☘☘☘
Ting...
Suara pesan masuk, papa Hazar memeriksa handphonenya..
Setelah membaca isi pesan tersebut, papa Hazar langsung berjalan keluar dan menuju ke mobil untuk segera ke rumah sakit.
"Hazarr..." kakek Sadli memanggil..
"Ya pa.." papa Hazar membalik badannya langsung..
"Mau kemana kamu" tanya kakek..
"Mau ke rumah sakit pa... Gendis sudah siuman" jelas papa Hazar.
"Apa?? Gendis sudah siuman.. Baiklah papa akan menyusul, kamu segeralah ke rumah sakit." kakek merasa sedikit lega mendengar kabar tersebut.
Papa Hazar hanya mengangguk lalu segera menuju ke mobilnya...
Beberapa waktu kemudian, papa Hazar sudah tiba di depan pintu kamar rawat Gendis..
"Halooo sayang, kamu susah siuman" papa Hazar masuk lalu menyapa putrinya.
"Papa..." senyum Gendis sambil mengulurkan tangannya.
Papa Hazar mendekat lalu memeluk Gendis.
__ADS_1
"Kamu sedang makan sayang?" tanya papa melihat mangkok masih ditangan mama Anna.
Gendis hanya mengangguk..
"Ayo sayang lanjutkan lagi masih banyak ini.." mama Anna mendekatkan sendok berisi bubur..
"Sudah mama, Gendis sudah kenyang" tolak gendis..
"Hmmmm baiklah minum obat ya" mama Anna berpura pura kecewa..
Gendis mengangguk, lalu dibantu papa Hazar untuk membenarkan posisi duduk Gendis..
Lalu Gendis pun meminum obatnya..
Tidak lama kemudian kakek Sadli dan yang lain sudah datang..
"Halooo cucu kakek" kakek Sadli masuk kedalam kamar.
"Kakek..." Gendis tersenyum..
Kakek mendekati Gendis, dan duduk disamping Gendis..
"Kakek, tau gak.. Sekarang Gendis susah dewasa" kata Gendis.
"Kenapa bisa begitu?" tanya kakek Sadli..
"Karena Gendis sudah terluka kakek dan masuk ke rumah sakit, karena anak kecil itu tidak bisa terluka... Aku sudah seperti kakak, yang sering terluka karena kakek dan yang lain sering menyakiti kakak" kata polos Gendis...
Kakek terdiam dan melihat keselilingnya. Kata kata Gendis seperti menyekik lehernya dan menyentil hatinya..
Mama Anna hanya menatap mertuanya itu dengan tatapan kecewa..
Dan Arga, yang mendengar kata kata Gendis seperti tersindir karena ulahnya yang membuat Gendis terluka...
"Heii gadis cantik, mau kah paman belikan balon" papa Bram mencoba mencairkan suasana...
"Mau paman, karena balonku susah hilang" Gendis kegirangan...
"Baiklah, kamu harus sembuh dulu baru nanti akan paman belikan balon yang banyak buat keponakan paman yang cantik ini" papa Bram menoel hidung Gendis..
"Baiklah paman, Gendis akan segera sehat" kata Gendis..
"Mama, kenapa hanya kakak yang tidak datang menjengukku ma?" tanya Gendis mengingat kakaknya..
Semua yang mendengar itu langsung terdiam dan saling pandang..
Mereka menyadari bahwa mama Anna tidak tau apa yang sudah terjadi..
Termasuk papa Hazar yang menatap sedih mama Anna, dia merasa bersalah menutupi itu semua..
☘☘☘☘☘
Sesampainya kakek di rumah, kakek akan kembali ke kamarnya..
"Pa..." panggil mama Sinta kakek hanyak berbalik badan.
"Besok akan ada keluarga Bakri yang bersedia meminang Rayyan" kata mama Sinta..
"Suruh datang, dan siapkan semuanya. Jangan sampai ada yang tau cukup kita yang tau" kata kakek Sadli lalu pergi menuju ke kamarnya..
Rosa yang mendengar itu tersenyum puas, karena sebentar lagi Rayyan akan pergi meninggalkan rumah ini..
☘☘☘☘☘
Esok harinya Arga yang sudah mendengar Rayyan akan dilamar oleh laki laki lain,diam diam Arga pergi kekamar Rayyan, ia tidak mau Rayyan kembali jadi milik orang lain karena hatinya benar benar sangat mencintai Rayyan apa lagi melihat keadaan Rayyan jadi seperti ini. Bagaimanapun caranya dia akan mencoba menolong Rayyan..
Tok...tok...tok...
"Rayyan, ini aku Arga... Apa kau ada di dalam?" panggil Arga..
"Ada apa kak" suara Rayyan dari dalam kamar.
"Dengarkan aku Rayyan dan aku mohon kepadamu buka pintunya" kata Arga.
"Aku sedang tidak ingin keluar kak, pergilah... Aku tidak mau kamu berada dalam masalah" suara Rayyan mulai bergetar sambil sesekali melirik..
"Rayyan, skali ini saja percaya pada ku... Ikut lah aku Rayyan.. Aku tidak mau kamu menikah dengan pria lain, kakek akan menjodohkanmu dengan seorang pria yang entah dari mana asalnya" kata Arga..
"Pergilah kak, aku mohon padamu," jawab Rayyan mulai terisak..
"Rayyan keluarlah dulu, kita bicara kan ini" Arga terus berusaha membujuk Rayyan agar mau pergi dari sini.
__ADS_1
"Kakak tidak usah pedulikan aku kak, biarkan aku seperti ini kak" Rayyan mulai menangis...
"Ayolah Rayyan, demi masa depanmu nanti. Percayakan ini pada ku... Aku bisa melindungimu Rayyan, aku bisa membawamu kemana pun kamu mau.. Sudah tidak ada waktu lagi segeralah buka pintu ini" Arga terus mencoba merayu..
"Maaf kak, pergilah... jangan pedulikan aku kak, biarkan aku sendiri kak aku mohon... Aku tidak mau menyakitimu kak... aku tidak mau kamu dalam masalah karena menolongku, lupakan semuanya kak..Maafkan aku" tangis Rayyan semakin menjadi karena Rayyan tau Arga akan selalu ada untuk dia, akan selalu mencoba melindunginya dan sangat menyayangi dia melebihi seorang adik..
Arghhhhh.... Brukkkk..
Arga emosi dan menendang bangku yang ada disitu...
Arga memegangi kepalanya dan menjambak rambutnya sendiri...
Dia tidak rela Rayyan terus tersakiti, namun Rayyan selalu menolaknya.
Dia benar benar frustasi, bingung apa yang harus dilakukannya lagi..
Arga pun pergi meninggalkan kamar Rayyan dengan hati yang kecewa.
Di dalam kamar, Rayyan terduduk di depan pintu lalu menatap ke dua orang yang sedari tadi sudah berada di sana.
Mama Sinta dan Rosa yang sudah mengancam Rayyan jika tidak mau mengikuti kemauan mereka...
Setelah kepergian Arga, mama Sinta dan Rosa pergi meninggalkan Rayyan.
Rosa tersenyum puas melihat keadaan Rayyan.
"Tante, anda sudah saya anggap sebagai ibu saya sendiri hikss...kenapa tante seperti ini kepada saya" tanya Rayyan di sela sela tangisnya..
Mama Sinta hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Rayyan, lalu keluar dan mengunci pintu Rayyan dari luar...
Rayyan terduduk merenung di depan meja riasnya, dia terus bercemin..
Tatapannya kosong, dia sudah tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan..
Pintu kamar Rayyan terbuka.
"Rayyan, cepat bersiaplah" papa Hazar berbisik."
"Ada apa pah," tanya Rayyan..
"Cepat ambil uang ini dan pakailah pakaian tertutup, pergilah dari sini nanti papa menyusulmu" kata papa Hazar.
"Tapi pah" Rayyan ragu.
"Ayolahh Rayyan, papa lakukan ini demi kamu... Pergilah kemana pun dengan uang ini... Nanti papa menyusulmu papa janji" papa Hazar meyakinkan Rayyan..
Setelah Rayyan bersiap siap, papa Hazar mengantar Rayyan lewat pintu belakang...
Sebelum meninggalkan rumah itu Rayyan memeluk papa Hazar, dan dibalas oleh papa Hazar..
Rayyan pun mengendap endap pergi keluar..
Papa Hazar kemudian kembali keruang keluarga seolah olah tidak terjadi apa pun..
Tidak lama kemudian keluarga Bakri datang, mereka membawa beberapa bingkisan untuk seserahan layaknya lamaran..
"Ini saatnya Rayyan kamu akan meninggalkan rumah ini ke pelosok yang jauh di sana dan tidak ada yang akan menggangguku lagidan nikmatilah kehidupan barumu dengan tua bangka uni hehehehe" bati Rosa dengan senyum sinisnya
Beberapa terkejut melihat calon yang akam dipasangkan untuk Rayyan yang ternyata bapak bapak tua...
Setelah menyambut keluarga Bakri, Ike kembali kedapur lalu mengambil handphonenya untuk menelfon Neni yang sedang menemani mama Anna..
Mendengar telefon dari Ike, Neni pergi ke kamar mandi untuk menerima telfon dar Ike..
"Apa!!! Rayyan akan dinikahkan oleh bapak bapak tua??? Kasihan sekali Rayyan, kenapa mereka begitu jahat padahal Rayyan tidak pernah berbuat salah" kata Neni mendengar kabar dari Ike..
Dan tanpa sengaja mama Anna mendengar itu,..
"Maksudnya apa Neni??" mama Anna bertanya...
"Nyonya..." Neni terkejut dan akhirnya mau tidak mau Neni menjelaskan semua yang terjadi..
Mama Anna yang mendengar semua itu langsung menangis dan berlari untuk segera menolong Rayyan...
Mama Anna terus berlari sambil menangis tanpa memperdulikan orang orang yang menatap aneh kepadanya..
"Sayang...hiksss.... Tunggu mama nak...hikss...mama akan menolongmu nak...Rayyan ku sayang..." mama Anna terus berlari dan menangis..
**semoga suka ya...
dan jangan lupa like dan ditunggu krisannya ☺☺☺
__ADS_1
trima kasih 🙏🙏🙏**