Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
balas dendam yang sudah terencana


__ADS_3

Suasana di kediaman keluarga Sadlinsaat ini sedang panik saat mama Anna menyadari putri kecilnya tidak ada di rumah.


"Gendiiiisssss, Gendisss!!!" panggil mama Anna yang menyadari putrinya tidak ada.


"Ada apa ma?" tanya papa Hazar yang terkejut mendengar teriakan istrinya.


"Pa.. Papa lihat Gendis pa?" tanya mama Anna dengan wajah yang khawatir.


"Tidak ma" jawab papa Hazar.


"Tadi Gendia bersama saya, lalu dia ijin katanya ingin menyusul bapak" kata Neni lirih merasa bersalah..


"Nyusul saya? Tapi dia tidak menghampiri saya." sahut papa Hazar terkejut.


"Gendiiisss, papa di mana Gendis pa hiksss" mama Anna mulai menangis.


"Tenang ma.. Tenang, ayo kita cari" kata papa Hazar.


Tiba tiba pintu utama terbuka, dan munculah Gendia dengan Rudi.


"Ya ampuuunnn nak, kamu dari mana saja sayang.." mama Anna langsung berlari memeluk Gendis.


"Gendis habis jalan jalan sama paman Rudi.. Habis Gendia merasa pusing melihat kak Arga marah marah terus" lata Gendis berbohong dengan wajah ditekuk.


"Maakan kami ya sayang, tidak memperhatikanmu.." ucap papa Hazar menggendong putrinya.


"Ayo kita kekamar, kamu istirahat ya.. Pasti capek habis jalan jalan" bujuk mama Anna.


"Mau minum susu ma" kata Gendis dalam gendongan papanya.


"Siap nona cantik" senyum mama Anna.


Rudi yang melihat itu bernafas lega, meski bukan dia yang berbohong namun dia juga ikut membantu nona kecilnya bertemu dengan Miran.


☘☘☘☘☘


Di desa, Rayyan membantu nenek Ike membuat kue. Rayyan begitu mahir membuatnya.


"Waaahhhh, beruntung sekali suamimu Rayyan mendapatkan istri sepertimu.. Dia pasti bangga punya istri yang pintar membuat kue.." puji nenek Ike yang belun mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Rayyan yang mendengar pujian nenek hanya diam, dia tidak berkomentar apa pun. Ike yang melihat raut wajah Rayyan merasa tak enak hati dengan ucapan neneknya.


"Nenek, kapan nenek buat pie apel lagi?" Ike mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Heiii kamu anak gadis, belajarlah membuat sendiri. Lihat lah badan mu bulat seperti kerjaanmu pasti hanya makan saja di sana" celoteh nenek Ike.


"Iihhh apa si nek, aku pernah nyoba bikin pie apel tapi tidak seenak buatan nenek" Ike memasang wajah cemberut nya dan Rayyan tersenyum melihat Ike dengan neneknya.


"Ya..ya..ya akan nenek buatkan, tapi urusi ternak nenek dulu" kata nenek.


"Siap nenek muachhh" Ike kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah permen.


☘☘☘☘☘


Miran kini tengah dalam perjalanan menuju ke rumah nenek Ike setelah mendapatkan alamatnya dari Gendis. Dia sangat semangat mendengar Rayyan pergi meninggalkan Arga.

__ADS_1


"Rayyan, aku tau kamu tidak mencintai Arga. Kamu tidak bisa menikah dengannya" kata Miran dengan tersenyum.


Selama perjalanan Miran terus tersenyum penuh bahagia, senyumnya terus mengembang bahkan sesekali dia bersiul siul.


☘☘☘☘☘


Rayyan dan Ike sedang di ladanf untuk mengawasi domba domba nenek Ike. Ike sedang asik menggiring domba domba iti untuk makan. Rayyan memilih duduk di sebuah batang pohon yang sudah roboh. Dia merogoh sakunya dan mengambil sebuah cermin pemberian Miran sebelum mereka menikah.


Flashback on


Miran mengajak Rayyan bertemu di taman dekat pusat perbelanjaan. Mereka berdua memilih duduk di bangku taman sambil menikmati sore.


"Rayyan, simpan ini selalu karena ini sangat berharga" kata Miran sambil memberikan sesuatu.


"Apa ini?" kata Rayyan sambil menerimanya.


"Bukalah, karena yang ada di dalam itu sangat berharga untukku" kata Miran.


Rayyan membuka barang itu yang ternyata sebuah cermin. Dan Rayyan mengamati pantulan cermin itu hany ada dirinya. Sesaat mengamati Rayyan tersenyum, dia paham apa yang di maksud Rayyan.


"Simpanlah, aku tidak mau kehilangan yang ada di dalamnya" senyum Miran menatap lekat Rayyan dan Rayyan hanya mengangguk sambil tersenyum.


Flashback off


"Eghmmmm" Ike berdehem saat melihat Rayyan terdiam sambil mengamati sebuah cermin.


"Ike.." Rayyan terkejut dan langsung menyembunyikan cermin itu


"Kenapa kamu terus terdiam Rayyan?" tanya Ike.


Ike hanya menggelengkan kepala, dia paham saat ini suasana hati Rayyan masih kurang baik. Butuh waktu untuk memulihkan keceriaannya dulu.


☘☘☘☘☘


Di kediaman keluarga Alan, Riyan menghadap ke nenek yang sedang bersantai dengan mama Eni.


"Nek, ada beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan nenek" kata Riyan.


"Riyan, semua urusan perusahan sudah aku limpahkan sama kamu. Nenek percayakan semuanya kepada mu, jadi tidak perlu lagi membutuhkan tanda tangan ku cukup kamu saja" kata nenek.


"Baiklah nek, saya permisi" jawab Riyan sopan.


"Bu, kenapa urusan perusahan ibi serahkan kepada dia, dia hanya seorang anak ART di sini. Nenek memiliki Miran yang cucu nenek sendiri saya rasa tidak cukup adil jika semua diserahkan kepada Riyan. Dan semua harta bahkan perusahaan nantinya akan jatuh kepada Miran" kata mama Eni yang merasa tidak senang dengan keputusan nenek.


"Aku sudah mempercayakan semua kepada Riyan, meski dia hanya seorang anak ART, tapi dia dapat dengan baik mengelola perusahaan. Biarkan Miran fokus pada balas dendamnya" kata nenek singkat lalu pergi meninggalkan mama Eni.


Dan diwaktu bersamaan, Ira datang menghampiri mama Eni untuk mengantarkan teh.


"Ira, bilang ke putramu itu untuk tau diri siapa dia. Dia tidak pantas menerima semua yang menjadi milik keluarga Alan" kata mama Eni sinis.


"Maaf nyonya, Riyan hanya menjalankan semua perintah yang di berikan oleh ibu Aisah.. Saya permisi" kata Ira dan langsung meninggalkan mama Eni.


Mama Eni hanya menatap kepergian Ira dengan tatapan sebal.


Sedangkan Mei sedang pergi keluar untuk bertemu dengan Rosa. Mereka berdua akan bertemu dekat kediaman keluarga Alan. Rosa berjalan menyisiri gang, dan tanpa dia sadari papa Bram mengetahuinya dan mengikutinya.

__ADS_1


"Mei, ini sangat gawat.. Rayyan kabur dari acara pernikahannya" bisik Rosa


"Apa? Kenapa bisa terjadi? Lalu bagaimana ini?" Mei terlihat panik, dia takut Miran akan pergi mencari Rayyan.


"Aku belum menemukan cara, Rayyan meninggalkan kakakku begitu saja dia hanya meninggalkan sepucuk surat untuk kakakku" jawab Rosa.


"Lalu apa yang harus akun lakukan Rosa, aku juga tidak tau di mana Miran sekarang" Mei semakin gelisah


"Lebih baik kamu kembali lah dulu, coba hubungi Miran terus. Nanti selanjutnya akan aku kabari" kata Rosa sedikit memberi solusi.


Mei pun akhirnya pergi meninggalkan Rosa sendirian dan kembali ke rumahnya sebelum ada yang menyadari.


Tiba tiba papa Bram menjambak Rosa dengan sekuat kuatnya.


"Awww. Papa sakiit pa" rintih Rosa..


"Kamu sekarang berani ya menemui keluarga Alan secara diam diam hahh!!" bentak papa Bram.


"Paaaa... I..ini sakit pa, maaf pa.." rintih Rosa sambil terus memegangi rambutnya yang seakan akan mau lepas dari kulit kepalanya.


"Ayooo cepat pulang" papa Bram mendorong Rosa dengan tetap menjambak rambut Rosa.


☘☘☘☘☘


Malam hari, Ira mencoba menemui nenek Aisah yang sedang termenung di gazebo.


"Bu, siang tadi Riyan bertanya tentang bagaimana meninggalnya Aslan dan Darnia kepada ku. Miran mulai terus menanyakan hal itu. Dan saya sangat yakin Miran diam diam akan mencari taunya sendiri. Dan sekarang keluarga Sadli sudah mengalami kehancuran. Saya rasa ini saatnya anda berhent untuk balas dendam bu" Ira mulai khawatir jika semuanya akan terkuak.


"Aku tidak akan berhenti balas dendam, karena ini baru permulaan Ira. Ini semua belum ada apa apanya bagiku. Bertahun tahun aku membesarkan keturunan Sadli di tanganku. Aku ingin Miranlah yang akan menghancurkan keluarganya sendiri" ucap nenek yang mulai mengutarakan niatnya.


"Tapi bu, Miran adalah orang yang sangat kritis dalam mengatasi setiap masalah. Saya takut jika Miran tau bahwa Rayyan bukan putri kandung Hazar dia akan berhenti balas dendam dan justru akan berbalik membenci anda." kata Ira kemudian yang mencoba membujuk nenek Aisah.


"Ira... Untuk hal ini, Miran jangan sampai tau jika Rayyan bukan putri kandung Hazar, tapi justru dia lah putra kandung Hazar. Aku akan menutup rapat rapat hal ini dan seolah olah aku tidak mengetahuinya. Aku sangat ingin melihat kehancuran Sadli di tangan keturunannya sendiri" ucap nenek dingin.


Nenek lalu pergi meninggalkan Iran yang diam mematung, sangat sulit menghentikan niat balas dendam yang sudah sangat lama di rencana oleh nenek.


☘☘☘☘☘


Rayyan sedang menikmati makan malamnya dengan penuh gurauan bersama nenek, kakek dan Ike. Canda dan gurauan yang dilontarkan oleh nenek dan kakek Ike yang sedang menggoda Ike cukup membuat Rayyan sejenak melupakan segala kegundahan hatinya.


Tok...tok...tok...


Suara pintu diketuk seseorang. Ike memilih untuk membukanya.


"Biar aku aja yang membukanya" Ike bangkit berdiri.


"Siapa ya" tanya sang nenek yang penasaran.


**maaf baru bisa up, karena banyaknya kegiatan author di dunia nyata sama ngurusi anak yang lagi kurang sehat.


dan terimakasih banyak udah mau ninggalin jejak.


terus like dan koment ya, biar author terus semangat nulisnya.


terimakasihhh 😊😊😊🙏🙏🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2