
Ira tiba di rumah tersebut, dia mengenakan pakaian serba tertutup agar orang orang tidak dapat mengenalinya.
"Ada apa Hazar?? Apa yang ingin kamu katakan kepadaku?" tanya Ira membuka penutup kepalanya dan papa Hazar menoleh.
"Ira, tindakan nyonya Aisah harus di hentikan.. Barusan Miran datang menemui ku dan mengancamku untuk balas dendam. Dia sangat mempercayai kebohongan nyonya Aisah. Nyonya Aisah bahkan baru saja membuat permainan menuduh Rayyan akan kabur dengan Arga. Aku khawatir dengan keselamatan Rayyan. Aku mohon kepadamu, Ira. Beritahu Miran akan kebenarannya. Aku ingin dia tau kebenarannya.. Kebenaran harus di ungkap." kata papa Hazar memohon.
Papa Hazar lalu pergi meninggalkan Ira sendirian tanpa menunggu jawaban dari Ira. Ira sesungguhnya juga merasa takut, karena Aisah juga memegang satu rahasia dirinya.
Tidak lama kemudian muncullah Riyan.
"Ibu.." panggil Riyan.
Mendengar suara putranya, Irapun terkejut.
"Riyan.." panggil lirih Ira.
"Apa yang ibu lakukan dengan Pak Hazar bu?? Bagaimana jika nenek mengetahui ini??" tanya Riyan menahan emosi.
"Riyan, ibu sudah sejaka lama mengenalnya. Dia sangat menghawatirkan keselamatan Rayyan. Dia meminta ibu untuk mengawasinya." kata Ira menjelaskan.
Riyan tidak langsung mempercayainya.. Tidak mungkin mereka hanya membahas hal itu saja hingga diam diam ibunya menemui papa Hazar.
"Bu.. Ayoolah, jangan berbohong denganku.. Jangan tutupi apapun dari k" bujuk Riyan.
"Sebenarnya, ibu Aisah baru saja membuat sebuah permainan.. Dia menyuruh ibu untuk memasukkan sebuah tiket di tas Rayyan. Dia memfitnah Rayyan akan kabur dengan Arga." pengakuan Ira.
"Ibu... Kenapa tidak memberitahukan masalah ini kepadaku juga bu???" Riyan kecewa.
Dia lalu pergi meninggalkan ibunya, dan Ira pun bergegas menyusul Riyan.
☘☘☘☘☘
Rayyan baru saja tiba, dia bergegas masuk ke dalam kamarnya. Baru saja membuka pintunya, ponselnya bergetar tanda telepon masuk
Rayyan segera meraih ponselnya di dalam tas selempangnya, ternyata Ike menelponnya.
"Hallo Ike, ada apa??" jawab Rayyan.
"Rayyan, baru saja Miran datang kemari dan dia berteriak teriak di hadapan papamu dan mengancamnya" kata Ike memberi informasi.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih informasinya" Rayyan langsung menutup panggilan itu.
Belum lama Rayyan menutup panggilan telepon iti, Miran masuk ke dalam kamar.
"Miran, apa yang kamu lakukan?? Mengapa kamu berteriak di depan keluargaku bahkan mengancam papaku??!! Kamu tau, menikah denganmu aku mengorbankan segala hal termasuk melukai perasaan orang tuaku!!!. Aku sudah bersikap sabar untuk menghadapi nenekmu, tapi kamu tega sekali menuduh papaku sebagai pembunuh di hadapan banyak orang. Itu sangat menyakitiku.." kata Rayyan yang merasa sangat kecewa dengan sikap Miran.
"Mulai detik ini, aku tidak akan mengijinkan kamu untuk bertemu dengan papamu lagi!!!" bentak Miran.
"Tidak!!! Sampai kapanpun aku akan menemuinya.." lawan Rayyan.
Miranpun memilih keluar dari kamarnya. Emosinya semakin membuncah mendengar setiap kata kata Rayyan.
Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya di dalam kamar Ira, Ira duduk termenung. Dia terus mengingat kata kata papa Hazar. Lalu dia berjalan menuju ke arah lemari bajunya. Dia membuka sebuah laci di dalam kemarinya dan mengambik sebuah tas. Dari dalam tas tersebut, Ira meraih sebuah lembar surat. Iran membuka surat lusuh tersebut. Surat yang terlalu lama dia simpan. Surat itu dari Darnia mama Miran yang dia tulis untuk papa Hazar yang dititipkan kepada Ira, surat yang belum sempat Ira berikan papa Hazar.
Ira kembali merogoh tas tersebut, ada beberapa lembar foto kenangan ketika Daniar dan Miran kecil ketika bermain bersama.
Ira terus mengamati lembaran lembaran foto tersebut. Ada rasa bersalah yang mulai merasuki hati Ira.. Ada tetesan air mata mulai keluar dari matanya. Dalam hatinya, dia akan memberikan surat tersebut ke pada papa Hazar. Mungkin dengan surat ini bisa sedikit membantu papa Hazar membuktikan kebenarannya.
Surat yang di tuliskan ada dua lembar, Ira kembali membuka surat surat tersebut dan mulai membacanya.
Isi surat pertama.
"Hazar...
Darnia"
Isi surat kedua
"Hazar...
Hidupku tak bahagia, aku ingin keluar dari keluarga Aslan. Tolong bantu aku, Aku menunggumu di tempat kita selalu bertemu.
Darnia"
Ira pun memasukkan kembali surat surat tersebut ke dalam amplop masing masing dan kembali memasukkan kedalam tas tersebut lalu menyimpannya kembali ke dalam lemari bajunya. Hati Ira semakin mencelos, ada rasa bersalah di hatinya.
Darnia menitipkan surat itu ke Ira, karena Darnia percaya Ira satu satunya orang yang baik kepadanya. Namun belum sempat Ira memberikan surat tersebut, terjadi tragedi tembak menembak yang menyebabkan tewasnya Darnia dan Satria. Ira semakin menangis, dia ada rasa sesal dalam hatinya.
Andai saja dulu dia segera memberikan surat tersebut tidak malah menyimpannya hingga saat ini, mungkin tidak akan seperti ini jadinya.
__ADS_1
Irapun semakin memantapkan hatinya untuk mencari waktu yang tepat untuk memberikan surat surat tersebut segera ke papa Hazar.
☘☘☘☘☘
Di lain tempat, papa Hazar merenung di atas kap mobilnya. Dia terus memikirkan apa yang akan dia lakukan. Bagaimana dia akan membuktikan untuk membersihkan fitnahan itu.
Drrrttt....ddrrrtttt...
Ponsel papa hazar bergetar, muncul nama Ali dan papa Hazar segera menerima panggilan tersebut.
"Pak, saya sudah menemukan orang yang mengambil mobil Miran" informasi Ali.
"Baik, segera kirim lokasinya.. Kamu tetap berjaga jaga di sana jangan sampai dia kabur. Saya akan segera ke sana" jawab papa Hazar.
"Baiklah pak, saya tunggu" kata Ali.
Papa Hazar langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera berputar arah mengikuti maps yang Ali kirim.
Sesampainya di sana, papa Hazar dan Ali segera menyergap seorang pria yang di duga mengambil mobil Miran. Papa Hazar mengikat orang tersebut dalam ke adaan duduk di rumah orang itu.
"Di mana mobil yang kamu ambil?? Siapa dalang penembakan itu?? Kamu pasti tau.." interogasi papa Hazar.
"Apa yang anda maksud??" pria tersebut mengelak.
"Katakan!!! Atau anak dan istrimu akan celaka" ancam papa Hazar.
"Ja..jangan pak.. Saya tidak berani mengatakannya" kata pria tersebut.
"Ok.. Jika kamu tidak mau mengatakannya, siap siap kamu kehilangan anak dan istrimu" kata papa Hazar hendak keluar dari ruangan tersebut.
"Aku mohon... Saya tidak bisa mengatakannya karena anak istri saya juga akan celaka" kata pri tersebut semakin ketakutan.
"Katakanlah, jika kamu mengatakan yang sesungguhnya. Maka anak dan istrimu akan aman.. Saya yang menjamin keselamatan mereka juga kamu" bujuk papa Hazar.
"Baiklah, dalang penembakan itu adalah nyonya Aisah. Dan saya hanya di suruh" kata pria tersebut.
"Baiklah, katakanlah itu di dapan nyonya Aisah.. Katakan hal yang kamu katakan kepada saya sama dengan yang akan kamu katakan di depan dia. Ayo ikut saya.." kata paoa Hazar.
Alipun membantu papa Hazar membawa orang tersebut menuju ke rumah keluarga Aslan.
__ADS_1