
Tidak berapa lama kemudian mereka tiba di kediaman keluarga Aslan.
Bugh....
Mia membanting pintu mobil dengan sangat keras ketika menutupnya. Hatinya memanas, dia kecewa terhadap sang nenek yang selalu bertindak seenaknya sendiri.
Brak..
Lagi lagi Mia membanting pintu utama hingga orang yang berada di dalam rumah terkejut.
"Mia!!!" teriak nenek mengejar Mia.
"Mia!!!" panggil nenek mencengkeram lengan Mia.
"Berani beraninya kamu pergi tanpa seijinku!!! Apa urusanmu dengan Hazar haahh!!!" bentak nenek.
Nenek lalu menyeret Mia menuju ke bawah tangga di mana tempat papa Hazar terjatuh bersimba darah.
"Lihat tempat ini!!! Lihat!!!" kata nenek mencengkeram rahang Mia agar dia menatap tempat itu.
Mia menangis, dia merasa ketakutan.. Mia berusaha untuk melepaskan dirinya dari sang nenek..
"Di tempat inilah dia meninggal Mia!!! Lihatlah!!!" kata nenek meradang.
"Tidak nek.. Paman Hazar tidak boleh meninggal.. Tidak.." kata Mia terus menangis dengan mata terpejam tanpa mau menatap lantai tersebut.
"Nenek.. Apa yang nenek lakukan!! Jangan kasar terhadapnya nek!" kata Mei mencoba menolong Mia.
"Apakah kamu tau, Hazarlah pembunuh kedua orang tua Miran. Dia pantas untuk mendapatkan balasan!!! Semua anggota keluarga Sadli adalah penjahat!!!" teriak nenek emosi di hadapan Mia.
Mia terus menangis hingga matanya sembab.. Mei berusaha menenangkan Mia yang mulai terlihat ketakutan.
"Neneklah penjahatnya!!! Neneklah yang selalu menyakiti mereka!!! Padahal mereka tidak pernah menyakiti kita!!!" teriak Mia dalam tangisnya.
Dia tidak suka dengan apa yang neneknya katakan.. Semua kata kata neneknya tidak benar. Selama ini dia tertekan dengan semua aturan aturan yang neneknya buat. Tertekan dengan semua rencana rencana balas dendam itu.
Mia langsung berlari memasuki kamarnya, dia terus menangis meluapkan segala emosinya di sana.
Di dalam kamar, Mia membanting semua benda benda yang berada di sana. Nenek menyusul Mia ke dalam kamarnya, karena nenek penasaran untuk apa Mia ke rumah sakit.
"Mia!!!" panggil nenek.
Nenek memegang tangan Mia dan memaksanya untuk duduk di tepi tempat duduk.
"Jujur kepada nenek, mengapa kamu sangat ingin tahu tentang keadaan Hazar??" tanya nenek yang terus mencecar Mia agar terbuka.
"Semua orang menuduh kak Miran mendorong paman Hazar, padahal bukan kak Miran pelakunya.. Aku menemui Arga untuk mengatakan hal itu. Aku takut keluarganya akan mencelakai kak Miran" jawab Mia menangis.
Mia belum berani mengatakan sejujurnya kepada nenek bahwa dirinya lah yang mendorong papa Hazar hingga terjatuh.
__ADS_1
Diam diam, di balik pintu mama Eni menguping percakapan nenek dan Mia. Mendengar itu, mama Eni berfikiran bahwa Mia lah yang mendorong papa Hazar karena sikap Mia yang mencurigakan, dia selalu terlihat ketakutan dan sangat ingin tahu keadaan papa Hazar.
#####
Di waktu yang berbeda, Mia memilih menyendiri di balkon atas rumahnya. Dia memikirkan kejadian malam itu.
Drrttt.....dddrrrttt...
Tertera nama Arga dalam panggilan di ponsel Mia.
"Hallo.." Mia menerima panggilan tersebut.
"Hallo Mia.. Apa kamu baik baik saja?? Apa yang nenekmu lakukan terhadapmu??" tanya Arga.
"Aku baik baik saja Arga.. Yaahh kami hanya berdebat saja" jawab Mia.
"Mia.. Bolehkah aku bertanya?" tanya Arga.
"Mmm boleh.. Kamu mau menanyakan apa Arga??" tanya Mia takut Arga menanyakan kejadian malam itu.
"Apakah kamu tau kejadian waktu pamanku terjatuh??? Apa kamu bisa memberitahukan aku kronologinya?? Pamanku terjatuh sendiri atau ada yang mendorongnya??" tanya Arga.
"Maaf Arga, waktu kejadian itu aku berada di dalam kamar. Aku benar benar tidak tahu.. Yang aku tahu tiba tiba paman mu sidah tergeletak di bawah" jawab Mia.
"Ohhh baiklah kalau begitu.. Sudah dulu ya Mia.. Aku hanya ingin memastikan kamu baik baik saja.." jawab Arga
Mia pun mematikan sambungan teleponnya, dia berdiri di pinggir pagar beton. Dirinya belum ada keberanian untuk mengatakan sejujurnya.. Dia masih merasa sangat ketakutan.
Tanpa Mia sadari, mama Eni berdiri di tangga, dia mengamati Mia yang tengah merenung sendirian, dan mama Enipun mendengar semua apa yang Mia ucapkan.
Mama Mia semakin yakin jika Mialah yang mendorong papa Hazar. Setelah itu mama Eni bergegas meninggalkan tempat itu sebelum Mia menyadari keberadaannya.
Mama Eni kembali ke dalan kamarnya. Di dalam kamarnya, mama Eni berfikir sesuatu..
"Aku harus memanfaatkan ini.. Aku akan buat dia tunduk kepadaku.. Jika dia tidak mau tunduk, maka aku akan membeberkannya" gumam mama Eni.
Mama Eni langsung mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Rosa.
"Hallo" Rosa menerima panggilan tersebut.
"Rosa, aku akan menerima tawaranmu waktu itu.. Aku akan berusaha menyatukan Mia dengan kakakmu Arga.
"Aahhh ini berita yang bagus untukku nyonya.." jawab Rosa.
"Baiklah, nanti aku akan menghubungi lagi" kata mama Eni..
#####
Di hotel, Miran dan Rayyan beristirahat. Miran sudah menyiapkan segala keperluan Rayyan di hotel miliknya. Rayyan masih enggan untuk kembali pulang ke rumah Miran. Dia belum sanggup melihat rumah tersebut, di mana papanya terjatuh hingga tak sadarkan diri.
__ADS_1
Rayyan tengah duduk di depan kaca meja rias. Dia tengah mengeringkan rambut keritingnua tersebut.
Tidak lama kemudian, Miran keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk yang menutupi hanya bagian bawahnya saja dengan memamerkna perut six packnya..
"Kamu mau kemana??" tanya Miran..
Rayyan tidak merespon Miran, dia malah menatap Miran tanpa terkedip.
"Rayyan..." panggil Miran karena Rayyan tak kunjung menjawabnya.
Miran tersenyum melihat istrinya tersebut yang tanpa berkedip menatap dirinya.
"Haahh iya apa.. Ohhh aku ingin ke rumah sakit" jawab Rayyan gugup dengan segera memalingkan tatapan matanya.
Miran senang melihat wajah Rayyan yang bersemu merah malu seakan kepergok mencuri curi pandang..
"Tunggu sebentar, aku akan mengantarmu" jawab Miran.
"Baiklah" jawab Rayyan.
Tidak beberapa lama kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit.
"Kamu tunggu di sini ya.. Aku hanya ingin bertemu dengan mama.. Aku tidak ingin mereka kembali menyudutkanmu" kata Rayyan.
"Tapi, jika aku menghindar sama saja aku membenarkan tuduhan mereka." kata Miran.
"Tapi ini di rumah sakit Miran.. Aku hanya tidak ingin ada keributan. Aku mohon" kata Rayyan.
"Baiklah.. Kamu berhati hatilah" jawab Moran memgalah.
"Terimakasih ya.." jawab Rayyan tersenyum.
Miran hanya tersenyum dan mengangguk. Rayyanpun keluar dari mobil dan Miran kembali melakukan mobilnya untuk mencari tempat parkir karena dirinya menurunkan Rayyan di pintu masuk rumah sakit.
Rayyan berjalan melewati lorong lorong rumah sakit. Dia terus berjalan menyusuri lorong tersebut menuju ke kamar rawat papanya.
Saat sampai, dia kembali ragu untuk kengahampiri sang mama. Dia tidak ingin mamanya kembali marah saat melihat dirinya.
Rayyan memilih kembali, air matanya tidak bisa ia bendung. Ia merasa sedih, karena telah membuat sang mama membencinya. Dia tidak dapat lagi memeluk sang mama. Dia sangat merindukan mamanya.
Dia berjalan kembali keluar rumah sakit dan mencari Miran yang tengah duduk di bangku taman menunggu dirinya.
Miran melihat Rayyan keluar dari rumah sakit. Miran merasa aneh, kenapa secepat ini Rayyan keluar. Miran bergegas menghampiri Rayyan, jalannya semakin dipercepat saat melihat Rayyan menangis.
"Kamu baik baik saja??" tanya Miran khawatir.
"Aku baik baik saja.." jawab Rayyan mengusap air matanya..
"Apa mereka menyakitimu?? Mereka mengusirmu??" tanya Miran lagi.
__ADS_1
"Tidak.. Aku bahkan belum menemui mereka.. Aku hanya sedih telah membuat mama marah padaku.. Aku sangat merindukannya." jawab Rayyan.