Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
rencana dijalankan.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian datang nenek. Kakek langsung menyambut nenek dari lantai dua.


"Selamat datang Aisahhh.. Terimakasih kamu berkenan ke memenuhi panggilan ku.." kata kakek.


"Apa maksudmu hahh??" kata nenek berpura pura.


"Rumah ini kini kembali menjadi milikku.. Milikku hahahaha" kata kakek gembira.


Lalu kakek mengambil sepucuk surat dari dalam kantong jasnya. Kakek menyobek surat tersebut. Surat itu adalah surat perjanjian dari sang pengacara, dengan tidak adanya surat perjanjian itu posisi nenek lemah. Nenek tidak berhak lagi untuk memiliki rumah tersebut dan yang lainnya.


"Kau pasti berbuat curang Sadli!!! Lihat saja nanti!!!" kata nenek yang masih berpura pura marah.


Lalu nenekpun pergi meninggalkan kakek di sana.


☘☘☘☘☘


Rayyan, Miran dan Gendis telah selesai menikmati sarapan mereka di dapur.


"Kak Miran akan mengantarmu pulang. Papa sama mama pasti sudah menunggumu di rumah." kata Rayyan.


"Kak... Aku tidak mau pulang.. Aku masih ingin bersama kakak dan kakak Miran.. Ijinkanlah aku untuk menginap lagi" kata Gendis dengan wajah sedihnya.


Miran menatap lekat Gendis, begitu juga Miran. Mereka berdua tidak tau harus bagaimana. Karena mereka sudah tau bagaimana kondisi Gendia saat ini.


"Sayang... Kakak sudah terlanjur janji dengan papa dan mama.. Nanti jika kakak membatalkannya, papa dan mama pasti akan kecewa.." bujuk Rayyan.


"Baiklah..." jawab Gendis lemas.


Mereka pun keluar dari dapur dan mengantar Gendis ke rumah peternakan. Selama dalam perjalanan, Gendis tampak senang. Dia sangat menikmati perjalanannya.


Tidak lama kemudian, mereka sampai di tempat mereka janjian. Rayyan pun mengambil ponselnya dan menelpon sang mama. Ternyata mama dan papanya masih dalam perjalanan dari rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.


Karena merasa lama, Gendis mengajak Miran untuk mencari bunga di sekitar area tersebut. Miran dan Gendis sangat menikmati keasikan mereka dalam mencari beberapa bunga.


Dari kejauhan Rayyan melihat Yusuf sedang berjalan untuk mengecek beberapa kebun di sana.


"Kakek Yusuf!!" panggil Rayyan.


Yusuf yang merasa namanya dipanggilpun menoleh dan melambaikan tangannya.


Melihat orang yang dia panggil merespon Rayyan langsung menghampiri Yusuf..


Mereka pun terlibat obrolan ringan. Dan Yusufpun mulai menceritakan tentang dirinya dan kakek.

__ADS_1


"Aku dan kakekmu sejak kecil sudah selalu bersama. Kami tumbuh besar di sini. Dulu kakekmu bukan tipe orang yang seperti sekarang, dulu kakekmu adalah orang yang sangat pendiam dan penyayang. Namun semenjak ada kejadian kebakaran waktu itu, sifatnya berubah. Kini dia menjadi orang yang pemarah. Dalam kebakaran tersebut ada empat orang menjadi korbannya sehingga membuat kakekmu sangat terpukul" kata Yusuf.


"Kek.. Siapa saja orang orang yang meninggal kek?? Lalu kenapa kakek Sadli bisa menjadi sangat terpukul.?" tanya Rayyan.


Tidak lama kemudian papa Hazar dan mama Anna tiba di sana.


"Kek.. Bisakah lain kali kita sambung lagi kek?? Rayyan ingin tau lebih banyak tenyang masalalu kakek Sadli.." kata Rayyan saat melihat kedatangan orang tuanya.


"Baiklah nak.." jawab Yusuf.


"Kalau begitu aku permisi dulu.." pamit Rayyan tersenyum.


"Mari mari.." jawab Yusuf.


Rayyan pun menghampiri kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Miran, dia menggendong Gendis agar lebih cepat keluar dari kebun bunga tersebut lalu menghampiri papa Hasar dan mama Anna.


Gendis langsung berlari menghampiri kedua orang tuanya setelah Miran menurunkannya.


Drrrtttt....ddrrrtttt...dddrrrttt..


Ponsel Miran bergetar ada panggilan telepon masuk. Saat Miran mengecek ternyata Riyan yang menelponnya.


"Hallo" jawab Miran.


"Baik.." jawab Miran.


Ada beberapa pertanyaan yang terpatri di benaknya.. Miran curiga, apa ini ada hubungannya sola pengacara tersebut.


"Hallo sayang, bagaiman harimu nak??" tanya papa Hazar ke Gendis.


"Sangat menyenangkan ayah.. Bolehkah lain kali aku menginap lagi.." tanya Gendis.


"Kau bebas kapanpun untuk datang ke rumah" jawab Miran dan papa Hazar hanya tersenyum.


"Baiklah, aku tidak bisa berlama lama.. Aku harus pergi sekarang.." pamit Miran.


"Pa.. Ma.. Rayyan dan Miran pulang dulu ya.. Nona cantik kamu ga boleh nakal ok.." kata Rayyan.


"Hati hatilah nak.." jawab mama Anna merasa sedih harus berpisah kembali dengan Rayyan.


Miranpun mengantar Rayyan untuk pulang, setelah itu dia segera menuju ke kantornya.


☘☘☘☘☘

__ADS_1


Di kantor, nenek berpura pura memarahi beberapa anak buahnya di depan Riyan.


"Apa saja yang kalian kerjakan haahh?? Kenapa beberapa dokumen penting bisa berpindah tangan Sadli??" bentak nenek.


Tidak lama kemudian Miran tiba di sana dan menanyakan apa yang terjadi.


"Ada apa ini??" tanya Miran.


"Pergi kalian.." usir nenek.


"Ini semua karena mu Miran.. Kamu tidak waspada dengan musuh kita Sadli. Dia secara diam diam menyusupkan mata mata di perusahaan kita. Sadli sudah mendapatkan semua surat surat aset yang kita sita." kata nenek memfitnah kakek Sadli.


"Salah satu pengacara mungkin membantunya untuk mendapatkan dokumen dokumen itu, karena sekarang pengacara itu kabur" kata Riyan.


"Ini semua karena kamu Miran, karena terlalu sibuk dengan cintamu" kata nenek lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Miran hanya terdiam, apa yang dia pikirkan tepat ini soal pengacara itu.. Namun Miran tidak akan mengatakan apapun tentang hal itu dulu sebelum dia benar benar mendapatkan informasi dari anak buahnya.


Nenek menuju ke mobilnya. Setelah duduk manis di dalam mobil, nenek segera mengambil ponselnya dan menelpon seseorang untuk melanjutkan rencananya..


"Hallo Arga, aku ingin bertemu denganmu.. Aku akan mengirim lokasinya" kata nenek.


Setelah itu, nenek segera menuju ketempat dimana dia akan bertemu dengan Arga. Tidak membutuhkan waktu lama untuk nenek sampai di sana..


Saat nenek tiba di sana, berbarengan juga dengan Arga yang juga baru tiba. Mereka sama sama turun dari mobilnya dan berjalan saling mendekati.


"Ada apa nyonya Aisah ingin bertemu dengan ku? Apa yang kau inginkan dari ku?" tanya Arga dihadapan nenek.


"Kau ingat, pistolmu yang kau tinggalkan waktu itu ada sidik jarimu dan kini berada ditanganku.. Jika aku membunuh Rayyan dengan pistol itu, aku pastikan Hazar akan menjebloskanmu kedalam penjara" kata nenek dengan senyum smirknya.


Arga marah, reflek dia mengambil pistolnya yang dia bawa dan menodongkan ke arah nenek. Melihat itu, Samsul anak buah kepercayaan nenek langsung menodongkan pistol ke arah Arga.


"Jika anda macan macam, tidak segan segan aku akan menembak kepalamu ini nyonya" kata Arga geram.


"Aku tidak akan membunuh Rayyan, asal kamu tunduk kepadaku" nenek membuat penawaran.


"Samsul" panggil nenek.


Samsulpun merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah tiket pesawat lalu memberikannya ke Arga.


"Pergilah dari sini jika kamu tidak ingin melihat Rayyan mati ditanganku.." kata nenek.


Karena mendesak, Arga pun menuruti kata kata nenek. Arga hanya ingin melindungi Rayyan. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Rayyan.

__ADS_1


Setelah itu mereka pun pergi ke tujuan mereka masing masing. Arga kembali bersiap siap untuk pergi ke luar negeri, sedangkan nenek kembali menjalankan rencananya yang lain.


__ADS_2