
Setelah keluar, Rayyan kembali di panggil oleh perawat untuk mengikutinya. Rayyan berjalan mengikuti sang perawat dan ditemani oleh Miran di sana.
"Nona, ini barang barang dari pasien.. Silahkan, dan mohon isi tanda penerimanya" kata perawat tersebut.
Rayyanpun menerima sebuah bungkusan yang berisi pakaian papa Hazar dan menandatangani surat tanda terimanya. Karena Rayyan tidak terlalu memperhatikan barang barang yang ia terima, Rayyanpun tidak menyadari jika di saku jas papa Hazar ada sebuah surat. Begitu pula Miran yang hanya menemani Rayyan di sana.
"Sini aku bawakan" kata Miran mengambil bungkusan baju baju papa Hazar..
Setelah selesai dengan urusannya, Miran mengajak Rayyan untuk duduk di taman rumah sakit dan berbincang di sana. Dan baju baju papa Hazar, Miran letakkan di antara mereka berdua. Tidak lama kemudian Rosa dan Arga keluar dari rumah sakit.
"Lihat lah kak, Rayyan kembali bersama Miran." kompor Rosa menunjuk ke arah Rayyan dan Miran yang tengah berbincang bincang.
Mereka berduapun menghampiri Rayyan dan Miran. Terlihat Miran tengah membujuk Rayyan dengan memegang tangan Rayyan. Miran berusaha meyakinkan Rayyan dan mencoba meminta maaf.
"Rayyan!!" panggil Arga.
Rayyan dan Miranpun menoleh ke arah sumber suara.Miran segera menarik tangannya yang sedang menggenggam tanga Rayyan dan bangun dari duduknya.
"Untuk apa kamu bersama dia hah??!!" tanya Arga geram menatap Rayyan.
"Apa maksudmu??, dia istriku! Kamu yang harus jauhi dia" bentak Miran mendorong Arga.
Bughhhh....
Arga memukul Rayyan, sontak Riyan yang berdiri tidak jauh dari mereka langsung melerai mereka berdua.
Miran berhasil Riyan seret menjauhi Arga, begitu pula Arga yang dapat Rosa tahan. Tampak mereka masih menahan emosi mereka masing masing.
"Rayyan, kenapa kamu masih saja dekat dekat dengan dia?? Kamu lupa?, da sidah melukai papamu hingga kritis sampai saat ini. Seharusnya kamu menjauhi dia dan tinggalkan dia" kata Arga emosi.
Drrrtttt.... Drrrttttt... Dddrrrtttt
Tiba tiba ponsel Rayyan bergetar, nama Ike tertera di sana.
"Hallo Ike" Rayyan menjawab panggilan tersebut.
"Rayyan, Gendis terus menangis dan dia terus menanyakan orang tuamu. Bisakah kamu kesini untuk menenangkannya??" lapor Ike.
"Baiklah Ike, aku akan segera kesana. Temani Gendis dulu ya" jawab Rayyan.
Rayyanpun mengakhiri panggilan teleponnya. Dan segera pergi dari sana.
"Biar aku antar" tawar Miran.
"Baiklah" jawab Rayyan.
__ADS_1
Mereka berduapun pergi meninggalkan rumah sakit hingga lupa dengan bungkusan pakaian papa Hazar. Rosa yang masih berada di sanapun melihat bungkusan tersebut dan mengamati. Tatapan Rosa tertuju pada kertas yang terselip di salah satu kantong jas.
Rosapun mengamati sekitar, dirasa aman, dia segera membuka bungkusan tersebut dan mengambil kertas tersebut setelah itu ia meletakkan kembali bungkusan tersebut di atas bangku dan meninggalkannya di sana.
☘☘☘☘☘
Miran mengantar Rayyan hingga halaman rumah peternakan. Rayyan dan Miran bersama sama keluar dari mobil Miran.
"Rayyan tunggu" panggil Miran.
"Ada apa??" tanya Rayyan.
"Rayyan, ijinkan aku menemui adikmu." ijin Miran.
"Miran, kamu kembalilah pulang, biar aku saja yang menemuinya. Mmm dan aku ucapkan terimakasih atas donor darahmu untuk papa" kata Rayyan lalu pergi meninggalkan Miran.
Rayyan segera pergi ke kamar adiknya. Melihat Rayyan datang, Gendis segera bangun dan memeluk kakaknya itu.
"Kakak, papa kemana??.juga mama.. Kenapa mereka meninggalkan aku" tangis Gendis.
"Sayang, papa sedang sakit dan harus di rawat. Sekarang di sini ada kakak. Kakak akan menemanimu. Ayo kita tidur. Jangan menangis lagi ya.." bujuk Rayyan.
Gendispun menuruti kata kata Rayyan, mereka naik ke atas tempat tidur dengan posisi Rayyan memeluk sang adik agar segera kembali tidur.
☘☘☘☘☘
Di gazebo, mama Sinta tengah mengobrol dengan Arga.Mama Sinta berniat membujuk Arga untuk segera menikah.
"Arga tunggu" mama Sinta menahan Arga yang hendak pergi.
"Hmmm" jawab Arga.
"Arga kapan kamu akan menyiapkan acara pernikahanmu??" mama Sinta mengingatkan Arga.
"Ma, aku mohon jangan bahas ini sekarang. Aku tidak mau buru buru, kondisi pamanpun belum membaik.. Aku ingin fokus ke paman dulu. Sabarlah ma" kata Arga.
"Tapi Arga" kata mama Sinta terpotong.
"Ma.. Sudahlah.. Aku harus kembali ke rumah sakit" kata Arga pergi meninggalkan mamanya.
"Ma.." panggil Rosa tiba tiba.
"Aku akan membantu mama untuk menyatukan kakak dengan Mia" kata Rosa.
Mama Sinta tampak berfikir sebentar untuk menimbang nimbang tawaran Rosa untuk membantunya menyatukan Arga dengan Mia, setelah itu mama Sintapun mengangguk tanda setuju.
__ADS_1
☘☘☘☘☘
Sedangkan di rumah keluarga Aslan, mereka tengah bersiap siap untuk sarapan bersama.
Miran yang baru tiba di rumah karena semalaman tidak pulang pun menghampiri mereka di ruang makan.
"Kita harus menyelidiki siapa yang mendorong Hazar." kata Miran menatap mama Eni.
"Bukankah selama ini kamu yang sangat dendam dengan dia, bahkan kamunsangat menginginkan nyawanya" kata mama Eni meras tertuduh.
"Jaga ucapanmu tante. Jangan menuduhku. Saat kejadian Hazar terjatuh, aku sedang berada di dapur." kata Miran.
"Saat Hazar terjatuh, aku dan mamaku juga berada di kamar. Jadi tidak mungkin kami melakukan itu." kata Mei.
"Miran, tanyakan saja kepada semua orang yang berada di rumah waktu itu. Siapa tau di antara kita ada pelakunya. Jangan lupa tanyakan juga kepada Mia." saran mama Eni.
"Apa yang kamu katakan Eni?? Mana mungkin Mia melakukan hal seperti itu" kata nenek membela Mia.
Mama Eni menatap nenek curiga dengan pembelaan nenek. Mama Eni merasa nenek menyembunyikan sesuatu.
Miran hanya terdiam, dia sedang nimbang nimbang apa yang dikatakan mama Eni.
Sedangkan di dapur, Riyan menemui mamanya yang tengah sibuk. Perlahan dan mengamati sekitar, Riyan menutup pintu dapur..
Riyan masih penasaran dengan pertemuan mamanya dengan Hasar waktu itu.
"Ma..." panggil Riyan.
"Hmmm" jawab Ira.
"Ma.. Apa pertemuan mama waktu itu ada hubungannya dengan kedatangan Hazar malam itu?? Mengapa dia datang secara diam diam tengah malam, apa tujuannya" tanya Riyan.
"Mama tidak tau apa tujuannya dia datang malam malam Riyan" jawab Ira.
Mendengar ada suara langkah kaki mendekat, Riyan segera membuka kembali pintu dapur dan munculah Miran.
"Bu Ira.. Apa bu Ira melihat ketika Hazar terjatuh atau mendengar sesuatu?" tanya Miran.
"Maaf nak, saya benar benar tidak tau. Saya keluar setelah kejadian." jawab Ira.
"Aku sangat penasaran, apa tujuannya malam malam menyelinap kemari" kata Miran.
"Aku harus menyelidiki ini semua.. Siapa yang mendorong Hazar." sambung Miran.
Miran sangat penasaran dengan kejadian malam itu. Pertama untuk apa Papa Hazar menyelinap masuk kerumahnya dam kedua siapa yang mendorong papa Hazar.
__ADS_1
Mungkin jika bukan demi Rayyan yang dia cintai, Miran tidak akan sepeduli ini. Bahkan ia rela.mendonorkan darahnya demi menyelamatkan nyawa papa Hazar.
Selain itu juga, dia juga ingin nama baiknya bersih dari segala tuduhan bahwa dirinya lah yang mendorong papa Kasar. Agar Rayyan kembali bersamanya.