
"Putri papa kenapa??" sapa papa Hazar menghampiri putrinya yang tengah berbaring di tempat tidurnya.
"Papa.. Gendis ingin bertemu kakak.." rengek Gendis.
"Baiklah baiklah, biar mama hubungi kakakmu dulu ya.. Jangan nangis lagi.." bujuk papa Hazar tersenyum..
Mama Anna bangun dari duduknya dan mengambil ponselnya. Mama Anna mencoba menghubungi Rayyan.
Tuuttt...tttuuut..
"Hallo ma.." jawab Rayyan.
"Hallo Rayyan, bisakah kamu menjemput adikmu??? Dia ingin sekali bertemu denganmu.." kata mama Anna.
"Baik ma.. Nanti Rayyan dan Miran jemput di tempat biasa ya.." jawab Rayyan.
"Baiklah nak.. Terimakasih.." kata mama Anna.
Setelah menutup panggilan teleponnya, mama Anna mendekati Gendis
"Sebentar lagi kakak akan segera menjemputmu.. Kini putri cantik mama ganti baju dulu ya.." kata mama dengan sebuah senyuman..
"Horreeee... Mama ga bohongkan??" tanya Gendis girang.
"Tidak sayang.. Ayoo cepat ganti baju" jawab mama Anna.
"Ok.." kata Gendis dengan girangnya turun dari tempat tidurnya untuk segera berganti pakaian..
Mama Anna dan papa Hazar yang melihat tingkah sang putri hanya tersenyum.
Beberapa saat kemudian Gendis pun sudah siap. Mereka pun berjalan keluar rumah untuk menuju ke tempat di mana mereka akan bertemu dengan Rayyan.
Saat sampai di pintu gerbang, mereka bertemu dengan Arga.
"Hallo nona cantik.. Mau jalan jalan??" sapa Arga memposisikan dirinya dengan berjongkok agar sejajar dengan Gendis.
"Aku ingin bertemu dengan kak Rayyan dan kak Miran.. Jika kamu mau ikutlah.." jawab Gendis polos.
Deg...
Hati Arga masih terasa perih saat mendengar mereka berdua.. Meski dia mencoba untuk mengikhlaskan, namun tidak bisa dia pungkiri perasaan itu masih ada.
__ADS_1
"Maaf ya sayang, saat ini kakak sedang ada urusan.. Lain kali aja.. Titip salam untuk mereka berdua" senyum Arga memaksakan.
"Baiklah... Da..da..kakak" kata Gendis girang.
Arga membalasnya dengan lambaian.. Sesaat pandangan Arga beradu dengan papa Hazar. Arga sedikit kecewanpapa Hazar masih berhubungan dengan Miran yang jelas jelas musuhnya. Mama Anna menatap Arga dengan rasa bersalah karena ucapan polos Gendis. Mama Anna masih bisa merasakan adanya guratan kekecewaan di wajah Arga.
Di tempat lain, mama Sinta dan papa Bran tengah mengobrol di halaman belakang. Mereka tidak menyadari jika mereka tengah di awasi oleh seseorang dari balik pohon yang cukup rindang..
"Ma..." panggil papa Bram.
"Hmmm" jawab mama Sinta.
"Papa akan menikahkan Arga dengan Mia dari keluarga Aslan." kata papa Bram.
"Apa?? Apa mama tidak salah mendengar?? Apa tidak ada gadis lain di luaran sana??? Kenapa harus gadis itu??" kata mama Sinta.
"Ma.. Jika kita menikahkan Arga dengan Mia, maka Aisah tidak menbunuh Arga yang sudah menjadi menantunya. Aisah tidak akan membiarkan Mia hidup menjanda.." kata papa Bram..
"Terserah papalah." jawab mama Sinta pasrah.
Ternyata orang yang bersembunyi itu adalah Rosa. Melihat kedua orang tuanya pergi dari sana, Rosa pun keluar dari persembunyiannya.
Tidak lama kemudian, terlihat papa Bram keluar dari kamarnya. Melihat itu Rosa masuk ke dalam kamar tersebut. Mama Sinta sedang bersantai di atas kasurnya sambil membaca sebuah majalah fashion.
Mama Sinta terkejut, mama Sinta langsung terlonjak dari tempat tidurnya dan mencengkeram Rosa.
"Tutup mulutmu Rosa... Jangan keras keras.. Jangan sampai ada yang tau" bisik mama Sinta..
"Ma... Aku bisa membantu mama dan papa untuk menjodohkan kakak dengan Mia.." kata Rosa.
"Rosa.. Apa yang sedang kamu rencanakan haahh??!!! Jangan coba coba membodohi mama" kata mama Sinta curiga.
"Apa mama tidak percaya sama Rosa.. Rosa tidak ada rencana apapun ma.. Rosa hanya merasa kasihan dengan kakr Arga yang putus asa dengan perasaannya sendiri. Mungkin dengan cara ini kakak bisa melupakan Rayyan" bujuk Rosa.
"Hmmm baiklah..." jawab mama Sinta.
☘☘☘☘☘
Dari kejauhan sudah tampak Rayyan dan Miran tengah menunggu. Melihat sang kakak sudah menunggu, Gendis langsung berlari begitu juga dengan Rayyan. Mereka berdua pun berpelukan dan Rayyan mengangkat sang adik.
"Kakak.. Aku sangat merindukanmu..x rengek Gendis.
__ADS_1
"Kakak juga sayang.. Sapa dulu kak Miran.." kata Rayyan.
Rayyan menurunkan Gendis, Gendispun langsung berlari mendekati Miran. Miran membuka lebar lebar kedua tangannya, dan kereka pun berpelukan..
"Haii nona cantik... Mau ikut kakak??" ajak Miran dengan senyum manisnya.
"Papa.. Bolehkah aku ikut dengan kakak.. Aku ingin menginap bersama mereka.." ijin Gendis ke papa Hazar.
Papa Hazar masih terdiam untuk menimbang nimbang.
"Ibu Anna.. Ijinkanlah kami membawanya, besok pagi kami berjanji akan mengantar Gendis" kata Miran meminta ijin.
"Ma.. Pa.. Ayolahh boleh ya... Aku mohon.." bujuk Gendis..
"Baiklah sayang.. Tapi kamu harus berjanji, jangan merepotkan kakak kakakmu ya... Dan di sana tidak ada dot, jadi jangan merengek.." pesan papa Hazar.
"Terimakasih pa.." jawab Gendis senang.
Miran dan Rayyan pun mengajak Gendis menuju ke rumah Miran. Selama perjalanan Gendis sangat senang bisa bersama kakaknya. Dia terus berceloteh hingga mengajak Miran untuk bermain tebak tebakan.
Tidak lama kemudian mereka pun tiba di rumah Miran. Miran dan Rayyan menggandeng Gendis untuk masuk ke dalam rumah.
Gendis tampak senang melihat rumah Miran yang sangat luas. Saat melihat ka lantai atas, tiba tiba Gendis merasa takut dan memeluk Miran.
"Bagus Miras.. Bawalah.satu persatunkeluarga Sadli masuk ke rumah ini. Kamunsemakin akrab dengan musuh." kata nenek.
Miran tidak menjawab perkataan nenek karena ada Gendis di sana.. Dia tidak mau Gendis ketakutan jika dia menjawab perkataan nenek.
"Hallo nona cantik... Siapa namanya??" sapa Ira..
"Gendis.." jawab Gendis.
"Nama yang sangat cantik.." puji Ira.
"Bu Ira, siapakan makan malam untuk menyambut tamu kita ya bu" kata Miran.
"Baik.." jawab Ira.
Makan malam pun tiba, mereka berkumpul di meja makan dan makan bersama dengan tenang.
"Nenek... Kenapa anda selalu tampak marah.. Apa ada seseorang yang membuatmu kesal?? Aku sangat takut mlihat tatapan matamu" tanya Gendis polos.
__ADS_1
Mendengar perkataan Gendis, nenek merasa kesal. Nenek tidak menggubris perkataan Gendis dan dia langsung meninggalakan meja makan.
"Gendis, makan saja makananmu.. Jangan banyak bicara" bisik Rayyan.