Cinta Dalam Dendam Dan Benci

Cinta Dalam Dendam Dan Benci
bersama mencari kebenaran


__ADS_3

Rosa diam diam bertemu dengan mama Eni. Sebelumnya mereka sudah berkomunikasi untuk bertemu.


Mereka bertemu di sebuah taman yang cukup sepi. Mereka duduk saling membelakangi.


"Untuk apa kamu mengajak ku untuk bertemu.. Apa yang kamu inginkan dari ku??" kata mama Eni.


"Aku butuh bantuan anda untuk menjadikan Mia istri kakak ku Arga." kata Rosa.


"Apa untungnya aku membantumu, itu bukan urusanku" jawab mama Eni yang sempat terkejut.


"Jika pernikahan ini terjadi, maka nyonya Aisah akan melemah dan hubungan Miran dengan Rayyanpun akan memburuk. Mereka pasti akan berpisah. Dan anda akan bisa menguasai seluruh kekayaan keluarga itu juga Mei bisa kembali kepada Miran. Kita akan membuat sebuah permainan, seolah olah Rayyan lah yang melakukan ini jadi Miran akan berpikir jika Rayyan sedang melakukan balas dendam." kata Rosa meyakinkan mama Eni.


"Lalu, apa keuntunganmu dengan semua rencana ini??" tanya mama Eni.


"Semua ini sebenarnya hanya untuk menyelamatkan nyawa kakakku. Jika doa menikah dengan Mia, maka nyonya Aisah tidak akan bisa membunuh kakakku, dia tidak akan mungkin membiarkan Mia menjadi seorang janda" kata Rosa.


Mama Eni tidak langsung menyetujui rencana dari Rosa, dia masih perlu berpikir dulu untuk menimbang nimbang.


"Akan aku pikirkan dulu, aku akan hubungi mi" jawab mama Eni yang langsung pergi meninggalkan Rosa di sana.


Setelah kepergian mama Eni, Rosa menoleh dan menatap kepergian mama Eni dengan senyum sinisnya.. Tujuan utamanya dari rencana ini sebenarnya hanya untuk membuat Rayyan menderita dan memdapatkan Miran.


Setelah itu iya pun memilih meninggalkan taman tersebut dan kembali pulang.


☘☘☘☘☘


Rayyan mengajak Gendis untuk kembali ke rumah utama mereka. Gendis terlihat senang dapat kembali kerumah tersebut. Dan di sana dia melihat kembali botol susunya dan memeluknya erat dengan wajah yang sumringah.


Drrrttt....ddrrtttt..


Ponsel Rayyan bergetar, dia segera meraih ponselnya dari dalam tasnya. Tertera di sana nama Miran yang memanggil.


"Hallo.." Rayyan menerima panggilan tersebut.


"Rayyan.. Bagaimana keadaan Gendis? Apa semua baik baik saja?" tanya Miran.


"Gendis sudah membaik.. Aku sedang mengajaknya kerumah utama keluarga Sadli" jawab Rayyan.


Melihata kakaknya sedang menerima telepon, Gendis semakin senang karena dia tau Miran lah yang sedang menelpon kakaknya itu.


"Kakak.. Katakan pada kak Miran.. Aku sangat merindukannya" rengek Gendis.


"Miran, apa kamu sudah mendengar itu??" tanya Rayyan.


"Baiklah, aku akan segera kesana" jawab Miran langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Kak Miran akan datang" jawab Rayyan.


Gendispun semakin senang karena Miran akan datang.


Tidak lama kemudian, terdengar suara deru mobil berhenti di depan. Gendis dengan senang hati berlari menjemput Miran.


Melihat Miran berjalan ke arahnya, Gendis langsung berlari menghampiri Miran. Miran pun berjongkok untuk menerima pelukan dari Gendis.


"Kak.. Apa kamu tau saat ini papaku sedang dirawat di rumah sakit dan mamaku sedang merawatnya." kata Gendis sedih.

__ADS_1


"Nona cantik.. Papamu pasti akan baik baik saja" kata Miran mengelus pipi Gendis lembut.


"Ayo kita jalan.." ajak Miran.


"Ayoooo.. Kak Ike, jaga rumah ya.. Aku pergi dulu bay.." kata Gendis semangat.


"Baik nona cantik.." kata Ike tersenyum


"Ke.. Aku tinggal.. Gapapakan??" pamit Rayyan.


"Tidak apa apa.. Aku juga harus membereskan rumah sebelum barang barang datang.. Hati hati" kata Ike


Rayyanpun melambaikan tangannya untuk Ike dan segera masuk ke dalam mobil.


Mobil Miranpun berjalan meninggalkan rumah keluarga besar Sadli.


Miran mengajak Gendis makan di sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah sakit. Mereka tampak bahagia selayaknya orang tua dan anaknya.. Terlihat harmonis bagi yang melihatnya.


Saat itu, Gendis melihat tukang balon melintasi mereka.


"Kakak, aku mau balon.." kata Gendi


"Baiklah, tapi ingat jika tukang balonnya tidak terkejar. Kamu langsung kembali dan jangan terlalu jauh mengejarnya" kata Rayyan memberikan selembar uang.


"Ok" jawab Gendis yang langsung berlari mengejar tukang balon.


"Hati hati!! Jangan jauh jauh" teriak Rayyan memperingatkan Gendis.


Kesempatan itupun di gunakan Miran untuk mengobrol dengan Rayyan.


"Aku tidak bisa memakainya lagi.. Papaku sedang berjuang antara hidup dan mati." kata Rayyan menangis.


Tanpa mereka sadari, Gendis mendengar obrolan itu. Dan itu mampu membuat Gendis bersedih, wajahnya yang semual bahagia berubah menjadi murung.


Mengetahui papanya akan meninggal, Gendis langsung pergi berniat untuk mencari sang papa.


Miram dan Rayyan tidak menyadari itu dan mereka masih berbincang.


"Rayyan, demi Tuhan bukan aku yang melakukan itu." kata Miran.


"Jika kamu masih menginginkan balas dendam itu.. Aku tidak akan pernah lagi memakai cincin ini" kata Rayyan.


"Baiklah, aku tidak akan melakukan balas dendam itu sebelum kebenaran itu terbukti" kata Miran.


Akhirnya mereka sepakat akan mencari kebenaran itu secara bersama sama. Selama ini Miran hanya mendengarkan kata kata neneknya. Dan Rayyan berjanji akan membantu Miran untuk mencari semua bukti buktinya.


Untuk sementara, Rayyan tidak mengenakan cincin itu. Tapi Rayyan akan memasangnya di kalung. Jika semua sudah terungkap, Rayyan berjanji akan memakai kembali cincin tersebut.


Tiba tiba Rayyan tersadar jika sang adik belum juga kembali.


"Kenapa Gendis lama sekali?" kata Rayyan.


"Ayo kita cari.." ajak Miran.


Merekapu. Segera mencari keberadaan Gendis. Rayyan mulai panik tidak ada tanda tanda Gendis berada di sekitar cafe tersebut.

__ADS_1


☘☘☘☘☘


Gendis terus menangis di jalanan. Dia akut jika papanya benar benar akan meninggal. Dia juga tidak lupa berdoa meminta kesembuhan sang papa.


Di tengah jalan, Gendis melewati sekelompok anak anak tengah bermain bersama. Gendis pun mngampirinya dan menanyakan arah menuju kerumah sakit.


Salah satu anak anak tersebut menunjukkan jalan menuju ke rumah sakit. Gendis melanjutkan jalannya menuju ke arah yang ditunjukkan olah anak tersebut.


Tidak lama kemudian, Gendis tiba di rumah sakit. Gendis bergegas memasuki rumah sakit tersebut. Sesampainya di dalam rumah sakit, Gendis mencari petugas rumah sakit.


"Suster, apakah anda bisa membantuku untuk mencari kamar papaku..?" tanya Gendis dengan mata berkaca kaca.


"Siapa nama papamu nak??" tanya suster tersebut.


"Papa Hazar, dia sedang sakit dan dirawat di rumah sakit ini.." jawab Gendis.


"Mari ikut tante.." jawab Suster tersebut dan menggandeng tangan Gendis.


Suster tersebutpun mengantar Gendis menuju ke kamar papa Hazar di rawat.


Melihat kedatangan Gendis, mama Anna dan yang lainnya langsung berlari menghampiri Gendis.


Mama Anna langsung memeluk putrinya itu. Dan kakek Sadli langsung menggendong Gendis.


"Gendis, kamu di antar siapa datang kemari nak??" tanya Arga.


"Aku datang sendiri.. Tadi aku mendengar kata lata kak Rayyan dan kak Miran jika papa akan meninggal" adu Gendis menangis.


Semua yang disana pun terdiam mendengar cerita Gendis.


Tidak lama kemudian, Rayyan dan Miranpun tiba di rumah sakit. Mereka mencoba mencari Gendis.


Kakek yamg melihat kedatangan Rayyan langsung emosi dan ingin menampar Rayyan. Dengan sigap, Miran menghalangi niatan kakek dan kakek ditahan oleh papa Bram juga Arga.


"Kamu benar benar tidak becus menjaga Gendis.!!!" geram kakek.


Setelah itu, mama Anna menghampiri Rayyan dengan wajah murka.


"Mengaap kamu masih bersamanya hahh!!! Apa kamu tidak memengerti juga apa yamg dia lakukan kepada papamu!!! Mama ingin kalian segera bercerai" kata mama Anna emosi.


Tanpa sengaja mama Anna melihat leher Rayyan, dan di sana terlihat cincin itu di kalung Rayyan. Emosi mama Anna semakin memuncak..


Sesaat Rayyan memegang cincin itu, lalu tangannya beralih menggenggam tangan Miran.


"Suamiku bukan seorang pembunuh" kata Rayyan.


Plaakkk....


Mama Anna menampar Rayyan cukup kuat.


"Pergilah dengannya, yang berusaha membunuh papamu. Dan mulai sekarang aku bukan ibumu lagi" kata mama Anna emosi.


"Kita tunggu sampai ayah sadar dan mengatakan semuanya. Miran bukan yang mendorong papa" kata Rayyan.


"Sekarang pergi dari sini" usir mama Anna.

__ADS_1


Miran dan Rayyanpun pergi meninggalakan rumah sakit. Sesungguhnya hati Rayyan sangat hancur. Namun, dia ingin mempertahankan rumah tangganya dan membuktikan semuanya.


__ADS_2