
Dalam perjalanan, kondisi papa Hazar semakin kritis. Papa Hazar terus menanyakan surat itu. Rayyan yang melihat papa Hazar kritis menjadi panik tanpa memperhatikan kata kata papa Hazar.
Para tenaga medis terus berusaha agar papa Hazar dapat bertahan hidup. Wajah Rayyan terlihat sangat panik, namun dia tidak berani mengganggu para medis yang tengah berjuang menolong papa Hazar.
Sedangkan Miran dan Riyan mengikuti ambulance yang membawa Rayyan dan papa Hazar.
"Aku berharap dia selamat. Aku belum membalas dendamku kepadanya" kata Miran.
Riyan hanya mengusap wajahnya. Dia hanya tidak habis pikir apa yang sedang Miran pikirkan dalam kondisi seperti ini.
Tidak beberapa lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Papa Hazar langsung dia bawa menuju ke ICU mengingat kondisi papa Hazar. Rayyan terus menangis mengikuti arah brangkar yang membawa papa Hazar.
"Maaf nona, anda tidak boleh masuk" cegah salah satu perawat di depan pintu ICU.
Rayyan terus menangis, dia takut papanya tidak selamat. Tidak lupa Rayyan memberi kabar ke mamanya tentang kondisi sang papa.
"Papa.." panggil Rayyan.
"Rayyan tenang lah.." kata Miran memegangi pundak Rayyan.
Rayyan terdiam, dia menatap sinis Miran. Dan tatapannya beralih ke tangan Miran yang memegangi pundaknya.
"Kamu adalah pelakunya, kamu inginmembunuh papaku, kamu sudah melakukan balas dendam. Sesuai perintah Aisah!!!" teriak Rayyan mendorong Miran hingga ke tembok lalu memegangi kerah baju Miran karena emosi.
"Aku memang membenci papamu, tapi bukan aku pelakunya" jawab Miran menatap Rayyan dengan lekat.
Di dalam ruang ICU, dokter terus berusaha menolong papa Hazar. Kondisi paap Hazar benar benar kritis, beberapa alat menempel pada tubuhnya untuk menunjang keselamatannya.
Di ruang tunggu, Rayyan terus meluapkan emosinya kepada Miran.
"Aku menyesal tidak menuruti kata kata papaku, sudah berulang dia memintaku untuk pulang dan menceraikanmu.. Tapi aku malah tetap memilih bersamamu karena aku mencintaimu. Jika papaku meninggal akulah yang bersalah karena tidak bisa melindungi papa dari balas dendammu" tangis Rayyan berjongkok disudut dinding.
Miran hanya menggeleng kepalanya, dia diam. Dia tidak tau harus menjawab apa.. Bukan dirinya yang mencelakai papa Hazar, tapi percumah juga dia menjelaskan karena tidak akan ada yang percaya.
Rayyan terus menangis, kondisinya sangat kacau. Di depan matanya papa Hazar tergeletak bersimba darah.
Riyan mendekati Miran yang juga duduk di ujung tembok berseberangan dengan Rayyan.
"Mengapa dia malam malam datang kerumah dengan memanjat tembok? Apa yang akan dia lakukan?? Kenapa dia terjatuh? Apakah ada yang sengaja mendorongnya?" tanya Miran.
"Tenanglah Miran.. Aku akan menyelidiki ini semua.." jawab riyan.
Lalu Riyan pergi meninggalkan Miran dan Rayyan di sana.
☘☘☘☘☘
Di tempat lain, nenek tengah menikmati teh hangatnya.
__ADS_1
Drrttt...ddrrrtttt
Tertera nama Tutik di layar ponselnya.
"Hallo" jawab nenek.
"Kakak berada di mana??" tanya Tutik.
"Aku berada di rumah lama ku. Kenapa??" jawab nenek.
"Untuk kakak berada di luar kota, kalau tidak. Mungkin kakak yang akan di salahkan atas kecelakaan Hazar yang terjatuh dari tangga rumah kakak di sini hingga keadaannya kritis. Miran pasti yang akan disalahkan oleh mereka " kata Tutik memberikan informasi.
"Apa kamu tidak berbohong?" tanya nenek.
"Tidak kak.." jawab Tutik.
"Baiklah kalau begitu.. Terimakasih informasinya" jawab nenek mengakhiri panggilan telepon itu.
"Hazar tidak boleh mati sekarang. Dia harus mati dengan peluru Miran putra kandungnya sendiri." batin nenek.
"Samsul, kita kembali sekarang" perintah nenek.
Nenekpun bersiap siap untuk kembali dan menyelidiki apa yang terjadi.
☘☘☘☘☘
"Rayyan.." panggil mama Anna.
"Mama.." jawab Rayyan.
"Apa yang terjadi Rayyan.?" tanya mama Anna
"Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya melihat papa sudah tergeletak di bawah dengan bersimba darah. Dan keadaannya sekarang kritis" jawab Rayyan menangis.
Mendengar kata kata Rayya, kakek terlihat geram. Dia lalu menoleh ke arah Miran yang berdiri tidak jauh dari sana. Begitu juga dengan Arga dan lainnya.
Arga yang melihat Miran, langsung menghampiri Miran lalu memukul Miran.
"Ini pasti ulah kamu kan?? Kamu yang menginginkan nyawanya untuk balas dendammu itu!!! Jawab!!!" gertak Arga mencengkeram kerah baju Miran.
"Kamu pelakunya, ya kamu pasti sengaja mendorong kakakku hingga begini!!!" kata papa Bram.
"Saya tidak melakukan apapun, saya tidak mendorongnya" bela Miran.
"Bohong!!!" gertak Arga.
Merekapun ribut, Riyan berusaha melepaskan Miran dari cengkeraman papa Bram dan Arga.
__ADS_1
Papa Bram trus mencengkeram baju Miran, dan hampir meninju wajah Miran jika Riyan tidak berusaha menahan tangan papa Bram.
Dalam situasi seperti itu, tiba tiba mama Anna jatuh pinsan.
"Mama..." teriak Rayyan.
Semuapun teralihkan dengan teriakan Rayyan dan terkejut melihat mama Anna tergeletak di lantai.
Akhirnya mama Annapun dibawa ke ruang perawatan karena kondisinya yang lemah karena syok.
Rayyanpun menunggu di luar kamar, dia duduk merenung sendirian. Miran yang melihat itu berusaha mendekati Rayyan, dan mencoba meminta Rayyan untuk percaya kepadanya.
Miran mencoba menggenggam tangan Rayyan, namun Rayyan menarik tangannya.
"Rayyan, aku mohon percaya kepadaku.. Bukan aku pelakunya" jawab Miran.
"Bagaiman aku akan percaya, kamu bahkan hampir setiap hari mengatakan kepadaku akan balas dendam papaku, kamu menginginkan nyawanya" jawab Rayyan marah.
"Rayyan, waktu kejadian aku berada di dapur. Sesaat kemudian aku mendengar seperti ada benda jatuh, aku bergegas menuju ke arah sumber suara dan aku melihat papamu susah tergeletak di sana." Miran menjelaskan.
"Aku ingin bertemu suamiku.. Biarkan aku kesana" terdengar suara mama Anna.
Rayyan yang mendengar suara mamanya pun bergegas untuk menuju ke kamar mamanya.
Sesampainya di sana, mama Anna sedang berusaha melepas selang infus yang masih menancap di tangan kanannya dan seorang suster berusaha menenangkannya.
"Nyonya, nyonya istirahat dulu ya. Keadaan nyonya masih lemah" kata suster itu.
"Suster, biarkan mama saya yang urus ya" kata Rayyan.
Suster itupun pergi keluar kamar.
"Rayyan, mama ingin bersama papamu.. Bawa mama kesana" pinta mama Anna.
Rayyanpun membantu mama Anna untuk turun dari brangkar dan menuntunnya untuk berjalan.
Di depan pintu, mama Anna melihat Miran yang tengah berdiri di depan pintu.
"Kamu sudah berhasil melakukan balas dendam, dan kamu sudah melukai perasaan kami. Semoga Tuhan membalas semua apa yang sudah kamu lakukan kepada kami" kata mama Anna lirih namun cukup tajam.
Miran hanya terdiam, dia tidak merespon kemarahan mama Anna. Lalu mama Anna berjalan menuju ke ruang ICU.
Sesampainya di sana, kakek tuba tiba marah kepada Rayyan.
"Kamu lebih memilihnya kepada kami keluargamu. Hazr sudah berkali kali memintmu untuk meninggalkannya tapi kamu tidak peduli. Kamu harus bertanggung jawab atas kejadian ini.. Kamu adalah bencana bagi keluarga kami.. Pergilah dari sini!!!" murka kakek.
Rayyan memilih pergi meninggalkan tempat itu, dia tidak mau menimbulkan keributan. Dari kejauhan Miran menyaksikan itu bersama Riyan yang setia menemaninya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruang ICU. Mama Anna dan yang lainnya pun bergegas menghampiri sang dokter ingin tau bagaiaman keadaan papa Hazar saat ini..