
Rosa terduduk melihat rencananya gagal total.
Dan tidak lama kemudian, dia melihat sang kakak pulang dalam ke adaan mabuk.
"Kakak, apa yang kamu lakukan?" Rosa menghampiri sang kakak.
"Eghmmmm... Minggir sana.." kata Arga meracau.
"Kakak, ayo aku antar ke kamar, jangan sampai kakek murka melihat keadaanmu seperti ini" Rosa memapah Arga menuju ke kamar Arga.
Ditidurkannya sang kakak, dia melepaskan jas dan sepatu yang masih di kenakan Arga.
"Sebegitu lemahnya dirimu kak karena cinta?" kata Rosa.
"Hmmmm" jawab Arga.
"Kak, jika memang kamu mencintainya perjuangkan dia kak.. Rebut dia dari Miran.. Bawa dia bersama mu" bujuk Rosa.
"Hmmmm hahaha... Tidak mungkinnn...tidak akan bisaaa.." kata Arga lemas karena mabuk..
"Jika kakak memang mau memperjuangkannya, aku bersedia membantu mu" jawab Rosa tersenyum..
"Hmmmmm, minggir.... Aku mau tidur" jawab Arga mendorong Rosa meski tidak bertenaga.
Rosa tersenyum puas, kini kakaknya yang akan menjadi alat untuk dia mendapatkan Miran.
☘☘☘☘☘
Sesampainya di rumah, Miran mengantar Rayyan ke kamarnya.
"Miran jelaskan pada ku, apa yang sebenarnya terjadi" tanya Rayyan.
Miran ran berjalan masuk ke kamar Rayyan dan duduk di kursi.
"Pak Hazar yang membunuh orang tua ku" lirih Miran.
"Nggak... Nggak mungkin papa ku melakukan itu.. Beliau orang baik, selalu jujur kepada ku!" Rayyan tidak percaya.
"Rayyan!!! Dia membawa kabur mama ku!! Pak Hazar dulu sangat menginginkan mama ku. Dan saat papa ku mengetahuinya dan menemukan dia. Pak Hazar menembak papa ku juga mama ku!!!" Miran sudah dikuasai emosi.
"Tidak!!! Papa ku bukan orang yang membawa kabur istri orang lain.. Dia bukan seorang pembunuh!" Rayyan tetap tidak percaya.
"Rayyan!!!" Miran dengan suara berat menahan amarahnya.
"Aku lebih percaya perkataan nenek ku" kata Miran lirih namun menyiratkan kemarahan.
"Dan nenekmu lah yang pembohong, membesarkanmu dalam kehidupan penuh kebohongan!!" Rayyan tidak kalah emosi.
"Lalu siapa mama Eni, jika orang tua mu sidah meninggal sejak kamu kecil?" tanya Rayyan menyelidiki
"Dia istri pamanku" jawab singkat Miran.
"Lalu Mei?" tanya Rayyan lagi.
"Anak mama Eni dan paman ku, saudara sepupuku" jawab Miran.
"Kamu membohongi ku Miran!, saat kamu datang kerumah ku, kamu mengelkan dia sebagai ibumu dan Mei adikmu. Bodohnya aku! Apa lagi yang kamu tutupi dari aku Miran!" Rayyan semakin emosi telah di bohongi Miran dari awal.
"Yang jelas aku tidak akan pernah berhenti membalas kematian kedua orang tua ku" jawab Miran langsung meninggalakan Rayyan.
Brakkkk..
Miran membanting pintu kamar dengan penuh emosi.
Dia pergi meninggalkan rumah, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan berhenti di dekat perbukitan.
Riyan yang melihat itu membuntuti Miran takut terjadi sesuatu.
"Arrgghhhh!!! Sial!!!" Miran berteriak dan melampiaskan segala amarahnya yang sudah terkumpul di dalam dadanya.
"Miran!!!" panggil Riyan dan mendekati Miran.
"Lihat saja!!! Aku tidak akan membebaskanmu pak Hazar atas perbuatan mu!!!" kata Miran dengan wajah yang merah padam karena terlalu emosi.
Riyan membiarkan Miran mengeluarkan semua segala emosinya dan mendengarkan apa yang Miran katakan.
Dan tidak lama, Miran sudah mulai tenang meski masih tersirat wajah yang emosi.
"Cukup Miran, tenangkan dirimu.. Lebih baik kita pulang dan kamu istirahat.." ajak Riyan..
"Kamu saja duluan Riyan" ucap Miran.
"Tidak Miran, kamu istirahat.. Bisa kita pikirkan besok.." bujuk Riyan.
Akhirnya Miran mendengar kata kata Miran. Mereka berdua kembali ke rumah Miran dan langsung beristirahat.
☘☘☘☘☘
Pagi harinya, dikediaman keluarga Sadli mereka berkumpul bersama.
Gendis berjalan dengan riangnya itu membuat orang di sana terheran heran.
__ADS_1
"Haii Nona manis, kau hari ini tampak begitu bahagia padahal baru kemarin kau begitu murung hingga mogok makan??" tanya papa Bram.
Lalu Gendis duduk di meja makannya dan mengambil beberapa lauk dan sayur.
"Hmmm nyam..nyam..nyamm iya dong paman, semalam aku bertemu dengan kakak" jawab Gendis gembira.
Seketika semua terkejut mendengar perkataan gadis kecil itu.
"Kakek yang membawa kakak dan kakak ganteng kemari untuk menemui ku.. Terimakasih ya kakek, kau sungguh baik nyam..nyamm.." jawab Gendis lagi.
Papa Hazar langsung menatap kakek Sadli.
"Cucu kakek, kamu makan di dapur ya.. Di suapi Ike" kata kakek sambil memberi kode ke Ike.
Ike mengajak Gendis pergi meninggalkan ruang makan dan membawanya ke dapur.
"Saya tidak menyuruh mereka datang, tapu mereka masuk seperti maling mengendap ngendap. Jika semalam tidak ada Gendis yang muncul secara tiba tiba aku sudah berhasil membunuh mereka" kata kakek Sadli.
Braakkkk...
Papa Hazar menggebrak meja makan lalu pergi meninggalakan ruangan itu dan disusul oleh mama Anna.
☘☘☘☘☘
Rayyan mondar mandir di dalam kamar. Dia mencerna semua kata kata Miran. Dan Rayyan menyadari kinindia sedang berada di tangan musuh. Tanpa berpikir panjang Rayyan memilih untuk pergi meninggalkan rumah itu.
Saat Rayyan membuka pintu utama ternyata di jaga.
"Maaf nona, anda tidak boleh pergi kemanapun" kata salah satu penjaga pintu.
"Minggir, biarkan saya lewat.. Saya ada keperluan" kata Rayyan mencoba menerobos keluar.
"Jangan biarkan dia keluar!! Bawa dia kembali ke kamarnya" kata mama Eni tiba tiba.
Spontan Rayyan melihat ke belakang dan langsung ingin berlari keluar.
Namun sang penjaga sudah sigap mencekal lengan Rayyan.
"Lepaskan aku!!! Lepaskan!!!" Rayyan terus memberontak.
"Paksa dia ke kamarnya!" perintah mama Eni.
Mia yang menyaksikan kejadian itu langsung pergi meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan siapa pun kecuali Marni yang melihatnya.
Mia merasa sangat tertekan dan dia ingin mencari kedamaian dengan pergi keluar.
Rayyan diseret oleh para penjaga ke kamarnya dan dikunci dari luar.
Salah satu penjaga memberikan kunci kamar itu ke mama Eni.
Di dalam kamar, Rayyan mengamuk sejadi jadinya..
"Aaarrrggghhhhh!!! Lepaskan aku!!!Hikssss..." teriak Rayyan sambil membanting semua barang barang yang ada di dekatnya.
Prangg...
Rayyan melempas vas bunga...
Braakkkk..
Rayyan menjatuhkan semua barang yang ada di atas meja dan membalik kan kursi.
"Lepaskan aku!!! Hiksss" teriak Rayyan lagi sambil mengacak ngacak tempat tidur dan menarik korden hingga sobek.
"Lepaskan aku hiksss, lepaskan aku waaahahaaaa apa salah ku" Rayyan terduduk di lantai lemas.
Ira yang sedari tadi menyaksikan itu dan mendengar Rayyan mengamuk di dalam kamar langsung menelfon Miran.
Drrtttt...drrrttttt.
Miran melihat ke ponselnya.
"Hallo bu Ira" Miran menjawab panggilan itu.
"Nak... Nyonya Eni mengurung Rayyan ke mbali di kamarnya dan sekarang dia sedang mengamuk" kata Ira panik dan khawatir.
Miran sayup sayup mendengar teriakan Rayyan dari panggilan telepon itu.
"Aku segera pulang" jawab Miran langsung pergi meninggalkan kantor.
Sesampainya di rumah Miran langsung saja masuk ke dalam rumah dan menemui mama Eni dam di sana ada Mei sesadang bersantai.
"Berikan kunci itu!" suara berat Miran menahan amarahnya.
"Dia mencoba kabur dari sini" jawab mama Eni tenang sambil memberikan kunci.
"Tidak boleh dari kalian satupun yang boleh melakukan apapun terhadap Rayyan tanpa seijinku!!! Paham!!!" amarah Miran dengan wajah yang tertekuk dan memerah karena emosi.
Semua yang berada di sana hanya terdiam dan mata mereka mengikuti arah perginya Miran menuju ke kamar Rayyan.
Miran melangkahkan kakinya lebar lebar agar segera sampai ke kama Rayyan.
__ADS_1
Ceklek...ceklek...
Mendengar pintu akan dibuka, Rayyan menoleh.
Saat Miran masuk, dia melihat se isi ruangan itu sangat kacau dan langsung ke arah Rayyan.
Miran memegang lengan Rayyan untuk membantunya bangun.
"Awww" teriak Rayyan kesakitan.
"Kenapa? Coba saya lihat lengan kamu" kata Miran sambil menyibakkan kain yang berada di lengan Rayyan.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Miran.
"Para penjaga pintu" jawab lirih Rayyan..
Melihat ada luka lebam di lengan Rayyan, seketika itu Miran kembali emosi dan menggenggam tangan Rayyan membawanya keluar.
"Penjaga!!!" teriak Miran.
Para penjaga sigap menemui Miran.
Mama Eni dan Mei kaget mendengar teriakan Miran.
"Siapa tadi yang menyeret Rayyan masuk kekamar?" tanya Miran dengan tatapan tajamnya.
Salah satu penjaga maju dengan menundukkan kepalanya karena takut.
"Siapa yang menyuruhmu?!" tanya Miran lagi.
Penjaga hanya menatap mama Eni tanpa menjawab dan Miran paham itu.
"Tangan mana untuk menyeret Rayyan?" tanya Miran Rayyan mulai gelisah apa yang akan di lakukan Miran
Sang penjaga mengangkat salah satu tangannya ke depan.
Dengan cepat, Miran akan memlintir tangan itu.
"Miran.. Miran jangan lakukan itu aku mohon, aku sudah tidak apa apa" Rayyan mencegah Miran.
"Jangan pernah sekali kali kalian semua menyentuh Rayyan bahkan seujung kukunya sekalipun.. Paham!!!" bentak Miran.
Miran langsung membawa Rayyan keluar dari Rumah dan menuju ke dalam mobil...
Miran membawa Rayyan ke ayunan langit tempat favorit Rayyan..
☘☘☘☘☘
Mei kembali ke kamarnya, melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana murkanya Miran membela Rayyan.
"Arggghhhh, tidak bisa aku biarkan!!!" kata Mei menggebrak meja riasnya.
drrtttt...drrrtttt....drrttttt.
Ponsel Mei bergetar tanda panggilan masuk. Mei mengernyikatkan dahi, dilihatnya ternyata nomor tidak di kenalnya.
"Hallo..." Mei menerima panggilan tersebut.
"Hallo... Mei ini saya Rosa" kata Rosa..
"Ada perlu apa Anda menghubungi sayax?" kata sinis Mei..
"Aku tau kamu istri Miran, aku ingin membantumu untuk mendapatkan Miran" kata Rosa menjelaskan tujuannya menghubungi Mei
"Apa untungnya buat kamu membantuku?" tanya Mei lagi curiga.
"Aku hanya ingin membantumu dan kakakku untuk mendapatkan cinta kalian" jawab Rosa tersenyum sinis.
"Baiklah, apa rencanamu" Mei mulai tertarik..
"lebih baik kita bertemu 1jam lagi di kafe nanti aku kirim alamatnya" jawab Rosa senang Mei bisa di ajak kerja sama.
Mei mengakhiri panggilan teleponnya dan bersiap siap untuk pergi menemui Rosa.
☘☘☘☘☘
"Kenapa kau membawa ku kesini?" tanya Rayyan ketus tidak bisa di pungkiri, meski Miran menunjukkan sikap khawatirnya namun dia memiliki dendam terhadap papanya yang tidak melakukan kesalahan.
"Hanya untuk makan siang, maaf hanya ini yang aku siapkan karena sangat mendadak" jawab Miran.
"Aku tidak lapar" jawab rayyan yang memang terlihat ada sebuah meja lesehan di sana dan seperti tenda yang di hiasi beberapa kain tipis sebagai tirai.
"Ayoo duduklah sebentar, hargai mereka" jawab Miran sambil memaksa Rayyan untuk duduk..
"Kamu saja sana yang makan, aku tidak berselera" kata Rayyan kembali.
Makanan pun sudah tertata di meja, ada beberapa menu makannan di sana salah satunya steak yang di hiasi kentang goreng dan lain lain.
Miran mengiriskan steak dan mengambil beberapa potong kentang goreng ke dalam piring Rayyan.
"Makanlah" kata Miran.
__ADS_1
Rayyan mau tidak mau memakannya meski hanya dua suap..
Miran hanya tersenyum dengan tingkah Rayyan,setelah di rasa cukup Miran kembali mengajak Rayyan pergi.