
Mereka berinisiatif menjemur pakaian mereka di dekat api yang Miran buat. Untung saja, Rayyan menggunakan celana pendek dan tangtop.
Semakin lama, hawa di dalam gua pun menghangat seiring membesarnya api. Beruntung, saat mereka tiba di sana ada seikat kayu yang mungkin tertinggal saat sang pemilik pergi.
Sedangkan di luar, hujan masih mengguyur dengan derasnya beserta petir yang terus menggelegar.
Cukul lama mereka berada di sana, hingga baju mereka kembali kering. Rayyan dan Miranpun langsung mengenakan kembali.
Meski mereka sudah sah menjadi suami istri, tapi Miran masih menghargai Rayyan yang belum siap memberikan haknya. Miranpun terus mencoba menahannya meski ia menginginkan itu. Terlebih malam ini, melihat Rayyan hanya mengenakan tangtop ditambah diluar sana sedang hujan.
☘☘☘☘☘
Dilain tempat, Riyan mencoba mencari Miran di rumah sakit. Riyan kembali kerumah sakit dan mengamati dari lorong paling ujung untuk memastikan keberadaan Miran.
Namun, Riyan tidak menemukan Miran berada di sana. Saat hendak berbalik, Arga yang tengah menunggu melihat Riyan. Arga mengejar Riyan yang hendak pergi.
"Tunggu!!" Arga menarik tangan Riyan.
"Apa yang kamu lakukan di sini, mengapa kamu mengamati kami dari ujung lorong!! Apa yang sedang kamu rencanakan haah!!!" tanya Arga kesal.
"Aku sedang mencari Miran dan Rayyan. Sejak pagi mereka tidak juga kembali kerumah" kata Riyan yang ikut terpancing emosi.
Tanpa sengaja, mama Anna mendengar penjelasan Riyan.
"Apa yang terjadi dengan Rayyan?? Apa dia baik baik saja??" mama Anna panik.
"Bibi.. Mereka tidak apa apa bibi.. Bibi tenanglah" kata Arga membawa mama Anna kembali ke tempat duduknya semula.
"Kamu ga bohong kan Arga??" tanya mama Anna khawatir.
"Arga ga bohong bibi, mereka baik baik saja" kata Arga menenangkan mama Anna.
Sedangkan Riyan mengambil ponselnya dan mencoba menelphon nenek Aisah.
"Hallo, bagaimana Riyan??" tanya nenek diserang sana.
"Mereka tidak ada di sini nek.." kata Riyan.
"Teruslah mencari Riyan" kata nenek.
"Baik nek" jawab Riyan dan mematikan teleponnya.
☘☘☘☘☘
Di goa, Rayyan tengah berbaring dengan berbantalan paha Miran.
"Mengapa papaku malam malam datang ke rumahmu?? Apa tujuannya?? Kita harus mencari taunya Miran" kata Rayyan mengingat sang papa.
"Ketika papamu sadar, aku yakin dia akan menceritakan semuanya Rayyan. Bersabarlah" jawab Miran.
☘☘☘☘☘
__ADS_1
Di kediaman keluarga Aslan, Ira terlihat melamun di dapur. Dia merasa bersalah terhadap Papa Hazar, pasalnya dirinyalah yang menyuruh untuk datang ke rumah keluarga Aslan tengah malam.
Ira langsung meraih ponselnya dan mencoba menghubungi pihak rumah sakit untuk mencari tau keadaan papa Hazar.
Namun pihak rumah sakit tidak bersedia memberikan informasinya kepada siapapun kecuali kepada pihak keluarga pasien.
Tanpa disadari, nenek Aisah mendengar Ira sedang menanyakan kondisi papa Hazar.
"Kenaa kamu sangat menghawatirkannya Ira??" tanya nenek tiba tiba.
Mendengar suara nenek Aisah, Ira reflek bebalik badan dan dia terkejut dengan keberadaan nenek di sana.
"Aku sudah lama mengenalnya. Aku hanya ingin tau keadaannya sekarang." Ira menjelaskannya.
"Dia masih hidup, kamu tidak perlu menanyakannya ke rumah sakit" jawab nenek dingin.
Nenek pergi meninggalkan Ira yang masih berdiri mematung. Nenek kembali ke dalam kamarnya, dia segera mengambil surat yang dia terima dan kembali membacanya.
Nenek berfikir, jika surat yang berisi sebuah ancaman tersebut dari Ira. Karena sebagian besar rencananya hanya Ira yang tau.
☘☘☘☘☘
"Bi, bibi pulang lah dulu. Biar paman aku yang menunggunya. Bibi beristirahatlah sebentar, bibi sedang hamil jangan terlalu capek" kata Arga.
"Baiklah Ar, bibi titip pamanmu dulu ya.. Jika ada apa apa hubungi bibi" jawab mama Anna.
"Baik bi" jawab Arga.
Sesampainya di rumah, mama Anna segera masuk ke dalam kamarnya untuk menemui sang putri.
Di sana, terlihat Gendis tengah tiduran sambil terus menangis.
"Gendis.." panggil mama Anna lirih.
Namun Gendis tidak meresponnya, Gendis masih kecewa dengan sikao mamanya yang memarahi kakaknya.
"Gendis, maafkan mama nak.. Mama berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dan kamu tau, sebentar lagi kamu akan memiliki seorang adik.. Lihatlah perut mama" kata mama Anna.
"Adik??" Gendis langsung bangun dari tidurnya dan langsung melupakan rasa kecewanya.
"Gendis akan punya adik??" senyum Gendis.
Mama Anna hanya mengangguk dan tersenyum melihat sang putri melupakan kemarahannya.
Gendis memegang perut mama Anna dan mengusapnya lembut dengan tersenyum.
☘☘☘☘☘
Matahari pagi itu semakin memancarkan sinarnya, kicauan burungpun terdengar merdu saling bersahit sahutan.
"Rayyan, bangunlah.. Hari sudah pagi" Miran membangunkan Rayyan.
__ADS_1
"Eghmmmm" Rayyan mengerjapkan matanya.
"Ayo bangun, kita harus pulang.." kata Miran tersenyum.
Rayyanpun menatap sitarnya, dia baru teringat jika dirinya tidak berada di rumah.
Merekapun segera keluar dari gua, mereka berjalan sambil menikmati kesegaran udara di sana.
Mereka cukup jauh berjalan, hingga akhirnya Miran melihat jalan raya di deoan sana.
Terlihat dari kejauhan, Riyan sudah menunggu mereka di sana karena Miran yang memintanya untuk menjemput mereka.
Merekapun pergi dengan mobil yang berbeda dan berjalan saling beriringan.
☘☘☘☘☘
Di kediaman Aslan, ponsel nenek berdering terlihat nama Samsul yang tertera di sana.
"Nyonya, saya melihat nona Mia menuju ke rumah sakit" suara Samsul memberi kabar.
"Cepat, kita harus segera menuju ke sana menyusul Mia." jawab nenek.
☘☘☘☘☘
Di area parkir rumah sakit, Mia berdiri di anaa. Dia bingung harus bagaimana dan dia masih merasa takut.
Saat mata Mia tengah menyisiri area parkir tersebut, Mia melihat Arga baru turun dari mobilnya.
"Arga!!" panggil Mia.
"Mia.." Arga menoleh dan melihat Mia menghampirinya.
Argapun berjalan menghampiri Mia yang tengah berjalan menuju ke arah dirinya.
"Mmmm bagaimana kabar pamanmu?" tanya Mia terlihat takut.
"Pamanku masih koma. Miran membawa bencana untuk keluargaku. Dia telah mendorong pamanmu hingga terjatuh" jawab Arga menyalahkan Miran.
"Mi.. Miran bukan pelakunya, aku minta maaf ka.." kata Mia terputus.
"Jangan terus meminta maaf Mia karena itu bukan kesalahanmu.. Miranlah yang harus bertanggung jawab" potong Arga.
Sebenarnya Mia ingin mengatakan sesuatu kepada Arga, namun Arga selalu memotong pembicaraan Mia.
Argapun mengajak Mia untuk masuk jika ingin menengok pamannya. Baru melangkah beberapa langkah, nenek susah tiba di sana. Melihat keberadaan neneknya, Miapun terkejut.
"Apa yang kamu lakukan Mia.. Mengapa kamu bersamanya.. Ingat da musuh kita" kata nenek.
"Aku hanya ingin menjenguk dan mendoakan pamannya Arga, karena dia jatuh di rumah kita." jawab Mia.
Nenekpun tidak mau menerima alasan sang cucu. Nenek lalu mencengkeram lengan Mia dan membawanya pergi dari rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Di snaa Arga hanya diam menyaksikan kedua wanita yang berbeda generasi itu tanpa mau ikut campur urusan mereka.