
Rayyan dan Miran dalam perjalanan. Sesekali Rayyan melirik ke arah Miran dengan wajah menahan emosi, berbeda dengan Miran yang merasa senang bisa kembali berduaan dengan Rayyan.
"Rayyan, kamu mau kita bicara di mana?" tanya Miran.
"Pergi ke pondok" jawab Rayyan dingin.
Miran bingung mendengar ucapan Rayyan, Miran pun mengarahkan mobilnya menuju ke pondok.
Tak butuh lama mereka sampai di sana. Tidak ada lagi pondok di sana, yang ada hanya sebuah puing puing bekas pondok yang terbakar.
"Rayyan, untuk apa kamu mengajakku kembali ke sini?" tanya Miran setelah turun dari mobil.
"Masalah berawal di sini, pagi itu kamu pergi meninggalakanku. Jika waktu bisa di ulang apakah kamu akan tetap meninggalkanku?" kata Rayyan bersimpuh dengan memutar ulang memori di mana Miran dengan teganya meninggalkan dia begitu saja.
"Tidak Rayyan, aku tidak akan meninggalkanmu. Maafkan aku Rayyan, aku akan memperbaiki semuanya" jawab Miran memegang bahu Rayyan.
"Hiksss... Semua sudah terlambat. Dulu aku sangat mencintaimu Miran, tapi kamu telah menyakitiku. Aku sudah tidak lagi mempercayaimu. Sekarang pergilah, jangan lagi datang padaku" kata Rayyan menangis dengan memalingkan muka tak sanggup menatap Miran.
"Aku tak bisa pergi darimu Rayyan" kata Miran.
Setelah itu Rayyan pergi meninggalkan Miran di sana. Rayyan berjalan menjauh dari Miran, Miran hanya menatap kepergian Rayyan. Rayyan semakin jauh berjalan meninggalkan Miran tanpa berpaling sedikitpun. Sama seperti waktu Miran pergi meninggalkannya dulu.
Rayyan sudah di tunggu oleh Ihsan, dia meminta tolong Ihsan untuk mengikutinya dari tadi. Setelah masuk ke dalam mobil. Tangis Rayyan pecah, dia tak sanggup menahan hatinya yang perih antara tak sanggup melihat Miran dan rasa sakit yang dia rasakan.
Melihat Rayyan pergi, Miran terjatuh ke tanah. Kini dia merasakan apa yang dulu Rayyan rasakan saat dia pergi meninggalkannya.
☘☘☘☘☘
Sore harinya, suasana di dapur keluarga Sadli tampak hening. Rayyan terus murung.
"Aku lebih suka cincin yang di berikan oleh kak Miran yang berbentuk kupu kupu, tidak seperti cincin yang di berikan oleh kak Arga tidak cantik. Aku merasa tidak suka untuk memakainya" kata Gendis saat mencoba cincin Arga yang diberikan ke Rayyan.
"Gendis, ayo nak kembalikan ke kakakmu" kata mama Anna.
Gendis pun kembali memasukkan cincin itu kedalam kotaknya dan menyerahkannya ke Rayyan. Rayyan tak berniat untuk memakainya.
Gendis terus menatap kakaknya, dia paham jika kakaknya itu tidak bahagia dengan Arga.
Setelah makan malam, papa Hazar dan mama Anna mengobrol di gazebo. Tiba tiba papa Bram datang dan menghampiri mereka berdua.
"Kak, kenapa kamu tidak juga menbawa keluargamu pergi juga hah?? Waktu itu kamu mengatakannya sendiri akan membawa mereka pergi. Apa kamu memang menginginkan pernikahan ini hah?!" kata papa Bram memancing emosi.
__ADS_1
"Jaga mulut kamu Bram" kata papa Hazar tersulut emosi dan mama Anna sigap menenangkan suaminya.
"Aku yang tidak mengijinkannya pergi!" kata kakek tiba tiba.
"Sampai kapan pun aku tidak akan merestui pernikahan itu! Rayyan masih mencintai Miran!" kata papa Bram masih emosi.
"Lebih baik kalian kembali ke kamar kalian masing masing, tidak ada lagi perdebatan soal pernikahan.. Aku sudah memutuskan dan tidak ada yang bisa mengubahnya" teriak kakek akhirnya untuk menghentikan keributan ini.
Saat semua pergi, kakek menarik tangan papa Bram.
"Arga satu satunya penerus dari keluarga ini. Aku tidak sudi memiliki mantu seperti Rayyan. Aku akan melenyapkannya saat pernikahan itu nanti" kata kakek lirih.
Flashback on.
Kakek diam diam bertemu dengan seseorang di suatu tempat. Tidak ada yang menyadari itu.
"Aku butuh bantuanmu!" kata kakek dingin.
"Apa yang tuan perlukan?" kata orang itu.
"Beberapa hari lagi, cucuku akan menikah. Aku mau kamu mengatur anak buahmu untuk membuat seolah olah pengantin perempuannya di culik. Bawa pergi dia dan segera lenyapkan dengan mendorongnya dari tebing. Agar seolah olah dia bunuh diri, jangan sampai ketahuan. Paham!!" perintah kakek.
Flashback off.
"Jangan katakan ini kepada siapapun. Hanya kamu yang tau rencana papa. Berpura puralah untuk pasrah menerima pernikahan ini.
"Baik pa" jawab papa Bram yang terkejut dengan rencana papanya.
☘☘☘☘☘
Riyan menemui Miran yang tengah melamun sendiri di halaman rumah.
"Miran, siang tadi aku bertemu dengan Rayyan, dan mencoba berbicara dengan dia, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sepertinya dia tetap tidak mempercayai apa yang aku katakan" kata Riyan.
"Pantas saja dia menemuiku dan mengajak ku ke rumah pondok. Lalu dia meninggalkan ku di sana." kata Miran mengingat kejadian tadi siang.
"Miran, menyerahlah... Rayyan telah memilih Arga, sudah tidak ada lagi harapan Miran." kata Riyan.
"Tidak.. Aku tidak akan menyerah. Masih ada sedikit waktu untuk merubah keputusan Rayyan" jawab Miran bersikukuh dengan pendiriannya mengejar Rayyan.
Miran langsung menuju ke kamarnya dan mengambil sebuah kotak yang berisikan sebuah batu yang menjadi kenangannya dengan Rayyan.
__ADS_1
☘☘☘☘☘
Di lain tempat, Rosa mengajak Mei untuk bertemu.
"Ada apa Rosa, kenapa malam malam begini mengajakku bertemu!" bisik Mei.
"Mei, 2hari lagi kakakku dengan Rayyan akan mengadakan lamaran dan esoknya mereka akan menikah, aku yakin Miran sudah tidak bisa lagi mengejar Rayyan. Dan aku berpesan kepadamu Mei, jangan katakan ini kepada Miran rahasiakan ini kepada siapapun. Atau Miran akan berusaha memanfaatkan 2hari itu" kata Rosa memberi kabar.
"Apa?? Mereka benar benar menikah.. Temang saja Rosa aku tidak akan mengatakannya kepada siapapun" kata Mei kegirangan mendengar kabar dari Rosa.
Akhirnya mereka berdua kembali emnunu ke rumah mereka masing masing.
☘☘☘☘☘
Di dapur, Rayyan sedang termenung melamun dengan tangan yang terus memainkan gelas yang berisi teh.
"Rayyan, tadi ada orang mengantarkan kotak ini untukmu" kata Ike membuyarkan lamunan Rayyan.
Rayyan menerima kotak itu, saat di buka ternyata isinya batu daru Miran dam sebuah surat.
"Batu ini adalah kenangan kita berdua. Aku menunggumu di luar." isi surat itu.
Rayyan lalu teringat dengan kejadian itu. Waktu mengingat itu Rayyan semakin sedih..
Di luar Miran menunggu Rayyan dengan harpaan Rayyan mau menemuinya. Namun Rayyan tak kunjung keluar.
"Untuk apa kamu di sini!!! Jauhi Rayyan, pergilah dari Rayyan!" kata papa Hazar yang tiba tiba datang.
"Aku tidak akan pergi, aku harus menemui Rayyan." kata Miran.
"Bagaimana bisa Daniar memiliki putra sepertimu. Ibumu seseorang yang baik. Dia pasti tidak akan mengakuimu sebagai anaknya" kata papa Hazar.
"Jangan pernah sebut nama ibuku!" kata Miran emosi mendorong papa Hazar hingga terpojok ke tembok.
"Suatu saat nanti kamu akan mengetahui kebenarannya, dan saat itu juga aku tidak akan memaafkanmu.
Papa Hazar lalu pergi meninggalkan Miran, begitu juga dengan Miran berjalan meninggalkan tempat itu.
Miran terus memegangi dadanya, terasa nyeri yang dia rasakan. Dadanya terasa sesak hingga membuatnya susah untuk bernafas.
Di dalam Rayyan tengah berdiri di balkon rumahnya. Rayyan menggenggam batu dari Miran dan meletakkannya di dadanya. Dia juga meraskan hal yang sama seperti apa yang di rasakan Miran.
__ADS_1