
Tok...tok...tok...
Pintu rumah nenek Ike di ketuk. Saat itu kakek sedang berjalan menuju ke Miran ingin membangunkannya karena waktu sudah menjelang siang namun mendengar suara pintu di ketuk kakek membuka kan pintu dahulu.
"Selamat siang kek" sapa Arga dengan sopan.
"Kak Arga..." lirih Ike saat melihat Arga datang lalu menghampirinya.
"Kek, ini kak Arga putra dari pak Bram saudara sepupu Rayyan" jelas Ike.
"Ohh iya, ada apa nak datang kemari" tanya kakek.
"Saya ingin bertemu dengan Rayyan kek" kata kakek.
"Rayyan sedang beristirahat di dalam" kata Miran tiba tiba.
"Kenapa kamu berada di sini??" tanya Arga terkejut melihat Miran muncul tiba tiba.
"Aku suaminya" jawab Miran singkat.
"Suami macam apa kamu yang tega membohongi istrinya hah!!! Minggir saya ingin bertemu dengan Rayyan" kata Arga memaksa masuk.
"Rayyan tidak bisa di ganggu, lebih baik kamu cepat pergi dari sini!!" usir Miran sedikit mendorong Arga.
"Heiii lepaskan tangan mu!!" kata Arga sambil menyingkirkan tangan Miran.
"Cukupp!!! Kalian berdua lebih baik keluar dari sini!!" bentak kakek yang melihat dua lelaki ini terus bertengkar.
Akhirnya Miran dan Arga memilih keluar dari rumah. Namun lagi lagi mereka berdua terus saja berdebat di luar rumah.
"Lebih baik kamu pergi dari sini" kata Miran ketus.
"Apa hakmu mengusirku, ini rumah keluarga Ike. Lagian aku kesini juga hanya untuk bertemu dengan Rayyan!" jawab Arga.
"Kamu tidak boleh bertemu dengan Rayyan!" kata Miran menatap sinis Arga.
"Kenapa aku tidak boleh melihatnya?" balas Arga menatap Miran.
"Dia sedang beristirahat di dalam, kamu tidak boleh mengganggunya" jawab Miran lagi.
"Memang dia kenapa? Apa yang terjadi dengan dia hingga aku tidak boleh melihatnya." jawab Arga mulai curiga terjadi sesuatu dengan Rayyan.
"Tidak ada yang terjadi apa apa terhadap Rayyan" jawab Miran berbohong.
"Bohong, kamu apakan dia hah!!!" Arga mulai emosi dan meraih baju kerah Miran.
"Aku tidak melakukan apapun, di hanya beristirahat" jawab Miran mencoba menutupi.
"Bohong!!!" ucap Arga.
Bughhh... Bughh...
Arga meninju muka Miran,..
"Ini untuk kamu yang telah menyakiti dia" kata Arga disela sela dia memukuli Miran.
Miran terus mencoba menghindar.
__ADS_1
Bugh...bugh...
Miran membalas pukulan Arga hingga terjatuh dan Miran langsung duduk di atas Arga ingin memukuli Arga. Namun Arga sigap menjatuhkan Miran.
Mereja berdua salih berganti kan menindih untuk saling memukuli.
"Hentikan!! Cukup!!" kata kakek yang tiba tiba keluar rumah karena merasa risih mendengar dua laki laki itu terus bertengkar.
Miran menahan ayunan tangannya yang akan mengninju Arga dan bangkit berdiri begitu juga Arga. Mereka berdua sama sama membersihkan bajunya dan merapikannya kembali.
"Jika kalian berdua terus bertengkar. Lebih baik kalian pulang. Seperti anak kecil saja" gerutu kakek berjalan kembali masuk ke dalam rumah.
Mereka berdua memilih berada di sana, duduk berpisah. Hingga malam tiba mereka masih terus bertahan meski cuaca sangat dingin.
"Kamu melakukan balas dendam pada gadis yang tidak salah. Kamu mempermainkan perasaan Rayyan, dan lihatlah kamu mendapatkan karmanya. Sekarang kamu sangat mencintai dia dan kami terus mengejarnya, tapi apa.. Dia menolakmu.. Kamu sudah tidak memiliki harapan lagi Miran" ucap Arga dan Miran hanya terdiam.
"Kau tau Miran?... Sejak dulu aku sangat mencintai dia.. Tapi aku tidak berani mengatakannya. Dan sekarang aku akan menunggunya hingga dia bisa menerima ku" ucap Arga lagi.
Hingga pagi tiba, Miran masih saja terus terjaga. Dan melihat Arga tertidur lelap dalam duduknya. Miran pelan pelan masuk ke dalam rumah untuk mengecek kondisi Rayyan.
Setelah masuk, Miran mendekati Rayyan yang masih terbaring. Perlahan Rayyan membuka matanya dan terkejut melihat Miran masih berada di sana.
"Kenapa kamu masih berada di sini?" tanya ketus Rayyan.
"Aku ingin memastikan kamu baik baik saja" jawab Miran.
"Lebih baik kamu pergi, aku tidak ingin melihat mau lagi" kata Rayyan mengusir Miran.
"Ikutlah dengan ku Rayyan" ajak Miran.
"Tidak, aku tidak akan kemana mana. Sekarang kamu tinggalkan aku" kata Rayyan.
Rayyan bangkit bangun dan memilih keluar rumah.
Mendengar ada keributan di dalam, Arga terbangun dari tidurnya dan melihat Miran tidak ada di sini. Dan saat mendengar suara pintu terbuka, Arga langsung menoleh.
Rayyan yang melihat Arga berada di sana terkejut.
"Untuk apa kamu datang kemari?" tanya Rayyan.
"Rayyan, katakanlah di depanku sekarang jika kamu memang tidak menginginkan" kata Arga dengan wajah yang sendu.
"Sudah jelas dia tidka menginginkamu... Kenapa kamu masih menanyakannya lagi?" kata Miran tiba tiba.
"Aku perlu berfikir, aku butuh waktu kak.. Keputusan kemarin terlalu cepat untuk ku.. Berikanlah waktu untukku" jawab Rayyan akhirnya.
Mendengar jawaban Rayyan, Arga seperti mendepatkan angin segar yang sedikit menenangkan hatinya.
"Aku akan menunggumu Rayyan" jawab Arga dengan senyuman di wajahnya.
Miran merasa tidak senang mendengar jawaban Rayyan. Melihat itu Rayyan memilih kembali masuk ke dalam rumah lagi.
"Rayyan, semalam mereka berdua terus saja berdebat hinggal saling memukul. Tapi kamu tau Rayyan, kakek melihat Miran sangat menyisali perbuatannya dan dia samgta mencintaimu" kata kakek yang berdiri di depan pintu bersama nenek dan Ike.
Rayyan menunduk, dia masih ragu dengan ucapan kakek. Tanpa sengaja dia melihat jari manis kanannya terpasang cincin yang dulu dia buang...
"Kenapa tidak bisa dilepas" Rayyan berusaha melepas cincin itu.
__ADS_1
"Cincin itu tidak akan bisa lepas Rayyan, karena jari jari mu bengkak karena bisa dari kalajengking itu" kata nenek.
Rayyan kembali keluar, dan menghampiri Miran yang sedang berdiri memandangi padang rumput yang luas di sekitar rumah itu.
"Miran, kenapa kamu memasang cincin ini lagi hah!!" tanya Rayyan yang masih berusaha untuk melepas cincin itu.
"Jika cincin itu tidak mau lepas, berarti Tuhan tudak mengijin kamu pergi dariku." jawab Miran santai.
"Apa yang kamu lakukan hah! Kamu memasangkan cincin itu tanpa seijin dia?" kata Arga yang tidak suka melihat cincin itu yang melingkar di jari manis Rayyan.
"Cukup kalian berdua!" bentak Rayyan.
Rayyan lalu berjalan menuju ke kran air dia mencuci tangannya dan melumuri tangannya dengan sabun. Rayyan terus berusaha melepas cincin itu dengan sabun namun masih saja sangat sulit untuk terlepas.
"Tidak cincin, tidak Miran terus saja masuk dalam hidupku" gerutu Rayyan.
Akhirnya Rayyan menyerah dan memilih masuk ke dalam rumah..
"Kenapa mereka tidak mau pergi dari sini!! Aku merasa tidak tenang melihat mereka terus berada di sini" kata Rayyan yang mengamati Arga dan Miran dari jendela.
"Mereka berdua sangat mencintaimu Rayyan. Rayyan, aku melihat ada ketulusan dari Miran. Malam itu dia terus merawatmu hingga dia tidak memejamkan matanya sama sekali hingga pagi. Aku yakin kini dia sangat mencintaimu dan menyesali perbuatannya" kata Ike.
"Kamu jangan membela dia Ike, setelah apa yang dia lakukan terhadapku" jawab Rayyan.
☘☘☘☘☘
Di rumah keluarga Sadli, Gendia dan mama Anna sedang bermain di kamar Gendis.
"Mama, mama tau ga.. Waktu itu sebenarnya Gendis menemui kak Miran.." kata Gendis polos.
"Miran? Kamu menemui dia? Untuk apa?" tanya mama Anna penasaran.
"Gendis minta kak Miran untuk menjemput kak Rayyan di rumah nenek kak Ike" jawab Gendis lagi dengan raut yang bahagia.
Mama Anna terkejut mendengar putrinya membocorkan keberadaan Rayyan. Mama Anna langsung bangun dan keluar dari kamar Gendis dan Gendis meneruskan bermainnya.
"Papa..." panggil mama Anna setelah masuk ke kamar nya.
"Ada apa ma?" papa Hazar terkejut mendengar teriakan mama Anna.
"Gendis pa... Gendis memberi taukan keberadaan Rayyan kepada Miran." jawab mama Anna panik.
"Apa? Kapan Gendis bertemu dengan Miran? Papa Hazar tambah terkejut.
"Waktu Gendis pergi meninggalkan rumah pa, waktu bersama Rudi" jawab mama Anna.
"Mama tunggu di sini.. Papa akan menjemput Rayyan." papa Hazar ikut panik..
Akhirnya papa Hazar menyusul Rayyan waktu itu juga.
**akhirnya bisa up juga dari sekian hari ga bisa up.
maafkan author yang akhir akhir ini kelamaan up.
dan terimakasih banyak sudah mengingatkan author untuk segera up 😊😊😊
semoga masih suka ya..
__ADS_1
dan tetap kasih like dan komennya ya..
terima kasihhh 😘🙏☺☺**